Rabu, 20 Maret 2013

Aku Akan Kembali

Namaku Puspita, aku sekolah di SMA Rafflesia. Aku duduk di kelas 1 sma. Aku termasuk siswa yang pandai, dan juga mudah bergaul. Aku mempunyai seorang sahabat dia bernama Tian. Tian adalah sosok sahabat yang baik, perhatian, dan selalu mengerti keadaanku, dilain waktu saat aku bersedih, dia yang selalu menghiburku. Suatu ketika dia memendam perasaan yang sama dan aku juga merasakannya.

“Puspita...” panggil seseorang itu dari arah belakang. Dan itu sahabatku Tian.
“Iya Yan...? ada apa?’’ tanyaku.
“pulang sekolah , ikut aku ya.. aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”
“oke baik.” dengan spontan dan tanpa keraguan aku menjawabnya.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Tian langsung menghampiriku dia sudah berdiri tepat di ambang pintu kelasku. Dia memanggilku sambil tersenyum.
“Puspita... ayok kita berangkat.”
 Tian tiba-tiba mengandeng tanganku , menuruni anak tangga, Dan segera menuju ke area parkir. Kelas kami berada di lantai 3 . Aku dan dia berbeda kelas . Sejak smp kita selalu bareng. Dan sampai SMA ini. Setelah kami tiba di area parkir, putra mengeluarkan motornya yang terparkir dekat pos satpam.
“ayok naik.” Tian mempersilahkan aku untuk naik ke motornya, dan kini kami berangkat meninggalkan area parkir. Juga sekolah.
“kita mau kemana?’’ tanyaku kepadanya.
“ke suatu tempat. Dan kamu pasti suka.” Setelah beberapa menit di perjalanan , kami pun sampai di tempat tujuan. Ternyata Tian mengajakku ke sebuah taman bermain. Di taman tersebut, terpampang air mancur yang begitu indah, banyak sekali bunga-bunga yang berwarna warni. Kami berdua duduk di kursi dekat taman.

“Puspita… “ panggil Tian kepadaku, sorotan mata tajam nya yang takkan pernah ku lupakan sejak dulu . deg…. Jantungku berdebar-debar. Aku tak mengerti tentang perasaan ku padanya, sudah 5 tahun kami bersama.. saling melengkapi satu sama lain. Tapi, tak pernah aku mengerti hubunganku dengannya.. yang aku tau, aku dan dia bersahabat.

“Tian, kok nangis?’’ tanyaku padanya. Tian meneteskan air matanya perlahan demi perlahan . Ku hapus air matanya yang membasahi kedua pipinya..
“aku gak nangis, aku Cuma bahagia aja punya sahabat kaya kamu.” Di usap rambutku dengan kelembutan tangannya. Tian memang sahabatku , dan juga kakak bagiku. karena itu aku tak mau kehilangannya.

“Puspita... suatu saat nanti, aku gak bisa terus berada di sisi kamu, kamu harus bisa nantinya tanpa aku. Aku gak mau terus-terusan jadi benalu yang selalu ada di hidupmu. Kamu harus bisa jalani hidup , dan mungkin tanpa aku. Ingat janji kita dulu, Kalo kita akan selalu bersama.”

“Tian kok ngomongnya gitu? tanpa kamu hidup, aku ga mungkin seceria ini. Karna kamu, hidup aku bahagia dan lebih berwarna. Kalaupun nantinya Tian ninggalin aku, aku akan cari Tian sampai kapanpun dan bakal nungguin Tian sampai Tian kembali. Entah beberapa lamanya”
“tapi, inget. Kalo Tian gak ada di samping kamu lagi. Kamu janji harus selalu tersenyum.”
“Iya, Puspita janji… dan seorang Puspita akan selalu tersenyum untuk Tian.”

Hari sudah semakin berlarut. Meninggalkan semua kisah yang ada. Taman tersebut menjadi ikatan janji mereka.

***
Keesokan harinya di sekolah, tepat pukul 06:15 menit.

“Puspita, ini ada surat untuk kamu.”dihampirinya jelita , Di kasihnya sepucuk surat itu untuknya yang terpampang besar siapa nama pengirim surat itu. yaitu “Tian” .

Deg…… hati Puspita tiba-tiba gelisah tak menentu. Tak mengerti apa yang sedang iya rasakan saat ini. Di bukanya isi surat itu perlahan.

“Puspita… ini aku Tian, maafin aku ya kemarin aku gak sempet berfikiran untuk ngomong ke kamu. Karna semua itu terlalu berat untukku. Aku gak sanggup ninggalin kamu disini. Mungkin, saat kamu baca surat ini aku sudah tiba di Kalimantan. Papaku dinas disana, dan terpaksa aku ikut dengannya. Maafin aku ya Puspita. Inget janji kita. Kamu harus tetap tersenyum. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi.“

Di akhirinya akhir surat itu. Puspita yang hanya bisa diam membisu dan pucat pasi di tempat duduknya. Perlahan iya menteskan air mata dan tidak percaya akan semuanya. Tak pernah iya mengerti akan semua perasaannya. Sedih, kecewa, semuanya yang iya alami saat ini. Tak sempat iya mengatakan tentang perasaannya yang sebenernya kepada Tian. Cinta… mungkin ini yang aku rasakan. Perasaan itu tak pernah ku sadari sebelumnya, setelah kepergianmu baru aku menyadari.. Cinta itu ada.

***
Setelah pulang sekolah, aku bergegas untuk pergi kerumah Tian. Tetapi hasilnya nihil, tak ada satupun orang yang menjawab sapaanku. Rumah itu kosong. Puspita tak tau harus mencari putra kemana lagi. Akhirnya , aku memutuskan untuk pergi ke Taman kemarin, terakhir kali aku bertemu dengannya, bersamanya…. Taman itu sepi.. tak seperti biasanya, tak banyak orang yang lewat area taman bermain itu. dihampirinya kursi taman tempat aku duduk bersama Tian waktu itu. Aku mengingat kembali perpisahan terakhirku dengannya. Aku meneteskan air mata.

***
Setelah 2 tahun aku menunggu, Tian tak juga ada kabar. Selama itu aku tak pernah seceria dulu. Hanya kesedihan yang tampak di wajahku. Sesering kali aku mengingat kenangan itu, itu membuatku sakit. Sekalipun aku mencoba melupakannya, itu akan semakin sakit. Beberapa sering aku memutar lagu pasto’aku pasti kembali’ liriknya yang benar-benar menyentuh hatiku.

Reff : aku hanya pergi tuk sementara..
bukan tuk meninggalkanmu selamanya..
aku pasti kan kembali, pada dirimu ..
tapi kau jangan nakal.. aku pasti kembali…..

selama 2 tahun, kenangan itu menghantui harii-hari ku . tang sanggup aku melupakannya. Kini aku benar-benar mencintainya. Cinta bukan lagi sekedar sahabat , tetapi perasaan yang lebih dari pada itu.

hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17 , sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 3 sma, sekalipun aku ingin pindah ke lain hati dan berpaling dari Tian, aku masih takut. Karena luka yang ada di hatiku masih ada. Setelah malam kian tiba, Tian tak juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal hanya sapaannya, dan ucapannya yang begitu berarti untukku..
hari ini sweet seventeen ku. Dan mungkin itu semua tak ada artinya kalau putra tak ada di sampingku. Malam ini aku ingin sekali pergi ke taman itu. untuk menenangkan diri disana, mungkin hanya beberapa saat. Aku akhirnya memutuskann untuk pergi kesana dan meninnggalkan acara dan tamu undangan yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke 17 itu. Aku pergi ke sana dengan di temani teman sekolahku dan setelah beberapa menit di perjalanan, aku tiba di taman itu. aku tak menyangka.. begitu indah suasana taman tersebut dengan lampu lampion-lampion yang khas terpampang disana. Dekorasi lampu-lampu kecil di setiap pohon yang mengelilingi menambah indah suasana taman itu. aku duduk di kursi putih taman itu. tiba-tiba beberapa saat aku memejamkan kedua mataku dan membukanya kembali aku melihat sesosok Tian di depan mataku. Dia tampak berbeda dari dahulu, aku tak percaya kini dia ada di depan mataku, atau mungkin ini hanya ilusiku.

“happy birthday Puspita... aku nepatin janjiku kan , kita pasti bertemu kembali. Dan aku telah kembali.”
“ini benar kamu?’’ tanyaku tak percaya.
“iya, ini aku. aku Tian.”
“kemana aja kamu, kamu gatau aku disini sedih mikirin kamu, kamu gak ada kabar dan hilang gitu aja.”
“maafin aku, aku Cuma gak mau ganggu konsentrasi belajar kamu.”

Tian menghampiriku dan memberiku sekotak bingkisan tanda ucapan ulang tahunku. Dan ternyata itu adalah sebuah kalung yang berukiran tulisan nama kita berdua. Gaun cantik yang aku kenakan malam itu saat ulang tahunku berwarna putih, dan juga putra, membawa bunga mawar merah kesukaaanku dan ia mengenakan jas kemeja putih.

“aku janji gak akan ninggalin kamu lagi. Aku gak bisa tanpamu. Aku mencintaimu, aku sayang kamu Puspita.” Kini dia menggutarakan isi hatinya, hanya itu kata yang aku tunggu selama ini dari mulutnya.

“akupun begitu. Ini adalah hari terindahku. Kamu kembali, untuk menjadi sahabatku, juga kekasih bagiku…..”

Jumat, 01 Maret 2013

Hanya Sebuah Permainan

Namanya Desta, dia teman sekelasku sejak kelas XI di SMAN 1 Balikpapan ini, dan akan terus menjadi teman sekelasku di kelas XII nanti, ada sedikit rasa sesak, penyesalan dan juga bahagia jika membayangkan hal itu, karena dimulai dari hari itu, rasa itu, dan akhirnya berujung pada kebencian ini.
Bagiku, awal masuk tahun ajaran baru di kelas XI SMA ini terasa biasa saja dan tak ada yang spesial, namun akhirnya aku mulai menyadari ketika dengan tak sengaja aku menjadi lebih sering satu kelompok dan ‘berbarengan’ dengan dia, dan mulai saat itu, rasa ini pun muncul, lalu tumbuh, bahkan semakin dalam sejak awal pertama aku merasakannya.
“Heh Shin, masa sih kita sekelompok lagi di pelajaran bio ini? Ah bete nih..” kata Desta kepadaku dengan nada bercanda.
“ah bete apa seneng kali tuh, secara kamu tinggal terima jadi kan? Untung aja kamu masih mau ikut diajak kumpulan kelompok, ya meskipun aku aku juga yang kerjain” balasku rada sedikit bĂȘte.
“Yah iye dah ampun, jangan bete gitu dong ah, jadi sekarang kerja kelompok di rumah kamu lagi kan?” katanya sambil menatapku.
DEEGGG, tiba-tiba saja terasa ada sedikit sengatan yang menjalar ke seluruh tubuhku ketika aku menatap matanya dengan aura serius itu.
“iya.. tapi anak anak yang lain kayaknya gak pada bii....”
“udah gak papa kita berdua aja! Aku pengen tugas itu cepet selesai” potongnya sambil masih tetap menatapku.
“gitu ya? Iya deh, berdua aja gak papa kok..”
Dan akhirnya saat pulang sekolah aku dan Desta kerja kelompok bersama di rumahku, meskipun agak sedikit canggung tapi akhirnya hari itu menjadi hari yang sangat sempurna dan menyenangkan untukku, karena tanpa sadar aku dan Desta telah lama menatap dan rasanya saling bercakap dari hati ke hati, lewat sebuah tatapan.

Satu minggu kemudian kita menjadi semakin dekat dan dia pun sering mengirimkan sms setiap malamnya, meskipun hanya untuk menanyakan sebuah tugas, tapi sms itu lah yang selalu aku tunggu setiap malamnya.
Seperti biasa ada satu sms masuk dengan tulisan ‘Desta?’ di layar handphoneku, aku agak sedikit terkejut ketika mambaca pesan singkatnya, yang sekaligus membuat hatiku melayang sekaligus jatuh disaat bersamaan.
‘Shinta, mau jadian gak sama aku?’
‘hahaha, kamu salah kirim tuh Des’
‘Yah? Aku serius! Mau jadian gak, Shin?’
DEG DEG DEG, tiba tiba aku merasakan ada di taman berbunga dan melihat banyak kupu kupu indah disana.. dan akhirnya aku membalas…..
‘ehmm, berani ngomong langsung gak kamu?’
‘berani! Mau ngomong dimana? kalau bisa di tempat sepi yah..’
sesaat mencul ide untuk menguji keseriusannya, dan aku pun mengirim..
‘di depan kelas? Haha’
‘hah depan kelas?! Boleh lah, apa sih yang nggak buat kamu….
Dan malam itu menjadi malam sempurna untukku, sampai aku tak bisa tertidur hanya untuk terus berpikir apa yang akan terjadi besok.
Dan besok pun hal itu benar-benar terjadi…
“Shinta, please, kamu mau kan jadi pacar aku?”
“ehm gimana ya Des, sebenarnya….”
“Shintaaa terima ajaaa, itu ketahuan dari mata kamu yang gak bisa tidur gara-gara kepikiran hari ini kan” salah satu teman ku pun berteriak dari belakang.
“jadi bener semalem kamu gak tidur?” tanya Desta selidik kepadaku
“hehee i ii i iya deh Desta, aku terima..”
Prokkk prokk prokkk cie ciee dan suit suitttan pun bersahut sahutan bahkan sampai ke luar ruang kelasku.

Seminggu setelahnya pun kita menjalani hari hari seperti biasa layaknya dua sejoli yang saling mencintai, Desta mengajakku untuk buka puasa bersama disaat bulan Ramadhan. Meskipun kita sudah sebulan ini menjalani hubungan tapi kita belum pernah sama sekali merasakan buka puasa bersama dan tentu ini akan menjadi hal yang paling kutunggu tunggu.
dan sehabis Ashar pun ada sms yang masuk ke handphoneku yang tentunya berasal dari Desta.
“Shin maaf, aku gak bisa terusin lagi kebohongan ini, aku udah berbohong sama kamu sebulan lebih dan setelah aku piker-pikir lagi lebih baik aku akhiri kebohongan aku sekarang. Maaf, lebih baik kita gak usah kenal lagi satu sama lain. Trims, bye…”
seketika pesan singkat itu bagai pisau belati yang langsung menusuk tenggorokanku dan tanpa sadar setetes air mata ini pun menetes begitu saja, hanya setetes…
“maksud kamu kebohongan apa? Jadi selama ini? Kamu Cuma mainin aku dengan segala kemanisan dan kebaikan yang kamu tutup-tutupin itu? Jadi buka puasanya…? Ahh” balasku
“iya aku bohong, aku cuman mau buktiin ke temen aku kalau aku bisa dapetin kamu, tapi aku gak sungguh-sungguh cinta sama kamu. Maaf, aku tau kamu pasti sakit hati banget akan hal ini, tapi ini lah aku dengan segala kekuranganku, kamu terlalu baik buat orang kayak aku. Lebih baik kita kembali ke awal aja seolah gak ada hal apapun yang terjadi antara kita. Note: untuk buka puasa lebih baik kamu buka sendiri, tanpa aku.”

aaahhh hari itu aku merasa bagai seluruh awan terus menumpahkan airnya ke bumi, dan untukku itu seperti air mata kesedihanku… aku pun langsung mendelete kontak dan segala apapun tentangnya dari handphoneku. Bodohnya, aku terus berjalan maju ke luar dengan diiringi derasnya hujan saat itu, sendirian.
Masih teringat jelas saat ku terluntang-lantung di jalanan tak jelas arah bahkan sampai tersesat karena rasa yang begiku sakitnya menjatuhkan ku ke dalam bumi. Membuatku bahkan lebih dari patah dan takkan pernah bisa menghapuskan kekecewaan ini begitu saja.

Saat itu, diiringi dengan derap langkah dan rintihan hujan di sore itu, akhirnya aku memutuskan untuk kembali pada diriku sebelumku mengenal seorang Desta, dan akan terus seperti itu meskipun rasa sakit hati ataupun kebencian yang pernah kurasakan telah tiada.

Sabtu, 02 Februari 2013

I'm Better Than Him

Pagi ini gue bener-bener kesel seribu kali kesel sangat kesel ampun deh pokoknya gue kesel! Argghh -_- !
Gimana gak kesel.. Sisi, cewek yang gue suka selama 2 tahun udah jadian sama Candra.. Candra si cowok aneh bin ajaib sok keren playboy gitu..
BRAKK!>
Gue pukul meja kantin dengan gumpalan tangan gue.. amarah gue bener-bener muncak. Semua seisi kantin pada ngeliatin gue heran, bodo amat.
“ Heh ! loe kenape bro? sabar bro.. “ ucap Alvin duduk di sebelah gue sambil minum es tehnya..
Tanpa berfikir gue ambil es teh milik Alvin langsung gue minum.
“ Hahh .. gue kesel Vin !”
“ Tau lah loe kesel.. loe sih nembaknya kelamaan ..tapi gak sampe ngancurin meja gini..”
“ Halah peduli amat gue, .. sekarang cuma ada Sisi di otak gue.. “ ucap gue jambak rambut lurus gue.
“ Sisi? Sisinya Candra? “ tanya Alvin ngeliat gue heran.
Gue diem nunduk..
“ Kenapa? Patah hati.. ambil hati ayam sambung ke hati loe “
“ gue gak mau becanda Vin.. loe sebagai sahabat bertahun-tahun gue bantu donk.. alah loe ni..”
“ Udahlah.. dia udah jalan sama cowok yang dia suka.. masa’ loe gak rela Sisi bahagia?”
“ Bukan masalah gitu Vin, loe tau kan Candra kayak gimana? Dia udah terkenal playboy di sekolah tercinta ini.. masih mending lah kalo dia dapet cowok selain dan lebih baik dari Candra..” ucap gue.
“ Contohnya gue..”
“ Ehh.. gue sumpel gigi loe!”
“ Justkid bro.. okee.. gue tau cara nya supaya loe bisa dapetin Sisi..” ujar Alvin dengan sok cool.
“Gimana?”

***

Gue mulai beraksi dengan ide Alvin.. tau lah ide ini berhasil atau tidak. yang penting gue dapetin Sisi..
“ Sisi!” panggil gue dari arah taman.
Sisi yang saat itu lagi jalan sendiri langsung menoleh dan tersenyum ke gue. Oh~
“ Raka.. kenapa?” tanya dia lembut.
“ loe suka minuman apa?”
“ gue? kenapa Ka? gue suka semuanya..”
Wah bagus nih..
“ Nih.. gue punya ini buat loe..” ujar gue sambil mengeluarkan es krim dari belakang punggung gue.
“ Strawberry?”
“ iyaa.. hehe, gue pikir loe cewek jadi kebanyakan cewek suka strawberry gitu Sis.. “ ucap gue nyengir.
“ ehmm.. makasi Ka, tapi gue gak suka Strawberry..”
JDERR!>
“ jadi? “
“ gue lebih suka coklat..”
“ tapii.. terima ini Sis,, gue udah beli ini untuk loe.. “ mohon gue.
“ ya udah deh.. makasih ya Kaa.. gue balik ke kelas dulu.. “ Sisi tersenyum ke gue dan jalan ninggalin gue.
Halahh.. Alvin sok tau loe -_- , gue mau dia seneng 100% ..
Gue segera ngikutin Sisi dari jauh berharap es krim gue di makan cuma sama dia .. dengan gaya ala detektif gue buntutin Sisi sampai ke arah kelasnya dan ternyataa ... disana ada Candra dan Sisi nyamperin dia!
Ya Tuhann.. hamba tak sanggup.
Sisi ngomong ke Candra, entah apa itu.. ia ngasih eskrim gue ke Candra! Asap amarah gue udah nyampe ubun-ubun.. tanpa sadar gue tendang pintu kelas Sisi langsung pergi.
Gagal! Sisi gak suka eskrim gue. Alvin .. gue jebret loe,.
Pulang sekolah gue sama Alvin pulang bareng jalan kaki. Secara rumah kita deket banget sama sekolah yaahh kira-kira 4 menit kalo pake motor.gak kurang dan gak lebih..
“ Vin! Loe tau darimana kalo Sisi suka strawberry?” tanya gue sinis.
“ Tau lah.. dia kan cewek.. mana da cewek gak suka strawberry. Berhasil yo kan bro?? “ PD Alvin yang ngebuat gue smakin pengen ngancurin mukanye.
“ Pinter loe.. pinter bikin gue sakit hati! .. Sisi tuh beda Vin.. dia gak suka strawberry. Dan alhasil eskrim gue dikasi ke Candra ! “
“ Apa?? Sorry bro.. hemm, atau loe kasih dia bunga aje besok sebagai tanda minta maaf loe ke dia ? “ ucap Alvin ngerangkul gue.
“ Bunga?”
“Yoi.”
“Bunga apa?”
“Alahh loe..bunga yang menurut loe wangi dan indahh.”
“Jangan menurut gue! menurut Sisi donk.. tapi gue ya gak tau bunga kesukaan dia apa..”
“ kebanyakn cewek suka mawarr.. nah loe kasih aja mawar merah sebagai tanda api asmara loe yang membara ke dia.” ujar Alvin sumringah.
“ Ehmm.. ntar ada les kan, anter gue sekarang beli bunga.. ntar les gue kasih ke dia.. oke?”
“Sip..”
Kita pun berbalik arah menuju toko bunga yang gak jauh juga dari rumah gue dan Alvin.
Sesampainya kita disana, gue ngeliat motor Candra parkir di depaan toko.
“ Vin.. tu kan motornya Candra?” tanya gue memastikan.
“ Iye bener.. “
“ Ngapain dia kesini?”
“ Beli bunga lah.. masa’ beli beton. Udahlah masuk aje.. “ ajak Alvin.
Gue dan Alvin pun masuk.. terlihat Candra berdiri milih bunga sendiri.. dia ada di depan kumpulan bunga mawar putihh..
“ kok dia berdiri di depan mawar putih? jangan-jangan Sisi sukanya mawar putihh..” tebak gue.
“ Hemm.. gak papalah..”
“ Gak papa apanya ! ntar gue salah lagii..”
“ Loe ini.. loe harus yakin Ka.. dalam hal kayak gini loe harus sok tau, dengan cara sok tau gini Sisi pasti seneng soalnya loe bisa ngebuat dia terhibur sedikit dengan apa yang loe tau sendiri.. “
“ Alahh bahasa loe gak gue ngerti.. ya udah deh terserah loe aje..”
Gue dan Alvin menuju bunga mawar merah yang udah mekar-mekar indahh.. lalu memilih-milih ditemani penjual bunganya.
..
“ Raka Alvin kan?” panggil seseorang di belakang kita.
Gue sama Alvin noleh, ternyata Candra..
“ Berdua beli bunga ngapain?” tanya nya sinis.
“ Buat__” kata-kata gue diputus Alvin.
“ buat mama kitaa.. kenape loe? Gak boleh kita beli bunga disini?”
“oohh.. gue kirain kalian jeruk makan jeruk.. wkwk,, beli bunga aje berdua.. sendiri donk kayak gue maskulin keren ... cemen loe pade!” ejek Candra.
“ Eh loe ! “ teriak gue yang ditahan Alvin..
Candra langsung pergi meninggalkan toko dengan ikatan mawar putih di genggamannya. Ngajak berantem dia.. gue ambil Sisi baru K.O loe.

****

Di koridor sekolah, gue genggam mawar merah di belakang punggung gue. gue berharap bertemu Sisi dan dia nerima maaf gue.. ya walau kesalahan gue gak besar bagi dia ngasih eskrim strawberry kemarin, tapi menurut gue itu kesalahan besar! Gue gak salah kan ngerebut cewek orang yang sok cool playboy kayak Candra .. yap gue gak salah. Ini namanya perjuangan cinta.
Akhirnyaa..
Sisi keluar dari kantin dengan botol mineral di tangannya.. baju lengan panjang celana jeans serta rambut panjang gelombang diikat dan poni ala Jessica SNSD membuat kecantikannya semakin mempesona sangat mempesona di mata gue. *_*
“ Sisi !” panggil gue.
Sisi langsung ngeliat gue tersenyum dan berjalan ke arah gue.
“ iya Ka? loe mau ngasih apa lagi ke gue? “ canda Sisi tersenyum manis.
“ ehmm.. “
Waduhhh.. kenapa gue jadi deg-degan ginii..
“ Ini Sis, loe tau aja gue mau ngasih apaa.. “
Gue segera menunjukkan bunga mawar merah lalu menyodorkannya.
“ Gue minta maaf karna loe gak suka eskrim strawberry gue kemarinn.. jadi gue ngasih ini..” ucap gue gugup.
Sisi menerima bunga mawar gue.
“ Ka, kok loe tau gue suka mawar merah? Ini bener-bener wangii ..” seru Sisi seraya mencium wangi mawar gue.
Waah....... senangnya gue ! Alvinnn.. makasiihhh Vinn..
“ Benerann loe suka Sis ? wahh.. hehehe, gue nebak ajaa Siss.. “
“ Makasihh Kaa.. ehmm,, loe tiba-tiba ngasih gue eskrim kemarin kenapa Ka? “ tanya dia serius.
Waduhh.. apa’an nih pertanyaan.. masa’ gue jawab basa-basi doank, marah lah Sisi nantii..
“ Ituu.. gue, gue Cuma__”
“ Rakaaaa !!! “ teriak Alvin yang ngebuat gue langsung diem.
Alvin lari ke arah gue dengan nafas yang terengah-engah.
“ Sorry Sis.. gue pinjem Raka dulu, ini demi loe juga Sis ! “ ucap Alvin langsung narik tangan gue.
“ Tunggu gue Sis ! “ teriak gue dalam pelarian gue sama Alvin.
Sisi diam melihat kita dengan heran dan penasaran. Alvin narik tangan gue dan lari menuju belakang gedung sekolah.
Kita berhenti setelah lumayan cepat berlari..
“ Hahh.. loe kenapa Vinn,, bikin kaget gue aja loe.. “ ucap gue membungkuk.
“ Sssst.. diem loe Ka, “
Alvin ngeliat gue..
“ Apa? “tanya gue.
“ coba loe liat disana.. “ ujar Alvin mengarahkanku ke batasan dinding gedung.
“ pelan-pelan loe, ngintip ajaa.. “ sambung Alvin.
Gue segera mengintip ke batasan dinding.. dan ternyata..
...
Gue ngeliat Candra sedang berdua mesra dengan wanita dari luar sekolah entah siapa ituu.. mengenakan seragam sekolah lain dan memegang mawar putih yang Candra beli kemarin.gue langsung ngeluarin ponsel lalu gue foto mereka..
“ Hehh.. ngapain loe foto?” tanya Alvin.
“ gue mau ngasih bukti ini ke Sisi Vin, Candra gak baik buat dia.. “
“ Loe hati-hati ngasih ke Sisi, dia bisa shock ..”
Gue ngeliat Alvin dan segera meninggalkan dia lalu kembali menuju Sisi di koridor ,. Berharap Sisi masih menunggu disana..
Yapp ! Sisi masih menungguku disana dengan mawar merah gue..
Gue nyamperin diaa..
“ Kenapa Ka? ada hubungannya dengan gue?”
Gue mangangguk pasti .. segera gue kasih ponsel gue yang memperlihatkan foto Candra tadi. Sisi menerimanya lalu dilihat..
Sekejap mata indahnya terbelalak dan terkejut..
“ Maksud loe apa Ka ? “ ujar Sisi pelan.
“ Candra gak baik buat loe Sis.. dia bermain di belakang loe. “ jelas gue.
Sisi terdiamm lalu memberikan ponsel gue kembali.
“ Loe ngasih gue eskrim kemarin supaya loe bisa ngancurin hubungan gue . sementara gue udah punya Candra tapi loe mau ngerebut gue.. gue bisa tau sendiri Ka, loe gak usah ikut campur urusan gue. . “ ucap Sisi dengan mata berkaca-kaca dan membanting mawar merah gue..
“ Siss.. gue tauu Candra kayak gitu dari dulu, gue mau loe bahagia dari depan maupun belakang pacar loe, tapi kenyataannya loe sama Candra.. gue gak rela Sis loe dipermainin.. gue .. gue sayang sama loe dari dulu.. maafin guee Sis.. “
Jelas gue dengan menahan emosi.
“ Udahh diem deh loe Ka. “ ucap Sisi pergi lari ninggalin gue.
“ Sisi !! “
Hahh.. apa gue salahh,, gue cuma nunjukin faktaa.. gue mau ngerebut loe karna Candra emang gak baik buat loe Sis.. gue bisa berbuat lebih baik dari Candra! Gue lebih baik dari Candra !..

****

Gue terbaring menatap atap kamar gue,, berharap besok Sisi maafin gue lagi.. gue harus bisa dapetin loe dengan cara baik apapun.. gue salah pasti gue minta maaf .. kalo memang gue ikut campur urusan dan hubungan loe, gue gak akan ikut lagi.. tapi gue bener-bener gak sanggup jika harus ngeliat loe dipermainin dibelakang cowok kayak Candra.
Pintu kamar gue terbuka, ternyata si dodol garut Alvin..
“Ngapain loe Vin? “ ucap gue balik badan dan nyelimut diri.
“ Loe ngapain nyelimut galau begitu?” balasnya duduk di kasur empuk gue.
“ Halahh loe, gak punya kamar loe, tiap malem ke kamar gue.. kangen loe tiap hari ama kasur gue.. “
“ Gue bisa beli ndiri bro.. udahlah jangan galu-galau gitu. . “
“ Shut up! Gue gak galau.. “
“ Shut up shut up.. makan singkong aja gaya loe pake bahasa Britis.. udah deh, ada yang nunggu loe tuh diluarr.. “ ucap Alvin.
“ Siapa? Mama gue.. gak usah ngebohong loe Vin, mentang-mentang rumah gue gak pernah dikunjungi sekarang loe ngeledek dengan cara kayak gituu .. “ cuek gue dalam balutan selimut hangat.
“ Cerewet loe.. ntar Sisi gue suruh pulang lo. “
Hahh..
“ Sisii ?! “ kejut gue segera membuka selimut.
Alvin mengangguk .
Dengan semangat gue keluar kamar dan menuju luar rumahh.. emang bener, Sisi di teras rumah gue.. Sisi ngeliat gue tersenyum.
“ Siss.. l.. loe, kok disini ? “ tanya gue setengah gugup.
“ gak boleh gue kesini? .. gue minta maaf sama loe.. “
“ Maaf ? gue yang harus minta maaf Sis. “
“ Loe gak salah Ka.. loe udah nunjukin foto itu ke gue, dan gue bisa tau apa yang Candra lakuin di belakang gue.. maaf gue terlalu emosi tadi.. ehm, gue udah ngomong ke Candra dan gue udah pisah sama dia.. sebagai tanda maaf gue, gue kasih ini ke loe.. “ ujar Sisi menyodorkan 2 eskrim Strawberry ke gue.
“ Strawberry? 2 ? satunya buat siapaa ? “ tanya gue.
“ Alvin donk.. gue kan adill .. “ cengir Sisi maniss.
“ lah loe? “
“ gue punya coklat .. loe lupa gue gak suka strawberry.. “
“ oh iyaa.. thanks Siss.. “ girang gue nerima eskrim Sisi.
Alvin tiba-tiba dateng di belakang gue.
“ Eh, ni buat loe. “ gue sodor eskrim ke Alvin.
“ Enak nihh .. “
Akhirnya kita bertiga makan eskrimm ..
Guee.. harus ngomong apa lagii .. gue harus dapetin Sisi.. tapi ini gak mungkin terjadi sekarang.. dia kan masih galau.. galau ?
“ Gue gak galau kok Ka.. “ cetus Sisi membuyarkan lamunan gue.
“ Hemm ? “ gimana dia bisa tau pikiran gue.
“ Raka.. loe jangan kelamaan nembak cewek .. nanti diembatt lagii sama orang gak bener.. “ ucap Alvin cengengesan.
Ishh.. gue ngeliat Sisi tersenyum malu.
Ehmm.. oke, ini waktuku !!!!!!!!!
“ Siss.. loe mau gak jadi pacar gue?” nyata gue berani.
Sisi terkejut menatap gue.. waduuhhhhh ..
Akhirnyaa.. Sisi mengangguk tersenyum ke gue.
“ Gyaaa ! gue seneng ...... !! “ seru gue memukul lengan Alvin
“ Iyee seneng, jangan mukul gue giniii donk Ka.. ah loe, panci gosong gue goreng loe ntar. “
Kami bertiga pun tertawa.
Ending pun gue dapetin Sisi.. setelah penantian 2 tahun gue dapetin dia.. lega rasanya..
Gue akan jadi yang terbaik buat loe Sis,, gue lebih baik dari dia.. gue akan berusaha ngebahagiain loe semampu gue dan dengan sok tau gue..
Gue cinta sama loe.. :*

Senin, 07 Januari 2013

CINTA YANG TERLAMBAT

“mau sampai kapan jomblo din?” Tanya Raisya dengan mulut dipenuhi makanan.
“jodoh di tangan Tuhan kali, ngomongin jodoh mah urusan belakangan aja Sya” jawabku lirih.
“tapi kan, semenjak putus dari Eko, kok aku nda pernah denger kamu buka hati untuk yang lain, padahal kan, pada banyak yang ngantri, macam antri bbm”
“berlebihan deh ya, udah ah, habisin tuh pentol, apa mau ku makan nih” jawabku, sembari ninggalin Raisya di kantin bakso sekolah.
“Hay Isal”
“Isaaaallll, oh my God! Ganteng sumpah!”
“sehari aja, aku ngga denger kalian ngoceh tentang tu orang, bisa gak sih?” nada suara ku yang lumayan tinggi, menghentikan suara gemuruh kelas, yang sudah kayak pasar.
Setelah seminggu kedatengan anak murid baru, kelas semakin gemuruh, ribut, kasana kemari, seperti anak ayam yang kehilangan induknya di tengah pasar dan banyak cewek-cewek famous di sekolah yang entah kenapa suka datang ke kelas.
Anak baru itu narik perhatian? Padahal tidak. Ganteng? Enggak. Pintar? Enggak. Terus apa? Belagu? Iya. Sombong? Iya. Sok famous? Iya. Hanya itu yang ada dipikiran ku saat itu.
Aku tidak begitu menyukai anak-anak baru, apalagi atlit, yang mayoritas belagu hanya karena dapat membanggakan sekolah dan dengan seenaknya ngeremehkan kami yang tidak punya apa-apa.
Dan dengan seolah-oleh Albert Einsten, anak-anak atlit di sekolahku, dengan pintarnya ngerjain ujian, padahal dalam setahun, kehadiran mereka hanya bisa dihitung dengan jari. Itulah, yang membuatku membenci pihak-pihak yang ganjen dalam hal itu.
“din? Isal kurang apa sih? ganteng iya, punya segalanya juga iya, anak tahfidz iya. Kenapa kamu selalu aja benci? Bukannya setiap pribadi orang itu berbeda? Gak semua juga kan anak atlit di sekolah kita belagu? Hati-hati jatuh cinta din.” Ujar, temen ku sinta.
“pernah denger pepatah gak? Bukan kah sebuah fakta harus ada pembuktian?” jawabku lirih, sembari meninggalkan kelas.
“hari ini, hafalan sholat” ujar bapak guru Agama.
“siap pak!”
Semua anak di kelas pada ngikutin aturan guru Agama yang satu ini. Kadang ada hal yang kurang kami senangi dari bapak ini, entah karena sudah tua, dan masih mempunyai nafsu. Bapak guru Agama yang satu ini bisa bertingkah seperti bapak-bapak ganjen yang kurang menyenangkan. Entahlah… bayangkan saja sendiri.
“Muhammad Faisal”
Males banget denger ini nama! Denger aja sudah membuatku malas, apalagi buat ngelihat.
“allahu akbar”
Entah lah kenapa, mata ku yang mulai ganjen ngelirik ke arah Isal dan ngelihat gerak-geriknya dalam sholat.
Entah ada keajaiban yang datang dari langit, telinga yang biasanya suka males buat dengerin omelan mama, kini dengan jernih tanpa kotoran yang nyangkut dengerin dengan khusyuk suara yang terucap dari bibir Isal, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang diucapkannya serentak membuatku ingin mendengarkannya lebih dalam dan lama lagi. Terdengar nyaman, sangat nyaman, seperti mendengarkan sebuah lantunan ayat yang dilafadzkan oleh ustadz yang sudah mahir dalam melafadzkan.
“din? Ngapain? Cieeee… mulai suka nih ye. Udah deh ngaku aja, kali” olok Raisya yang membuyarkan lamunanku
“gak kok, siapa juga yang ngelihatin, mulutmu butuh kunci kah? Gemboknya juga? Gak usah ngomong nyaring deh, entar orangnya denger, terus ge-er!” cetusku
                                                                             *****
“din, tolong bantu Ibu ya, bentar lagi kan mau bagi raport, kamu kan ketua kelas 9C, ibu minta tolong bantuin temen kamu yang ini, dia kan anak baru, ada satu tugas yang belum dia kerjakan, tolong ibu ya, ini kertasnya”
“oh, ini, o-o-oh iya, bu, saya bantu”
“makasih ya”
“sama-sama bu.” Aku pamit dari ruang guru.
“ini, tugas mu, yang belum dikerjakan, cepet dikerjakan, terus kumpul ke aku” aku memberikan sebuah kertas bertuliskan tugas Isal yang diberikan guru TIK ku ibu Juriah. Dengan hati terpaksa dan merengut sepanjang hari, ku jalani dengan baik. Padahal rasa ingin menolak itu terus tertahan.
“oh, ini. Makasih ya Din” ujar Isal.
“Din? Bukannya tadi pagi kamu yang disuruh ibu, bantuin? Kok kamu gak mau bantuin?” Raisya menepuk dada ku, seketika aku tersentak dan bangkit dari duduk.
“kerjain sendiri aja, masa gak bisa? Rempong deh” cetus ku.
“oh jadi, pengen lihat aku pergi ke ruang guru terus nemuin bu Saidah?” Raisya ngancam dengan wajah nyolot.
“o-oh” ucapku terbata-bata.
“buruan deh, bantuin, jangan suka PHP” dengan nyamannya Raisya narik tangan ku ke arah Isal.
“oke, ku bantuin” ucapku dengan sangat terpaksa duduk di depan Isal.
                                                                           *****
“makasih ya Din” sms masuk dari Handphone yang sedari tadi ku abaikan. Aku memang lebih sering mengabaikan handphone, karena ku pikir, mengecek hp apalah artinya, jika tak ada pesan satu pun yang masuk.
“ini siapa?” balasku, sembari mengahabiskan makan malam, sendirian di rumah, karena malam ini semua penghuni rumah sedang tidak ada.
“Ini Isal, oiya makasih ya, bantuannya tadi”. Isal? Aku tersentak seketika membaca pesan masuk darinya, dari mana dia tau nomorku? Perlu kah berterimakasih harus dengan sms?
“oh, ya sama-sama”
“malam ini kamu sibuk? Atau lagi belajar?” Tanyanya semakin membuatku heran. Untuk apa ia menanyakan itu? Perlukah?
“nggak, krnapa?”
“mau ikut aku malam ini? Ke CafĂ©? Minum atau makan aja kok, sebagai ucapan terimakasih. Mau ya?” paksanya.
“mau ngapain? Lu mau macam-macam sama gue? Gue bukan cewek murahan, sama yang lain aja kenapa susah benget sih!” dengan hati yang panas dan nyolot, tanpa memperhatikan bahasa ku yang mulai sok, aku mengabaikan.
“aku Cuma pengen bilang makasih, dan sebagai tanda terimakasih? Oke, aku otewe ke sana ya? Tunggu di depan rumah”
Kurang ajar, ini anak semakin ngelunjak aja. Tau dari mana coba rumahku? Kenal aja kagak- pikirku.
“assalamua’laikum”
“waalaikumsalam” aku beranjak dari meja makan ke arah pintu.
“hay Din? Gimana, udah siap?” Tanya Isal, membuatku tersentak kaget. Ganteng? Iya sih dikit doang. Kaos yang dilapisi jaket kulit serta levis bermerek, kendaraan roda dua yang super mewah dan jarang anak-anak seumuranku punya itu. Entahlah siapa wanita yang tidak tertarik. Hanya aku, mungkin.
“siap apaan?”
“aku mohon, sekali ini aja? Aku tau kok kamu gak suka kehadiranku di sekolahmu.”
“terus?” jawabku ketus, aku melingkarkan kedua tangan di dada.
“sekali aja din, plis. Aku tau kok kamu lagi sendiri di rumah”
“sok tau deh” cetusku. Apa aku harus ikut? Iya sih sendirian di rumah, kesepian. Ikut gak ya? Ikut gak ya?
“ya udah deh bentar, aku ganti baju dulu”
Arsitektur bangunan yang besar, serta terangnya cahaya lampu, diiringi dengan cahaya bulan yang kala itu berbentuk setengah. Menambah suasana kafe bertema outdoor itu. Sekeliling pasangan yang berkencan entah dengan sahabat ataupun pacar terlihat sangat ramai pengunjung. Entah itu karena weekend. Isal memesan tempat yang berkapasitas banyak, di bawah pohon yang berhias lampu. Padahal ku pikir hanya aku dan dia, entahlah.
“kok kapasitas pesanan mu banyak banget?” tanyaku, sembari melihat halaman-halaman sub menu makanan, tanpa melirik sedikitpun padanya.
“karena ada yang mau datang”
“siapa? Ku pikir hanya kita berdua?” tanyaku sinis.
“cie, jadi ceritanya pengen berdua doang nih? Ya udah deh kita pesen tempat baru aja”
Raisya datang dengan pakaian yang super modis, bak model terkenal. Karena memang dapat diakui, Raisya wanita cantik berambut panjang, berbadan tinggi dan ramping berparas cantik, wajar sajalah ia dijuluki “wanita tercantik di SMA” berbanding jauh terbalik dengan ku. Ternyata Raisya tidak hanya sendiri, di sampingnya ada Rico kekasihnya yang sekarang bersamanya kurang lebih 2 tahun.
“Ooooh baru ngeh deh, ternyata kamu Sya yang ngasih nomer, alamat ku ke dia, oooh jadi ini” jawabku sinis memasang wajah kecut.
“hehehe, gak apa kan? Lagian kata mamamu, kamu sendiri di rumah aku disuruh temenin, daripada kita gak ada kerjaan mending kesini ye kan? Lagian ini rencana Isal kok.” Raisya menjatuhkan pantatnya.
“nikmati aje kali din, hahahaha” dengan wajah songong Rico nyelengit.
“tiga lawan satu, ya udah nyerah deh, aku ikutin permainan kalian” cetusku.
                                                                               *****
“ya udah sayang, hati-hati di jalan ya, Jangan ngebut, sms jangan lupa kalau sudah sampai”. Raisya turun dari motor Rico, dan tanpa menghiraukan aku dan Isal, Rico melayangkan kecupan centil di pipi Raisya.
Oh my God! Musti bingit ye, ngelihat mereka bermesraan di depanku, pikirku.
Dengan perasaan yang entah kenapa bercampur aduk, aku turun dari motor Isal, karena aku berhati baik dan berasa bukan orang yang tidak tahu diri akhirnyaa..
“makasih ya, untuk malam ini” entah kenapa bibir ini membentuk senyuman yang begitu jarang ku berikan pada seorang lelaki. Dan ini pertama aku berterimakasih padanya.
“makasih juga untuk malam ini, aku pulang dulu ya” dengan perlahan sosok Isal keluar dari gerbang rumah dan aku menatap punggungnya semakin jauh, dan jauh.
“cie, gak lama tuh, jadi deh jadi pokoknya” dengan wajah sok tahu Raisya masuk rumahku yang sudah dianggapnya seperti rumah sendiri.
“sok tau lu!”

Makasih? Untuk apa aku berterimakasih? Bukannya dia sudah kurang ajar, dengan seenaknya mengajakku berkencan. Padahal tak sedikitpun kenal? Lelaki macam apa dia?
“din? Mau ku ceritakan nggak?”
“cerita apaan? Penting nggak? Aku mau tidur nih” aku menarik selimut.
“coba dengerin dulu, ya udah sambil baring, anggap aja ini dongeng deh” Raisya tidur tepat di sampingku menarik selimut berbagi dengan ku.
“buruan apaan?” tanyaku dengan posisi badan terlentang.
“tentang Isal. Sorry deh kalau kamu kesal tentang tadi. Tapi jujur aku pun terpaksa, ya padahal kan ye, aku pun tau kamu benci dia. tapi dia maksa minta nomor mu terus ngajak aku juga sama Rico double date. Dia bilang dia terkesan sama kamu gara-gara kamu waktu praktek sholat itu loh, nah kan aku memang tau kamu jago masalah itu, ternyata dia penasaran sama kamu, meskipun katanya kamu gak akan pernah mau kenal dia, tapi dia usaha banget mau kenal kamu din. Sorry banget ya? Aku Cuma nyampaikan.” Ujar Raisya menoleh ke arahku.
“Oh, masalah itu, gak papa sih. gada masalah kali Sya. Lagian emang kamu bener kok, kita bisa mati kesepian malam minggu berduaan di rumah? Gak mungkin kan ya? ngehabisin malam minggu dengan nonton Malam minggu miko? Boring. Ya udah gak apa apa, itung aja deh sebagai hiburan.” Aku membalik arah badan dengan posisi memeluk guling.
                                                                                       *****
Assalamua’laikum Din? diterima ya? aku membaca surat yang terselip di dalam bunga kiriman yang pengirimnya ternyata Isal. Bunga mawar yang terkenal baunya itu memang bunga favoritku. Entah terakhir kali aku menerimanya dari mantanku Eko. Dan Ini dari Isal. Aku tersenyum tanpa kata, entah itu senyum menggambarkan kebahagiaan yang terpancar atau apapun, entahlah. Pagi ini berasa pagi yang bermakna, entah itu kenapa.
Aku menyandarkan kepala di bangku ruang tamu.
Entah, ini awal yang baru, mungkin aku coba buka hati lagi semenjak dulu sama Eko yang jago banget selingkuh, mungkin dengan sekarang keinginanku dapat terwujud, mendapatkan kebahagiaan jasmani rohani bersama orang yang tepat. Gak ada salahnya aku dengan Isal. Semua darinya aku sudah tau, dari latar belakang orangtua nya seorang pengusaha terkenal di Samarinda dan mamanya pemilik klub bulutangkis, wajar saja bila ia mewarisi bakat orangtuanya sebagai atlit bulu tangkis. Isal, sosoknya begitu saat ini aku sayangi, dia yang tiada hentinya mengingatkan ku akan kebaikan, menjauhkan ku dari zina, membatasi ku dari segala yang buruk, menjagaku sampai sekarang. Bukan kah itu orang yang kuinginkan? Orang yang akan kelak menjadi pendampingku? Aku berharap kau Isal yang dapat mengobati luka berlubang di hatiku. Kau Orang yang tepat.
                                                                                       *****
“cie, happy anniv 1 minggu Din” dengan wajah polos Raisya mencubit pipiku dengan keras tanpa memperhatikanku yang sedang sibuk di depan laptop.
“Alhamdulillah, yaa sesuatu. Buruan makan dulu sono gih di dapur. Mamaku masakan buatmu”
“Asiiikkk…”
Seminggu aku bersamanya, segalanya aku rasakan. Ternyata sebuah kebencian dapat menumbuhkan rasa kecintaan, percaya. Aku percaya itu, karena semua itu telah aku rasakan.
Aku bertahan di depan laptop menunggu tersambung skype bersamanya. Karena jarak ku dan dia jauh sekali. Sekarang Isal sedang dalam masa pelatihan atlit di Jakarta, apapun itu tak mengahalangi ku bersamanya.
“Assalamu’alaikum” jauh disana aku melihatnya tersenyum lebar di dalam kamar asrama.
“wa’alaikum salam, gimana kamu yang disana? Sudah mulai betah”
“Alhamdulillah Din, disini banyak temen baru dari luar kota. Semua friendly. Kamu disana gak pernah lupa kan sama semua kata-kataku”
“Oh iya dong, aku gak kan lupaaa”
“Din? Maaf ya, untuk sebulan kedepan kita gak bisa skype, telepon atau sms, semua dibatasin pelatih, kamu mau nunggu aku kan?”
“iya, aku pasti tunggu kamu”
Itulah kata-kata yang terakhir ku ingat pada saat itu, ketika aku berjanji aku akan menunggunya. Tapi aku mengingkari segalanya.
Aku bagai seseorang yang menusuk perlahan dari belakang.
Aku? Mudah tertipu rayuan gombal dari lelaki bejat, siapa dia? mantanku Eko.
Selama seminggu tanpa kabar dari Amin. Ternyata Eko sms aku, berkali-kali memohon kembali padaku. Betapa bodohnya aku ketika dengan cepat tanpa berfikir segalanya aku memutuskan kembali pada binatang jalang ini. Dan memilih untuk tidak bersama Isal lagi? Padahal kalian tau? Bagaimana perasaan Isal saat ini?
Isal? Sosok yang mengobati luka besar dalam hatiku, kini aku tinggalkan dia demi binatang jalang. Sebulan aku bersama Eko, ternyata apa yang kudapat? Ternyata dia, SELINGKUH lagi dan aku melihatnya bercumbu mesra di depan ku. Kalian tahu betapa sakitnya aku? Pikirkan sendiri. Binatang jalang ini sudah menghancurkan hidupku, bejat!
Aku? Kini sendiri. Tanpa Isal. Padahal sampai detik ini. Penyesalan yang luar biasa ku dapatkan. Aku berusaha untuk menghubunginya lagi. Padahal ku pikir. Aku tak pantas bersama Isal. Aku mencoba mengejarmu, walaupun kau terus berlari Isal. Kini aku tahu, semua kesalahan ku, sudah terlambat aku menyesali segalanya. Isal, mau kah kau kembali padaku?