Hmmmm.....
Judul ini direkomendasiin oleh seorang wanita yang meyakini bahwa mimpi itu bisa disambungkan kembali kalau kita lanjut tidur lagi.
Agak diluar akal sehat sih, berasanya tuh mimpi adalah sebuah film yg diputar di dvd terus bakal bisa di pause dan di play 😂.
Tapi secara teknis, bukan berarti hal seperti itu tidak bisa terjadi.
Mungkin banyak diantara kalian yang malah sudah pernah mengalami hal ini.
.
Lagi asik bermimpi basah, upsss indah maksudnya 😆.
Lagi asik bermimpi indah, terus si indah ga pernah mimpiin kamu #sesakrasanya.
Lagi asik bermimpi indah, terus kebangun gara-gara ditampol Emak pakai sendal jepit karena udah kesiangan bangunnya.
"Ooohhhhh Emaaakkkkk, ini weekend. Wajib hukumnya untuk ngebangkong 😠😠😠😠😠"
Terus gantian, kita yang ngetampol emak pakai teflon.
Hahahaha jangan ya guys.....!!!!!
Ikhlasin aja kalau kalian pernah ngalamin itu, namanya orang tua yakan. Nggak boleh dilawan. Nggak ada mereka nggak bakal ada kita men 😆😆😆😆😆.
Okee kembali ke tadi ya..... #seriussudahini
.
Lagi asik bermimpi indah, ternyata kita harus terbangun entah karena hal apa.
Tapi biasanya salah satu saraf di otak kita mampu mengingat penggalan dari mimpi yang barusan terjadi.
Penggalan tersebut biasanya adalah momen yang berada di ujung-ujung mimpi itu, dan jalan cerita awal mimpi itu kebanyakan tidak tersimpan secara sempurna di otak atau malah lebih sering nggak keinget sama sekali.
So pasti banyak dari kita yang mencoba untuk mengingat-mengingat keseluruhan mimpi tersebut dan akhirnya nyerah karena ga bisa.
Tapi karena mimpinya terlalu indah (mungkin mimpinya tentang doi ya bro), so mbak-mbak yang nyaranin judul postingan ini, dan beberapa diantara kalian pada akhirnya pernah mencoba untuk tidur lagi.
Berharap mimpinya bisa terulang atau berlanjut ke episode selanjutnya.
Hehehehehee, agak ganjil sih memang.
Tapi sekali lagi aku harus bilang, dengan kuasa Tuhan nggak ada yang nggak mungkin men.
Bisa aja mimpi itu terulang, berlanjut, atau malah bermimpi yang lain lagi.
Nggak ada salahnya sih dicoba guys, buat sesuatu yang indah itu memang perlu perjuangan.
Perjuangannya ya lanjutin tidurnya itu hehehe.....
.
Yap..... meski mimpi itu hanyalah sebuah bunga tidur, tapi nggak jarang dari mimpi kita yang menjadi kenyataan.
Nggak jarang mimpi itu bisa bikin kita senyum-senyum sendiri kaya sekarang.
Nggak jarang mimpi itu juga malah bisa bikin kita sedih, takut, khawatir ataupun memberikan kita sebuah jawaban dari apa yang pernah dipertanyakan oleh hati.
Karena menurut aku nih ya, mimpi itu juga terlahir karena sebuah sugesti dari perasaan yang disampaikan oleh otak melalu beribu sarafnya.
Makanya banyak banget mimpi itu yang memang "Ngena" di kita, hahahaha sadisss dah.
.
Oke, pagi ini cukup sampai disini.
Matahari sudah cukup tinggi untuk menemani kita melewati hari ini.
Sudah cukup terang untuk menyinari wajah orang-orang yang kita sayangi.
Orang-orang yang menjadi alasan kita untuk terus bangun pagi setiap harinya.
Dan aku pengen bilang "Jangan Takut Bermimpi".
Tidak merasa lebih baik atau benar, dan bukan mengajarkan. Tak lebih dari mengingatkan pada diri sendiri dan sekitar. Berbagi pelajaran kecil, motivasi, dan cerita yang terinspirasi dari pengalaman, kegiatan, peristiwa, ataupun kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang disekitar. Bismillah, semoga bermanfaat.....
Kamis, 21 Desember 2017
Minggu, 17 Desember 2017
Gadis Berpayung Hitam
Ada sudut lain yang terlihat saat segelintir lainnya juga memiliki sudut pandang berbeda dalam menilai.
Merasuk seperti angin ke paru-paru, menjadi nafas dalam setiap detiknya.
Terasa cepat, begitu cepat bahkan..... tak memberi ampun pada hati untuk terus merasakan lembut wajah di setiap ingatan akannya.
Adakah yang salah?????
Bukankah Tuhan memberikan getaran itu dengan keikhlasan.
Dengan segala pertimbangan dan penuh kehormatan sebagaimana layaknya sesuatu yg alami.
.
Ialah gadis berpayung hitam.....
Terdiam dan berpaling kebelakang, menatap tajam pada sosok hina yang telah menggantungkan hati ini padanya.
Tatapan yang seakan enggan memberi celah pada siapapun yang ingin datang.
Bagai mawar merah yang menguncup dan tak ingin ada seekor kupu-kupu lain hinggap untuk mengambil sari miliknya.
Ialah gadis berpayung hitam.....
Yang kutemui hampir dipenghujung jalan, saat perjalanan hati telah berakhir dan kala mata sudah tak memiliki pijakan untuk mencari arah selanjutnya.
Ialah gadis berpayung hitam.....
Yang sebenarnya juga telah lama meneduhkan seseorang.
.
Langit pernah menghitam seketika, seakan alam memberi isyarat bahwa apa yang terjadi tak pernah direstuinya.
Tapi detik juga tak pernah ingin berhenti, terus mencoba untuk menikmati setiap sudut wajah kala tengah duduk berdua.
Pagi, siang, dan malampun dibuatnya terasa sama. Bagai sedang berada dibawah pelangi, berada diantara spektrum keindahan ciptaan Tuhan yang bersenandung dengan suasana perasaan.
Walau kadang sesekali jiwa tersadarkan bahwa sebenarnya ada ruang kecil yang terisi dengan rasa perih. Perih yang tak terdefinisikan tingkatnya, yang terlahir dari sebuah kenyataan.
Kenyataan manis baginya, namun menjadi pahit bagi seorang hina yang juga menyayanginya.
Yaaaaa..... menyayanginya..... gadis berpayung hitam.
.
Lalu apa?????
Gunung apa yang harus diruntuhkan untuk menyampaikan butiran kasih ini?
Gunung kesetiaan?????
Atau gunung perasaan ini saja yang dibumihanguskan?????
Hingga bisa tenggelam bersama lara yang tak sengaja terlahir karena sebuah perjalanan.
Engganlah raga untuk menghancurkan payung hitam itu, tak ingin bila gadis harus terhujani dengan air kehidupan.
Namun kuasa tak terbendung, menjerit memekik memanggil sebuah nama agar bisa berada dibawah payung hitam itu jua.
Yaaa..... sebuah nama yang ingin merengkuh, berpegang pada gagang yang sama dan berdiri berdua menghindari teriknya panas alur kehidupan.
Yaaa..... berdua.
.
Lalu apa?????
Ketika diam, berjalan, dan berlaripun akan menjadi sebuah asa sama yang tak berujung.
Berserahlah ini semua pada sebuah kekuatan tiada tara yang maha bijaksana.
Yang mengetahui apa yang tengah terjadi sesungguhnya.
Tentang sebuah cerita baru, yang dititipkannya pada sebuah jiwa usang tak beraturan.
Tentangnya.
Darinya.
Untuknya.
Gadis berpayung hitam.....
Minggu, 29 Mei 2016
SANG PENGETUK
Seperti tertidur sekian lama didalam sebuah tempat terkunci yang mereka sebut hati.
Sampai seseorang datang dan tanpa sengaja mengetuknya.
Yaaa... tanpa sengaja.
Membangunkan pria hina yang dengan nyamannya tengah
menikmati dunia nyata dihadapannya.
Begitu besarkah suara yang dihasilkan dari ketukan seseorang
tersebut??
Entahlah...
Atau mungkin pria itu yang sudah cukup lelah memejamkan
matanya dan menyandarkan lehernya di bantal kesibukannya???
Juga entahlah.....
Yang pasti ia telah terbangun.
Kreekkk....
Pintu itupun dibuka, mencoba menyambut seseorang tersebut
dengan taburan senyum keindahan dan harapan.
Begitu terang cahaya yang terpancar tatkala pintu baru terbuka
sedikit.
Keyakinan akan kebahagiaan dan kesempurnaan hidup seakan
siap untuk merasuk dan menggeluti jiwa raga pria ini.
Meski ia sadarai akan ada banyak hal yang juga siap untuk
meredupkan cahaya tersebut.
Dan kembali menghempas pintu yang kini sudah terbuka lebar.
Satu langkah maju keluar dari balik pintu, menengokkan kepala
ke arah kiri dan kanan, mengernyitkan dahi untuk menerawang jauh mencoba
mencari seseorang yang mengetuk pintu itu.
Tapi tak ada yang terlihat.Hanya bayangan hitam dari sosok wanita yang diyakini itulah yang berperan sebagai sang pengetuk.
Dimana wujud dari bayangan ini??
Sembunyikah ia?
Takutkah ia?
Enggankah ia menampakkan wujudnya?
Atau waktu yang meminta kepada sang pria untuk berdiri lebih lama menanti seseorang tersebut datang?
Atau mungkin..... sang pria yang harus berlari kencang, mencari, menemukan, serta meminta kepada seseorang itu untuk sudi menemani dan tinggal dibalik pintu baja yang tampak dari luar penuh dengan goresan luka kehidupan tersebut???
Entahlah.....
Nampaknya itulah yang akan dilakukannya....
Dibawah langit berbintang, ditengah tusukan udara dingin dan
desir ombak yang berbisik
Selasa, 19 April 2016
SESAL
Sesaat kemudian, Lia pun sudah kembali memasuki kelas dan langsung
menyambangi tempat duduknya.
Dan aku yang masih dengan kebingungan dan alur kerja otak yang tak karuan, akhirnya mengambil sebuah keputusan.
“Lia…”, panggilku.
“Iya, kenapa is???”, jawabnya dengan ekspresi yang begitu riang.
“Mmmhh, i..ni aku mau balikin suratnya. Kayaknya, aku ga perlu tau deh siapa cowo yang kamu suka.”, ucapku dengan sedikit terbata.
“Looh,,kok gitu? kan tadi Lia bilang pokoknya kamu harus tau..” jawabnya masih dengan ekspresi riangnya.
“Tapi maaf banget, aku yang ga mau tau, titik!” ucapku yang kali ini menghilangkan raut senang di wajahnya.
“Sekali lagi maaf.”, ucapku dalam hati.
Sekilas, rasa bersalahpun muncul dibenakku, entah mengapa aku memberikan respon seperti itu. Meski aku menyukainya, tapi aku benar-benar tidak tahu mengapa aku menolaknya begitu saja. Huufftthh -,-
***
Semenjak kejadian itu, tak ada lagi aku yang begitu dekat dengan Lia.
Tak ada sapa riang yang setiap pagi terucap dariku untuknya.
Sebaliknya, rasa acuhlah yang justru menghiasi hari-hariku. Meski dia masih terus berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin, namun aku tidak bisa bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.
Semakin hari, tanpa sadar aku semakin menjauhinya. Hingga suatu hari, ku dengar kabar bahwa ada seorang kaka kelas yang menyukainya dan juga mengejarnya. Awalnya aku tak khawatir, karena ini bukanlah kali pertama aku mendengar kabar seperti itu. Tapi yang mengagetkanku adalah bahwa ternyata Lia menanggapinya dan telah berpacaran dengannya.
Rasa sedih pun tak bisa ku sembunyikan, namun..aku bisa apa??
Aku hanya bisa diam dan berusaha untuk tidak memikirkannya. Karena, ini pilihanku, jadi aku tidak boleh menyesalinya.
Benar saja, di hari-hari berikutnya, aku beberapa kali melihat mereka berdua sedang bersama.
Aku pun hanya mencoba untuk terus mengacuhkannya, berjalan seperti tidak melihat apa-apa.
Ya..aku bertahan dengan hari-hari seperti itu. (Miris bukan??? *pikirku saat itu*)
Beberapa minggu sebelum hari kelulusan, sekolah kami mengadakan study tour ke Puncak. Meski aku tidak satu bis dengan Lia, namun sempat beberapa kali dia berjalan di belakangku. Tingkahnya masih belum berubah, masih seperti Lia yang suka mencari perhatianku.
Saat itu, dia sudah tak bersama dengan kaka kelas yang waktu itu, karena semenjak kaka kelas itu lulus, mereka sudah jarang berkomunikasi dan akhirnya putus. Aku pun sudah mulai melunak, sudah mulai mau membalas sapanya meski hanya dengan senyum.
Pokoknya, sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak mengacuhkannya. Dan aku pun bertekad, pada saat kelulusan aku ingin minta maaf karena sudah begitu lama mengabaikannya.
***
Akhirnya, hari kelulusan pun tiba. Tidak terasa, masa SMP yang rumit ini akan segera berakhir. Dan aku pun sudah siap untuk menjalankan niatku yang ingin menyampaikan maaf pada Lia. Aku tak ingin masa SMAku ini berakhir dengan meninggalkan luka di hati siapapun, terutama Lia.
Aku ingin semua ini berakhrir dengan bahagia. Namun, sudah hampir setengah jalan acara ini berlangsung, aku belum menemukan sosoknya.
Sebenarnya dia dimana???
Matakupun sedari tadi berusaha untuk menemukan sosoknya, namun nihil. Sampai pada satu saat, dimana jantungku berdegup kencang, sesak sekali rasanya. Seperti ada beban yang begitu berat yang menimpaku.
Akhirnya, dengan nafas yang tersendat, mataku kembali melihat sekiling berharap menemukan sumber keabnormalan hatiku ini. Matakupun terhenti pada satu titik, dimana ada satu wajah dengan senyum yang begitu lembut sedang menatapku.
Perlahan jantungkupun mulai kembali normal, tatapanku pun perlahan naik hingga bertemu dengan mata pemilik wajah tersebut. Setelah sadar siapa pemilik wajah tersebut, kerja jantungku kembali tak normal, bahkan lebih parah dari sebelumnya, akupun seketika memalingkan wajahku.
Ya..pemilik senyum itu adalah Lia! Ternyata dia sang pemilik senyum itu.
Huuu…haaaa…aku mencoba mengatur nafas kembali, dan disaat aku sudah dapat mengontrol ritme jantungku, aku pun kembali berpaling ke titik dimana Lia menatapku. Tapi, sosoknya menghilang, aku mencari ke sekeliling, tetap tak ada!
Bahkan sampai aku pulang.
Tidak...!!! Bahkan sampai hari-hari berikutnya aku tidak pernah melihatnya lagi. Sampai satu hari, aku mendengar kabar bahwa pada hari kelulusan itu adalah hari terakhirnya berada disini. Dia datang hanya untuk pamit karena hari itu juga dia langsung berangkat ke kampung halamannya dan melanjutkan kuliah disana.
Beberapa hari kemudian datang temanku memberikan sebuah kertas.
"Bukankah kertas ini yang telah diberikan Lia dulu?" bisikku dalam hati.
Aku pun membaca surat itu dengan seksama.
"Kamu adalah laki-laki yang aku suka sejak pertama aku masuk sekolah ini, perasaanku pun sama sampai sekarang. Aku harap kamu mempunyai perasaan yang sama, dan aku menunggu kamu"
Begitulah isi dari surat itu.
Jlebbbb!!!!
Seketika itu juga tubuhku melemas, aku menyesal sangat menyesal. dengan beribu pertanyaan yang bertubi-tubi menghantam pikiranku!!
Kenapa??? Kenapa saat itu aku memalingkan wajah? Kenapa aku tidak menghampirinya?? Bukankah aku ingin meminta maaf??
Lia.... maaf.
Aku pasti datang.....
Dan aku yang masih dengan kebingungan dan alur kerja otak yang tak karuan, akhirnya mengambil sebuah keputusan.
“Lia…”, panggilku.
“Iya, kenapa is???”, jawabnya dengan ekspresi yang begitu riang.
“Mmmhh, i..ni aku mau balikin suratnya. Kayaknya, aku ga perlu tau deh siapa cowo yang kamu suka.”, ucapku dengan sedikit terbata.
“Looh,,kok gitu? kan tadi Lia bilang pokoknya kamu harus tau..” jawabnya masih dengan ekspresi riangnya.
“Tapi maaf banget, aku yang ga mau tau, titik!” ucapku yang kali ini menghilangkan raut senang di wajahnya.
“Sekali lagi maaf.”, ucapku dalam hati.
Sekilas, rasa bersalahpun muncul dibenakku, entah mengapa aku memberikan respon seperti itu. Meski aku menyukainya, tapi aku benar-benar tidak tahu mengapa aku menolaknya begitu saja. Huufftthh -,-
***
Semenjak kejadian itu, tak ada lagi aku yang begitu dekat dengan Lia.
Tak ada sapa riang yang setiap pagi terucap dariku untuknya.
Sebaliknya, rasa acuhlah yang justru menghiasi hari-hariku. Meski dia masih terus berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin, namun aku tidak bisa bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.
Semakin hari, tanpa sadar aku semakin menjauhinya. Hingga suatu hari, ku dengar kabar bahwa ada seorang kaka kelas yang menyukainya dan juga mengejarnya. Awalnya aku tak khawatir, karena ini bukanlah kali pertama aku mendengar kabar seperti itu. Tapi yang mengagetkanku adalah bahwa ternyata Lia menanggapinya dan telah berpacaran dengannya.
Rasa sedih pun tak bisa ku sembunyikan, namun..aku bisa apa??
Aku hanya bisa diam dan berusaha untuk tidak memikirkannya. Karena, ini pilihanku, jadi aku tidak boleh menyesalinya.
Benar saja, di hari-hari berikutnya, aku beberapa kali melihat mereka berdua sedang bersama.
Aku pun hanya mencoba untuk terus mengacuhkannya, berjalan seperti tidak melihat apa-apa.
Ya..aku bertahan dengan hari-hari seperti itu. (Miris bukan??? *pikirku saat itu*)
Beberapa minggu sebelum hari kelulusan, sekolah kami mengadakan study tour ke Puncak. Meski aku tidak satu bis dengan Lia, namun sempat beberapa kali dia berjalan di belakangku. Tingkahnya masih belum berubah, masih seperti Lia yang suka mencari perhatianku.
Saat itu, dia sudah tak bersama dengan kaka kelas yang waktu itu, karena semenjak kaka kelas itu lulus, mereka sudah jarang berkomunikasi dan akhirnya putus. Aku pun sudah mulai melunak, sudah mulai mau membalas sapanya meski hanya dengan senyum.
Pokoknya, sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak mengacuhkannya. Dan aku pun bertekad, pada saat kelulusan aku ingin minta maaf karena sudah begitu lama mengabaikannya.
***
Akhirnya, hari kelulusan pun tiba. Tidak terasa, masa SMP yang rumit ini akan segera berakhir. Dan aku pun sudah siap untuk menjalankan niatku yang ingin menyampaikan maaf pada Lia. Aku tak ingin masa SMAku ini berakhir dengan meninggalkan luka di hati siapapun, terutama Lia.
Aku ingin semua ini berakhrir dengan bahagia. Namun, sudah hampir setengah jalan acara ini berlangsung, aku belum menemukan sosoknya.
Sebenarnya dia dimana???
Matakupun sedari tadi berusaha untuk menemukan sosoknya, namun nihil. Sampai pada satu saat, dimana jantungku berdegup kencang, sesak sekali rasanya. Seperti ada beban yang begitu berat yang menimpaku.
Akhirnya, dengan nafas yang tersendat, mataku kembali melihat sekiling berharap menemukan sumber keabnormalan hatiku ini. Matakupun terhenti pada satu titik, dimana ada satu wajah dengan senyum yang begitu lembut sedang menatapku.
Perlahan jantungkupun mulai kembali normal, tatapanku pun perlahan naik hingga bertemu dengan mata pemilik wajah tersebut. Setelah sadar siapa pemilik wajah tersebut, kerja jantungku kembali tak normal, bahkan lebih parah dari sebelumnya, akupun seketika memalingkan wajahku.
Ya..pemilik senyum itu adalah Lia! Ternyata dia sang pemilik senyum itu.
Huuu…haaaa…aku mencoba mengatur nafas kembali, dan disaat aku sudah dapat mengontrol ritme jantungku, aku pun kembali berpaling ke titik dimana Lia menatapku. Tapi, sosoknya menghilang, aku mencari ke sekeliling, tetap tak ada!
Bahkan sampai aku pulang.
Tidak...!!! Bahkan sampai hari-hari berikutnya aku tidak pernah melihatnya lagi. Sampai satu hari, aku mendengar kabar bahwa pada hari kelulusan itu adalah hari terakhirnya berada disini. Dia datang hanya untuk pamit karena hari itu juga dia langsung berangkat ke kampung halamannya dan melanjutkan kuliah disana.
Beberapa hari kemudian datang temanku memberikan sebuah kertas.
"Bukankah kertas ini yang telah diberikan Lia dulu?" bisikku dalam hati.
Aku pun membaca surat itu dengan seksama.
"Kamu adalah laki-laki yang aku suka sejak pertama aku masuk sekolah ini, perasaanku pun sama sampai sekarang. Aku harap kamu mempunyai perasaan yang sama, dan aku menunggu kamu"
Begitulah isi dari surat itu.
Jlebbbb!!!!
Seketika itu juga tubuhku melemas, aku menyesal sangat menyesal. dengan beribu pertanyaan yang bertubi-tubi menghantam pikiranku!!
Kenapa??? Kenapa saat itu aku memalingkan wajah? Kenapa aku tidak menghampirinya?? Bukankah aku ingin meminta maaf??
Lia.... maaf.
Aku pasti datang.....
Selasa, 17 November 2015
Bermula Dari Sebuah Cerita
Seperti halnya dunia yang terus berputar
Ada matahari yang bergantian menyinari permukaan bumi
Ada bulan yang menerawangkan langit di balik sisi bumi lainnya
Dan jarum jam yang terus bergerak ke kanan
Hal yang sebenarnya sedikit memberikan ilmu kepada manusia
Menyikapi permasalahan dunia dan terus melangkah kedepan
Bukan salah bila ada yang mengeluh
Tapi salahlah mereka yang mengeluh tanpa membenahinya
Seperti memakukan diri seakan siap untuk berjalan mundur
Seperti membuang kesempatan yang mungkin berpeluang menjadi takdir yang jndah
Semua sama....
Apa yang berbeda dari satu ke yang lain??
Bukankah kesempatan selalu didapatkan??
Lalu kenapa banyak yang berbeda??
Apa mungkin itu suratan takdir yang dibacakan Tuhan saat akan lahir??
Tuhan yang mendengar Tuhan yang akan menjawab
Sampai dimana orang akan mengerti apa maksud dari kegagalan
Berjalannya kehidupan banyak menghilangkan kebiasaan yang harusnya masih melekat
Tercemarkan oleh cerita baru yang hanya kita ketahui awal tanpa mampu menyimpulkan hal di akhir tulisan
Dinamika kehidupan, mungkjn itu nama yang paling tepat
Karenanya itu kita harus menyelesaikan apa yang bermula dari sebuah cerita
Ada matahari yang bergantian menyinari permukaan bumi
Ada bulan yang menerawangkan langit di balik sisi bumi lainnya
Dan jarum jam yang terus bergerak ke kanan
Hal yang sebenarnya sedikit memberikan ilmu kepada manusia
Menyikapi permasalahan dunia dan terus melangkah kedepan
Bukan salah bila ada yang mengeluh
Tapi salahlah mereka yang mengeluh tanpa membenahinya
Seperti memakukan diri seakan siap untuk berjalan mundur
Seperti membuang kesempatan yang mungkin berpeluang menjadi takdir yang jndah
Semua sama....
Apa yang berbeda dari satu ke yang lain??
Bukankah kesempatan selalu didapatkan??
Lalu kenapa banyak yang berbeda??
Apa mungkin itu suratan takdir yang dibacakan Tuhan saat akan lahir??
Tuhan yang mendengar Tuhan yang akan menjawab
Sampai dimana orang akan mengerti apa maksud dari kegagalan
Berjalannya kehidupan banyak menghilangkan kebiasaan yang harusnya masih melekat
Tercemarkan oleh cerita baru yang hanya kita ketahui awal tanpa mampu menyimpulkan hal di akhir tulisan
Dinamika kehidupan, mungkjn itu nama yang paling tepat
Karenanya itu kita harus menyelesaikan apa yang bermula dari sebuah cerita
Langganan:
Postingan (Atom)
