Seperti halnya dunia yang terus berputar
Ada matahari yang bergantian menyinari permukaan bumi
Ada bulan yang menerawangkan langit di balik sisi bumi lainnya
Dan jarum jam yang terus bergerak ke kanan
Hal yang sebenarnya sedikit memberikan ilmu kepada manusia
Menyikapi permasalahan dunia dan terus melangkah kedepan
Bukan salah bila ada yang mengeluh
Tapi salahlah mereka yang mengeluh tanpa membenahinya
Seperti memakukan diri seakan siap untuk berjalan mundur
Seperti membuang kesempatan yang mungkin berpeluang menjadi takdir yang jndah
Semua sama....
Apa yang berbeda dari satu ke yang lain??
Bukankah kesempatan selalu didapatkan??
Lalu kenapa banyak yang berbeda??
Apa mungkin itu suratan takdir yang dibacakan Tuhan saat akan lahir??
Tuhan yang mendengar Tuhan yang akan menjawab
Sampai dimana orang akan mengerti apa maksud dari kegagalan
Berjalannya kehidupan banyak menghilangkan kebiasaan yang harusnya masih melekat
Tercemarkan oleh cerita baru yang hanya kita ketahui awal tanpa mampu menyimpulkan hal di akhir tulisan
Dinamika kehidupan, mungkjn itu nama yang paling tepat
Karenanya itu kita harus menyelesaikan apa yang bermula dari sebuah cerita
Tidak merasa lebih baik atau benar, dan bukan mengajarkan. Tak lebih dari mengingatkan pada diri sendiri dan sekitar. Berbagi pelajaran kecil, motivasi, dan cerita yang terinspirasi dari pengalaman, kegiatan, peristiwa, ataupun kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang disekitar. Bismillah, semoga bermanfaat.....
Selasa, 17 November 2015
Jumat, 25 September 2015
Wanita Hebat Dan Si Penyembunyi
Hidup terlalu sulit bila tidak memperjuangkan segala sesuatunya dengan keikhlasan.
Mungkin itulah kalimat yang pantas untuk diberikan kepada seorang wanita muda bernama Yanti.
Yanti adalah gadis belia yang tinggal disalah satu kota metropolitan kecil di pulau Indonesia. Usianya baru sekitar 19 tahun, tapi kegigihannya dalam mengais rejeki patut diacungi empat jempol.
Bagaimana tidak, kesehariannya adalah sebagai salah satu pegawai di perusahaan penerbangan. Dengan jadwal kerja yang terbagi menjadi tiga (pagi, siang, dan malam), ia tak pernah mengeluhkan atas lelah yang ia rasakan.
Padatnya pekerjaan yang harus dilakoninya setiap hari tak pernah menyurutkan semangatnya untuk tetap tersenyum dan bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan sang pencipta.
Apalagi bila ia sudah masuk bekerja pada sift malam, bukan hanya rasa lelah dan penat yang harus dihadapinya, tapi ia juga harus melawan rasa kantuk yang terkadang sangat luar biasa dan harus tetap menjaga konsentrasinya dalam bekerja.
Tapi mungkin ini hanyalah hal yang biasa bagi sebagian orang, bekerja hingga larut bahkan sampai berjumpa pagi lagi. Dan Yanti juga melewati batas biasa yang ada, ia juga bekerja "Part Time" pada salah satu perusahaan rokok ternama di Indonesia.
Ia bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG). Namun ia bekerja di perusahaan itu tidaklah untuk setiap hari. Hanya bila ia Off di kantor pertamanya atau bila ia bekerja pada sift pagi.
Itupun tidak setiap saat, tapi lebih kepada menunggu panggilan kerja saja dari pihak perusahaan tersebut.
Dan bila Yanti sudah bekerja menjadi seorang SPG, terkadang ia harus membuang waktu istirahatnya hingga pukul 3 pagi. Sungguh perjuangan keras untuk wanita semuda dirinya, apalagi dengan godaan dari gemerlapnya kehidupan para kaum remaja masa kini yang identik dengan menghamburkan uang dan bergengsi tinggi untuk terus mengikuti perkembangan zaman yang semakin tercemarkan dengan budaya barat.
Sedangkan ia lebih banyak merelakan masa mudanya untuk mengais rejeki dan memenuhi segala kebutuhannya. Kebutuhan yang cukup banyak, kebutuhan yang harus ia tanggung sendiri, kebutuhan yang harus terpenuhi setiap bulannya, kebutuhan yang memang menjadi prioritas utamanya.
Setahun lebih sudah ia menekuni 2 pekerjaan didalam hidupnya. Semua berjalan dengan baik. Kebutuhan terus tercukupi, bahkan sangat sering ia juga membantu perekonomian dirumah, mengingat sang Ayah juga sudah pensiun dari pekerjaannya beberapa tahun silam.
Tapi ibarat burung yang sedang terbang, semakin tinggi ia mampu terbang akan semakin kencang angin yang mencoba menjatuhkannya. Seperti itulah keadaan yang ia hadapi kini. Banyak orang yang mencoba untuk menyudutkannya karena pekerjaan Part Timenya tersebut.
Entah apa maksud dan tujuan mereka. Iri, dengki, syirik, benci, atau apapun itu tidaklah Yanti tahu akan alasan mereka.
Dan apapun alasannya, hal tersebut cukup mengganggu fikiran Yanti dalam beberapa hari ini. Ia menjadi tidak tenang, bad mood, dan merasa tidak nyaman dalam melakukan segala aktifitas apapun.
"Apa salahnya seorang SPG??", tanya Yanti kepada Ajeng yang merupakan teman baiknya dari masa SMK dulu.
"Bukankah itu pekerjaan yang Halal?? Kenapa mereka mengurusi urusan pekerjaanku??"
"Aku juga tidak pernah melakukan hal-hal aneh diluar sana", timpalnya lagi.
Ajeng pun hanya mengangguk pelan berkali-kali dan mengernyitkan dahi seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Mereka hanya menilaimu dari luar, mereka tak tahu tujuanmu melakukan itu semua, mereka tak tahu niat luar biasamu Yan. Tak seharusnya kamu menjadikan ini suatu permasalahan yang besar", ucap Ajeng.
"Yaaaa meskipun apa yang mereka perbincangkan tentang kamu juga tidak salah sih...", sahut Ajeng lagi.
"Namanya manusia Yan..... pasti banyak yang suka mengurusi urusan orang lain tak perduli siapa yang benar dan siapa yang salah."
"Kita juga nggak tahu kan niat mereka mengomentarin kamu itu apa??"
"Niat mereka baik atau tidak kita nggak tahu!!"
"Tinggal kamunya saja yang harus mencari tahu cara menghadapinya itu dengan cara yang seperti apa!!"
Yanti hanya tertunduk mendengarkan semua yang diucapkan oleh Ajeng.
Ia akui, sulit memutuskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Sulit ia putuskan malam itu juga apa yang harus dilakukan selanjutnya.
*****
Pagi ini, awan mendung menghiasi langit dikota tempat Yanti tinggal. Sudah beberapa bulan terakhir, hujan enggan menyapa permukaan bumi ini. Hanya ada langit yang gelap tanpa ada air yang turun. Ditambah lagi dengan kabut asap yang menyelimuti akibat banyaknya pembakaran lahan dan kebakaran hutan yang disebabkan kemarau berkepanjangan. Tapi hal demikian tak mempengaruhi keindahan senyum Yanti. Senyum yang cukup menggambarkan tentang indahnya dunia, senyum penuh ketulusan dari seorang hawa yang mampu memikat kaum adam mana saja yang melihatnya.
Tak terkecuali Reza, seorang pemuda dengan segala ketersembunyiannya. Teman baru Yanti yang juga merupakan salah satu teman di lokasi kerjanya.
Sudah cukup lama mereka berteman di sosial media, tapi baru beberapa hari belakangan ini mereka bertatap muka secara langsung dan menjalin komunikasi sederhana.
Tapi selama mereka berteman di sosial media, acap kali Reza melihat-lihat dan mengunjungi beranda sosial media milik Yanti. Sekedar mengatasi rasa penasaran dan keingintahuannya terhadap seorang Yanti. Yaaaa..... mengatasi rasa ingin tahu dengan segala ketersembunyiannya. Karena Reza merupakan salah satu pria dengan tingkat keanehan yang cukup tinggi. Terlalu pemalu terhadap orang yang disukainya, padahal Reza memiliki tingkat kekocakkan yang besar bila ia sedang bersama teman-teman sepermainannya.
Yanti begitu bersemangat hari ini, bergegas ia menyalakan mesin motornya untuk pergi bekerja. Dilihatnya jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 07.40. Hanya 20 menit waktu tersisa baginya untuk bisa sampai di tempat ia bekerja. Tapi tak menjadi masalah melihat jarak rumah menuju tempat kerjanya yang tergolong dekat.
Semangat Yanti bukan untuk segera sampai di kantor, bertemu rekan kerja, dan melakukan pekerjaan yang biasa ia lakukan. Melainkan semangat untuk segera bisa menyelesaikan hari ini sembari berharap waktu akan berputar lebih cepat dari biasanya. Agar ia dapat segera pulang dan di malam harinya bisa kembali bekerja menjadi seorang SPG.
*****
"Deg deg deg deg deg.....", Jantung Reza berdegup lebih kencang dari biasanya takkala ditatapnya tajam wajah Yanti dari kejauhan. Tak ingin ketahuan bila ia sedang memperhatikan Yanti yang sedang asyik duduk memainkan jemarinya dilayar handphonenya, Reza hanya berani menatapnya sesekali dan beberapa detik saja lalu segera berpura mengalihkan pandangannya kearah lain.
Ketersembunyian Reza berdampak hal istimewa pada dirinya, ia menjadi orang yang pandai dalam menyembunyikan perasaannya, termasuk rasa sakitnya. Ia lebih memilih untuk mencintai dalam diam. Ia lebih suka menjadi hening ditengah ramai.
Lebih dekat ditatapnya, didapatkannya tatapan mata itu. Tatapan gelisah yang syarat akan pilu. Sorot mata kosong yang mengambang dalam kebimbangan.
"Ada yang berbeda dari matanya, tak seperti saat pertama kali bertemu", gumam Reza dalam hati.
Diberanikannya untuk bertanya pada Yanti, apa yang sedang terjadi padanya.
Yanti tersentak seketika kala Reza bertanya tentang keadaan dirinya, Yanti pun sempat terkejut kenapa Reza bisa mengetahui bahwa dirinya sedang tidak dalam kondisi yang biasa.
Akhirnya tanpa setitik keraguan pun Yanti menceritakan kronologi permasalahan yang sedang dihadapinya.
Sepatah demi patah kata yang terucap dari mulut Yanti, dicoba untuk diartikan lebih jauh oleh Reza.
Tampak Reza yang terus mengernyitkan dahi dan memicikkan matanya, berkonsentrasi pada apa yang didengarnya.
Ternyata Yanti dikucilkan dan dijadikan bahan obrolan negatif karena dianggap sebagai wanita yang tidak bisa menempatkan diri dalam keseharian serta aktifitas pekerjaannya.
Saat ia sedang menjalankan tugas sebagai seorang staff di perusahaan penerbangan, ia menggunakan hijab untuk menutup auratnya. Sedangkan pada saat ia menjalani pekerjaan sebagai seorang SPG, ia harus mengenakan dress tanpa lengan yang terbilang memang agak sedikit terbuka.
Reza memejamkan matanya..... mencoba berfikir untuk mencari solusi paling tepat untuk Yanti dalam menghadapi permasalahan ini.
Reza membenarkan posisi duduknya, dikepalkan kedua tangannya menjadi satu dan menatap Yanti secara serius.
Ia menjelaskan agar Yanti tetap pada jalur yang semestinya. Mencoba untuk meyakinkan mereka yang mengumpat dirinya untuk tidak lagi mencibir seperti itu. Karena Yanti memiliki alasan cukup kuat untuk melakukan itu semua, tanggungan yang dimilikinya cukuplah besar. Dan ia harus menghasilkan nominal yang cukup banyak perbulannya untuk memenuhi itu semua.
Dan Reza pun meyakinkan kepada Yanti, bahwa suatu saat nanti Yanti memang harus memilih salah satu diantara keduanya.
"Mana yang bisa menjadi prioritas utamanya, cuma Yanti yang bisa menentukan...", ucap Reza.
"Karena nasi sudah menjadi bubur, maka ia tidak akan bisa kembali lagi menjadi nasi. Hanya saja bagaimana cara kita untuk bisa memberi bumbu pada bubur tersebut agar menjadi lezat", lanjut Reza.
Yanti diam sejenak.... dan hanya mengangguk lirih mendengar apa yang disampaikan oleh Reza.
*****
Hari demi hari berlalu begitu cepat....
Senyum yang diukir menjadi lebih indah daripada sebelumnya.
Tak lagi dilihatnya linangan perih dari mata seorang Yanti.
Semuanya sudah berubah semenjak hari itu, Yanti menjadi memiliki keberanian dan kepercayaan diri yang kuat dalam menghadapi sikap teman-temannya.
Yanti kembali meraih setitik terang yang hilang karena ditelan kebimbangannya.
Ia telah kembali....
"Semoga terus seperti itu.....", Reza menuliskan kalimatnya disebuah lembaran tissue kala ia mengingat perubahan yang terpancar dari diri Yanti kala ia bertemu kemarin sore. Diseruputnya tegukan terakhir dari cappuchino panasnya. Lalu dimainkannya irama keberhasilan dari harmonikanya malam itu. Disingkapnya pekat malam dengan cahaya binar dari sorot matanya, dipecahkannya hening malam dengan alunan nada sederhananya.
"Yanti hanya butuh kompas untuk tahu jalan mana yang harus ia ambil, sisanya akan diselesaikannnya sendiri perjalanan itu", fikir Reza dalam hati disela pejaman matanya.
Rasa itu tumbuh begitu cepat, rasa aneh yang menyinggahi permukaan hati Reza.
Rasa yang sebenarnya tak juga ia ketahui apa namanya.
Rasa yang tak pernah secepat itu menyelimuti benaknya.
Tapi kembali Reza hanya berlindung pada ketersembunyiannya. Mencoba menikmati rasa dibalik gunung tinggi bernama rahasia. Menyelipkan nama Yanti disetiap sujudnya, menggolongkan Yanti sebagai salah satu alasan agar ia terus bangun di pagi hari, dan menjadikan Yanti sebagai salah satu orang yang harus ia jaga senyumnya dari airmata yang kapan saja bisa datang menghapus senyum itu.
Rasa itu akan terbalas atau tidak, itu tak pernah difikirkan oleh Reza. Karena yang ia tahu, adalah hanya untuk kebahagiaan Yanti.
Bersamanya atau tidak, itu tak menjadi hambatan bagian Reza. Karena yang ia tahu, tujuan itu hanya untuk kebahagiaan Yanti.
Bukan tanpa usaha, Reza hanya mencoba berserah pada apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Ada kesempatan atau tidak, Tuhan yang mengatur semua.
Karena yang ia tahu, meski tak menjadi pilihan, tak mendapat balasan perasaan, tak diberi kesempatan, apapun diperjuangkannya untuk kebahagiaan Yanti.
Mungkin itulah kalimat yang pantas untuk diberikan kepada seorang wanita muda bernama Yanti.
Yanti adalah gadis belia yang tinggal disalah satu kota metropolitan kecil di pulau Indonesia. Usianya baru sekitar 19 tahun, tapi kegigihannya dalam mengais rejeki patut diacungi empat jempol.
Bagaimana tidak, kesehariannya adalah sebagai salah satu pegawai di perusahaan penerbangan. Dengan jadwal kerja yang terbagi menjadi tiga (pagi, siang, dan malam), ia tak pernah mengeluhkan atas lelah yang ia rasakan.
Padatnya pekerjaan yang harus dilakoninya setiap hari tak pernah menyurutkan semangatnya untuk tetap tersenyum dan bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan sang pencipta.
Apalagi bila ia sudah masuk bekerja pada sift malam, bukan hanya rasa lelah dan penat yang harus dihadapinya, tapi ia juga harus melawan rasa kantuk yang terkadang sangat luar biasa dan harus tetap menjaga konsentrasinya dalam bekerja.
Tapi mungkin ini hanyalah hal yang biasa bagi sebagian orang, bekerja hingga larut bahkan sampai berjumpa pagi lagi. Dan Yanti juga melewati batas biasa yang ada, ia juga bekerja "Part Time" pada salah satu perusahaan rokok ternama di Indonesia.
Ia bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG). Namun ia bekerja di perusahaan itu tidaklah untuk setiap hari. Hanya bila ia Off di kantor pertamanya atau bila ia bekerja pada sift pagi.
Itupun tidak setiap saat, tapi lebih kepada menunggu panggilan kerja saja dari pihak perusahaan tersebut.
Dan bila Yanti sudah bekerja menjadi seorang SPG, terkadang ia harus membuang waktu istirahatnya hingga pukul 3 pagi. Sungguh perjuangan keras untuk wanita semuda dirinya, apalagi dengan godaan dari gemerlapnya kehidupan para kaum remaja masa kini yang identik dengan menghamburkan uang dan bergengsi tinggi untuk terus mengikuti perkembangan zaman yang semakin tercemarkan dengan budaya barat.
Sedangkan ia lebih banyak merelakan masa mudanya untuk mengais rejeki dan memenuhi segala kebutuhannya. Kebutuhan yang cukup banyak, kebutuhan yang harus ia tanggung sendiri, kebutuhan yang harus terpenuhi setiap bulannya, kebutuhan yang memang menjadi prioritas utamanya.
Setahun lebih sudah ia menekuni 2 pekerjaan didalam hidupnya. Semua berjalan dengan baik. Kebutuhan terus tercukupi, bahkan sangat sering ia juga membantu perekonomian dirumah, mengingat sang Ayah juga sudah pensiun dari pekerjaannya beberapa tahun silam.
Tapi ibarat burung yang sedang terbang, semakin tinggi ia mampu terbang akan semakin kencang angin yang mencoba menjatuhkannya. Seperti itulah keadaan yang ia hadapi kini. Banyak orang yang mencoba untuk menyudutkannya karena pekerjaan Part Timenya tersebut.
Entah apa maksud dan tujuan mereka. Iri, dengki, syirik, benci, atau apapun itu tidaklah Yanti tahu akan alasan mereka.
Dan apapun alasannya, hal tersebut cukup mengganggu fikiran Yanti dalam beberapa hari ini. Ia menjadi tidak tenang, bad mood, dan merasa tidak nyaman dalam melakukan segala aktifitas apapun.
"Apa salahnya seorang SPG??", tanya Yanti kepada Ajeng yang merupakan teman baiknya dari masa SMK dulu.
"Bukankah itu pekerjaan yang Halal?? Kenapa mereka mengurusi urusan pekerjaanku??"
"Aku juga tidak pernah melakukan hal-hal aneh diluar sana", timpalnya lagi.
Ajeng pun hanya mengangguk pelan berkali-kali dan mengernyitkan dahi seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Mereka hanya menilaimu dari luar, mereka tak tahu tujuanmu melakukan itu semua, mereka tak tahu niat luar biasamu Yan. Tak seharusnya kamu menjadikan ini suatu permasalahan yang besar", ucap Ajeng.
"Yaaaa meskipun apa yang mereka perbincangkan tentang kamu juga tidak salah sih...", sahut Ajeng lagi.
"Namanya manusia Yan..... pasti banyak yang suka mengurusi urusan orang lain tak perduli siapa yang benar dan siapa yang salah."
"Kita juga nggak tahu kan niat mereka mengomentarin kamu itu apa??"
"Niat mereka baik atau tidak kita nggak tahu!!"
"Tinggal kamunya saja yang harus mencari tahu cara menghadapinya itu dengan cara yang seperti apa!!"
Yanti hanya tertunduk mendengarkan semua yang diucapkan oleh Ajeng.
Ia akui, sulit memutuskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Sulit ia putuskan malam itu juga apa yang harus dilakukan selanjutnya.
*****
Pagi ini, awan mendung menghiasi langit dikota tempat Yanti tinggal. Sudah beberapa bulan terakhir, hujan enggan menyapa permukaan bumi ini. Hanya ada langit yang gelap tanpa ada air yang turun. Ditambah lagi dengan kabut asap yang menyelimuti akibat banyaknya pembakaran lahan dan kebakaran hutan yang disebabkan kemarau berkepanjangan. Tapi hal demikian tak mempengaruhi keindahan senyum Yanti. Senyum yang cukup menggambarkan tentang indahnya dunia, senyum penuh ketulusan dari seorang hawa yang mampu memikat kaum adam mana saja yang melihatnya.
Tak terkecuali Reza, seorang pemuda dengan segala ketersembunyiannya. Teman baru Yanti yang juga merupakan salah satu teman di lokasi kerjanya.
Sudah cukup lama mereka berteman di sosial media, tapi baru beberapa hari belakangan ini mereka bertatap muka secara langsung dan menjalin komunikasi sederhana.
Tapi selama mereka berteman di sosial media, acap kali Reza melihat-lihat dan mengunjungi beranda sosial media milik Yanti. Sekedar mengatasi rasa penasaran dan keingintahuannya terhadap seorang Yanti. Yaaaa..... mengatasi rasa ingin tahu dengan segala ketersembunyiannya. Karena Reza merupakan salah satu pria dengan tingkat keanehan yang cukup tinggi. Terlalu pemalu terhadap orang yang disukainya, padahal Reza memiliki tingkat kekocakkan yang besar bila ia sedang bersama teman-teman sepermainannya.
Yanti begitu bersemangat hari ini, bergegas ia menyalakan mesin motornya untuk pergi bekerja. Dilihatnya jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 07.40. Hanya 20 menit waktu tersisa baginya untuk bisa sampai di tempat ia bekerja. Tapi tak menjadi masalah melihat jarak rumah menuju tempat kerjanya yang tergolong dekat.
Semangat Yanti bukan untuk segera sampai di kantor, bertemu rekan kerja, dan melakukan pekerjaan yang biasa ia lakukan. Melainkan semangat untuk segera bisa menyelesaikan hari ini sembari berharap waktu akan berputar lebih cepat dari biasanya. Agar ia dapat segera pulang dan di malam harinya bisa kembali bekerja menjadi seorang SPG.
*****
"Deg deg deg deg deg.....", Jantung Reza berdegup lebih kencang dari biasanya takkala ditatapnya tajam wajah Yanti dari kejauhan. Tak ingin ketahuan bila ia sedang memperhatikan Yanti yang sedang asyik duduk memainkan jemarinya dilayar handphonenya, Reza hanya berani menatapnya sesekali dan beberapa detik saja lalu segera berpura mengalihkan pandangannya kearah lain.
Ketersembunyian Reza berdampak hal istimewa pada dirinya, ia menjadi orang yang pandai dalam menyembunyikan perasaannya, termasuk rasa sakitnya. Ia lebih memilih untuk mencintai dalam diam. Ia lebih suka menjadi hening ditengah ramai.
Lebih dekat ditatapnya, didapatkannya tatapan mata itu. Tatapan gelisah yang syarat akan pilu. Sorot mata kosong yang mengambang dalam kebimbangan.
"Ada yang berbeda dari matanya, tak seperti saat pertama kali bertemu", gumam Reza dalam hati.
Diberanikannya untuk bertanya pada Yanti, apa yang sedang terjadi padanya.
Yanti tersentak seketika kala Reza bertanya tentang keadaan dirinya, Yanti pun sempat terkejut kenapa Reza bisa mengetahui bahwa dirinya sedang tidak dalam kondisi yang biasa.
Akhirnya tanpa setitik keraguan pun Yanti menceritakan kronologi permasalahan yang sedang dihadapinya.
Sepatah demi patah kata yang terucap dari mulut Yanti, dicoba untuk diartikan lebih jauh oleh Reza.
Tampak Reza yang terus mengernyitkan dahi dan memicikkan matanya, berkonsentrasi pada apa yang didengarnya.
Ternyata Yanti dikucilkan dan dijadikan bahan obrolan negatif karena dianggap sebagai wanita yang tidak bisa menempatkan diri dalam keseharian serta aktifitas pekerjaannya.
Saat ia sedang menjalankan tugas sebagai seorang staff di perusahaan penerbangan, ia menggunakan hijab untuk menutup auratnya. Sedangkan pada saat ia menjalani pekerjaan sebagai seorang SPG, ia harus mengenakan dress tanpa lengan yang terbilang memang agak sedikit terbuka.
Reza memejamkan matanya..... mencoba berfikir untuk mencari solusi paling tepat untuk Yanti dalam menghadapi permasalahan ini.
Reza membenarkan posisi duduknya, dikepalkan kedua tangannya menjadi satu dan menatap Yanti secara serius.
Ia menjelaskan agar Yanti tetap pada jalur yang semestinya. Mencoba untuk meyakinkan mereka yang mengumpat dirinya untuk tidak lagi mencibir seperti itu. Karena Yanti memiliki alasan cukup kuat untuk melakukan itu semua, tanggungan yang dimilikinya cukuplah besar. Dan ia harus menghasilkan nominal yang cukup banyak perbulannya untuk memenuhi itu semua.
Dan Reza pun meyakinkan kepada Yanti, bahwa suatu saat nanti Yanti memang harus memilih salah satu diantara keduanya.
"Mana yang bisa menjadi prioritas utamanya, cuma Yanti yang bisa menentukan...", ucap Reza.
"Karena nasi sudah menjadi bubur, maka ia tidak akan bisa kembali lagi menjadi nasi. Hanya saja bagaimana cara kita untuk bisa memberi bumbu pada bubur tersebut agar menjadi lezat", lanjut Reza.
Yanti diam sejenak.... dan hanya mengangguk lirih mendengar apa yang disampaikan oleh Reza.
*****
Hari demi hari berlalu begitu cepat....
Senyum yang diukir menjadi lebih indah daripada sebelumnya.
Tak lagi dilihatnya linangan perih dari mata seorang Yanti.
Semuanya sudah berubah semenjak hari itu, Yanti menjadi memiliki keberanian dan kepercayaan diri yang kuat dalam menghadapi sikap teman-temannya.
Yanti kembali meraih setitik terang yang hilang karena ditelan kebimbangannya.
Ia telah kembali....
"Semoga terus seperti itu.....", Reza menuliskan kalimatnya disebuah lembaran tissue kala ia mengingat perubahan yang terpancar dari diri Yanti kala ia bertemu kemarin sore. Diseruputnya tegukan terakhir dari cappuchino panasnya. Lalu dimainkannya irama keberhasilan dari harmonikanya malam itu. Disingkapnya pekat malam dengan cahaya binar dari sorot matanya, dipecahkannya hening malam dengan alunan nada sederhananya.
"Yanti hanya butuh kompas untuk tahu jalan mana yang harus ia ambil, sisanya akan diselesaikannnya sendiri perjalanan itu", fikir Reza dalam hati disela pejaman matanya.
Rasa itu tumbuh begitu cepat, rasa aneh yang menyinggahi permukaan hati Reza.
Rasa yang sebenarnya tak juga ia ketahui apa namanya.
Rasa yang tak pernah secepat itu menyelimuti benaknya.
Tapi kembali Reza hanya berlindung pada ketersembunyiannya. Mencoba menikmati rasa dibalik gunung tinggi bernama rahasia. Menyelipkan nama Yanti disetiap sujudnya, menggolongkan Yanti sebagai salah satu alasan agar ia terus bangun di pagi hari, dan menjadikan Yanti sebagai salah satu orang yang harus ia jaga senyumnya dari airmata yang kapan saja bisa datang menghapus senyum itu.
Rasa itu akan terbalas atau tidak, itu tak pernah difikirkan oleh Reza. Karena yang ia tahu, adalah hanya untuk kebahagiaan Yanti.
Bersamanya atau tidak, itu tak menjadi hambatan bagian Reza. Karena yang ia tahu, tujuan itu hanya untuk kebahagiaan Yanti.
Bukan tanpa usaha, Reza hanya mencoba berserah pada apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Ada kesempatan atau tidak, Tuhan yang mengatur semua.
Karena yang ia tahu, meski tak menjadi pilihan, tak mendapat balasan perasaan, tak diberi kesempatan, apapun diperjuangkannya untuk kebahagiaan Yanti.
Rabu, 05 Agustus 2015
Benua Hati
Tempat ini tak asing bagi Andi. Kota yang cukup bersih, rapi, dan memiliki para penghuni yang teramat ramah. Dan itu semua membuatnya tak ingin lekas meninggalkan jejak.
Semasa kecil, Andi pernah berlari dibawah senja bersama debu pinggiran kota ini. Kota yang sempat menulis cerita singkat dimasa pertumbuhannya
Banjarbaru....
Inilah kota indah penuh kenangan dalam sejuta ingatan yang hampir terhapus dengan tulisan baru milik Tuhan untuknya.
Dan sekarang.... ia telah kembali.
Entah datang atau pulang ia disini.
Satu hal yang pasti, ia senang. Terima kasih untuk kesempatan ini Tuhan,fikirnya dalam hati.
Sebuah perjalananlah yang menuntunnya untuk bisa kembali ke kota ini. Perjalanannya sebagai seorang pemuda dengan segala usaha untuk bisa membuat keluarga kecilnya bahagia, adik dan sang Ibu.
Karena sejak sepeninggal Ayah, Andi menjadi satu-satunya tulang punggung di atap tidur keluarganya.
Dan perjalanannya kali ini menghadirkan rasa yang tak biasa. Rasa bahagia saat ia melihat lukisan indah yang Tuhan titipkan diparas seorang hawa. Rasa hebat saat ia tengah menunggu setiap hari untuk sekedar melihatnya menikmati sarapan pagi.
Entah panah jenis apa yang ditancapkan sang Arjuna di jantung hati Andi, begitu lekasnya ia bisa merasakan degupan aneh yang sudah terlalu lama tak ia rasakan.
Mungkin terlalu lama, hingga sulit baginya untuk membedakan perasaan apa yang tengah hadir sekarang.
Ika, gadis kecil setengah tomboy dengan tingkat kecuekkan level 85 dikombinasikan dengan kejahilannya yang cukup membuat siapa saja bakal menjadi geram.
Dialah wanita yang dimaksud oleh Andi.
Datang mengetuk pintu hati buram nan usang dengan membawa sejuta warna.
Warna yang entah sampai kapan akan terus benderang memancarkan cahayanya.
Hari pertama dikota itu, Andi disibukkan dengan serangkaian acara yang sudah tersusun rapi.
ditanggalkannya pakaian yang dikenakannya sesampainya dihotel tempat ia menginap.
Bergegas ia untuk segera ketempat acara mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 15.00.
Sesaat Terlintas dibenakknya saat dibandara, saat Andi untuk pertama kalinya benar-benar memandangnya secara dalam.
Meski ia sudah pernah melihatnya hampir setahun silam di kota istimewa.
"Aaargghhh..... ", Andi membuyarkan lamunannya dan memutuskan untuk menyingkirkan rasa yang menggeluti hatinya agar ia bisa lebih fokus dengan tugas yang diembannya.
Terasa lunglai tubuh Andi saat ia menyelesaikan hari pertamanya dikota itu. Namun semangat untuk hari esok tetaplah menggebu karena besok pagi ia akan berjumpa dengan kakaknya yang sudah sekian tahun tak bertatap wujud.
Sesampainya dikamar, dimainkannya jemari membalas segala pesan yang tak sempat dibacanya seharian. Dibukanya pula galeri foto, dan melihati foto-foto bersama rekan lainnya saat sedang bertugas tadi.
Bibir Andi menyeringai lebar melihat sosok Ika pada foto terakhir yang dibukanya.
Dipejamkan matanya perlahan, dibisikannya doa dengan lirih. Meminta pada yang kuasa agar esok akan lebih bahagia.
Tak sadar Andi pun terlelap bersama foto Ika dihandphone yang masih ia genggam.
Hari kedua, ketiga dan keempat semuanya terasa begitu singkat.
Adalah Andi bersama rekan lainnya berwisata menghabiskan pagi di destinasi yang ada di kota tersebut.
Menikmati hangatnya pagi, dan menyisir pinggiran sungai untuk sekedar menyapa sang kota benua.
Tak ada kejemuan mata Andi bila ia diam-diam terus mencuri pandang pada Ika, dan sesekali Andi menjahili Ika dengan menarik ikat rambut atau mengusap kasar rambut Ika hinggat terberai berantakan.
Andi sungguh menikmati harinya disana. Berkesan dan ada kata yang bisa dirangkaikan menjadi kalimat untuk cerita perjalanan hidupnya.
Hari yang mungkin tak akan terulang lagi untuk kedua kalinya.
Hari yang mungkin tak senyaman ini bila saat kembali nanti.
Tibalah Andi di hari terakhirnya di kota Benua.
Tibalah Andi di hari terakhirnya melihat Ika dari kejauhan yang tengah sarapan pagi.
Tibalah Andi di hari terakhirnya menikmati salam rindu dari kota yang sempat membesarkannya.
5 hari bukanlah waktu yang lama untuknya mengukir hati dengan nama Ika dipermukaannya.
Tapi setidaknya ada senyum kecil Andi yang berhasil Ika ciptakan.
Ia harus segera kembali ke kota dimana ia beradu keluh dan tenaga.
Menjalani segala rutinitas yang tak sedikit setiap harinya.
Melanjutkan cerita hidup bersama orang-orang yang ingin dibahagiakannya.
Sembari menunggu kesempatan selanjutnya yang entah akan diberikan atau tidak oleh sang pencipta.
"Sampai jumpa lagi kota Benua, sampai kita bertatap lagi...."
Benak Andi dalam hati.
Semasa kecil, Andi pernah berlari dibawah senja bersama debu pinggiran kota ini. Kota yang sempat menulis cerita singkat dimasa pertumbuhannya
Banjarbaru....
Inilah kota indah penuh kenangan dalam sejuta ingatan yang hampir terhapus dengan tulisan baru milik Tuhan untuknya.
Dan sekarang.... ia telah kembali.
Entah datang atau pulang ia disini.
Satu hal yang pasti, ia senang. Terima kasih untuk kesempatan ini Tuhan,fikirnya dalam hati.
Sebuah perjalananlah yang menuntunnya untuk bisa kembali ke kota ini. Perjalanannya sebagai seorang pemuda dengan segala usaha untuk bisa membuat keluarga kecilnya bahagia, adik dan sang Ibu.
Karena sejak sepeninggal Ayah, Andi menjadi satu-satunya tulang punggung di atap tidur keluarganya.
Dan perjalanannya kali ini menghadirkan rasa yang tak biasa. Rasa bahagia saat ia melihat lukisan indah yang Tuhan titipkan diparas seorang hawa. Rasa hebat saat ia tengah menunggu setiap hari untuk sekedar melihatnya menikmati sarapan pagi.
Entah panah jenis apa yang ditancapkan sang Arjuna di jantung hati Andi, begitu lekasnya ia bisa merasakan degupan aneh yang sudah terlalu lama tak ia rasakan.
Mungkin terlalu lama, hingga sulit baginya untuk membedakan perasaan apa yang tengah hadir sekarang.
Ika, gadis kecil setengah tomboy dengan tingkat kecuekkan level 85 dikombinasikan dengan kejahilannya yang cukup membuat siapa saja bakal menjadi geram.
Dialah wanita yang dimaksud oleh Andi.
Datang mengetuk pintu hati buram nan usang dengan membawa sejuta warna.
Warna yang entah sampai kapan akan terus benderang memancarkan cahayanya.
Hari pertama dikota itu, Andi disibukkan dengan serangkaian acara yang sudah tersusun rapi.
ditanggalkannya pakaian yang dikenakannya sesampainya dihotel tempat ia menginap.
Bergegas ia untuk segera ketempat acara mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 15.00.
Sesaat Terlintas dibenakknya saat dibandara, saat Andi untuk pertama kalinya benar-benar memandangnya secara dalam.
Meski ia sudah pernah melihatnya hampir setahun silam di kota istimewa.
"Aaargghhh..... ", Andi membuyarkan lamunannya dan memutuskan untuk menyingkirkan rasa yang menggeluti hatinya agar ia bisa lebih fokus dengan tugas yang diembannya.
Terasa lunglai tubuh Andi saat ia menyelesaikan hari pertamanya dikota itu. Namun semangat untuk hari esok tetaplah menggebu karena besok pagi ia akan berjumpa dengan kakaknya yang sudah sekian tahun tak bertatap wujud.
Sesampainya dikamar, dimainkannya jemari membalas segala pesan yang tak sempat dibacanya seharian. Dibukanya pula galeri foto, dan melihati foto-foto bersama rekan lainnya saat sedang bertugas tadi.
Bibir Andi menyeringai lebar melihat sosok Ika pada foto terakhir yang dibukanya.
Dipejamkan matanya perlahan, dibisikannya doa dengan lirih. Meminta pada yang kuasa agar esok akan lebih bahagia.
Tak sadar Andi pun terlelap bersama foto Ika dihandphone yang masih ia genggam.
Hari kedua, ketiga dan keempat semuanya terasa begitu singkat.
Adalah Andi bersama rekan lainnya berwisata menghabiskan pagi di destinasi yang ada di kota tersebut.
Menikmati hangatnya pagi, dan menyisir pinggiran sungai untuk sekedar menyapa sang kota benua.
Tak ada kejemuan mata Andi bila ia diam-diam terus mencuri pandang pada Ika, dan sesekali Andi menjahili Ika dengan menarik ikat rambut atau mengusap kasar rambut Ika hinggat terberai berantakan.
Andi sungguh menikmati harinya disana. Berkesan dan ada kata yang bisa dirangkaikan menjadi kalimat untuk cerita perjalanan hidupnya.
Hari yang mungkin tak akan terulang lagi untuk kedua kalinya.
Hari yang mungkin tak senyaman ini bila saat kembali nanti.
Tibalah Andi di hari terakhirnya di kota Benua.
Tibalah Andi di hari terakhirnya melihat Ika dari kejauhan yang tengah sarapan pagi.
Tibalah Andi di hari terakhirnya menikmati salam rindu dari kota yang sempat membesarkannya.
5 hari bukanlah waktu yang lama untuknya mengukir hati dengan nama Ika dipermukaannya.
Tapi setidaknya ada senyum kecil Andi yang berhasil Ika ciptakan.
Ia harus segera kembali ke kota dimana ia beradu keluh dan tenaga.
Menjalani segala rutinitas yang tak sedikit setiap harinya.
Melanjutkan cerita hidup bersama orang-orang yang ingin dibahagiakannya.
Sembari menunggu kesempatan selanjutnya yang entah akan diberikan atau tidak oleh sang pencipta.
"Sampai jumpa lagi kota Benua, sampai kita bertatap lagi...."
Benak Andi dalam hati.
Jumat, 24 Juli 2015
Cinta Yang Membawaku
Namanya Atika Meiska Karangan.....
Wanita paruh baya yang bekerja di salah satu perusahaan operator selular selama tiga tahun terakhir ini.
Tika, begitulah ia biasa disapa.
Senyumnya yang manis dan rambut panjangnya seakan mencoba untuk menyempurnakan paras cantik yang sudah Tuhan ciptakan untuknya.
Terutama Irawan. Seorang pria yang sudah menemani hari-harinya, mengisi ruang kecil bernama hati, dan selalu bisa menjadi tempat berpeluh kesah disaat ia sedang gundah.
Seorang pria yang sudah tiga tahun mewarnai hidup yang Tuhan gariskan di catatan kehidupannya.
Selayaknya sebuah hubungan pastilah ada hal-hal yang selalu menjadi cobaan untuk menguji kekuatan cinta seseorang. Termasuk hubungan antara Irawan dan Tika.
Tak jarang mereka beradu mulut, berselisih pendapat, ataupun meributkan hal-hal yang sebenarnya tak layak untuk diributkan.
Gelombang seperti itu mungkin mampu untuk memecahkan sebuah karang yang berdiri tegar sekalipun, tapi tidak untuk hubungan mereka.
Sebelum badai itu menghampiri, lautan cinta masih terlihat tenang.
Yaa.... badai yang nanti akan menghempaskan mereka dalam kegelisahan.
Memasuki tahun keempat hubungan mereka, satu dari sekian banyak takdir Allah mulai terjawab.
Irawan memang bukanlah seorang yang agamais, rajin beribadah, ataupun seorang yang selalu tersungkur ampun untuk mendekati sang pencipta.
Tapi dengan ilmu agama yang ia miliki, ia mencoba untuk menjelaskan seperti apa itu Islam. Selama tiga tahun mereka bersama, kata Assalamualaikum, Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, Bismillah, sudah sangat akrab di telinga Tika. Bahkan karena terlalu terbiasa tanpa disadari ia pun sering mengucapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada awalnya hubungan ini hanyalah sekedarnya saja, mereka hanya mencoba menikmati kasih sayang satu sama lain, saling berbagi, melengkapi, dan bertukar pilihan. Tahun demi tahun berjalan, diantara mereka akhirnya memikirkan tentang hubungan yang akan dibawa sampai kemana. Dan mereka menyadari sekali akan perbedaan yang mereka miliki. Perbedaan yang sangat bisa menjadi jurang pemisah mereka. Perbedan yang sudah banyak menghancurkan mimpi para pasangan yang juga menjalani cinta berbeda keyakinan seperti mereka.
Entah kalimat seperti apa yang Allah bisikkan di hati Tika. Ia memutuskan untuk memeluk agama Islam. Agama yang juga ia yakini sebagai agama yang sempurna, meskipun pada awalnya ia memutuskan untuk berpindah agama karena ia akan berencana untuk membina rumah tangga bersama Irawan. Tapi lambat laun saat ia mulai belajar tentang keIslaman bersama teman sekantornya yang begitu setia mengajarkannya untuk sholat, berdoa, bersedekah, dan mengaji.
Islam menunjukkan kebenarannya....
Ia mencoba untuk membandingkan perbedaan cara beribadah agama sebelumnya yang ia anut dengan agama Islam yang baru dianutnya.
Dan hasilnya, ia pun semakin yakin dengan keputusannya untuk menjadi seorang Muallaf.
Subhanallah.....
Pembawaannya yang rajin, ramah, baik hati dan penyayang, ditambah lagi dengan ia kini sudah memeluk agama Islam, membuat Tika begitu sempurna di mata keluarga Irawan untuk bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Didalam setiap hari raya, syukuran, atau apapun acara di keluarga Irawan, Tika tak pernah kehilangan momen yang membuatnya semakin disupport untuk segera menikah bersama Irawan.
Dan sosok utamanya adalah sang ibu dari Irawan, tak henti ia dalam sujudnya selalu mendoakan mereka berdua untuk dipermudahkan jalannya dalam rencana mereka untuk menghalalkan ikatan percintaan ini.
Terasa begitu mulus restu dari keluarga Irawan, tapi cerita lain harus tertulis pahit dari keluarga besar sang hawa. Tika yang berasal dari suku Toraja, sangat kuat dalam memegang ajaran Tuhan yang mereka percayai. Namun hubungan mereka tak setenang air surut di kala senja.
Tak direstui, itulah fakta yang harus Irawan terima kala awal memulai hubungan dengan Tika.
Disaat Tika merayakan hari raya Natal, Irawan pun tak pernah berkunjung tepat ditanggal 25. Bahkan untuk menjemput Tika saja, Irawan hanya menunggu dipinggir jalan saja sampai Tika keluar dari rumahnya.
Tak sedikit gunjingan dan singgungan yang dilontarkan untuk Tika dari pihak keluarganya sendiri. Tapi dengan berjiwa besar, Tika hanya mencoba untuk tersenyum dan tetap menetralkan sebisa mungkin agar tidak ada perpecahan diantara dirinya dan keluarganya.
Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasangan, hal tersebut teramat diyakini oleh Tika, dan menurutnya Irawanlah makhluk yang diciptakan Tuhan untuknya.
Semakin hari iman Tika kepada Allah semakin mantap, bahkan nyaris mengalahkan orang-orang yang semenjak lahir sudah beragama Islam. Sholat 5 waktunya hampir tak pernah lepas.
Subhanallah....
Tahun keempat dan kelima hubungan mereka terasa begitu nyaman dipelupuk mata orang yang melihatnya.
Sangat, sangat, sangat nyaman bahkan mampu membuat iri mereka yang hanya sebagai penonton di hubungan mereka.
*****
Siang itu matahari begitu teduh di singgasananya, angin sepoi terasa nyaman menyapa wajah, seakan semesta ingin bersantai dengan tugasnya. Tapi diluar bukanlah jua didalam. Hati Tika begitu teriris, perih, luka, bahkan nyaris melebur bersama kenangan setelah 6 tahun bersama.
Badai yang dikhawatirkan telah sampai. Badai yang berbeda. Bukan badai yang Tika bayangkan karena hubungannya dengan Irawan yang tak direstui.
Bahkan sebenarnya kini orang tua Tika sudah mengikhlaskan dan merestui hubungan tersebut. Karena beranggapan, tak ada yang harus dipaksakan. Menurut mereka, apa yang sudah dipilih oleh Tika adalah untuk kebahagiaannya sendiri. Tak ada yang perlu ditahan lagi....
Begitu juga dengan keikhlasan mereka yang membiarkan Tika memeluk agama Islam.
Rasa berhenti degup jantung Tika saat mengetahui orang yang dicintainya selama 6 tahun sudah berpaling darinya.
Apa salahku? Apa yang kurang dari aku? Apa yang membuatnya mendua dariku?
Begitu banyak pertanyaan yang bercampur aduk dengan kekecewaan yang dirasakannya.
Membuatnya semakin lirih bersama ingatan tentang perjuangan serta pengorbanannya untuk Irawan selama ini.
Arrghhh..... sungguh menyesakkan fikir Tika dalam hati.
Langkah Tika tak terhenti dalam doa untuk ada selalu dalam genggaman Allah SWT.
Tak henti bibir kecilnya terus mengucap dzikir dan syukur.
Pertemuannya dengan Irawan, hubungannya dengan Irawan, kisah cintanya dengan Irawan sudah membawanya kedalam kesucian nurani yang melebihi cintanya terhadap Irawan selama ini.
Semua yang sudah ia lewati ternyata tak sia-sia, hikmah yang ditemukannya bahkan sangat besar dan kuat. Bahkan mampu menenangkan badai yang sempat membuatnya terpuruk dalam kesedihan.
Tika memulai hari yang baru, hari yang penuh dengan cinta akan Allah SWT. Cinta yang selamanya akan abadi. Abadi sampai ia menua dan nanti menjadi seonggok ingatan dengan nama.
Sampai ia menemukan cinta abadi kedua setelah cintanya untuk sang pencipta.....
Sampai tiba dimana ia akan tersenyum indah bersama dunia.
Wanita paruh baya yang bekerja di salah satu perusahaan operator selular selama tiga tahun terakhir ini.
Tika, begitulah ia biasa disapa.
Senyumnya yang manis dan rambut panjangnya seakan mencoba untuk menyempurnakan paras cantik yang sudah Tuhan ciptakan untuknya.
Terutama Irawan. Seorang pria yang sudah menemani hari-harinya, mengisi ruang kecil bernama hati, dan selalu bisa menjadi tempat berpeluh kesah disaat ia sedang gundah.
Seorang pria yang sudah tiga tahun mewarnai hidup yang Tuhan gariskan di catatan kehidupannya.
Selayaknya sebuah hubungan pastilah ada hal-hal yang selalu menjadi cobaan untuk menguji kekuatan cinta seseorang. Termasuk hubungan antara Irawan dan Tika.
Tak jarang mereka beradu mulut, berselisih pendapat, ataupun meributkan hal-hal yang sebenarnya tak layak untuk diributkan.
Gelombang seperti itu mungkin mampu untuk memecahkan sebuah karang yang berdiri tegar sekalipun, tapi tidak untuk hubungan mereka.
Sebelum badai itu menghampiri, lautan cinta masih terlihat tenang.
Yaa.... badai yang nanti akan menghempaskan mereka dalam kegelisahan.
Memasuki tahun keempat hubungan mereka, satu dari sekian banyak takdir Allah mulai terjawab.
Irawan memang bukanlah seorang yang agamais, rajin beribadah, ataupun seorang yang selalu tersungkur ampun untuk mendekati sang pencipta.
Tapi dengan ilmu agama yang ia miliki, ia mencoba untuk menjelaskan seperti apa itu Islam. Selama tiga tahun mereka bersama, kata Assalamualaikum, Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, Bismillah, sudah sangat akrab di telinga Tika. Bahkan karena terlalu terbiasa tanpa disadari ia pun sering mengucapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada awalnya hubungan ini hanyalah sekedarnya saja, mereka hanya mencoba menikmati kasih sayang satu sama lain, saling berbagi, melengkapi, dan bertukar pilihan. Tahun demi tahun berjalan, diantara mereka akhirnya memikirkan tentang hubungan yang akan dibawa sampai kemana. Dan mereka menyadari sekali akan perbedaan yang mereka miliki. Perbedaan yang sangat bisa menjadi jurang pemisah mereka. Perbedan yang sudah banyak menghancurkan mimpi para pasangan yang juga menjalani cinta berbeda keyakinan seperti mereka.
Entah kalimat seperti apa yang Allah bisikkan di hati Tika. Ia memutuskan untuk memeluk agama Islam. Agama yang juga ia yakini sebagai agama yang sempurna, meskipun pada awalnya ia memutuskan untuk berpindah agama karena ia akan berencana untuk membina rumah tangga bersama Irawan. Tapi lambat laun saat ia mulai belajar tentang keIslaman bersama teman sekantornya yang begitu setia mengajarkannya untuk sholat, berdoa, bersedekah, dan mengaji.
Islam menunjukkan kebenarannya....
Ia mencoba untuk membandingkan perbedaan cara beribadah agama sebelumnya yang ia anut dengan agama Islam yang baru dianutnya.
Dan hasilnya, ia pun semakin yakin dengan keputusannya untuk menjadi seorang Muallaf.
Subhanallah.....
Pembawaannya yang rajin, ramah, baik hati dan penyayang, ditambah lagi dengan ia kini sudah memeluk agama Islam, membuat Tika begitu sempurna di mata keluarga Irawan untuk bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Didalam setiap hari raya, syukuran, atau apapun acara di keluarga Irawan, Tika tak pernah kehilangan momen yang membuatnya semakin disupport untuk segera menikah bersama Irawan.
Dan sosok utamanya adalah sang ibu dari Irawan, tak henti ia dalam sujudnya selalu mendoakan mereka berdua untuk dipermudahkan jalannya dalam rencana mereka untuk menghalalkan ikatan percintaan ini.
Terasa begitu mulus restu dari keluarga Irawan, tapi cerita lain harus tertulis pahit dari keluarga besar sang hawa. Tika yang berasal dari suku Toraja, sangat kuat dalam memegang ajaran Tuhan yang mereka percayai. Namun hubungan mereka tak setenang air surut di kala senja.
Tak direstui, itulah fakta yang harus Irawan terima kala awal memulai hubungan dengan Tika.
Disaat Tika merayakan hari raya Natal, Irawan pun tak pernah berkunjung tepat ditanggal 25. Bahkan untuk menjemput Tika saja, Irawan hanya menunggu dipinggir jalan saja sampai Tika keluar dari rumahnya.
Tak sedikit gunjingan dan singgungan yang dilontarkan untuk Tika dari pihak keluarganya sendiri. Tapi dengan berjiwa besar, Tika hanya mencoba untuk tersenyum dan tetap menetralkan sebisa mungkin agar tidak ada perpecahan diantara dirinya dan keluarganya.
Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasangan, hal tersebut teramat diyakini oleh Tika, dan menurutnya Irawanlah makhluk yang diciptakan Tuhan untuknya.
Semakin hari iman Tika kepada Allah semakin mantap, bahkan nyaris mengalahkan orang-orang yang semenjak lahir sudah beragama Islam. Sholat 5 waktunya hampir tak pernah lepas.
Subhanallah....
Tahun keempat dan kelima hubungan mereka terasa begitu nyaman dipelupuk mata orang yang melihatnya.
Sangat, sangat, sangat nyaman bahkan mampu membuat iri mereka yang hanya sebagai penonton di hubungan mereka.
*****
Siang itu matahari begitu teduh di singgasananya, angin sepoi terasa nyaman menyapa wajah, seakan semesta ingin bersantai dengan tugasnya. Tapi diluar bukanlah jua didalam. Hati Tika begitu teriris, perih, luka, bahkan nyaris melebur bersama kenangan setelah 6 tahun bersama.
Badai yang dikhawatirkan telah sampai. Badai yang berbeda. Bukan badai yang Tika bayangkan karena hubungannya dengan Irawan yang tak direstui.
Bahkan sebenarnya kini orang tua Tika sudah mengikhlaskan dan merestui hubungan tersebut. Karena beranggapan, tak ada yang harus dipaksakan. Menurut mereka, apa yang sudah dipilih oleh Tika adalah untuk kebahagiaannya sendiri. Tak ada yang perlu ditahan lagi....
Begitu juga dengan keikhlasan mereka yang membiarkan Tika memeluk agama Islam.
Rasa berhenti degup jantung Tika saat mengetahui orang yang dicintainya selama 6 tahun sudah berpaling darinya.
Apa salahku? Apa yang kurang dari aku? Apa yang membuatnya mendua dariku?
Begitu banyak pertanyaan yang bercampur aduk dengan kekecewaan yang dirasakannya.
Membuatnya semakin lirih bersama ingatan tentang perjuangan serta pengorbanannya untuk Irawan selama ini.
Arrghhh..... sungguh menyesakkan fikir Tika dalam hati.
Langkah Tika tak terhenti dalam doa untuk ada selalu dalam genggaman Allah SWT.
Tak henti bibir kecilnya terus mengucap dzikir dan syukur.
Pertemuannya dengan Irawan, hubungannya dengan Irawan, kisah cintanya dengan Irawan sudah membawanya kedalam kesucian nurani yang melebihi cintanya terhadap Irawan selama ini.
Semua yang sudah ia lewati ternyata tak sia-sia, hikmah yang ditemukannya bahkan sangat besar dan kuat. Bahkan mampu menenangkan badai yang sempat membuatnya terpuruk dalam kesedihan.
Tika memulai hari yang baru, hari yang penuh dengan cinta akan Allah SWT. Cinta yang selamanya akan abadi. Abadi sampai ia menua dan nanti menjadi seonggok ingatan dengan nama.
Sampai ia menemukan cinta abadi kedua setelah cintanya untuk sang pencipta.....
Sampai tiba dimana ia akan tersenyum indah bersama dunia.
Senin, 22 Juni 2015
SERUMPUN LIMA STUDIO
Apaan sih ini Serumpun Lima Studio??
Pasti yang nggak tau bakal nanya kayak gitu deh, yang tau pasti nggak bakal nanya dan ngelanjutin bacaan ini hahahahaa.....
Serumpun Lima Studio adalah tempat bernaungnya beberapa muda-mudi untuk mengapresiasikan dirinya dalam dunia seni.
Kenapa aku sebut beberapa ya karena memang hanya ada sekitar 20an orang saja yang tergabung dalam grup ini.
Serumpun Lima Studio diambil dari kata "SERUMPUN" yang mengartikan bahwa orang-orang yang ada disini adalah orang-orang yang berasal dari satu tempat, lingkup, daerah, tujuan, bahkan kegiatan yang sama.
Lalu ada kata "LIMA", yang menyatakan bahwa pada zaman dahulu kala, grup ini hanya berisikan 5 orang saja.
Dan terakhir ada "STUDIO", yaa karena memang mereka sudah memiliki studio latihan sendiri.
Serumpun Lima Studio lahir pada tanggal 4 April 2014 entah dari rahim siapa.
Dan jangan sekali-sekali menanyakan siapa Ayah dari Serumpun Lima Studio, karena saya pun belum menyelidikinya.
Mimpi.......
Mungkin itu kata yang tepat.
Yaaaa..... Grup ini terlahir dari sebuah mimpi.
Mimpi untuk bisa berdiri sendiri, mengembangkan potensi, menyalurkan kreatifitas, dan Tuhan menjawab mimpi itu dengan lahirnya Serumpun Lima Studio.
Berbicara masalah visi, mereka hanya memiliki satu visi saja sih, yaitu bagaimana caranya mereka bisa memperkenalkan, melestarikan, menjaga, dan mempromosikan kesenian daerah.
Dan merekapun memiliki motto "Belajar sama-sama, sama-sama belajar".
Sampai sejauh ini sih mereka baru memiliki beberapa karya yang tak seberapa, yang masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan grup kesenian lainnya. (itu sih menurut saya, nggak tau kalau anda... :p)
But.... Alhamdulillah grup ini sudah dikenal dikalangan muda-mudi dikota tercinta Balikpapan.Itu dibuktikan dengan followers di instagram mereka yang sudah 270an. Hahahahaa masih dikit dong yaa....
Dan kalau bicara masalah prestasi sih belum banyak, pialanya baru 2 aja selama setahun kemarin ikut 3 festival.
Mudahan deh ditahun ini aku doain biar makin berprestasi dan makin banyak mempelopori pemuda lainnya.
Amin.... Allahumma Amin..........
Oiyaaaa genkzz..... Grup ini punya julukan juga loh.
Dulu julukannya adalah Naga Terbang, terus ganti jadi Si Biawak Liar, habis itu ganti jadi Ayam Jantan dari Hutan, terus terakhir julukannya berganti menjadi "The House Of Ambassador".
Itu dalam bahasa Banjarnya, dalam bahasa Indonesianya berarti rumahnya para duta.
Yaaa.... jadi dulu Duta Sheila On 7 juga berasal dari grup ini bray....
Lohhh salah salah salah, hahahhaa maklum lah agak kurang fokus akibat seketika terlintas wajahnya saat berjumpa kemarin. Tsssaaddaaaapppppp...........
Jadi di Serumpun Lima Studio ini terdiri dari berbagai jenis Duta berdasarkan golongan, selempang, jabatan, tingkatan, jangkauan, keasaman, kadar gula, berat, perlambatan, serta massa jenisnya genk (Looh udah kayak fisika dan kimia aja).
Inilah berbagai macam Duta yang ada di grup ini :
1. Duta Pemuda
2. Duta Wisata
3. Duta Budaya
4. Duta Bahasa
5. Duta Lingkungan Hidup
6. Duta Anti Narkoba
7. Duta Mahasiswa
8. Duta T******el
9. Duta I*3
Lumanyun banyak kan guys.... itu sudah kenapa julukannya si Biawak Liar. Ehhh maksudnya House Of Ambassador.
Udahan aahhh, itu aja kali yaaa cerita awal tentang Grup yang tak seberapa ini.
Mudah-mudahan bisa membuka fikiran kalian untuk bisa menjadi pelaku seni tradisional dan ikut andil mengemban visi seperti visinya si Serumpun Lima Studio tadi.
Inget, jadi pelakunya yaa.... bukan pekerjanya.
Karena kalau pekerja seni kan berarti hanya memanfaatkan seni untuk mencari uang.
Biarlah uang hanya menjadi bonus,
Prioritaskanlah tugas kita sebagai pemuda Indonesia yang baik....
Salam budaya,
Langganan:
Postingan (Atom)