Hay Genkz.... long time no see
Kayaknya udah berasa setahunan gitu men nggak nyentuh keyboard laptop ini.
Berhubung kemaren ada cerita yang masuk otak gue (pake gue aja kali ya biar dibilang anak jakarte). Oiya skip bentar, sorry juga nih gue mungkin bakal kebanyakan manggil kalian genkz karena kebiasaan pas kemaren gue jadi LO di Jambore pemuda manggilnya pada genkz genkz mulu. Ketahuan banget yaaa belum bisa move on dari tuh Jambore, Heheheheee.....
Okeehhh, now gue pengen nulis cerita tentang doi (yang tidak mau disebutkan namanya) yang kemaren sudah berjam-jam curhat sama gue.
Kita kasih judul aja "MAU DIBAWA KEMANA"
Kayak nama band yah.....
Ehhh maksud gue kaya nama personilnya, ehh judulnya ding.....
Yaa apapun judulnya, inti artikel ini adalah tentang suatu hubungan yang bingung akan dibawa kemana oleh si penjalin hubungan.
Kenapa bingung? Bingung kenapa? Bukan masalah cinta yang tak direstui atau hubungan cinta yang kedua ketiga atau keberapa.
Tapi bicara masalah pendidikan, pekerjaan, dan masa depan.
M A K S U D N Y A A A A A A A . . . . . . .? ? ?
Gini meennn..... Ada sebuah rasa minder dari si pria yang hanya berpendidikan SMA, sedangkan si wanitanya merupakan lulusan sarjana S2 Sastra Inggris. Yang mana pendidikan ini berpengaruh pada pekerjaan masing-masing dari mereka. Si pria hanya bekerja serabutan disebuah organizer yang menangani event-event lokal dikotanya, sedangkan si wanita adalah seorang dosen muda disebuah fakultas negeri.
Dilihat dari pekerjaan saja kita sudah bisa memperkirakan pendapatan mereka perbulannya. Si pria yang pendapatannya tidak menentu tergantung banyaknya event yang ditangani, dan si wanita berpenghasilan cukup untuk membiayai 5 anak kuliahan, belum lagi ditambah pendapatannya diluar menjadi dosen yang juga membuka les privat.
Hal tersebut membuat si pria jadi merasa kecil dihadapan si wanita, meskipun si wanita tidak pernah memperhitungkan itu semua.
But si pria mempunyai harga diri yang sangat tinggi sekali dan itu harus ia junjung (menurut dia sih). Karena si pria merasa suatu saat nanti bila mereka menikah, ia akan menjadi kepala keluarga yang harus menafkahi istrinya. Bila untuk menghidupi dirinya saja ia harus serba pas-pasan, apalagi memenuhi kebutuhan seorang lulusan S2 Sastra Inggris yang mempunyai kehidupan lebih glamour daripada si pria.
Si pria berpegang teguh pada harga dirinya itu, ia tidak ingin bila mereka menikah nanti ada selentingan dari pihak keluarga si wanita atau kerabatnya yang mengatakan bahwa si pria tidak bisa menafkahi si wanitanya.
Si pria mengatakan "Hidup ini nggak cuma butuh cinta, kita juga butuh makan untuk tetap bisa hidup dan memperjuangkan cinta itu lagi". Sedangkan si wanita berkata "Apapun akan bisa dilewati, jangan pernah berfikir mengenai materi siapa yang digunakan untuk berkehidupan, karena bila sudah bersama segala sesuatunya pun akan menjadi milik bersama".
Naaahhh loh.... gua bingung dah men mau komen apa....
Hubungan ini bukan sembarang hubungan loh men, mereka sudah menjalani ini selama 6 tahun lamanya. Menurut gue sih bukan waktu yang singkat untuk bisa bertahan mengerti profesi satu sama lain, mengerti keadaan ekonomi dan kehidupan masing-masing.
Bila memang ini adalah suatu masalah, kenapa tidak dari dulu saja dibahas ya guys??
Yaaapp, mungkin dulu mereka tidak terfikirkan kearah ini. Mereka terlalu menikmati gemerlap cinta yang mereka ciptakan sendiri.
Ini untuk pertama kalinya gue nemuin kasus percintaan seperti ini guys, dimana hubungan menjadi goyah karena adana keraguan dari satu pihak mengenai titik terang masa depannya nanti.
Gue nggak bisa bilang si pria salah karena terlalu memikirkan harga dirinya, dan gue juga nggak bisa bilang si wanita salah karena terlalu terpaku sama hatinya yang teramat mencintai si pria. Karena keduanya juga ada benarnya, tergantung dari sudut pandang mana kita ingin melihat.
Si pria teramat tulus banget mencintai si wanita, dan itu terbukti banget saat gue ngedengar sendiri kesaksian dari si wanita.
Ternyata selama 6 tahun mereka menjalin hubungan, si pria dengan susah payahnya mencoba untuk menyeimbangi langkah si wanita untuk menuju masa depan. Si pria mencari batu loncatan pekerjaan yang lebih baik lagi berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan setara dengan seorang Dosen Bahasa Inggris.
Dan bukan main-main, ia sampai menyebarkan puluhan lamaran pekerjaan kemana-mana demi mewujudkan kesetaraan itu hingga dikatakan layak untuk bisa mendampingi si wanita agar mampu merajut rumah tangga.
Dan di tahun kelima mereka bersama, keraguan akhirnya lahir di benak si pria. Ia tak merasa mampu untuk menjadi seorang suami dan menjadi ayah dari anak-anak yang lahir dari rahim seorang Dosen bahasa Inggris.
Sampai di tahun ke-enam akhirnya si pria meminta si wanita untuk pergi meninggalkan dirinya.
Entah ini keputusan yang bijak atau sekedar egoisme seorang pria yang mempunyai harga diri setinggi gunung semeru.
Wanita mana sih yang rela ditinggalin gitu aja setelah 6 tahun melewati suka duka bersama, setelah 6 tahun merajut kasih beratasnamakan cinta?? Apalagi si wanita tidak pernah memikirkan pendidikan dan materi. Yang ia pegang hanya, Aku cinta kamu cinta kita bahagia.
Rumit ya genkz....
Akhirnya yang gue saranin kemereka, ya agar mereka bisa mengerti isi perasaan pasangannya. Dimana masing-masing dari mereka mempunyai ego dan alasan yang kuat untuk memisahkan diri dan untuk bertahan.
Gue mengatakan, Cinta memang bukan hanya sekedar perasaan tapi logika pun juga harus dipertimbangkan.
Dan pada kasus ini, terbukti dimana perasaan harus benar-benar berkecamuk dengan logika. Dan menurut gue, untuk mencari pasangan kita tidak membutuhkan yang tersayang. Tapi kita membutuhkan yang terbaik.
Karena yang terbaik itulah yang akan menjadi yang tersayang nantinya.
Yaaaaa... seandainya disuruh memilih oleh Tuhan, mereka juga tidak ingin dipertemukan dengan seseorang yang mana ujung-ujungnya tidak bisa bersatu.
Tapi inilah hidup, kita hanya aktor dan aktris yang sedang bersyuting film didunia dimana Tuhanlah yang menjadi sutradaranya. Peran apa, kejadian apa, dialognya apa, awal ceritanya sampai endingnya pun semua Tuhan yang mengatur.
Dan diakhir kasus tadi, akhirnya mereka berpisah dan mengikhlaskan satu sama lain.
Tak ada lagi dialog yang Tuhan beri kepada mereka untuk saat ini, tidak ada lagi peran, naskah, dan shooting bagi mereka untuk saat ini.
Mereka hanya disisakan cuplikan adegan-adegan salah yang dirangkum menjadi satu video bernama kenangan.
Satu pesan terakhir deh buat kalian yang ngebaca postingan ini....
Cinta itu suci men, jangan nodai dia dengan kebohongan, keraguan, dan kemunafikkan.
Cinta itu bukan hanya sekedar kemarin atau hari ini saja, tapi juga untuk kemudian hari.
Dan bila kalian bertemu dengan cinta kalian nanti, jagalah ia seperti kalian menjaga diri kalian.
Kalian terlahirpun atas kemauan cinta
Jangan bermain dengan cinta bila kalian tidak ingin dipermainkan oleh cinta
Lakukanlah yang semampu kalian bisa, sisanya biarkan Tuhan yang menentukan segalanya
Selamat merenungkan, semoga bisa bermanfaat dan bisa dijadikan pelajaran (siapa tau ntar pas UAS atau UAN ada soal yang kayak gini)
Okee genkz.....
Saya Andin Destian beserta crew yang bertugas pada pagi hari ini (Crew : Secangkir cappuchino panas, laptop, rokok, dan untuk-untuk isi pisang) undur diri dari hadapan handphone, gagdet, atau laptop kalian.
Selamat pagi daaannnnn....... Salam luar biasa seluruh Genkz se-Nusantara.
Tidak merasa lebih baik atau benar, dan bukan mengajarkan. Tak lebih dari mengingatkan pada diri sendiri dan sekitar. Berbagi pelajaran kecil, motivasi, dan cerita yang terinspirasi dari pengalaman, kegiatan, peristiwa, ataupun kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang disekitar. Bismillah, semoga bermanfaat.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar