Icha merebahkan tubuh nya di kursi teras rumah nya , kelihatan sangat lelah sekali , Icha baru pulang sekolah , wajah nya yang merah merona karna terbakar panas matahari tak bisa menyembunyikan rasa lelah dalam dirinya . Tiba- tiba Icha di kejutkan oleh sms dari sahabat nya Renata .
Renata Message :
“cha , ntr mlm jd kan nonton konser nya ?
Harus jadi yach , aku punya 2 tiket nech ?
Icha Message :
“ship dah , :)
Renata Message :
“okey, kita barengan sepupu aku yach dri luar kota ,
Katanya dia mau ikutan nonton “
Icha Message :
“ O.K ,
Icha pun langsung masuk ke kamar nya untuk beristirahat .
Nanti malam adalah acara konser dari group band ternama yaitu BONDAN FEAT FADE 2 BLACK , Kebetulan Icha dan Renata salah satu fans nya Bondan so, wajib nonton tuch .
****
Malam pun ,tiba terlihat Icha sudah siap untuk beranjak pergi bersama Renata .
Setiba nya di rumah Renata , Icha sedikit heran soalnya dirumah Renata sudah di penuhi oleh kumpulan cowok –cowok dan Icha belum mengenal nya sama sekali .
“Eh icha , ngapain bengong di luar , mari masuk, sambut Renata .
“emm, gak kok , sedikit gugup.
“ohw iya cha , kenalin ini Sepupu aku IVAN , yang aku ceritain td siang ,
“Icha , sambil mengulurkan tangan nya ke arah IVAN,
“IVAN , sambil tersenyum ,
Tak lupa juga IVAN juga memperkenalkan teman- teman nya kepada Icha .
Mereka pun berangkat menuju tempat Konser berlangsung .
Terlihat acara sudah di mulai . Icha dan Renata terlihat senang sekali karna bisa menyaksikan langsung konser itu meski agak sedikit jauh dari panggung .
Setengah jam konser telah berlangsung , diam- diam Icha memperhatikan Ivan dari kejauhan ,
Sesekali Ivan senyum ke arah Icha ,
*******
Pagi yang sangat dingin , berhubung cuaca lagi hujan, Icha terasa enggan membuka mata nya , tapi lama kelamaan , Icha pun dengan terpaksa harus bangun dan harus siap- siap untuk berangkat ke sekolah .
Icha pun menuju ke meja makan untuk sarapan , sedang asyik nya Icha menyantap makanan nya itu, tiba – tiba hp Icha bergetar. Dari nomor yang tidak di kenal , dan itu membuat Icha penasaran .
Icha pun membuka pesan itu yang hanya sekedar sapaan selamat pagi .
Tanpa ada inesial pengirim nya .lalu Icha pun menanyakan si pengirim sms itu .
Mereka pun saling balas sms , Ternyata si pengirim sms itu adalah IVAN sepupunya Renata ,tapi sms terhenti saat Icha menyakan dapat Nomor hp nya dari siapa .
Icha sudah menduga kalau Ivan dapat nomor hp nya dari Renata ,secara Renata kan sepupuan sama Ivan . tanpa banyak fikir lagi Icha pun menanyakan hal itu kepada Renata .berhubung Icha dan Renata beda sekolah , Icha hanya bisa menanyakan hal itu kepada Renata lewat sms.
Icha message :
“ta, kmu yach yang ngasi nmr hap aq ke IVAN, sepupu mu itu ?
Renata message :
“ owh , iyac cha, maaf yach aq lupa ngasi tau km sebelum nya,
Piece
Icha message “
“ yach gk p2 sech , cma wkt aq tnya dpt nmr q dr siapa dia nya gk blz lagi ,
Cuek amat !
Renata Message :
“ehehe iyah dia emang rada cuek gt cha , tpi asyik kok anak nya .
Yach lanjutin aja mz an nya , ehheheh
Icha Message :
“ idiiiihhh , cuek gtu ta, gak asyik ta , hemmm
Renata message :
“yach , km blm kenal dia lbh jauh sech , coba aja “
Ehehehe>>>
Icha hanya bisa menarik nafas , melihat sms dari Renata itu , tanpa balik membalas dan berlalu meninggalkan nya .
Icha asyik dengan buku yang di baca nya , tiba- tiba ia teringat pembicaraan Renata tadi pagi ,
Ivan, iyah untuk kali ini Ivan yang jadi sasaran objek di fikiran nya ,
Sikap Ivan yang cuek , membuat Icha penasaran dan ada rasa ingin lebih jauh mengenal nya ,
Lain hal nya dengan Icha yang sudah terkenal rada “bawell “ dan mungkin seluruh dunia juga tau akan kebawelan nya .
*********
Waktu terus berlalu , Icha dan Ivan pun semakin akrab , saling berbagi cerita , Ternyata sifat cuek nya Ivan membuat Icha ingin lebih jauh mengenal nya , ada rasa yang tak biasa yang di rasakan oleh Icha , serasa ada getaran dalam jiwa menggugah seluruh tubuh Icha , inikah cinta ? cinta pada pandangan yang untuk kesekian kalinya .Tak dapat di pungkiri , ternyata Ivan juga merasakan hal yang sama . sifat bawel nya Icha membuat ia merindukan nya , >>
Sungguh perkenalan yang begitu singkat , seiring berjalan nya waktu , Ivan menyatakan perasaan nya kepada Icha , ,,,, dan itu membuat I cha bahagia, ia tidak menyangka ternyata Ivan juga punya rasa yang sama , tapi rasa suka Icha tak membuat Icha begitu saja menerima Ivan, ia pun meminta waktu kepada Ivan untuk memikirkan semuanya . berhubung Icha dan Ivan tinggal berjauhan , hal itu juga lah yang membuat Icha merasa ragu .
******
3 hari berlalu , dan waktu icha memberikan jawaban kepada Ivan , tak dapat di pungkiri , Icha juga tidak dpat membohongi perasaan nya , ia juga suka sama Ivan , dannnnn>>
Icha pun menerima nya . Icha menerima Ivan sebagai pacar nya. Dua hati menyatu dalam satu ikatan cinta , iyach , Ivan dan Icha , dunia seakan menjadi milik berdua, tak ada yang bisa di ungkapkan Icha selain rasa bahagia , yang mengisi relung hati nya .
Tak juga ketinggalan Renata sahabat nya Icha pun ikut senang mengetahui hal itu .
*****
Walaupun Icha dan Ivan terpisah jarak dan waktu , tapi itu tidak menyurutkan niat kedua insan tersebut. Dan mereke punya gelar masing – masing Icha memanggil Ivan dengan sebutan Pangeran Cuek , begitu pula hal nya dengan Ivan memanggil Icha dengan sebutan putri bawel . Itu menambah betapa romantisnya percintaan mereka .
*****
Hari ini Icha merasa perasaan nya tidak enak , keringat dingin bercucuran membasahi tubuh nya , jantung nya berdetag tak menentu . , ia pun hari ini heran akan diri nya , di tambah lagi dari pagi sampai siang begini tidak ada kabar tentang Ivan , tidak seperti biasanya Ivan yang selalu saja sms Icha meski hanya ucapan selamat pagi .
Pelajaran kosong Icha coba untuk sms Ivan , tapi tidak ada balasan .
Icha trus bersabar akan hal ini , “duhh , dsar pangeran cuek , kambuh lagi nech penyakit “gerutu Icha dalam hati . Icha pun meminta tolong kepada sahabat nya Renata untuk coba menghubungi Ivan .
Icha message :
“ta, maaf ganggu , bsa bantu aq gak ? , pliase ???
Renata message :
“gak ganggu kok? Bantu apa, aq usahain .
Icha message :
“gini , Ivan dari td pagi susah d hubungin, yach aku takut aja terjadi sesuatu sama dia , ta ?
Renata message :
Cie- cie , khawatir amat nech putri bawel , oke dech ntr aku coba hubungin dia , “
Icha message :
“huh dasar , yaa udah jangan ngeledek ! mksih sebelum nya , ntr kabarain aq yach , “
******
Icha masih gelisah dengan keadaan ini , dan ia juga berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal ini ,
Ia juga berharap semoga Ivan si pangeran cuek baik- baik saja .
Icha menarik nafas dan ia pun memutuskan untuk kekantin saja sekedar mengisi perut , berhubung lagi pelajaran kosong . dan ia juga mengajak Dian teman sebangku nya itu , tapi ternyata Dian sedang tidak enak badan , katanya sech kepala nya pusing , badan nya panas. Kemungkinan Dian demam , Icha pun tidak tinggal diam , ia pun membawa Dian ke ruang UKS dengan di bantu oleh beberapa teman sekelas nya .
*******
Setelah dari UKS , Icha pun kembali ke kelas nya dan mengurungkan niat nya untuk ke kantin , tapi ada yang berbeda saat ia kembali ke kelas nya . semua mata tertuju pada nya ada juga yg sedang menertawakan nya .Icha heran , apa ada yang aneh dalam diri nya ? terlihat di pojok kelas si Andre salah satu teman sekelas Icha yang juga rada Jahil sedang memegang hp Icha ,
Oh mai Gat !!!!!! si Andre lagi asyik membacakan sms dari Ivan . Icha pun dengan cepat merebut hp nya kembali .Betapa malu nya Icha saat itu , semua mata tertuju kepada Icha , di tambah lagi isi dari sms itu adalah kata putus dari Ivan.
Hati Icha hancur lebih dari berkeping – keping , .
******
Icha masih duduk di dekat jendela kamar nya , rintikan hujan mewakili hati Icha yang hampir rapuh , Icha masih larut dalam kesedihan nya . dan ia masih tidak bisa percaya bahwa Ivan secepat itu mengakhiri hubungan mereka hanya karna alasan Ivan tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh .Lalu kenapa waktu itu ia ucapkan kata cinta , .
Icha tersenyum sinis , mengingat hubungan nya bersama Ivan hanya sampai 13 hari saja ,
Dan itulah resiko yang harus Icha nikmati sekarang atas keputusan nya .
Icha pun di kejutkan sms dari Ivan yang berisikan kata maaf , dan tidak satupun dari sms Ivan di balas nya .
Malam semakin larut , tpi Icha juga tak bisa memejamkan matanya, Iya pun memutuskan untuk mengambil gitar nya , sekedar menghibur hatinya , mencoba menuliskan tentang perasaan nya , lewat lirik-lirik dan nada –nada jiwanya .
*****
Renata sudah berada di rumah Icha saat itu , tapi Icha masih belum bangun dari tidur nya ,
“cha , banguuuunnnnnnn,Ya ampunn , ,
Icha pun dengan malas nya terpaksa bangun dari tidur nya ,
“cha ni kamar atau apa sech ? berantakan bgt, “ gerutu Renata .
Tiba- tiba Renata melihat selembar kertas yang berisikan liri-lirik lagu, >>
“cha , ini apa? Puisi or lagu ? tanya Renata .
“iseng nulis-nulis lirik semalam, “ jawab Icha.
“wah , keren aku mau kmu nyanyiin ntr , buat aku , sepertinya ne lagu bgs dech ,
Lihat aja lirik nya menyentuh “
“owh ya cha , aku sdah tau apa yag terjadi antara kamu dengan Ivan,
Maafkan sepupu aku yach , maafkan aku juga , “
“ehehe , ya udah gak usah di bahas , biarkan berlalu n gak ada yag perlu d persalahkan, “jawab Icha .
“ yang sabar yach cha, ya dah sekarang siap- siap kan hari ini aku janji mau nemenin kamu ke sekolah buat nyiapin PENSI besok d sekolah kamu , “celoteh Renata .
Owh iya ,sekalian aja cha ni lagu kamu bawain pas PENSI besok , yach … yach ..?”bujuk Renata
“apaa? Gak ! malu di tonton banyak orang , “ jawab Renata .
“ayolah cha , aku kan pengen denger , pliaseeeeee>>>>>>.
“hemmm, kita liat saja besok , “jawab Icha singkat .
***
Hari ini di sekolah Icha ada acara PENSI , yaang biasa di gelar setiap tahun nya , dan hari ini juga Renata datang kesekolah Icha , meski harus bolos dari sekolah nya .
Dan hari ini juga ia akan melihat penampilan Icha , sahabat nya . menyanyikan sebuah lagu yang iya ciptakan semalaman .
Lagu nya tidak sedih , seperti layak nya orang yang sedang patah hati, hanya saja lirik nya sedikit mewakali apa yang di alami Icha “
“|CINTA 13 HARI “
“sungguh bahagia
Dan sungguh tak ku sangka
Saat pertama
Aku kenal dia,
Tak berlangsung lama
Perkenalan antara kita
Dan tiba- tiba saja
Dia katakan cinta
Namun semua hanya sesaat saja
Dan cinta nya hanya sementara
REFF:Terpaksa aku trima semua
Kenyataan yang ada meski sakit yang ku rasa
Cinta nya 13 hari saja
Namun tak mengapa
Ku sedikit bahagia
Mencintai dia ,
Meski hanya 13 hari saja
*******
Semua bertepuk tangan melihat penampilan Icha di atas panggung , cukup menghibur semua yang hadir saat itu, terutama Renata , iya pun langsung memeluk Icha saat icha turun dari panggung .
“chaa kerennn , “
“terima kasih , ta ,jawab Icha .
Ini baru sahabat aku , cukup kuat untuk menghadapi semua nya .
“iya ta, harus , buat apa menyesali yang telah terjadi , aku harus melihat kedepan ta,
Biarkan semua berlalu , n semua menjadi kenangan hidup ku ,”jawab Icha
Icha telah melupakan semua nya, tak akan ada lagi ivan, tak akan ada lagi pangeran cuek di hidup Icha , trus melangkah kedepan , menyongsong masa depan .
Itu yang sekarang Icha lakukan .
Tidak merasa lebih baik atau benar, dan bukan mengajarkan. Tak lebih dari mengingatkan pada diri sendiri dan sekitar. Berbagi pelajaran kecil, motivasi, dan cerita yang terinspirasi dari pengalaman, kegiatan, peristiwa, ataupun kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang disekitar. Bismillah, semoga bermanfaat.....
Kamis, 13 September 2012
Jumat, 15 Juni 2012
KENANGAN ITU
“Abin.. Abin!!” pekik seorang perempuan kecil yang lucu dengan intonasi amat ceria dan menggemaskan.
Dari tadi aku cerewet ya? (banget..) Kenalin aku Belinda, anak paling gak tahan kalau semenit aja nggak ngomong. Aku anak yang rajin karena keterpaksaan. Kakak ku lah yang membentukku menjadi anak rajin. Tapi aku tetap layaknya anak kecil lebih suka bermain dari pada belajar. Bermain dengan sahabat tergantengku. Ganteng, karena cuma dia satu-satunya teman cowokku. Abin namanya. Kami disatukan sejak umur 3 tahun. Bunda kami saling berteman, keduanya punya kegiatan yang sama, keduanya sama-sama memiliki 2 anak. Mungkin kita diciptakan dengan banyak kesamaan, juga dengan keluarga kami. Hidup itu menyenangkan sekali ternyata. Apalagi saat awal kami mengenal sekolah. Hari-hari di sekolah itu asyik.
“Bajumu kekecilan ya?” tanyaku nada mengejek. Yang sebenarnya bajunya sangat kebesaran.
“Ini seragam namanya, bukan baju!” jawabnya membelot. Mencoba memungkiri baju kebesarannya. Tubuh Abin ringkuh, terlalu baik untuk mengatakan kurus. Bahkan kulitnya seperti menempel di tulang, miriskan? Memang. Tapi jangan salah parasnya seperti cowok lain, ganteng.
“Kenapa keluar lagi? ” tanyaku melihat Abin keluar kelas. Ia tak menjawab.
Kuperhatikan sekeliling kelas yang berisi meja dan kursi yang ditata melingkar oleh ibu guru kami. Sepertinya aku tau apa yang membuatnya pergi.
“Masuk lagi Bin, tasnya Danu udah aku pindah kok. Ayo!” bujukku sambil menarik tangannya untuk berdiri.
Begitulah kami, selalu duduk bersebelahan tiap hari. Abin akan ngambek jika ada sebuah tas tergeletak di sampingku. Aku juga tak mengerti mengapa kita sangat dekat.
Lambat laun kita menjelma seperti magnet yang berkutub sama. Lingkungan lah yang membuat kita mengerti bahwa tak selamanya laki-laki dan perempuan boleh berteman sangat dekat.
Aku berhijrah ke kota untuk mengukuhkan ilmuku di salah satu sekolah berasrama. Sedikit demi sedikit memori masa kecilku mulai kuabaikan. Dengan teman baruku yang super seru.
Semuanya hilang. Waktu itu, masa yang dulu, sesosok itu aku pun seperti tak pernah melewatkannya. Belinda yang seperti saat inilah yang sangat kubenci. Tak akan boleh ku ulangi kesalahan ini.
“ Bel...” panggil seseorang dari belakangku membuyarkan aku yang sedang membereskan tas di toko ibuku.
“Minnal aidzin ya. Kosong-kosong ok?” lanjutnya saat aku setengah putar badan menghadapnya.
“Oh, he em iya. Sama-sama .” jawabku sangat kaku dan serasa jadi orang kikuk sedunia.
Diapun membentuk senyum di sudut pipinya seraya berjalan meninggalkanku. Yah! Abin jauh berbeda dari Abin yang dulu kukenal. Dia jauh lebih tinggi dari aku bahkan dari teman-temannya. Tapi perutnya masih saja kurus. Memori itu kembali padaku.
Di hari yang suci itu membuatku menyesal mengapa bukan aku yang mengucapkan maaf untuknya. Namun justru dia. Abin.
Memulai masa-masa yang ditunggu oleh anak remaja ternyata cukup membuatku kerepotan sekaligus menyenangkan. Kerepotan untuk beradaptasi dengan dunia remaja dengan warna warni fantasinya. Namun semua terasa menyenagkan karena kini aku bisa tumbuh dewasa dengan segala nikmat sehat oleh-Nya. Tidak sepertinya.
“ Mbak, masuk aja.. ngobrol di dalam” kata seorang laki-laki jangkung mengingatkan udara di balkon rumah sakit yang mulai panas.
“Assalamu’alaikum..” ucapku seraya masuk dalam kamar 305.
Kupandangi seisi ruangan yang lebih dari 5 orang teman yang menjenguknya. Dia pantas mendapat semua ini. Dia pantas disayang orang, diperhatikan orang yang menyayangi kebaikannnya.
“Apa kabar kamu? Maaf ya baru bisa kesini sekarang.”tanyaku penuh rasa bersalah.
“Kalau kamu tanya kabarku, aku hanya bisa jawab aku sedang dikasih Allah secuil rasa sayang-Nya buat aku. Nggak apa-apa, kamu pasti sibuk sekolah ya?” jawabnya ringan seperti menahan pucat yang menyimpan rasa sakit.
“Aku kemarin ke sekolahmu loh.” sambungnya beberapa saat kemudian.
Dia sangat terobsesi untuk masuk SMA sekarang aku berada. Sayang nasib tak berpihak padanya. Kami tak kembali disatukan di SMA yang sama.
“Temannya SMP ya?” tanya seorang teman laki-lakinya tiba-tiba.
“Bukan! Mbak ini dulu adalah teman masa kecil Abin. Katanya kalau mbaknya gak masuk sekolah karena sakit, Abinpun juga membelot tak masuk sekolah. Ya kan mbak?”sahut gadis berparas manis dari belakangku.
“Iya, begitulah. Konyol ya?” celetukku asal-asalan.
“Nggak konyol kok. Itulah arti kata sahabat. Sahabat emang harus seperti itu.” Jawab Abin dengan wajah sok bijaknya yang diiringi gelak tawa seisi ruangan.
Mulai saat itulah aku menyadari. Menyadari jika aku bukanlah sahabat yang baik untukmu. Menyadari betapa jahatnya aku yang dengan mudahnya melupakan persahabatan itu. Saat kau berupaya membuka memori masa lalu tentang kita pada teman-temanmu. Terima kasih telah melibatkanku dalam ceritamu bersama teman-teman yang kamu miliki.
Setelah operasi atas penyakit pada saat itu, Allah memilih berada disisi-Mu dan Allah juga memilih kau berada disisi-Nya. Sedangkan di sini kami juga merindukan sosokmu, sahabat.
Semoga kau tetap dalam pelukkan-Nya, dalam kasih sayang-Nya, dan tetap di hati kami, para sahabatmu.
“Main yuk! ” sahut Belinda dari seberang toko milik ibunya.
Dengan riang dan sorak celotehan yang tak bisa dipahami oleh orang dewasa, kami terus bermain dengan canda, tawa, sambil sesekali menggelitik geli. Tertawa penuh ekspresi tanpa mengerti apa yang lucu dari berlari-lari memutari pada toko-toko yang berjejer. Begitulah kebiasaan kami untuk menuangkan satu kata yang sangat kami dan teman-teman kami gemari. BERMAIN.
“Bel, coba liat ke cini deh! ” serunya sambil menarik ringan lenganku. Kali ini dia ambil sesuatu itu di atas telapak tangannya. Wajahnya berbinar senang sekali. Di sudut matanya ada secercah harapan sambil berekspresi polos namun tetap layaknya lelaki kecil yang lucu.
“Kenapa kamu masukin ke botol, Bin?” tanyaku ingin tahu, begitulah anak kecil. Selalu ingin tahu segalanya, semuanya, sampai terkadang ayah dan ibu lelah menjawab.
“Nanti mati loh. Kacian kalo mati.” sekali lagi aku ingatkan. Aku memang anak yang cerewet dan tak bisa diam, mungkin itulah aku di mata sahabatku ini.
Dengan riang dan sorak celotehan yang tak bisa dipahami oleh orang dewasa, kami terus bermain dengan canda, tawa, sambil sesekali menggelitik geli. Tertawa penuh ekspresi tanpa mengerti apa yang lucu dari berlari-lari memutari pada toko-toko yang berjejer. Begitulah kebiasaan kami untuk menuangkan satu kata yang sangat kami dan teman-teman kami gemari. BERMAIN.
“Bel, coba liat ke cini deh! ” serunya sambil menarik ringan lenganku. Kali ini dia ambil sesuatu itu di atas telapak tangannya. Wajahnya berbinar senang sekali. Di sudut matanya ada secercah harapan sambil berekspresi polos namun tetap layaknya lelaki kecil yang lucu.
“Kenapa kamu masukin ke botol, Bin?” tanyaku ingin tahu, begitulah anak kecil. Selalu ingin tahu segalanya, semuanya, sampai terkadang ayah dan ibu lelah menjawab.
“Nanti mati loh. Kacian kalo mati.” sekali lagi aku ingatkan. Aku memang anak yang cerewet dan tak bisa diam, mungkin itulah aku di mata sahabatku ini.
Abin terus melakukannya dengan ekspresi serius. Dan ditutuplah botol
yang berisi laba-laba, seekor hewan yang memiliki kemampuan membuat
jaring-jaring tipis, dengan sedikit renggang.
“Nggak mungkin mati kok. Lagian aku nanti kalo udah becal pengen jadi spiderman yang bisa menolong banyak olang.” harapnya penuh kepolosan sambil terus menerawang sang laba-laba dalam botol.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Mendengarkan harapan yang aneh, karena aku tak pernah bertemu sebelumnya dengan spiderman yang berjuluk ‘Sang Penyelamat’. Setahuku itu hanya ada di TV yang biasa kami tonton sepulang sekolah.
“Coba kesiniin tanganmu!” Abin meraih sebelah tanganku dan meletakkan seekor laba-laba yang kini berjalan kecil-kecil di punggung tanganku. Aku meggerutu geli dan sedikit ketakutan.
“Abin... ambil cepet. Aku takut nih! ” pintaku ketakutan dengan memejamkan setengan bola mataku dan membukanya kembali. Laba-laba itu masih melekat di telapak tanganku.
“Jangan gelak-gelak dong! Bial dia gak jalan telus. Jangan takut, dia gak gigit kok.” bujuk Abin . Aku pun menurutinya. Aku takut sebenarnya, takut kalo masuk ke dalam bajuku. Tapi aku percaya dengan kata-kata Abin. Aku percaya dia karena kami bersahabat, sahabat baikku.
Ternyata benar. Setelah aku tenang, sang laba-labapun tidak lagi membuatku geli. Perlahan diambilnya dari tanganku dan dimasukkan dalam botol. Sang laba-laba tetap berjalan ke permukaan botol dan kembali ke dasar botol, begitu seterusnya. Dia masih terlihat gembira meski dalam botol hanyalah ada dirinya seekor.
Kami pun kembali belari-lari mengitari tanah lapang beraspal tanpa rumput. Aku berputar gembira entah karena apa. Mungkin karena hari ini aku mendapat pelajaran baru tentang kebenaniaan dan satu lagi, aku tahu impian Abin yang mungkin konyol di mata kita.
“Nggak mungkin mati kok. Lagian aku nanti kalo udah becal pengen jadi spiderman yang bisa menolong banyak olang.” harapnya penuh kepolosan sambil terus menerawang sang laba-laba dalam botol.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Mendengarkan harapan yang aneh, karena aku tak pernah bertemu sebelumnya dengan spiderman yang berjuluk ‘Sang Penyelamat’. Setahuku itu hanya ada di TV yang biasa kami tonton sepulang sekolah.
“Coba kesiniin tanganmu!” Abin meraih sebelah tanganku dan meletakkan seekor laba-laba yang kini berjalan kecil-kecil di punggung tanganku. Aku meggerutu geli dan sedikit ketakutan.
“Abin... ambil cepet. Aku takut nih! ” pintaku ketakutan dengan memejamkan setengan bola mataku dan membukanya kembali. Laba-laba itu masih melekat di telapak tanganku.
“Jangan gelak-gelak dong! Bial dia gak jalan telus. Jangan takut, dia gak gigit kok.” bujuk Abin . Aku pun menurutinya. Aku takut sebenarnya, takut kalo masuk ke dalam bajuku. Tapi aku percaya dengan kata-kata Abin. Aku percaya dia karena kami bersahabat, sahabat baikku.
Ternyata benar. Setelah aku tenang, sang laba-labapun tidak lagi membuatku geli. Perlahan diambilnya dari tanganku dan dimasukkan dalam botol. Sang laba-laba tetap berjalan ke permukaan botol dan kembali ke dasar botol, begitu seterusnya. Dia masih terlihat gembira meski dalam botol hanyalah ada dirinya seekor.
Kami pun kembali belari-lari mengitari tanah lapang beraspal tanpa rumput. Aku berputar gembira entah karena apa. Mungkin karena hari ini aku mendapat pelajaran baru tentang kebenaniaan dan satu lagi, aku tahu impian Abin yang mungkin konyol di mata kita.
Dari tadi aku cerewet ya? (banget..) Kenalin aku Belinda, anak paling gak tahan kalau semenit aja nggak ngomong. Aku anak yang rajin karena keterpaksaan. Kakak ku lah yang membentukku menjadi anak rajin. Tapi aku tetap layaknya anak kecil lebih suka bermain dari pada belajar. Bermain dengan sahabat tergantengku. Ganteng, karena cuma dia satu-satunya teman cowokku. Abin namanya. Kami disatukan sejak umur 3 tahun. Bunda kami saling berteman, keduanya punya kegiatan yang sama, keduanya sama-sama memiliki 2 anak. Mungkin kita diciptakan dengan banyak kesamaan, juga dengan keluarga kami. Hidup itu menyenangkan sekali ternyata. Apalagi saat awal kami mengenal sekolah. Hari-hari di sekolah itu asyik.
“Bajumu kekecilan ya?” tanyaku nada mengejek. Yang sebenarnya bajunya sangat kebesaran.
“Ini seragam namanya, bukan baju!” jawabnya membelot. Mencoba memungkiri baju kebesarannya. Tubuh Abin ringkuh, terlalu baik untuk mengatakan kurus. Bahkan kulitnya seperti menempel di tulang, miriskan? Memang. Tapi jangan salah parasnya seperti cowok lain, ganteng.
“Kenapa keluar lagi? ” tanyaku melihat Abin keluar kelas. Ia tak menjawab.
Kuperhatikan sekeliling kelas yang berisi meja dan kursi yang ditata melingkar oleh ibu guru kami. Sepertinya aku tau apa yang membuatnya pergi.
“Masuk lagi Bin, tasnya Danu udah aku pindah kok. Ayo!” bujukku sambil menarik tangannya untuk berdiri.
Begitulah kami, selalu duduk bersebelahan tiap hari. Abin akan ngambek jika ada sebuah tas tergeletak di sampingku. Aku juga tak mengerti mengapa kita sangat dekat.
Lambat laun kita menjelma seperti magnet yang berkutub sama. Lingkungan lah yang membuat kita mengerti bahwa tak selamanya laki-laki dan perempuan boleh berteman sangat dekat.
Aku berhijrah ke kota untuk mengukuhkan ilmuku di salah satu sekolah berasrama. Sedikit demi sedikit memori masa kecilku mulai kuabaikan. Dengan teman baruku yang super seru.
Semuanya hilang. Waktu itu, masa yang dulu, sesosok itu aku pun seperti tak pernah melewatkannya. Belinda yang seperti saat inilah yang sangat kubenci. Tak akan boleh ku ulangi kesalahan ini.
“ Bel...” panggil seseorang dari belakangku membuyarkan aku yang sedang membereskan tas di toko ibuku.
“Minnal aidzin ya. Kosong-kosong ok?” lanjutnya saat aku setengah putar badan menghadapnya.
“Oh, he em iya. Sama-sama .” jawabku sangat kaku dan serasa jadi orang kikuk sedunia.
Diapun membentuk senyum di sudut pipinya seraya berjalan meninggalkanku. Yah! Abin jauh berbeda dari Abin yang dulu kukenal. Dia jauh lebih tinggi dari aku bahkan dari teman-temannya. Tapi perutnya masih saja kurus. Memori itu kembali padaku.
Di hari yang suci itu membuatku menyesal mengapa bukan aku yang mengucapkan maaf untuknya. Namun justru dia. Abin.
Memulai masa-masa yang ditunggu oleh anak remaja ternyata cukup membuatku kerepotan sekaligus menyenangkan. Kerepotan untuk beradaptasi dengan dunia remaja dengan warna warni fantasinya. Namun semua terasa menyenagkan karena kini aku bisa tumbuh dewasa dengan segala nikmat sehat oleh-Nya. Tidak sepertinya.
“ Mbak, masuk aja.. ngobrol di dalam” kata seorang laki-laki jangkung mengingatkan udara di balkon rumah sakit yang mulai panas.
“Assalamu’alaikum..” ucapku seraya masuk dalam kamar 305.
Kupandangi seisi ruangan yang lebih dari 5 orang teman yang menjenguknya. Dia pantas mendapat semua ini. Dia pantas disayang orang, diperhatikan orang yang menyayangi kebaikannnya.
“Apa kabar kamu? Maaf ya baru bisa kesini sekarang.”tanyaku penuh rasa bersalah.
“Kalau kamu tanya kabarku, aku hanya bisa jawab aku sedang dikasih Allah secuil rasa sayang-Nya buat aku. Nggak apa-apa, kamu pasti sibuk sekolah ya?” jawabnya ringan seperti menahan pucat yang menyimpan rasa sakit.
“Aku kemarin ke sekolahmu loh.” sambungnya beberapa saat kemudian.
Dia sangat terobsesi untuk masuk SMA sekarang aku berada. Sayang nasib tak berpihak padanya. Kami tak kembali disatukan di SMA yang sama.
“Temannya SMP ya?” tanya seorang teman laki-lakinya tiba-tiba.
“Bukan! Mbak ini dulu adalah teman masa kecil Abin. Katanya kalau mbaknya gak masuk sekolah karena sakit, Abinpun juga membelot tak masuk sekolah. Ya kan mbak?”sahut gadis berparas manis dari belakangku.
“Iya, begitulah. Konyol ya?” celetukku asal-asalan.
“Nggak konyol kok. Itulah arti kata sahabat. Sahabat emang harus seperti itu.” Jawab Abin dengan wajah sok bijaknya yang diiringi gelak tawa seisi ruangan.
Mulai saat itulah aku menyadari. Menyadari jika aku bukanlah sahabat yang baik untukmu. Menyadari betapa jahatnya aku yang dengan mudahnya melupakan persahabatan itu. Saat kau berupaya membuka memori masa lalu tentang kita pada teman-temanmu. Terima kasih telah melibatkanku dalam ceritamu bersama teman-teman yang kamu miliki.
Setelah operasi atas penyakit pada saat itu, Allah memilih berada disisi-Mu dan Allah juga memilih kau berada disisi-Nya. Sedangkan di sini kami juga merindukan sosokmu, sahabat.
Semoga kau tetap dalam pelukkan-Nya, dalam kasih sayang-Nya, dan tetap di hati kami, para sahabatmu.
Minggu, 12 Februari 2012
Surat Untukmu
Teruntuk Dirimu.
Aku selalu percaya bahwa cinta adalah sebuah anugerah. Mereka yang jatuh cinta, adalah mereka yang beruntung dalam hidupnya. Karena sungguh tidak mudah untuk mencinta. Kau tahu, sejak menamatkan sekolah di sebuah sekolah menengah umum, aku mulai mencoba untuk jatuh cinta. Namun sungguh, meski telah berkali-kali kucoba untuk mencinta, Aku tak pernah benar-benar jatuh cinta.
Pernah di suatu malam, kupagut bibir seorang wanita, menindihnya dalam kamar sempit di kosanku, menikmati jeritan kecilnya, hingga menemukan diriku dan dirinya berpeluh keringat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh-tubuh kami. Tapi apakah itu cinta. Itu bukan sebuah cinta. Karena aku sama sekali tak mencintainya. Kutahu banyak orang yang beranggapan bahwa kita saling mencinta. Namun mereka salah. Tahu apa mereka soal cinta.
Hingga pada akhirnya, pada sebuah titik hidup akupun percaya bahwa kebersamaan ternyata bisa menjadi tempat dimana benih akan cinta bisa muncul. Meski tidak semua kebersamaan akan berakhir dengan cerita cinta tentunya.
Aku, kamu dan kebersamaan. Yah, kebersamaan. Itu yang membuat benih cinta itu muncul. Semakin hari semakin besar hingga tak mampu lagi ku memendamnya. Kamu memang cantik. Tato kupu-kupu di bagian punggungmu itu eksotis dan menggairahkan. Tapi bukan itu yang membuat benih cinta itu muncul.
Ini bukan soal gairah. Ini soal kedamaian. Ada damai saat bersamamu. Perasaan yang tak pernah aku temukan saat bersama dengan wanita-wanita lainnya.
Aku tahu akan berat rasanya menerima hal ini. Apalagi untukmu yang tak pernah percaya akan adanya cinta. Masa lalu yang kelam membuatmu percaya bahwa tak pernah ada cinta. Yang ada hanya nafsu. Bahwa hampir semua lelaki yang engkau kenal hanya ingin menikmati tubuh indahmu. “Lelaki itu brengsek. Mereka hanya mau nafsu.” Ujarmu kepadaku suatu ketika. Tapi mungkin kau lupa atau bahkan belum bertemu dengan lelaki yang ternyata tidak hanya melihat wanita dari sudut pandang itu. Lelaki yang tidak menyimpan otaknya di kelaminnya. Lelaki yang sungguh jatuh cinta. Yang menerimamu apa adanya dan tidak melihat masa lalumu sebagai sebuah masa lalu yang kelam. Lelaki yang percaya bahwa cinta adalah anugerah. Lelaki untukmu. Aku.
Sayangnya, kau memilih jalanmu. Engkau pergi sebelum kau mengetahui akan adanya cinta. Kau tak lagi merasa damai dengan dunia yang hanya membuatmu muak. Dunia yang dikuasai oleh nafsu, serakah dan angkara murka. Kamu kecewa pada dunia. Kecewa pada pemimpinmu, dan kecewa dengan lelaki-lelaki yang pernah mencintaimu. Kau tak menemukan sosok yang mampu mengeluarkanmu dari kelamnya dunia. Malam itu kau memutus urat nadimu, menikmati saat dimana darahnya keluar perlahan dari pergelangan tangamu hingga kemudian kaupun lemas, penglihatanmu tak lagi terang, kabur, lalu semuanya menjadi gelap. Engkau pergi untuk selama-lamanya. Ada senyum di bibirmu dalam tidur panjangmu itu.
Malam ini, di samping nisan tempatmu di baringkan kutulis surat ini untukmu. Berharap malam ini engkau datang menemuiku saat aku datang mengunjungimu. Akan kubacakan surat ini di atas nisanmu dengan setengah berteriak, seraya berharap engkau bisa mendengarnya. Takkan kupedulikan orang-orang yang terkejut dan takut karena menganggapku kerasukan. Aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku mencintaimu. Jangan pula kau abaikan setangkai mawar yang kutitipkan di sana. Setangkai mawar yang seharusnya kuberikan dahulu saat kau masih hidup.
Tenanglah kau di sana dalam damaimu. Bertemu Tuhanmu yang pasti mencintaimu. Disana, akan kau temukan cinta yang akan mendamaikanmu.
Sebuah Cinta dari Tuhanmu.
Dariku.
Langganan:
Postingan (Atom)