Namanya Desta, dia teman sekelasku sejak kelas XI di SMAN 1 Balikpapan ini,
dan akan terus menjadi teman sekelasku di kelas XII nanti, ada sedikit rasa
sesak, penyesalan dan juga bahagia jika membayangkan hal itu, karena dimulai
dari hari itu, rasa itu, dan akhirnya berujung pada kebencian ini.
Bagiku, awal masuk tahun ajaran baru di kelas XI SMA ini terasa biasa saja
dan tak ada yang spesial, namun akhirnya aku mulai menyadari ketika dengan tak
sengaja aku menjadi lebih sering satu kelompok dan ‘berbarengan’ dengan dia,
dan mulai saat itu, rasa ini pun muncul, lalu tumbuh, bahkan semakin dalam
sejak awal pertama aku merasakannya.
“Heh Shin, masa sih kita sekelompok lagi di pelajaran bio ini? Ah bete
nih..” kata Desta kepadaku dengan nada bercanda.
“ah bete apa seneng kali tuh, secara kamu tinggal terima jadi kan? Untung aja kamu masih mau ikut diajak kumpulan
kelompok, ya meskipun aku aku juga yang kerjain”
balasku rada sedikit bĂȘte.
“Yah iye dah ampun, jangan bete gitu dong ah, jadi sekarang kerja kelompok di
rumah kamu lagi kan?” katanya sambil menatapku.
DEEGGG, tiba-tiba saja terasa ada sedikit sengatan yang menjalar ke seluruh
tubuhku ketika aku menatap matanya dengan aura serius
itu.
“iya.. tapi anak anak yang lain kayaknya gak pada bii....”
“udah gak papa kita berdua aja! Aku pengen tugas itu cepet selesai” potongnya
sambil masih tetap menatapku.
“gitu ya? Iya deh, berdua aja gak papa kok..”
Dan akhirnya saat pulang sekolah aku dan Desta kerja kelompok bersama di
rumahku, meskipun agak sedikit canggung tapi akhirnya hari itu menjadi hari
yang sangat sempurna dan menyenangkan untukku, karena tanpa sadar aku dan Desta
telah lama menatap dan rasanya saling bercakap
dari hati ke hati, lewat sebuah tatapan.
Satu minggu kemudian kita menjadi semakin dekat dan dia pun sering
mengirimkan sms setiap malamnya, meskipun hanya untuk menanyakan sebuah tugas,
tapi sms itu lah yang selalu aku tunggu setiap malamnya.
Seperti biasa ada satu sms masuk dengan tulisan ‘Desta?’ di layar handphoneku, aku agak sedikit terkejut ketika mambaca
pesan singkatnya, yang sekaligus membuat hatiku melayang sekaligus jatuh disaat
bersamaan.
‘Shinta, mau jadian gak sama aku?’
‘hahaha, kamu salah kirim tuh Des’
‘Yah? Aku serius! Mau jadian gak, Shin?’
DEG DEG DEG, tiba tiba aku merasakan ada di taman berbunga dan melihat
banyak kupu kupu indah disana.. dan akhirnya aku
membalas…..
‘ehmm, berani ngomong langsung gak kamu?’
‘berani! Mau ngomong dimana? kalau bisa di tempat sepi yah..’
sesaat mencul ide untuk menguji keseriusannya, dan aku pun mengirim..
‘di depan kelas? Haha’
‘hah depan kelas?! Boleh lah, apa sih yang nggak buat kamu….
Dan malam itu menjadi malam sempurna untukku, sampai aku tak bisa tertidur
hanya untuk terus berpikir apa yang akan terjadi besok.
Dan besok pun hal itu benar-benar terjadi…
“Shinta, please, kamu mau kan jadi pacar aku?”
“ehm gimana ya Des, sebenarnya….”
“Shintaaa terima ajaaa, itu ketahuan dari mata kamu yang gak bisa tidur gara-gara
kepikiran hari ini kan” salah satu teman ku pun berteriak dari belakang.
“jadi bener semalem kamu gak tidur?” tanya Desta selidik kepadaku
“hehee i ii i iya deh Desta, aku terima..”
Prokkk prokk prokkk cie ciee dan suit suitttan pun bersahut sahutan bahkan
sampai ke luar ruang kelasku.
Seminggu setelahnya pun kita menjalani hari hari seperti biasa layaknya dua
sejoli yang saling mencintai, Desta mengajakku untuk buka puasa bersama disaat
bulan Ramadhan. Meskipun kita sudah sebulan ini menjalani hubungan tapi kita
belum pernah sama sekali merasakan buka puasa bersama dan tentu ini akan
menjadi hal yang paling kutunggu tunggu.
dan sehabis Ashar pun ada sms yang masuk ke handphoneku yang tentunya berasal
dari Desta.
“Shin maaf, aku gak bisa terusin lagi kebohongan ini, aku udah berbohong
sama kamu sebulan lebih dan setelah aku piker-pikir lagi lebih baik aku akhiri
kebohongan aku sekarang. Maaf, lebih baik kita gak usah kenal lagi satu sama
lain. Trims, bye…”
seketika pesan singkat itu bagai pisau belati yang langsung menusuk
tenggorokanku dan tanpa sadar setetes air mata ini pun menetes begitu saja,
hanya setetes…
“maksud kamu kebohongan apa? Jadi selama ini? Kamu Cuma mainin aku dengan
segala kemanisan dan kebaikan yang kamu tutup-tutupin itu? Jadi buka puasanya…?
Ahh” balasku
“iya aku bohong, aku cuman mau buktiin ke temen aku kalau aku bisa dapetin
kamu, tapi aku gak sungguh-sungguh cinta sama kamu. Maaf, aku tau kamu pasti
sakit hati banget akan hal ini, tapi ini lah aku dengan segala kekuranganku,
kamu terlalu baik buat orang kayak aku. Lebih baik kita kembali ke awal aja
seolah gak ada hal apapun yang terjadi antara kita. Note: untuk buka puasa lebih
baik kamu buka sendiri, tanpa aku.”
aaahhh hari itu aku merasa bagai seluruh awan terus menumpahkan airnya ke
bumi, dan untukku itu seperti air mata kesedihanku… aku pun langsung mendelete
kontak dan segala apapun tentangnya dari handphoneku. Bodohnya, aku terus
berjalan maju ke luar dengan diiringi derasnya hujan saat itu, sendirian.
Masih teringat jelas saat ku terluntang-lantung di jalanan tak jelas arah
bahkan sampai tersesat karena rasa yang begiku sakitnya menjatuhkan ku ke dalam
bumi. Membuatku bahkan lebih dari patah dan takkan pernah bisa menghapuskan
kekecewaan ini begitu saja.
Saat itu, diiringi dengan derap langkah dan rintihan hujan di sore itu, akhirnya
aku memutuskan untuk kembali pada diriku sebelumku mengenal seorang Desta, dan
akan terus seperti itu meskipun rasa sakit hati ataupun kebencian yang pernah
kurasakan telah tiada.
Tidak merasa lebih baik atau benar, dan bukan mengajarkan. Tak lebih dari mengingatkan pada diri sendiri dan sekitar. Berbagi pelajaran kecil, motivasi, dan cerita yang terinspirasi dari pengalaman, kegiatan, peristiwa, ataupun kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang disekitar. Bismillah, semoga bermanfaat.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar