Kamis, 11 Juni 2015

Lembaran Baru

Terlahir dan dibesarkan disebuah kota kecil dengan memiliki satu kakak dan satu adik, Randy adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai seorang tekhnisi handphone panggilan yang sudah tiga tahun ini ia jalani. Kehidupannya yang sulit memaksanya untuk harus mencari nafkah dari pagi hingga malam. Apalagi semenjak kepergian ayahnya beberapa bulan silam yang menjadikannya kini adalah seorang kepala keluarga.

Adiknya yang masih duduk dibangku SMP pun ikut menjadi tanggungannya. Dan satu-satunya kakak yang dimilikinya hanyalah seorang potographer yang tinggal di  luar daerah dan sudah membina rumah tangga. Jadi sang kakakpun lebih fokus untuk membahagiakan keluarga baru yang sudah ia bina sekarang.

Dimalam yang sangat dingin Randy terbangun dari tidurnya, didapatinya keringat yang bercucuran dari wajahnya. Wajah yang terlihat panik, dan dengan nafas sedikit tersengal-sengal randy melihat sekelilingnya. Disadarinya bahwa ia hanyalah mimpi, mimpi yang mungkin begitu buruk sehingga harus membangunkannya.
Diambilnya sepuntung rokok yang masih panjang didalam asbak, dihembuskannya kuat-kuat terlihat seperti orang yang begitu lelah. Dipejamkannya dan tanpa ia sadari tetes demi tetes airmata kini ikut membasahi wajahnya. Teringat jauh sebuah kenangan hangat yang pernah ia jalani bersama mantan kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Hal itu pernah terjadi sebelumnya bahkan sampai berkali-kali. Tiga tahun membina sebuah hubungan dan tiba-tiba pergi pergi begitu saja adalah sebuah keperihan bagi sebagian orang termasuk Randy.
Randy kembali duduk dan segera mematikan rokok yang sudah mulai terbakar habis, ia harus segera tidur kembali karena pagi yang lelah sudah menantinya untuk melakukan rutinitasnya.

Sekitar pukul 07.00 Randy terbangun dari tidurnya, bergegas ia langsung menuju kamar mandi karena ia harus segera kerumah salah satu pelanggannya untuk memperbaiki handphone sesuai janji yang ia buat semalam.
Dilihatnya blackberry-nya yang terjatuh dilantai dan dengan gesit diketiknya nama VILLA di kontak bbm-nya. terpampang sebuah gambar kartun yang menggambarkan raut kesedihan dan dibawahnya terdapat  kalimat singkat yang bertuliskan "aku hanya bisa menjagamu dengan doa".

Villa adalah seorang mahasiswa disalah satu universitas swasta dikotanya, Dan sudah berteman di bbm dengan Randy beberapa hari yang lalu. Dengan Villa-lah Randy membuat janji untuk memperbaiki handphone jam 08.00 pagi ini.
Randy melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul 07.30. Hanya ada waktu setengah jam tersisa untuk Randy bisa sampai dirumah Villa. Dengan lincah Randy mengambil tas ransel dikursi tamu yang ia sudah siapkan dari malam tadi. Di halaman rumah Randy segera menyalakan motor kesayangannya dan segera melesat cepat menuju rumah Villa.

Setelah menempuh perjalanan beberapa kilometer, tibalah Randy di alamat yang diberikan oleh Villa. Rumah menjulang tinggi dengan pagar besi kokoh berada dihadapan Randy sekarang. Segera ditekannya bel dan beberapa saat kemudian terdengar suara pengunci pagar yang dibuka.
Seorang gadis berwajah cantik, dengan tubuh ramping, berambut coklat, dan kulit yang putih berseri.
Sang gadispun menyodorkan tangan dan memperkenalkan dirinya, ternyata dia adalah Villa.
Sedikit terkejut Randy melihatnya, selain karena Randy baru pertama bertemu, Randy memang tidak pernah melihatnya di foto sekalipun. Karena beberapa kali Randy secara tidak sengaja melihat profil Villa di bbm hanya menayangkan gambar-gambar serta tulisan-tulisan bertemakan kesedihan.

Kurang lebih setengah jam waktu yang dibutuhkan Randy untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dengan meja yang juga sangat besar membuat Randy begitu leluasa untuk berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya. Sementara Villa setelah mengantarkan Randy masuk ke ruang tamu, langsung masuk ke sebuah kamar yang terletak dilantai dua dan meninggalkan Randy sendiri.
Bingung dengan apa yang harus dilakukan, Randy iseng mengamati seisi ruang tamu yang penuh dengan berbagai macam pernak pernik. Dari lukisan bernuansa Islami, guci-guci China yang besar, foto-foto, dan berbagai macam pernik lainnya.
Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi Randy mencoba untuk mengamati berbagai hiasan yang tertempel di dinding rumah Villa. Betapa terkejutnya ketika ia melihat sebuah foto yang terletak disudut dinding ruang tamu tersebut. Didalam foto tersebut ada dua wanita cantik separuh baya yang sedang duduk disebuah bangku taman dengan latar belakang taman bunga yang sangat indah. Itu adalah foto Villa dan Wulan.
Wulan adalah mantan kekasih Randy yang telah pergi meninggalkan Randy untuk selamanya. Wulanlah yang selama ini sering membuat Randy menitikkan airmatanya disaat Randy tengah mengenangnya.
Randy terkejut saat disadarinya Villa dengan menggunakan hem berlengan panjang sudah berada disamping Randy. Entah sudah berapa lama Villa berada disitu dan memperhatikan Randy.

"Itu aku dan sahabat lamaku, Wulan", Villa berkata sembari mendekati kursi dan duduk dikursi tersebut.
"Yaaa... aku tahu" sahut Randy lemah sampai Villa-pun tak mendengarnya.
"Sudah selesai Handphonenya?" tanya Villa.
"Ohhh sudah dong" Randy mencoba menjawab dengan sesantai mungkin.

Seketika dengan akrabnya Randy dan Villa begitu terlihat asyik mengobrol dan sesekali Randy mengeluarkan leluconnya yang membuat tawa Villa pecah sejadi-jadinya.
"Ternyata kamu bisa tertawa juga ya Vil?", tanya Randy memotong tawa Villa.

Villa hanya bisa tertunduk seperti orang yang sangat lemah. Karena pertanyaan tersebut benar-benar membuat Villa kaget dan bingung bagaimana menjawabnya.
Tak lama kemudian sebuah bel berbunyi dari arah pintu masuk rumah Villa. Dengan cepat Villa segera keluar untuk membukakan pagarnya. Villa kembali masuk kedalam rumah dengan wajah datar bersama seorang pria tampan berkulit putih yang juga mengenakan hem berlengan panjang berwarna hitam. Dia adalah Dhera, pemuda yang terlihat seumuran dengan Randy  yang merupakan teman sekampus dengan Villa.
Merasa sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, Randy pun pamit pulang setelah menerima bayaran dari Villa.
Randy berjalan lambat keluar rumah dan menyusuri taman rumah Villa yang cukup luas sampai pada akhirnya ia berada diluar pagar rumah. Villa dan Dhera pun berjalan pelan mengiringi Randy dari belakang. Ternyata mereka juga akan segera pergi untuk berangkat ke kampus.

Dilihatnya sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam pekat yang begitu mengkilat tepat berada dibelakang motor butut Randy. Randy segera menyalakan mesin sepeda motornya dan memperbaiki kaca spion yang sedikit terangkat. Dilihatnya dari kaca spion Dhera sedang membukakan pintu mobil untuk Villa, sebelum masuk kedalam mobil Villa sempat memberikan senyum yang begitu ramah untuk Randy. Randy hanya bisa membalasnya dnegan senyum kecil melalui kaca spion sepeda motornya.
Berjalan pelan dengan mengendarai kendaraan kesayangannya, dijalan Randy sempat mengingat senyum manis Villa yang diberikannya sebelum masuk ke mobil tadi. Randy hanya tersenyum  senyum sendiri saat mengingat kejadian itu.
Akhirnya Randy sampai kembali dirumahnya, segera ia menuju kamarnya yang terlihat cukup rapi untuk pemuda seumuran Randy.
Direbahkannya tubuhnya disebuah kasur usang yang ada dikamarnya itu, dirasakannya tubuhnya masih terasa lelah karena tidurnya yang kurang nyenyak semalam. Terlintas ia mengingat sebuah foto diruang tamu Villa tadi, foto Villa dan Wulan. Menjadi sebuah pertanyaan tersendiri untuknya. Ia tahu bahwa Wulan tidaklah memiliki banyak teman, dan hampir semua teman Wulan adalah merupakan teman Randy juga. Tapi mengapa Randy tidak pernah mengetahui apa-apa tentang Villa atau setidaknya mendengar Wulan menceritakan sedikit hal tentang persahabatannya dengan Villa. Dengan rasa penasaran yang sangat besar Randy mencoba memberanikan diri untuk menghubungi Villa, tapi segera ia sadari bahwa Villa kini sedang kuliah dan ia mengurungkan niatnya untuk mengajukan pertanyaan tersebut karena tukut mengganggu jam kuliahnya.

Rasa lelah berubah menjadi rasa kantuk yang membuat matanya begitu berat untuk terbuka, dengan pulasnya Randy-pun akhirnya tertidur.
Berjam-jam Randy tertidur sampai ia akhirnya terbangun karena terkejut dengan nada dering yang berasal dari ponselnya. Sebuah nomor tidak bernama menelponnya dan ketika Randy menerima panggilan tersebut seketika pula sambungannya terputus.
Ia tidak memperdulikan panggilan tersebut dari siapa, ia hanya membuka bbm dan melihat ada 18 bbm yang masuk. Dilihatnya beberapa bbm hanyalah broadcast-broadcast yang tidak terlalu penting. Namun dengan mengernyitkan dahinya ia melihat ada satu bbm yang bisa membuatnya tersenyum, yaaa... bbm dari Villa.

"Hoyyyyy...." 2 jam yang lalu.
"Raandyyyyyy....." 1 jam yang lalu.
"PING!!!" 38 menit yang lalu.

Ini adalah suatu kebetulan fikir Randy, ia jadi tidak sungkan untuk mengajak Villa bercerita mengenai bagaimana Villa bisa mengenal Wulan karena Villa terlebih dahulu menghubungi Randy. Namun sebelum Randy menanyakan hal tersebut, Villa kembali mengirim pesan.

"Yeeeee bbmku cuma dibaca doang tapi ga dibalas, besok kamu sibuk ngga?" tanya Villa.
Secepat kilat Randy segera membalas bbm dari Villa,
"Engga, kenapa non? sahut Randy dingin.
"Non, non, non.... Panggil Villa aja kenapa sih!! Temanin aku jalan bisa ngga? Aku bete dirumah terus Ran.."

Sedikit mengejutkan karena seorang Villa yang menurut Randy adalah seorang yang selalu menampakkan kesedihan di profil bbm-nya, dan yang terlihat pendiam saat kesan pertama bertemu, dan seorang yang belum tepat 24 jam ditemuinya kini sudah mau mengajaknya pergi esok hari, apalagi ketika ia mengingat rumah besar dan mewah milik  Villa yang menonjolkan kekayaannya. Sungguh menjadi pertanyaan besar di benak Randy. Ada apa sebenarnya???

"Bisa sih Vil, mau kemana dan jam berapa?" Jawab Randy.
"Jam 7 malam jemput aku dirumah ya, dan bawa satu helm lagi untukku!"
"Hmmmm... bawa helm ya?? Tapi aku nggak punya helm lagi, aku bawain ember kecil warna hitam aja yaa!! Balas Randy dengan leluconnya.
"Hahahahaaa, pokoknya besok yaa!!"
"Oke"
Semakin tidak sabar Randy menunggu esok malam. Begitu besar keingintahuannya mengenai maksud dari ajakan Villa tersebut.

Ke-esokan harinya waktu terasa begitu cepat bagi Randy. Ada 5 servis panggilan buat Randy hari itu, dan membuatnya begitu bersyukur atas nikmat rizki yang diberikan oleh Tuhan.
Ini adalah hari rabu, biasanya memang banyak kaula muda yang menjadikan hari rabu sebagai hari mereka untuk bersenang-senang.
Sehabis sholat maghrib Randy segera mengganti baju muslim yang dikenakannya dengan baju terbaik yang Randy punya. Dengan menggunakan baju putih polos dilapisi dengan jaket hitam berbahan semi kulit ditambah celana jeans biru muda dengan beberapa robekan panjang dibagian lutut, dilengkapi sepatu usang berwarna coklat tua yang kalau dilihat lebih mirip dengan sepatu untuk pekerja tambang daripada sepatu untuk jalan sehari-hari. Seperti biasa, dia memang sangat cuek dengan penampilannya sendiri, bahkan ternilai terlalu casual dan sangat tidak rapi untuk seorang pria yang akan bertemu dengan wanita cantik.
Akhirnya Randy sampai didepan rumah Villa, segera ia turun dari sepeda motornya dan menekan bel rumah Villa. Beberapa saat kemudian Villa terlihat dari balik pagar dengan menggunakan baju berkerah berwarna putih. Villa mengenakan celana jeans biru muda yang hampir menyerupai warna celana yang dikenakan oleh Randy, bersepatu merah dan dihiasi pita kecil berwarna merah dirambutnya. Sangat terlihat sederhana namun cantik menurut Randy. 

"Aku fikir kamu akan menggunakan baju dres berwarna putih, sepatu kaca, dan pita rambut berwarna putih. Ternyata begini aja udah kelihatan cantik" Tungkas Randy saat berdiri didepan Villa.
"Ahhh.... kamu ini muji apa ngolok sih Ran...? Udah yuk, kita pergi sekarang aja" Sahut Villa dengan tersipu malu.

Diberikannya helm yang telah dibawa tadi dan tanpa dipersilahkanpun Villa langsung naik keatas sepeda motor Randy.

Berjalan pelan menyisiri jalan diperkotaan, Randy asyik mengajak ngobrol Villa mengenai kehidupan Randy yang cukup berat. Sesekali Randy menghela nafas panjang, dan Villa hanya bisa tersenyum tanpa diketahui oleh Randy. Villa terlihat sangat merasa nyaman bersama Randy, gaya yang dimiliki Randy, senyumnya, leluconnya, selalu bisa menghadirkan senyum untuk Villa. Senyum yang memang telah lama hilang dari hidup Villa.
Tibalah mereka disebuah cafe yang berada di daerah pegunungan, hawanya yang sejuk sedikit membuat mereka sedikit kedinginan. Namun rasa dingin itu seketika hilang ketika mereka memperhatikan pemandangan sekitar. Pemandangan yang begitu indah, gemerlap lampu-lampu kecil terhampar dibawah langit yang penuh akan bintang. Pemandangan laut yang begitu luas seakan terlihat cukup jelas didalam gelap karena banyaknya kapal-kapal yang melintas. Mereka memilih sebuah meja yang terletak paling belakang, cahaya bulan yang tepat meremangi wajah mereka menambahkan suasana romantis pada malam itu. Cafe itu memang biasa dipenuhi oleh para remaja yang berpasang-pasangan, dan cafe itu menjadi tempat favorit Villa dulunya.
Seorang pelayan cafe datang menghampiri mereka dengan membawakan sebuah daftar menu, Villa memesan segelas jus mangga favoritnya dan kentang goreng sedangkan Randy hanya memesan secangkir kopi hitam tanpa gula. Setelah memesan minuman Randy mulai membuka obrolan dengan pertanyaan yang sudah dari kemarin ia siapkan.

"Kamu kenal Wulan dimana Vil?"
"Aku kenal sudah lama, orang tua kami berteman dan aku sering main bersama dia", jawab Villa.
"Banyak hal yang sudah ia ceritakan tentang kamu Ran....", timpalnya lagi.
"Jadi kamu sudah tahu tentang aku Vil?", tanya Randy lagi..
Belum sempat dijawab oleh Villa seketika tawa Randy memecahkan keheningan dicafe itu, dan membuat semua orang yang berada disana memalingkan pandangan ke arah Randy.
"Maaf maaf Vil..... aku keceplosan". 
"Kenapa kamu tertawa Ran?" tanya Villa sedikit keheranan.
"Lucu aja, kenapa kita baru ketemunya sekarang yaa, kan kamu juga sudah tahu tentang aku." jawab Randy dengan sedikit menahan tawanya.

Obrolan mereka terhenti saat seorang pelayan cafe sudah datang membawakan pesanan mereka. Randy mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia tidak mau harus kembali bersedih bila mengingat Wulan. Randy mencoba mengajukan pertanyaan lagi untuk Villa. Kali ini tentang Dhera, pria yang menjemput Villa saat Randy berada dirumah Villa.

"Yang kemarin itu Pa....", belum selesai pertanyaan Randy, Villa langsung memotong pertanyaan Randy seakan-akan sudah tahu apa yang hendak ditanyakan oleh Randy.
"Ohhhh Dhera.. dia teman sekampus sama aku Ran".
"Kami sudah lama berteman, bahkan dari kami SMA"
"Kenapa Ran?"
"Nggak apa-apa Vil, nanya aja..", Jawab Randy dingin.

Randy dan Villa menjadi membisu, hanya sibuk dengan handphone dan minuman mereka masing-masing. Randy mengambil sebatang rokok, kini ia terlihat gugup dan seperti salah tingkah sendiri. Villa yang memperhatikannya hanya bisa menahan geli melihat tingkah Randy.
Tapi didalam hati, Randy tengah berdoa.....
"Tunjukkanlah bahwa benar, inilah wanita yang Engkau siapkan untukku Tuhan!!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar