Sabtu, 26 April 2014

Tracking Hutan Lindung Sungai Wain

Hari itu 12 April 2014… Hutan Lindung Sungai Wain menjadi saksi dari keberanian dan kebersamaan kita berdelapan.
Aku, Reval, Chris, Ojan, Panca, Matthiuw, Nia, dan Indah mencoba untuk menikmati indahnya alam yang telah Tuhan titipkan. Bagi kami, alam adalah sahabat dan bukanlah sebuah musuh yang harus ditakuti apalagi dihindari. Betapa indah dan damainya ketika kami berada disana. Mendengarkan suara-suara dari berbagai fauna, menikmati semilir angin yang menyapa tubuh kami, dan akhirnya kami melakukan sebuah perjalanan untuk melintasi alam kurang lebih 10km jaraknya.

Sebenarnya tracking ini sudah terencana sejak 3 minggu yang lalu, namun ada satu faktor utama dan beberapa faktor pendukung lainnya mengapa baru bisa kami lakukan hari ini. Faktor utamanya sih menyangkut si meonk, naaahh begini kronologinya…. Ada suatu semangat menggebu yang kutangkap dari raut wajahnya saat aku bersama yang lain tengah membahas masalah tracking tersebut. Aku mengetahui benar bahwa ia sangat ingin untuk ikut. Aku merasa sangat tidak setuju, karena ini mengenai keselamatan dan bahaya serta resiko yang harus dihadapi nanti. Apalagi tracking kami ini bakal dilakukan sampai malam hari, dan teman-teman yang lain juga boleh dikatakan belum berpengalaman untuk hal-hal demikian. Aku hanya tidak ingin ada setitik bahayapun yang mencoba untuk menghampirinya. Dan pastinya aku akan menjadi orang yang merasa PALING BERSALAH bila ada sesuatu yang menimpa dirinya bila ia ikut kami untuk tracking.
Okeelah… mari kita kembali lagi…. Hahahaa…..

Tepat pukul 15.00, kami sampai di HLSW. Segera kutelepon orang yang akan memandu kami untuk memasuki hutan, ia bernama Ade. Ade adalah referensi dari Pak Agus yang berhalangan untuk mendampingi kami. Dan Pak Agus adalah pemandu utama untuk tour dan tracking di HLSW. Namun  karena ada urusan yang tak kalah pentingya, beliau berhalangan hadir dan memberikan mandat kepada staffnya untuk menemani kami. Kurang lebih 30 menit kami melakukan persiapan, mulai dari mengganti sepatu dengan sepatu boots, mengganti pakaian, buang air, dan briefing kecil yang kuarahkan mengenai hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama didalam hutan.
Kami mulai berjalan menyusuri daerah perkampungan untuk menuju gerbang track 1 yang akan kami lewati. Kurang lebih 2km yang akan kami tempuh, tapi ilah salah satu hanyalah jarak yang sangat dekat menurutku, bukanlah sebuah tantangan yang berarti sekali. Dan benar terbukti hanya kurang lebih 45 menit kami sudah berhasil menyelesaikan track 1. Sungguh teramat tidak puas rasanya, seperti seekor singa yang tak mendapatkan mangsanya meski sudah didepan mata. Akhirnya dengan segenap keberanian yang kami kumpulkan, akhirnya tracking kami lanjutkan kembali tanpa pemandu. Selama perjalanan kami bercerita satu sama lain, menceritakan kehidupan pribadi dan hal-hal lainnya. Kami juga sempat merasakan sejuknya air yang asli lahir dari alam saat mencuci muka menggunakan air dari danau kecil yang terdapat dijalur 2. Dari 7 jalur tracking yang tersedia di HLSW, kami menelusuri semua jalurnya. 3 track awal terlihat biasa sampai kita berada diposnya. Pos yang berada didataran tinggi, terdapat sebuah rumah tua yang terbuat dari kayu. Kuperhatikan satu persatu raut wajah mereka, dapat kuartikan begitu banyak pertanyaan yang timbul dikepala mereka ketika melihat rumah tua itu. Dan sebut saja namanya Reval, ia adalah salah satu makhluk pemberani diantara kami, dialah yang terlihat sangat penasaran terhadap rumah tua itu, sampai terucap kalimat bahwa ia ingin masuk kedalam situ. Spontan aku langsung menegur dan melarangnya. Alasan kuat kenapa aku melarangnya adalah karena niat kami adalah ingin tracking dan bukan mencari hal yang berbau mistis meskipun aku juga sangat menyukai hal demikian.

Tracking kami lanjutkan untuk melewati jalur track selanjutnya, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kuminta agar langkah sedikit dipercepat agar kita juga tidak terlalu malam untuk menyelesaikan kesemua track yang ada. Terdapat penanda jalan yang terbuat dari pita berwarna cerah yang nampaknya adalah penanda para tracker sebelum kami. Kami terus mengikuti penanda tersebut sembarti kami juga memasang tanda sendiri. Tibalah kami di simpang jalur pos 4. Tidak ada tempat istirahat, hanya ada persimpangan jalur disana. Keegoisan mulai terlihat dari masing-masing diri kami, walau hanya sedikit tapi sikap egois itu bisa berakibat fatal sekali bagi keselamatan kami semua. Beberapa diantara mereka sebut saja Mathiuw dan Reval, sangat ingin dan merasa tertarik terhadap jalur yang mengarah ke barat daya kami itu. Ada secarik kertas putih terlaminating yang bertuliskan “Dilarang Masuk” yang tertempel di pohon didepan mulut jalur track tersebut. Dan bila kuperhatikan, pita penanda tracker sebelumnya memang tidak mengarah kesana, melainkan kearah timur laut kami.

Setelah ada perselisihan di persimpangan tadi, akhirnya kami memutuskan untuk tetap mengikuti arah pita seperti di track sebelumnya. Beberapa diantara kami terlihat cukup lelah dan mengucurkan keringat yang cukup deras. Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah turunan gunung dan beristirahat sejenak. Kamipun tak lupa mengabadikan momen kami tersebut. Dengan menyusun sebuah formasi mengikuti budaya berfoto yang telah banyak merasuki hidup sebagian manusia atau yang biasa disebut “Selvi”, kamipun berganti-gantian untuk berfoto. Hari kian gelap, sudah menunjukkan pukul  05.30. Kamipun memulai langkah lagi. Medan tracking kian berat, banyak rumput-rumput tinggi, pepohonan tumbang, dan rawa-rawa yang harus kami hadapi. Ada hawa yang berbeda dari jalur-jalur sebelumnya, Yaaaa…… sekarang kami berada di daerah berkelembapan yang lebih tinggi. Kuperhatikan pita-pita penanda juga sudah mulai jarang terlihat dan mataharipun mulai membenamkan tubuhnya. Selang beberapa saat, adzan Maghrib berkumandang. Memang tidak terdengar, tapi kurang lebih harusnya memang sudah menunjukkan waktunya. Kami kembali rehat sejenak sembari menghabiskan waktu maghrib, karena menurutku bukan hal yang baik bila kami melanjutkan perjalanan pada jam-jam seperti itu. Hampir setengah jam kami beristirahat, kegelapan semakin menyelimuti sekeliling kami. Bahkan sangat gelap rasanya.

“Ayo kita jalan lagi biar ngga terlalu malam selesainya”, Ucapku kepada semua. Sedikit terkejut saat kutanyai mengenai senter untuk penerangan kami, ternyata tidak ada satupun diantara mereka yang membawa senter. Untungnya aku membawa kedua senterku, senter yang menjadi andalanku saat mendaki di Mahameru-Jawa Timur. Satu buah senter besar dan satu buah senter yang biasa diletakkan dikepala. Untuk yang kedua kalinya senter-senter itu kembali menjadi andalan. Aku langsung mengambil posisi paling depan, disusul dengan Ozan, indah, Nia, Reval, Matthiuw, dan Chris. Kuikatkan dan kubentangkan tali raffia dipergelangan tangan agar kami tetap bersama dan tidak terpisah satu sama lain.
Langkah kaki mengecil, karena keterbatasan pandangan dan juga tali yang mengikat tangan kami. Perjalanan terasa kian lama karena memang kami harus melipatgandakan kewaspadaan terhadap hewan-hewan liar ataupun pohon-pohon yang ada disekliling kami. Senter besarku hanya memiliki jarak kurang lebh sampai 10 meter kedepan, kutajamkan pandanganku agar bisa memandang lebih jauh. Kurasakan suasana yang sedikit berbeda pada malam hari itu. Bau anyir, kembang, suara-suara mendesis seperti orang yang ingin membisikkan sesuatu, dan kurasakan sekali seperti ada banyak orang selain kami yang tengah memperhatikan kami berjalan. Entah hanya aku atau semua juga ikut merasakannya, tapi menurutku itu adalah hal yang wajar. Karena didunia ini tidak hanya umat manusia yang menempatinya, tapi banyak pula makhluk-makhluk ciptaan Tuhan lainnya yang jauh sudah ada sebelum manusia diciptakan.
Sesekali aku menengok kebelakang untuk memastikan keadaan rekan-rekanku yang lain. Sesekali jua kutanya keadaan fisik mereka. Wajah tegang dan khawatir tidak bisa mereka tutupi, dapat dengan jelas kulihat. Harus kuakui akupun juga sedikit tegang, tapi tetap kucoba untuk tetap tenang agar mereka juga tidak menjadi panik.

Kami kembali menemui persimpangan setelah beberapa ratus meter berjalan setelah break adzan maghrib tadi. Disini kembali terjadi konflik kecil yang bisa berakibat fatal, disatu sisi track terpampang tulisan  “Jalur 3B”. Terdapat pula sebuah plang memanjang  bertuliskan ß 5000m – 5010m à. 5000m mengarah kearah jalur depan kami dan yang 5010m mengarah ke jalur bertuliskan “Jalur 3B” tadi. Tidak ada satupun pita yang kulihat di kedua jalur tersebut, aku juga sempat terbingungkan dengan hal itu sebelum aku menggunakan nalarku untuk memilih arah. Bagi pendaki atau tracker hal tersebut sangatlah sering dijumpai, disitulah kekompakkan tim, kebersamaan, dan keegoisan akan terlihat. Seandainya saja ada salah satu diantara sebuah kelompok yang tidak kompak, atau egois dan ingin menuruti kemauannya sendiri, dan ia memutuskan untuk memisahkan diri dari kelompoknya, memilih jalur yang berbeda, maka kelompok tersebut sudah dapat dikatakan terpecah dan tidak memiliki rasa kebersamaan yang kuat. But… syukur Alhamdulillah kami tidak termasuk sebagai kelompok yang demikian. Kesemua rekanku bisa menyatukan hati dan fikirannya untuk tetap fokus dan menjatuhkan pilihan pada jalur yang sama.
Kutelusuri terus jalur yang kami pilih tadi, didalam hati  ku lafazkan terus dzikir agar diberikan keselamatan pada malam itu. Sampai pada akhirnya kami menemukan tanda-tanda bahwa kami memang berada pada jalur yang benar.

“Aaalllhaamduuliillllaaahhhh…….”, serentak kami mengucapkan puji syukur saat kami melihat dua persimpangan terakhir yang menjadi tanda kami sudah berada di track 1, sekaligus menjadi penanda  selesainya tracking kami pada malam itu. Mereka terlihat begitu senang dan lega telah berhasil menyelesaikan trackingnya, segeranya kami kembali ke pos 1 untuk beristirahat. Kami menyusuri jembatan tua yang cukup panjang, suara burung, jangkrik, dan hewan-hewan lainnya begitu tajam terdengar masuk ke telinga kami. Kami mendapati pemandangan yang sangat jarang kami temui, sepanjang jembatan tersebut terdapat banyak sekali kunang-kunang yang berterbangan. Cahaya kecil berwarna kuning dari tubuhnya seakan  menjadi penyempurna suasana gembira yang kami rasakan.

Dibawah langit berbintang, dibawah cahaya bulan penuh di hutan lindung Sungai Wain, kami Duta Wisata Manuntung Balikpapan berhasil melewati semua track yang ada didalamnya. Dan suatu kebanggaan aku bisa bersama mereka pada malam itu. Kami merayakan keberhasilan itu dengan berfoto-foto ria. Bergaya bak laksana bulan yang memanggil #lohengganyambung…. Maksudnya laksana model yang sedang dalam sesi pemotretan. Memanfaatkan semua SDP(sumber daya properti) yang ada dari senter, daun-daun kering, topi, dan masih banyak lagi yang bila kusebutkan bakal banyak banget, tapi tetaplah…. engga bakal bisa menyaingi banyaknya cintaku buat si doi #LOHHHH

Kurang lebih pukul 20.00 kami kembali ke pos keamanan, kami menunggu pak Agus yang sebelumnya juga telah meneleponku menanyai tentang keadaan kami. Kami berganti pakaian, mencuci tangan dan muka, bercerita, tertawa bersama, seakan tidak ada rasa lelah ditubuh kami. Tak lama kemudian hujan turun mengguyur kota Balikpapan. Tak kubayangkan jika hujan turun lebih awal saat kami masih didalam hutan tadi. Panca, Indah, Nia dan Ozan pamit untuk pulang lebih dulu. Mungkin karena rasa lelah mereka sudah mulai terasa atau kebetulan hujan juga sudah mulai berhenti turun dari langit. Tersisalah aku, Reval, Chris, dan Matthiuw yang masih bertahan untuk menunggu pak Agus. Sesaat mereka hendak pulang, disaat yang bersamaan pak Agus juga datang dan langsung menyalami mereka. Kemudian menghampiri kami yang tersisa di pendopo pos keamanan. Pak Agus sangat kagum kepada kami karena telah berhasil melewati semua track tanpa pendamping. Dia menceritakan pengalamannya selama puluhan tahun menjadi penjaga HLSW, sangat banyak sekali. Menambah pengetahuan kami, dan kembali memberikan rasa penasaran yang cukup besar. Bahkan beliau menantang kami untuk tracking tengah malam. Waaahhhh….. bisa dimasukkan kedalam agenda fikirku.

Kurang lebih pukul 22.30 kami pamit pulang, ada lantuman dari dalam perut kami. Lapar binggiiittt dah…. Aku yang berboncengan dengan Reval berbagi cerita tentang apa saja yang kami lihat didalam hutan tadi. Ternyata kurang lebih sama saja yang kami lihat dan rasakan. Akhirnya kami memutuskan untuk diner di rumah makan nasi goreng yang tak boleh disebutkan namanya. Hahahahahaa……… Okeehh…. Kita udahan dulu, nantikan petualangan selanjutnya di “Sungai Air Hitam, Semboja” bersama kami Duta Wisata Manuntung Balikpapan 2014.

Sebuah pengalaman yang sangat berharga, berpetualang bersama kalian keluarga kecilku. Akan kuceritakan kepada anak cucuku nanti #copasfilm5cm. 

1 komentar:

  1. Terharu membacanya..sebuah kebersamaan yang sungguh tidak bisa ditukar dengan uang :') bangga menjadi bagian dari kalian sodara ku...
    I miss you indeed my lil Family

    BalasHapus