Rabu, 05 Agustus 2015

Benua Hati

Tempat ini tak asing bagi Andi. Kota yang cukup bersih, rapi, dan memiliki para penghuni yang teramat ramah. Dan itu semua membuatnya tak ingin lekas meninggalkan jejak.
Semasa kecil, Andi pernah berlari dibawah senja bersama debu pinggiran kota ini. Kota yang sempat menulis cerita singkat dimasa pertumbuhannya
Banjarbaru....
Inilah kota indah penuh kenangan dalam sejuta ingatan yang hampir terhapus dengan tulisan baru milik Tuhan untuknya.
Dan sekarang.... ia telah kembali.
Entah datang atau pulang ia disini.
Satu hal yang pasti, ia senang. Terima kasih untuk kesempatan ini Tuhan,fikirnya dalam hati.


Sebuah perjalananlah yang menuntunnya untuk bisa kembali ke kota ini. Perjalanannya sebagai seorang pemuda dengan segala usaha untuk bisa membuat keluarga kecilnya bahagia, adik dan sang Ibu.
Karena sejak sepeninggal Ayah, Andi menjadi satu-satunya tulang punggung di atap tidur keluarganya.
Dan perjalanannya kali ini menghadirkan rasa yang tak biasa. Rasa bahagia saat ia melihat lukisan indah yang Tuhan titipkan diparas seorang hawa. Rasa hebat saat ia tengah menunggu setiap hari untuk sekedar melihatnya menikmati sarapan pagi.
Entah panah jenis apa yang ditancapkan sang Arjuna di jantung hati Andi, begitu lekasnya ia bisa merasakan degupan aneh yang sudah terlalu lama tak ia rasakan.
Mungkin terlalu lama, hingga sulit baginya untuk membedakan perasaan apa yang tengah hadir sekarang.

Ika, gadis kecil setengah tomboy dengan tingkat kecuekkan level 85 dikombinasikan dengan kejahilannya yang cukup membuat siapa saja bakal menjadi geram.
Dialah wanita yang dimaksud oleh Andi.
Datang mengetuk pintu hati buram nan usang dengan membawa sejuta warna.
Warna yang entah sampai kapan akan  terus benderang memancarkan cahayanya.

Hari pertama dikota itu, Andi disibukkan dengan serangkaian acara yang sudah tersusun rapi.
ditanggalkannya pakaian yang dikenakannya sesampainya dihotel tempat ia menginap.
Bergegas ia untuk segera ketempat acara mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 15.00.
Sesaat Terlintas dibenakknya saat dibandara, saat Andi untuk pertama kalinya benar-benar memandangnya secara dalam.
Meski ia sudah pernah melihatnya hampir setahun silam di kota istimewa.
"Aaargghhh..... ", Andi membuyarkan lamunannya dan memutuskan untuk menyingkirkan rasa yang menggeluti hatinya agar ia bisa lebih fokus dengan tugas yang diembannya.

Terasa lunglai tubuh Andi saat ia menyelesaikan hari pertamanya dikota itu. Namun semangat untuk hari esok tetaplah menggebu karena besok pagi ia akan berjumpa dengan kakaknya yang sudah sekian tahun tak bertatap wujud.
Sesampainya dikamar, dimainkannya jemari membalas segala pesan yang tak sempat dibacanya seharian. Dibukanya pula galeri foto, dan melihati foto-foto bersama rekan lainnya saat sedang bertugas tadi.
Bibir Andi menyeringai lebar melihat sosok Ika pada foto terakhir yang dibukanya.
Dipejamkan matanya perlahan, dibisikannya doa dengan lirih. Meminta pada yang kuasa agar esok akan lebih bahagia.
Tak sadar Andi pun terlelap bersama foto Ika dihandphone yang masih ia genggam.

Hari kedua, ketiga dan keempat semuanya terasa begitu singkat.
Adalah Andi bersama rekan lainnya berwisata menghabiskan pagi di destinasi yang ada di kota tersebut.
Menikmati hangatnya pagi, dan menyisir pinggiran sungai untuk sekedar menyapa sang kota benua.
Tak ada kejemuan mata Andi bila ia diam-diam terus mencuri pandang pada Ika, dan sesekali Andi menjahili Ika dengan menarik ikat rambut atau mengusap kasar rambut Ika hinggat terberai berantakan.
Andi sungguh menikmati harinya disana. Berkesan dan ada kata yang bisa dirangkaikan menjadi kalimat untuk cerita perjalanan hidupnya.
Hari yang mungkin tak akan terulang lagi untuk kedua kalinya.
Hari yang mungkin tak senyaman ini bila saat kembali nanti.

Tibalah Andi di hari terakhirnya di kota Benua.
Tibalah Andi di hari terakhirnya melihat Ika dari kejauhan yang tengah sarapan pagi.
Tibalah Andi di hari terakhirnya menikmati salam rindu dari kota yang sempat membesarkannya.
5 hari bukanlah waktu yang lama untuknya mengukir hati dengan nama Ika dipermukaannya.
Tapi setidaknya ada senyum kecil Andi yang berhasil Ika ciptakan.
Ia harus segera kembali ke kota dimana ia beradu keluh dan tenaga.
Menjalani segala rutinitas yang tak sedikit setiap harinya.
Melanjutkan cerita hidup bersama orang-orang yang ingin dibahagiakannya.
Sembari menunggu kesempatan selanjutnya yang entah akan diberikan atau tidak oleh sang pencipta.
"Sampai jumpa lagi kota Benua, sampai kita bertatap lagi...."
Benak Andi dalam hati.


Jumat, 24 Juli 2015

Cinta Yang Membawaku

Namanya Atika Meiska Karangan.....
Wanita paruh baya yang bekerja di salah satu perusahaan operator selular selama tiga tahun terakhir ini.
Tika, begitulah ia biasa disapa.
Senyumnya yang manis dan rambut panjangnya seakan mencoba untuk menyempurnakan paras cantik yang sudah Tuhan ciptakan untuknya.
Terutama Irawan. Seorang pria yang sudah menemani hari-harinya, mengisi ruang kecil bernama hati, dan selalu bisa menjadi tempat berpeluh kesah disaat ia sedang gundah.
Seorang pria yang sudah tiga tahun mewarnai hidup yang Tuhan gariskan di catatan kehidupannya.

Selayaknya sebuah hubungan pastilah ada hal-hal yang selalu menjadi cobaan untuk menguji kekuatan cinta seseorang. Termasuk hubungan antara Irawan dan Tika.
Tak jarang mereka beradu mulut, berselisih pendapat, ataupun meributkan hal-hal yang sebenarnya tak layak untuk diributkan.
Gelombang seperti itu mungkin mampu untuk memecahkan sebuah karang yang berdiri tegar sekalipun, tapi tidak untuk hubungan mereka.
Sebelum badai itu menghampiri, lautan cinta masih terlihat tenang.
Yaa.... badai yang nanti akan menghempaskan mereka dalam kegelisahan.

Memasuki tahun keempat hubungan mereka, satu dari sekian banyak takdir Allah mulai terjawab.
Irawan memang bukanlah seorang yang agamais, rajin beribadah, ataupun seorang yang selalu tersungkur ampun untuk mendekati sang pencipta.
Tapi dengan ilmu agama yang ia miliki, ia mencoba untuk menjelaskan seperti apa itu Islam. Selama tiga tahun mereka bersama, kata Assalamualaikum, Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, Bismillah, sudah sangat akrab di telinga Tika. Bahkan karena terlalu terbiasa tanpa  disadari ia pun sering mengucapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pada awalnya hubungan ini hanyalah sekedarnya saja, mereka hanya mencoba menikmati kasih sayang satu sama lain, saling berbagi, melengkapi, dan bertukar pilihan. Tahun demi tahun berjalan, diantara mereka akhirnya memikirkan tentang hubungan yang akan dibawa sampai kemana. Dan mereka menyadari sekali akan perbedaan yang mereka miliki. Perbedaan yang sangat bisa menjadi jurang pemisah mereka. Perbedan yang sudah banyak menghancurkan mimpi para pasangan yang juga menjalani cinta berbeda keyakinan seperti mereka.

Entah kalimat seperti apa yang Allah bisikkan di hati Tika. Ia memutuskan untuk memeluk agama Islam. Agama yang juga ia yakini sebagai agama yang sempurna, meskipun pada awalnya ia memutuskan untuk berpindah agama karena ia akan berencana untuk membina rumah tangga bersama Irawan. Tapi lambat laun saat ia mulai belajar tentang keIslaman bersama teman sekantornya yang begitu setia mengajarkannya untuk sholat, berdoa, bersedekah, dan mengaji.
Islam menunjukkan kebenarannya....
Ia mencoba untuk membandingkan perbedaan cara beribadah agama sebelumnya yang ia anut dengan agama Islam yang baru dianutnya.
Dan hasilnya, ia pun semakin yakin dengan keputusannya untuk menjadi seorang Muallaf.
Subhanallah.....

Pembawaannya yang rajin, ramah, baik hati dan penyayang, ditambah lagi dengan ia kini sudah memeluk agama Islam, membuat Tika begitu sempurna di mata keluarga Irawan untuk bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Didalam setiap hari raya, syukuran, atau apapun acara di keluarga Irawan, Tika tak pernah kehilangan momen yang membuatnya semakin disupport untuk segera menikah bersama Irawan.
Dan sosok utamanya adalah sang ibu dari Irawan, tak henti ia dalam sujudnya selalu mendoakan mereka berdua untuk dipermudahkan jalannya dalam rencana mereka untuk menghalalkan ikatan percintaan ini.

Terasa begitu mulus restu dari keluarga Irawan, tapi cerita lain harus tertulis pahit dari keluarga besar sang hawa. Tika yang berasal dari suku Toraja, sangat kuat dalam memegang ajaran Tuhan yang mereka percayai. Namun hubungan mereka tak setenang air surut di kala senja.
Tak direstui, itulah fakta yang harus Irawan terima kala awal memulai hubungan dengan Tika.
Disaat Tika merayakan hari raya Natal, Irawan pun tak pernah berkunjung tepat ditanggal 25. Bahkan untuk menjemput Tika saja, Irawan hanya menunggu dipinggir jalan saja sampai Tika keluar dari rumahnya.
Tak sedikit gunjingan dan singgungan yang dilontarkan untuk Tika dari pihak keluarganya sendiri. Tapi dengan berjiwa besar, Tika hanya mencoba untuk tersenyum dan tetap menetralkan sebisa mungkin agar tidak ada perpecahan diantara dirinya dan keluarganya.
Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasangan, hal tersebut teramat diyakini oleh Tika, dan menurutnya Irawanlah makhluk yang diciptakan Tuhan untuknya. 

Semakin hari iman Tika kepada Allah semakin mantap, bahkan nyaris mengalahkan orang-orang yang semenjak lahir sudah beragama Islam. Sholat 5 waktunya hampir tak pernah lepas.
Subhanallah....
Tahun keempat dan kelima hubungan mereka terasa begitu nyaman dipelupuk mata orang yang melihatnya.
Sangat, sangat, sangat nyaman bahkan mampu membuat iri mereka yang hanya sebagai penonton di hubungan mereka.
 

                                                 *****

Siang itu matahari begitu teduh di singgasananya, angin sepoi terasa nyaman menyapa wajah, seakan semesta ingin bersantai dengan tugasnya. Tapi diluar bukanlah jua didalam. Hati Tika begitu teriris, perih, luka, bahkan nyaris melebur bersama kenangan setelah 6 tahun bersama.
Badai yang dikhawatirkan telah sampai. Badai yang berbeda. Bukan badai yang Tika bayangkan karena hubungannya dengan Irawan yang tak direstui.
Bahkan sebenarnya kini orang tua Tika sudah mengikhlaskan dan merestui hubungan tersebut. Karena beranggapan, tak ada yang harus dipaksakan. Menurut mereka, apa yang sudah dipilih oleh Tika adalah untuk kebahagiaannya sendiri. Tak ada yang perlu ditahan lagi....
Begitu juga dengan keikhlasan mereka yang membiarkan Tika memeluk agama Islam.

Rasa berhenti degup jantung Tika saat mengetahui orang yang dicintainya selama 6 tahun sudah berpaling darinya.
Apa salahku? Apa yang kurang dari aku? Apa yang membuatnya mendua dariku?
Begitu banyak pertanyaan yang bercampur aduk dengan kekecewaan yang dirasakannya.
Membuatnya semakin lirih bersama ingatan tentang perjuangan serta pengorbanannya untuk Irawan selama ini.
Arrghhh..... sungguh menyesakkan fikir Tika dalam hati.

Langkah Tika tak terhenti dalam doa untuk ada selalu dalam genggaman Allah SWT.
Tak henti bibir kecilnya terus mengucap dzikir dan syukur.
Pertemuannya dengan Irawan, hubungannya dengan Irawan, kisah cintanya dengan Irawan sudah membawanya kedalam kesucian nurani yang melebihi cintanya terhadap Irawan selama ini.
Semua yang sudah ia lewati ternyata tak sia-sia, hikmah yang ditemukannya bahkan sangat besar dan kuat. Bahkan mampu menenangkan badai yang sempat membuatnya terpuruk dalam kesedihan.

Tika memulai hari yang baru, hari yang penuh dengan cinta akan Allah SWT. Cinta yang selamanya akan abadi. Abadi sampai ia menua dan nanti menjadi seonggok ingatan dengan nama.
Sampai ia menemukan cinta abadi kedua setelah cintanya untuk sang pencipta.....
Sampai tiba dimana ia akan tersenyum indah bersama dunia.

Senin, 22 Juni 2015

SERUMPUN LIMA STUDIO

Apaan sih ini Serumpun Lima Studio??
Pasti yang nggak tau bakal nanya kayak gitu deh, yang tau pasti nggak bakal nanya dan ngelanjutin bacaan ini hahahahaa.....
Serumpun Lima Studio adalah tempat bernaungnya beberapa muda-mudi untuk mengapresiasikan dirinya dalam dunia seni.
Kenapa aku sebut beberapa ya karena memang hanya ada sekitar 20an orang saja yang tergabung dalam grup ini.
Serumpun Lima Studio diambil dari kata "SERUMPUN" yang mengartikan bahwa orang-orang yang ada disini adalah orang-orang yang berasal dari satu tempat, lingkup, daerah, tujuan, bahkan kegiatan yang sama.
Lalu ada kata "LIMA", yang menyatakan bahwa pada zaman dahulu kala, grup ini hanya berisikan 5 orang saja.
Dan terakhir ada "STUDIO", yaa karena memang mereka sudah memiliki studio latihan sendiri.

Serumpun Lima Studio lahir pada tanggal 4 April 2014 entah dari rahim siapa.
Dan jangan sekali-sekali menanyakan siapa Ayah dari Serumpun Lima Studio, karena saya pun belum menyelidikinya.
Mimpi.......
Mungkin itu kata yang tepat.
Yaaaa..... Grup ini terlahir dari sebuah mimpi.
Mimpi untuk bisa berdiri sendiri, mengembangkan potensi, menyalurkan kreatifitas, dan Tuhan menjawab mimpi itu dengan lahirnya Serumpun Lima Studio.

Berbicara masalah visi, mereka hanya memiliki satu visi saja sih, yaitu bagaimana caranya mereka bisa memperkenalkan, melestarikan, menjaga, dan mempromosikan kesenian daerah.
Dan merekapun memiliki motto "Belajar sama-sama, sama-sama belajar".
Sampai sejauh ini sih mereka baru memiliki beberapa karya yang tak seberapa, yang masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan grup kesenian lainnya. (itu sih menurut saya, nggak tau kalau anda... :p)
But.... Alhamdulillah grup ini sudah dikenal dikalangan muda-mudi dikota tercinta Balikpapan.Itu dibuktikan dengan followers di instagram mereka yang sudah 270an. Hahahahaa masih dikit dong yaa....
Dan kalau bicara masalah prestasi sih belum banyak, pialanya baru 2 aja selama setahun kemarin ikut 3 festival.
Mudahan deh ditahun ini aku doain biar makin berprestasi dan makin banyak mempelopori pemuda lainnya.
Amin.... Allahumma Amin..........

Oiyaaaa genkzz..... Grup ini punya julukan juga loh.
Dulu julukannya adalah Naga Terbang, terus ganti jadi Si Biawak Liar, habis itu ganti jadi Ayam Jantan dari Hutan, terus terakhir julukannya berganti menjadi "The House Of Ambassador".
Itu dalam bahasa Banjarnya, dalam bahasa Indonesianya berarti rumahnya para duta.
Yaaa.... jadi dulu Duta Sheila On 7 juga berasal dari grup ini bray....
Lohhh salah salah salah, hahahhaa maklum lah agak kurang fokus akibat seketika terlintas wajahnya saat berjumpa kemarin. Tsssaaddaaaapppppp...........
Jadi di Serumpun Lima Studio ini terdiri dari berbagai jenis Duta berdasarkan golongan, selempang, jabatan, tingkatan, jangkauan, keasaman, kadar gula, berat, perlambatan, serta massa jenisnya genk (Looh udah kayak fisika dan kimia aja).
Inilah berbagai macam Duta yang ada di grup ini :
1. Duta Pemuda
2. Duta Wisata
3. Duta Budaya
4. Duta Bahasa
5. Duta Lingkungan Hidup
6. Duta Anti Narkoba
7. Duta Mahasiswa
8. Duta T******el
9. Duta I*3
Lumanyun banyak kan guys.... itu sudah kenapa julukannya si Biawak Liar. Ehhh maksudnya House Of Ambassador.

Udahan aahhh, itu aja kali yaaa cerita awal tentang Grup yang tak seberapa ini.
Mudah-mudahan bisa membuka fikiran kalian untuk bisa menjadi pelaku seni tradisional dan ikut andil mengemban visi seperti visinya si Serumpun Lima Studio tadi.
Inget, jadi pelakunya yaa.... bukan pekerjanya.
Karena kalau pekerja seni kan berarti hanya memanfaatkan seni untuk mencari uang.
Biarlah uang hanya menjadi bonus,
Prioritaskanlah tugas kita sebagai pemuda Indonesia yang baik....
Salam budaya,

Kamis, 11 Juni 2015

Lembaran Baru

Terlahir dan dibesarkan disebuah kota kecil dengan memiliki satu kakak dan satu adik, Randy adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai seorang tekhnisi handphone panggilan yang sudah tiga tahun ini ia jalani. Kehidupannya yang sulit memaksanya untuk harus mencari nafkah dari pagi hingga malam. Apalagi semenjak kepergian ayahnya beberapa bulan silam yang menjadikannya kini adalah seorang kepala keluarga.

Adiknya yang masih duduk dibangku SMP pun ikut menjadi tanggungannya. Dan satu-satunya kakak yang dimilikinya hanyalah seorang potographer yang tinggal di  luar daerah dan sudah membina rumah tangga. Jadi sang kakakpun lebih fokus untuk membahagiakan keluarga baru yang sudah ia bina sekarang.

Dimalam yang sangat dingin Randy terbangun dari tidurnya, didapatinya keringat yang bercucuran dari wajahnya. Wajah yang terlihat panik, dan dengan nafas sedikit tersengal-sengal randy melihat sekelilingnya. Disadarinya bahwa ia hanyalah mimpi, mimpi yang mungkin begitu buruk sehingga harus membangunkannya.
Diambilnya sepuntung rokok yang masih panjang didalam asbak, dihembuskannya kuat-kuat terlihat seperti orang yang begitu lelah. Dipejamkannya dan tanpa ia sadari tetes demi tetes airmata kini ikut membasahi wajahnya. Teringat jauh sebuah kenangan hangat yang pernah ia jalani bersama mantan kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Hal itu pernah terjadi sebelumnya bahkan sampai berkali-kali. Tiga tahun membina sebuah hubungan dan tiba-tiba pergi pergi begitu saja adalah sebuah keperihan bagi sebagian orang termasuk Randy.
Randy kembali duduk dan segera mematikan rokok yang sudah mulai terbakar habis, ia harus segera tidur kembali karena pagi yang lelah sudah menantinya untuk melakukan rutinitasnya.

Sekitar pukul 07.00 Randy terbangun dari tidurnya, bergegas ia langsung menuju kamar mandi karena ia harus segera kerumah salah satu pelanggannya untuk memperbaiki handphone sesuai janji yang ia buat semalam.
Dilihatnya blackberry-nya yang terjatuh dilantai dan dengan gesit diketiknya nama VILLA di kontak bbm-nya. terpampang sebuah gambar kartun yang menggambarkan raut kesedihan dan dibawahnya terdapat  kalimat singkat yang bertuliskan "aku hanya bisa menjagamu dengan doa".

Villa adalah seorang mahasiswa disalah satu universitas swasta dikotanya, Dan sudah berteman di bbm dengan Randy beberapa hari yang lalu. Dengan Villa-lah Randy membuat janji untuk memperbaiki handphone jam 08.00 pagi ini.
Randy melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul 07.30. Hanya ada waktu setengah jam tersisa untuk Randy bisa sampai dirumah Villa. Dengan lincah Randy mengambil tas ransel dikursi tamu yang ia sudah siapkan dari malam tadi. Di halaman rumah Randy segera menyalakan motor kesayangannya dan segera melesat cepat menuju rumah Villa.

Setelah menempuh perjalanan beberapa kilometer, tibalah Randy di alamat yang diberikan oleh Villa. Rumah menjulang tinggi dengan pagar besi kokoh berada dihadapan Randy sekarang. Segera ditekannya bel dan beberapa saat kemudian terdengar suara pengunci pagar yang dibuka.
Seorang gadis berwajah cantik, dengan tubuh ramping, berambut coklat, dan kulit yang putih berseri.
Sang gadispun menyodorkan tangan dan memperkenalkan dirinya, ternyata dia adalah Villa.
Sedikit terkejut Randy melihatnya, selain karena Randy baru pertama bertemu, Randy memang tidak pernah melihatnya di foto sekalipun. Karena beberapa kali Randy secara tidak sengaja melihat profil Villa di bbm hanya menayangkan gambar-gambar serta tulisan-tulisan bertemakan kesedihan.

Kurang lebih setengah jam waktu yang dibutuhkan Randy untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dengan meja yang juga sangat besar membuat Randy begitu leluasa untuk berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya. Sementara Villa setelah mengantarkan Randy masuk ke ruang tamu, langsung masuk ke sebuah kamar yang terletak dilantai dua dan meninggalkan Randy sendiri.
Bingung dengan apa yang harus dilakukan, Randy iseng mengamati seisi ruang tamu yang penuh dengan berbagai macam pernak pernik. Dari lukisan bernuansa Islami, guci-guci China yang besar, foto-foto, dan berbagai macam pernik lainnya.
Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi Randy mencoba untuk mengamati berbagai hiasan yang tertempel di dinding rumah Villa. Betapa terkejutnya ketika ia melihat sebuah foto yang terletak disudut dinding ruang tamu tersebut. Didalam foto tersebut ada dua wanita cantik separuh baya yang sedang duduk disebuah bangku taman dengan latar belakang taman bunga yang sangat indah. Itu adalah foto Villa dan Wulan.
Wulan adalah mantan kekasih Randy yang telah pergi meninggalkan Randy untuk selamanya. Wulanlah yang selama ini sering membuat Randy menitikkan airmatanya disaat Randy tengah mengenangnya.
Randy terkejut saat disadarinya Villa dengan menggunakan hem berlengan panjang sudah berada disamping Randy. Entah sudah berapa lama Villa berada disitu dan memperhatikan Randy.

"Itu aku dan sahabat lamaku, Wulan", Villa berkata sembari mendekati kursi dan duduk dikursi tersebut.
"Yaaa... aku tahu" sahut Randy lemah sampai Villa-pun tak mendengarnya.
"Sudah selesai Handphonenya?" tanya Villa.
"Ohhh sudah dong" Randy mencoba menjawab dengan sesantai mungkin.

Seketika dengan akrabnya Randy dan Villa begitu terlihat asyik mengobrol dan sesekali Randy mengeluarkan leluconnya yang membuat tawa Villa pecah sejadi-jadinya.
"Ternyata kamu bisa tertawa juga ya Vil?", tanya Randy memotong tawa Villa.

Villa hanya bisa tertunduk seperti orang yang sangat lemah. Karena pertanyaan tersebut benar-benar membuat Villa kaget dan bingung bagaimana menjawabnya.
Tak lama kemudian sebuah bel berbunyi dari arah pintu masuk rumah Villa. Dengan cepat Villa segera keluar untuk membukakan pagarnya. Villa kembali masuk kedalam rumah dengan wajah datar bersama seorang pria tampan berkulit putih yang juga mengenakan hem berlengan panjang berwarna hitam. Dia adalah Dhera, pemuda yang terlihat seumuran dengan Randy  yang merupakan teman sekampus dengan Villa.
Merasa sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, Randy pun pamit pulang setelah menerima bayaran dari Villa.
Randy berjalan lambat keluar rumah dan menyusuri taman rumah Villa yang cukup luas sampai pada akhirnya ia berada diluar pagar rumah. Villa dan Dhera pun berjalan pelan mengiringi Randy dari belakang. Ternyata mereka juga akan segera pergi untuk berangkat ke kampus.

Dilihatnya sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam pekat yang begitu mengkilat tepat berada dibelakang motor butut Randy. Randy segera menyalakan mesin sepeda motornya dan memperbaiki kaca spion yang sedikit terangkat. Dilihatnya dari kaca spion Dhera sedang membukakan pintu mobil untuk Villa, sebelum masuk kedalam mobil Villa sempat memberikan senyum yang begitu ramah untuk Randy. Randy hanya bisa membalasnya dnegan senyum kecil melalui kaca spion sepeda motornya.
Berjalan pelan dengan mengendarai kendaraan kesayangannya, dijalan Randy sempat mengingat senyum manis Villa yang diberikannya sebelum masuk ke mobil tadi. Randy hanya tersenyum  senyum sendiri saat mengingat kejadian itu.
Akhirnya Randy sampai kembali dirumahnya, segera ia menuju kamarnya yang terlihat cukup rapi untuk pemuda seumuran Randy.
Direbahkannya tubuhnya disebuah kasur usang yang ada dikamarnya itu, dirasakannya tubuhnya masih terasa lelah karena tidurnya yang kurang nyenyak semalam. Terlintas ia mengingat sebuah foto diruang tamu Villa tadi, foto Villa dan Wulan. Menjadi sebuah pertanyaan tersendiri untuknya. Ia tahu bahwa Wulan tidaklah memiliki banyak teman, dan hampir semua teman Wulan adalah merupakan teman Randy juga. Tapi mengapa Randy tidak pernah mengetahui apa-apa tentang Villa atau setidaknya mendengar Wulan menceritakan sedikit hal tentang persahabatannya dengan Villa. Dengan rasa penasaran yang sangat besar Randy mencoba memberanikan diri untuk menghubungi Villa, tapi segera ia sadari bahwa Villa kini sedang kuliah dan ia mengurungkan niatnya untuk mengajukan pertanyaan tersebut karena tukut mengganggu jam kuliahnya.

Rasa lelah berubah menjadi rasa kantuk yang membuat matanya begitu berat untuk terbuka, dengan pulasnya Randy-pun akhirnya tertidur.
Berjam-jam Randy tertidur sampai ia akhirnya terbangun karena terkejut dengan nada dering yang berasal dari ponselnya. Sebuah nomor tidak bernama menelponnya dan ketika Randy menerima panggilan tersebut seketika pula sambungannya terputus.
Ia tidak memperdulikan panggilan tersebut dari siapa, ia hanya membuka bbm dan melihat ada 18 bbm yang masuk. Dilihatnya beberapa bbm hanyalah broadcast-broadcast yang tidak terlalu penting. Namun dengan mengernyitkan dahinya ia melihat ada satu bbm yang bisa membuatnya tersenyum, yaaa... bbm dari Villa.

"Hoyyyyy...." 2 jam yang lalu.
"Raandyyyyyy....." 1 jam yang lalu.
"PING!!!" 38 menit yang lalu.

Ini adalah suatu kebetulan fikir Randy, ia jadi tidak sungkan untuk mengajak Villa bercerita mengenai bagaimana Villa bisa mengenal Wulan karena Villa terlebih dahulu menghubungi Randy. Namun sebelum Randy menanyakan hal tersebut, Villa kembali mengirim pesan.

"Yeeeee bbmku cuma dibaca doang tapi ga dibalas, besok kamu sibuk ngga?" tanya Villa.
Secepat kilat Randy segera membalas bbm dari Villa,
"Engga, kenapa non? sahut Randy dingin.
"Non, non, non.... Panggil Villa aja kenapa sih!! Temanin aku jalan bisa ngga? Aku bete dirumah terus Ran.."

Sedikit mengejutkan karena seorang Villa yang menurut Randy adalah seorang yang selalu menampakkan kesedihan di profil bbm-nya, dan yang terlihat pendiam saat kesan pertama bertemu, dan seorang yang belum tepat 24 jam ditemuinya kini sudah mau mengajaknya pergi esok hari, apalagi ketika ia mengingat rumah besar dan mewah milik  Villa yang menonjolkan kekayaannya. Sungguh menjadi pertanyaan besar di benak Randy. Ada apa sebenarnya???

"Bisa sih Vil, mau kemana dan jam berapa?" Jawab Randy.
"Jam 7 malam jemput aku dirumah ya, dan bawa satu helm lagi untukku!"
"Hmmmm... bawa helm ya?? Tapi aku nggak punya helm lagi, aku bawain ember kecil warna hitam aja yaa!! Balas Randy dengan leluconnya.
"Hahahahaaa, pokoknya besok yaa!!"
"Oke"
Semakin tidak sabar Randy menunggu esok malam. Begitu besar keingintahuannya mengenai maksud dari ajakan Villa tersebut.

Ke-esokan harinya waktu terasa begitu cepat bagi Randy. Ada 5 servis panggilan buat Randy hari itu, dan membuatnya begitu bersyukur atas nikmat rizki yang diberikan oleh Tuhan.
Ini adalah hari rabu, biasanya memang banyak kaula muda yang menjadikan hari rabu sebagai hari mereka untuk bersenang-senang.
Sehabis sholat maghrib Randy segera mengganti baju muslim yang dikenakannya dengan baju terbaik yang Randy punya. Dengan menggunakan baju putih polos dilapisi dengan jaket hitam berbahan semi kulit ditambah celana jeans biru muda dengan beberapa robekan panjang dibagian lutut, dilengkapi sepatu usang berwarna coklat tua yang kalau dilihat lebih mirip dengan sepatu untuk pekerja tambang daripada sepatu untuk jalan sehari-hari. Seperti biasa, dia memang sangat cuek dengan penampilannya sendiri, bahkan ternilai terlalu casual dan sangat tidak rapi untuk seorang pria yang akan bertemu dengan wanita cantik.
Akhirnya Randy sampai didepan rumah Villa, segera ia turun dari sepeda motornya dan menekan bel rumah Villa. Beberapa saat kemudian Villa terlihat dari balik pagar dengan menggunakan baju berkerah berwarna putih. Villa mengenakan celana jeans biru muda yang hampir menyerupai warna celana yang dikenakan oleh Randy, bersepatu merah dan dihiasi pita kecil berwarna merah dirambutnya. Sangat terlihat sederhana namun cantik menurut Randy. 

"Aku fikir kamu akan menggunakan baju dres berwarna putih, sepatu kaca, dan pita rambut berwarna putih. Ternyata begini aja udah kelihatan cantik" Tungkas Randy saat berdiri didepan Villa.
"Ahhh.... kamu ini muji apa ngolok sih Ran...? Udah yuk, kita pergi sekarang aja" Sahut Villa dengan tersipu malu.

Diberikannya helm yang telah dibawa tadi dan tanpa dipersilahkanpun Villa langsung naik keatas sepeda motor Randy.

Berjalan pelan menyisiri jalan diperkotaan, Randy asyik mengajak ngobrol Villa mengenai kehidupan Randy yang cukup berat. Sesekali Randy menghela nafas panjang, dan Villa hanya bisa tersenyum tanpa diketahui oleh Randy. Villa terlihat sangat merasa nyaman bersama Randy, gaya yang dimiliki Randy, senyumnya, leluconnya, selalu bisa menghadirkan senyum untuk Villa. Senyum yang memang telah lama hilang dari hidup Villa.
Tibalah mereka disebuah cafe yang berada di daerah pegunungan, hawanya yang sejuk sedikit membuat mereka sedikit kedinginan. Namun rasa dingin itu seketika hilang ketika mereka memperhatikan pemandangan sekitar. Pemandangan yang begitu indah, gemerlap lampu-lampu kecil terhampar dibawah langit yang penuh akan bintang. Pemandangan laut yang begitu luas seakan terlihat cukup jelas didalam gelap karena banyaknya kapal-kapal yang melintas. Mereka memilih sebuah meja yang terletak paling belakang, cahaya bulan yang tepat meremangi wajah mereka menambahkan suasana romantis pada malam itu. Cafe itu memang biasa dipenuhi oleh para remaja yang berpasang-pasangan, dan cafe itu menjadi tempat favorit Villa dulunya.
Seorang pelayan cafe datang menghampiri mereka dengan membawakan sebuah daftar menu, Villa memesan segelas jus mangga favoritnya dan kentang goreng sedangkan Randy hanya memesan secangkir kopi hitam tanpa gula. Setelah memesan minuman Randy mulai membuka obrolan dengan pertanyaan yang sudah dari kemarin ia siapkan.

"Kamu kenal Wulan dimana Vil?"
"Aku kenal sudah lama, orang tua kami berteman dan aku sering main bersama dia", jawab Villa.
"Banyak hal yang sudah ia ceritakan tentang kamu Ran....", timpalnya lagi.
"Jadi kamu sudah tahu tentang aku Vil?", tanya Randy lagi..
Belum sempat dijawab oleh Villa seketika tawa Randy memecahkan keheningan dicafe itu, dan membuat semua orang yang berada disana memalingkan pandangan ke arah Randy.
"Maaf maaf Vil..... aku keceplosan". 
"Kenapa kamu tertawa Ran?" tanya Villa sedikit keheranan.
"Lucu aja, kenapa kita baru ketemunya sekarang yaa, kan kamu juga sudah tahu tentang aku." jawab Randy dengan sedikit menahan tawanya.

Obrolan mereka terhenti saat seorang pelayan cafe sudah datang membawakan pesanan mereka. Randy mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia tidak mau harus kembali bersedih bila mengingat Wulan. Randy mencoba mengajukan pertanyaan lagi untuk Villa. Kali ini tentang Dhera, pria yang menjemput Villa saat Randy berada dirumah Villa.

"Yang kemarin itu Pa....", belum selesai pertanyaan Randy, Villa langsung memotong pertanyaan Randy seakan-akan sudah tahu apa yang hendak ditanyakan oleh Randy.
"Ohhhh Dhera.. dia teman sekampus sama aku Ran".
"Kami sudah lama berteman, bahkan dari kami SMA"
"Kenapa Ran?"
"Nggak apa-apa Vil, nanya aja..", Jawab Randy dingin.

Randy dan Villa menjadi membisu, hanya sibuk dengan handphone dan minuman mereka masing-masing. Randy mengambil sebatang rokok, kini ia terlihat gugup dan seperti salah tingkah sendiri. Villa yang memperhatikannya hanya bisa menahan geli melihat tingkah Randy.
Tapi didalam hati, Randy tengah berdoa.....
"Tunjukkanlah bahwa benar, inilah wanita yang Engkau siapkan untukku Tuhan!!"

Sabtu, 04 April 2015

Satu Tahun Pertama

4 April
Ini tanggal bukan sembarangan tanggal mamen.... Ini tanggal yang banyak artinya buat saya.
4 April adalah tanggal ke-empat di bulan April setelah tanggal 1, 2, dan 3 (Yaiyalaaah mau keberapa lagi coba??) Hahahahaaa
Almarhum Papah lahir di tanggal 4 April.
4 temanku juga lahir di tanggal 4 April.
Bahkan 2 diantaranya teman yang cukup dekat gitu.
Dan yang paling bro banget, pada tanggal 4 April 2014 adalah hari jadi dari Serumpun Lima Studio.
Pada tau nggak Serumpun Lima Studio itu apaan?? Yang pasti bukan nama makanan, bukan nama cewek, bukan nama perumahan.
Serumpun Lima Studio itu adalah nama grup tari tradisional yang ada di Balikpapan yang di ownerin sama seorang pemuda tak seberapa. Kalo nggak salah namanya Andin Destian.
Pada tahun 2014 namanya bukan itu sih yang aku tau, kalo nggak betul (kalo nggak salah sudah terlalu mainstream) namanya itu Serumpun Lima Agency.
Jadi sejarahnya begini bray.....
Pada zaman dahulu kala, si Pemuda tak seberapa itu memang ada niatan ingin berkarya sendiri dan membuat kelompok tari kecil-kecilan.
Dasar doanya yang sampai di telinga Tuhan, maka dengan kekuasaannya Tuhan mengabulkan doa si pemuda itu.
Ia dipertemukan dengan kelima muda-mudi lainnya didalam sebuah ajang pemilihan yang diselenggarakan salah satu dinas pemerintahan di kota Balikpapan, Sebut saja Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata atau yang biasa dipendekkin menjadi DISPORABUDPAR.

Pertanyaannya untuk minggu ini, siapakah kelima muda-mudi tersebut???
a. Anto, Jono, Rika, Ani, Budi
b. Rini, Ahmad, Dani, Majid, Sri
c. Melly, Taufik, Devi, Roy, Ronald
d. Andre, Rahmat, Novi, Eko, Johan
e. Lestari, Riski, Linda, Abdul, Mayang

Kirim jawaban kamu, dan ditunggu selambat-lambatnya 44 hari dari sekarang!!!
Dan rebut hadiah utama yaitu paket tour Balikpapan - Semboja 4 hari 4 malam yang akan didampingi oleh Duta Wisata Putri Persahabatan.

Setelah 44 hari
Krik krikk kriikkk....

Yaaa kelima muda -mudi tersebut tidak ada namanya tercantum dipilihan tersebut. Hahahaaa.....
Andin, Nia, Ozand, Elsa, Puspita.
Itu orangnya....
Meskipun sekarang sudah memasuki penghujung tahun 2015 punggawa awal ini sudah tak lengkap (hanya menyisakan tiga saja), tapi konstribusinya sangat luar biasa. Bahkan Serumpun Lima Studio sudah mengumpulkan lebih dari 30 orang luar biasa yang mempunyai visi sangat mulia.
Dan dahsyat terdahsyatnya lagi guys.... mereka yang tergabung dalam Serumpun Lima Studio bukan orang sembarangan loh....
Yaa tapi bukan sembarangan itu bukan berarti mereka adalah anak ajaib, anak dukun, atau anak konglomerat gitu men.
Mereka yang tergabung di studio tak seberapa ini adalah mereka yang berprestasi dibidangnya masing-masing.
Ada yang jago di desain grafis, di fotografi, atlit olahraga, kepemudaan, wirausahawan, bahkan sampai ke segala macam duta yang ada dikota paling dicintai ini.
Prestasi dan kemampuan mereka dalam bidangnya nggak usah diragukan lagi, yang cukup kalian ragukan adalah masa depan kalian sendiri guys!! #nggaknyambung
...
Tapi disitulah keunggulan studio ini, berisi muda-mudi yang memiliki visi untuk melestarikan budaya. Bukan menjadikan seni sebagai pekerjaan untuk mendapatkan uang jajan (jajan yang positif loh ya....)
Yaaaa..... mudahan aja niat mereka bisa mendapatkan respon yang positif dari dunia, dan mendapatkan kemudahan serta jalan yang mudah untuk terus berkreasi dan melestaqrikan budaya.
AMMIIIINNNN......

Itu ajalah dulu cerita tentang umur mereka yang udah setahun ini. Prestasi lumayan, karya udah lumayan, properti udah lumayan, personil nambah terus, yang belum cuma pasangan yang belum bertambah. Wkwkwkwkwkwk #curcol

See u in the next tulisan....
Cari angin dulu biar dapat inspirasi.
Mana tau inspirasi dicari, jodoh yang didapat.
Gut naight eperibadeh...!!!