Sabtu, 12 Oktober 2013

BILA TIBA #Puisi

Sebuah pengharapan terlahir dari sebuah pertemuan
Seakan takdir mulai menampakkan wujudnya
Menantikan detik yang berlalu lambat didalam kesendirian
Memetik kasih yang mungkin akan segera diberikan Tuhan
Namun takdir belum memutuskan
Seonggok keanggunan yang ditawarkan ternyata hanyalah sebuah belati
Menciptakan luka kecil dan menghadirkan perih yang mendalam
Dan menjadikan sebuah harapan menjadi asa yang tak bermakna
Kuyakinkan dalam hati...
Bersama doa kusematkan namanya
Bila tiba saat Tuhan menghempaskan maksudnya
Tak akan pernah kulepas genggam tangannya
Bukan maksud aku berjanji
Bukan maksud aku bersumpah
Namun adalah sebuah rasa mengerti
Betapa sakit ketika aku menantinya
Betapa duka ketika aku tak bersamanya

12 Oktober 2013
Andin Destian

Sabtu, 24 Agustus 2013

SURGA DIKAKIMU #Puisi

280 hari bukanlah waktu yang singkat
Beban yang kuberikan seakan begitu mudah kau jalani
Kekuatan hati dan kasih sayang menjadi penopang
Atas semua kesakitan dan keluh kesah selama mengandungku
Didasari keikhlasan kau menjagaku
Dilandasi kelembutan kau merawatku di rahimmu
Menjadikanku seonggok daging yang siap melawan dunia
Memberikanku pembekalan dari semua sifat mulia yang kau miliki
Dan melahirkanku sebagai insan suci belum ternoda
Apa yang kau beri tidaklah sebanding dengan apa yang kubalas nanti
Segala usaha, jerih payah, beban, dan doa....
Tak ada setitik pun yang mampu melunasi setiap jeritanmu saat melahirkanku
Tak ada yang mampu mengganti setiap tetesan air susumu
Tak akan ada yang berhasil menggantikan airmatamu
Dan tak ada yang akan sanggup membayar senyum cantikmu
Sebelum aku bisa menuju surga di kakimu

23 Agustus 2013
From your son, Happy B'thday Mother...

Jumat, 16 Agustus 2013

Matematika Cinta

“bagaimana anak-anak untuk tugasnya kemarin, apa ada yang sudah selesai?”

Suasana kelas sunyi layaknya di kuburan yang ada hanya malaikat yang mencatat pelajaran eh salah maksudnya mencatat amal baik dan amal buruk, tapi beneran loh sepi banget rasanya ini kelas soalnya setauku ngak ada tu yang selesai tugas dari ms.killer kali ini. Jadi, kalian tau donk rasanya kalau di tatap oleh seseorang dan keringat dingin membanjiri tubuh, tapi yang natap bukan pacar ya! kalau doi yang lihatin gue setahun juga ngak apa-apa deh. Sumpah gue paling ngak tahan di buat malu nah ms.killier ini kalau seandainya jikalau andaikata apabila gue ngak bisa ngerjain itu tugas mau di taroh dimana muka gue yang udah kayak bidadari ini.

Klop banget nih tamingnya, udah semalam gue begadang karena nyoba jawab ini soal yang pada akhirnya masih ngak bisa gue jawab di tambah ini kelas sepi banget sukses bikin gue tidur.

“tok tok tok.” Suara pintu kelas di ketuk *ya iyalah ya pintu kelas masak iya atap kelas*

“assalamualaikum, permisi buk saya murid pindahan ini surat penganyar dari bapak kepsek.”

“oh baiklah, kamu langsung duduk di sebelah puspa perkenalanya nanti saja saya tidak mau jam pelajaran habis untuk hal yang tidak penting.”

“baik bu!”

“tapi sebelumnya kamu pinjam buku di puspa dan kerjakan semua soal itu, ibu ingin buktin kemampuanmu”

What ini guru emang killer banget orang baru pindah sekolah kayak gitu langsung di suruh ngerjain soal tapi untung deh setidaknya gue lepas dari masalah.

“hey permisi saya di suruh ms. Killer pinjem buku matematika kamu.”

“ehm ya nih bukunya, tau darimana loh kalau dia itu ms. Killer?” kami bicara berbisik, soalnya kalau ketauan bisa gaswat.

“dari mukanya kelihatan kok tapi tenang aja loe selamat kok gue bisa ngerjaiinya.”

Cowok itu mengerlingkan sebelah matanya dan gue hanya bisa senyum ngak jelas tapi bodoh amat pokoknya thank you so much.

“ehm puspa, mau aku traktir ngak?”

“loh kamu tau nama aku?” pertanyaan terbodoh yang pernah gue tanyain, tadikan jelas-jelas dia tau dari ms. Killer

“ha?” cowok itu hanya tersenyum “kenapa kamu ngak Tanya nama aku aja. Kamukan belum tau namaku.”

“ha iya benar. Nama…”

“udah telat nanyanya. Langsung aku jawab aja nama aku somad.”

“he?”

“udah ngak usah sok kaget gitu, nama aku emang kampungan tapi baguslah buat melestarikan bahasa betawi, oh ya kalau masalah tampang aku yang indo ini kerena ibu aku orang betawi dan ayah orang aku itu orang betawi juga.”

“loh kok bisa?”

“tuhkan mulai deh ngak connectnya, orang aku udah ketawa dari tadi itu tandannya aku becanda.”

“ooo, hehehe.”

“telat lagi ketawanya. Ke kantin aja deh laper.”

Somad langsung menarik tanganku dan menyeretku ke kantin. Aku hanya bengong, somad langsung melepaskan tanganku saat dia sadar mengenggam tanganku.

“maaf gue ngak maksudnya aku ngak maksud. Ah kok jadi ribet gini kalimatnya.”

“udah ngak usah salting gitu donk mad. Aku tau kok kalau aku itu emang cantik tapi ngak usah segitunya kali.” Aku tersenyum penuh kemenangan akhirnya aku bisa membalas ejekkanya cowok berwajah indo ini.

“hemm dasar.”

“yah kau benar nak, silahkan duduk.”

“makasih buk.”

Sudah beberapa minggu ini aku sukses menyelesaikan tugas matematika dan menjadi salah satu murid kesayangan ms.Killer ehtapi sekarang aku ngak pakai sebutan itu lagi soalnya kata somad kalau mau bisa matematika pertama kita harus berdamai dengan gurunya dan menyayangi pelajaran tersebut. Eh, tau ngak sejak pertama bertemu somad aku dan somad emang udah akrab ngak tau kenapa tapi sepertinya aku punya something dengan somad tapi entahlah, soalnyakan somad itu keren banget seandainya aja ngak ada yang ngefans sama somad tapikan itu tadi ngak mungkin somadkan cakep banget.

“puspa hari ini aku ngak bisa temenin kamu ke toko buku soalnya kau ada acara sama seseorang.”

“siapa?”

“mau tau aja. Ah, atau kamu cemburu ya?”

“kata siapa?”

“kata aku”

“buktinya?’

“itu muka kamu merah. Cielah ayo ngaku.”

“ngak kok beneran.”

“ayo ngaku.”

“beneran soamd, udah pergi sana entar telat lagi.”

“ya udah aku pulang duluan ya, jangan jelous ya.”

“ngak bakalan. Ngak bakalan ngak nangis lihat kamu jalan sama cewek lain.” Aku berkata lirih.

“apa? ngak kedengaran?”

“aku bilang, cepet pergi atau aku lempar pakai sepatu nih.”

Aku hanya mondar-mandir di toko buku, ngak tau kenapa kok bisa gini. Rencananya sih sampai di toko buku aku langsung beli buku terus pulang tapi kok sekarang jadi ngak jelas gini, parahnya lagi aku ingat somad itu cowok lagi apa ya sekarang? Ehm kok kayaknya aku dengar lagunya one time deh tapi kok di toko buku di puter lagu sih? Atau eh iya lupa itukan nada dering hp aku. Somad? Telpon aku? Katanya lagi ngedate?

“halo kenapa?”aku mengangkat telpon dengan suara yang sedikit ketus.

“aduh jangan sok ketus gitu donk suaranya. Masih jelous ya?”

“hallo, kenapa somad? Apa ada yang bisa saya Bantu?”

“bisakah anda menyuruh orang yang bernama puspa untuk membaca sms dari aku sekarang?”

Kapan somad kirim sms ya, kok ngak ada tandanya sih? Iya sih ada sms dari somad

“eh iya ada kok.”

“cepat ya jangan lama-lama.”

Telpon langsung di matikan. Sms teka-teki? Tantangan nih kayaknya, lumayan buat main-main daripada mondar-mandir ngak jelas di sini.

“perpustakan cinta?” aku bengong saat berhasil memecahkan teka-teki yang di berikan somad tadi, aku kira apaan gitu yang surprise ternyata hanya sebuah perpustakaan yah walaupun namanya perpustakaan cinta tapi tetap aja perpustakaan..

“selamat datang di perpustakaan cinta. Karena kamu pengunjung pertama aku punya hadiah.”

“buku matematika?” aku semakin benggong saat di beri hadiah buku ini sangat jauh dari yang aku harapkan.

“makanya jangan lihat hanya pada satu arah.”

“maksudnya?”

“mulai deh ngak connectnya, ya bukunya di baca.”

“sekarang?”

“oh ngak besok aja, ya sekarang baca yang keras.”

“beneran bacayang keras yah? Okey judul Buku Matematika Cin.. ta” aduh kenapa semua yang ada di sini judulnya cinta-cinta semua sih? “standard kompetensi 2011, kata pengantar buku ini di buat untuk memenuhi standard isi hatiku?” aku semakin bingung.

“kenapa ngak di lanjutin?”

“dan dengan segala ke ikhlasan hati maukah kau jadi pacarku?” nah loh apa tadi yang aku baca, ngak salahkan?

“tentu dengan senang hati my princess akhirnya kamu nembak aku juga.”

“ha? Apa tadi kamu bilang? Kapan aku nembak kamu?”

“yeee tulalit banget sih tadikan kamu baca buku.”

“he ngak adil pokoknya ngak adil.”

“ya udah aku yang nembak deh, kamu mau ngak …”

“aku mau kok whit my pleasure.”

“eh emang aku mau bilang apa tadi? Ke gr-an”

“ya udah, aku pulang deh udah sore nih.”

“eh tunggu okey aku serius, kamu mau ngak jadi my princess?”

“apa ngak kedengaran?”

“KAMU MAU NGAK JADI PACAR AKU?”

Kau tau rasanya di tembak seseorang? Seneng banget kata iklan di tv sih serasa melewatin atmosfer cinta dan menuju rasi bintang paling manis.

“iya somad aku mau…”

“mau apa puspa? He? Kamu tidur lagi ya? Keluar dari kelas SE KA RANG”

“ha? Apa buk? Kok saya di kelas buk? Somadnya mana buk?”

“somad-somad kamu keluar SEKARANG”

Yeee jadi tadi Cuma mimpi? Tapi kok mimpi aku panjang banget rasanya dan anehnya kayak nyata aja. Mimpi yang manis. Aku berjalan menuju pintu keluar dengan mata yang masih setengah terbuka teriakkan ms.killer tadi ternyata ngak cukup buat aku sadar 100% dan walhasil aku menabrak seseorang dan buku-buku yang dia bawa jatuh berserakkan.

“eh kalau jalan pakai mata donk.” Cowok itu memaki ku.

“eh iya maaf ngak sengaja,” aku mencoba membuka mata sepenuhnya dan melihat ke arah orang yang ku tabrak “somad?”

Minggu, 21 Juli 2013

DI PELUPUK SENJA #Puisi

Angin berhembus menyibakkan keraguan di benakku
Kurasakan kehidupan telah berubah
Satu persatu sosok bayangan putih menghilang dari pandangan
Tergantikan oleh kegelapan yang menyatu menutupi kesemua inderaku
Seperti halnya seekor burung kecil yang terpisah dari induknya
Tanpa arah dan tujuan kemana harus mengepakkan sayap
Bak itulah hati ini terbelenggu oleh kebingungan
Kehilangan arah, kehilangan akal, kehilangan semua yang menghiasi
Memejamkan mata menjadi sebuah kesempatan kecil
Mencoba untuk melawan dan menikmati kegelapan tadi
Membayangkan duduk dipangkuan sang alam
Menghadap langit jingga setengah biru yang membentang
Menundukkan kepala dan memohon doa kepada sang pencipta
Agar kelak ada secercah harapan agar tubuh ini bisa melanjutkan perjalanan
Dan bukan diam seperti ini

20 Juli 2013
Andin Destian

Rabu, 17 Juli 2013

Berawal dari Masa Lalu

Aku beranjak dari tempat tidurku kulihat jam menunjukan pukul 06.15 aku segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku masuk di sekolah baruku, aku dan keluargaku baru saja pindah rumah karena pekerjaan ayahku yang membuat kami harus pindah, setelah kurasa sudah rapi aku langsung keluar kamar dan menyapa kedua orangtuaku yang tengah menungguku di meja makan. “Icha, ayo sarapan dulu” ucap ibuku yang tengah menyiapkan roti untukku “iya bu, oh iya ayah hari ini nganterin aku ke sekolah kan?” ucapku “iya ayah anterin,” ucap ayah sambil tersenyum padaku, setelah selesai kami pun berangkat.
                                                 
                                                                          *****

“Anak-anak hari ini kalian mendapatkan teman baru, silahkan masuk Icha” ucap seorang guru cantik mempersilahkan aku masuk ke kelas, aku pun memperkenalkan diriku di depan semua teman-teman baruku yang belum aku kenal dan setelah itu aku duduk di bangkuku.
Bel istirahat pun berbunyi aku keluar dari kelas dan tak sengaja aku menabrak seorang cowok bertubuh tinggi, berkulit sawo matang, berhidung mancung dan berambut agak keriting “maaf, maaf aku gak sengaja” aku merasa sangat bersalah karena gara-gara aku menabraknya handphone yang dia pegang jatuh namun dia hanya diam dan pergi meninggalkanku “maaf banget, handphonenya nanti aku ganti deh” teriakku padanya tapi dia terus berjalan tanpa menengok ke arahku lagi mungkin dia sangat marah padaku, aku sangat merasa bersalah.
Karena perutku terasa lapar aku pun pergi ke kantin, setelah aku memesan makanan aku mencari tempat duduk yang kosong, ku lihat ada bangku yang hanya diduduki oleh seorang cowok dan ternyata cowok itu adalah cowok yang tadi tak sengaja aku tabrak aku ragu untuk duduk di sana namun aku sudah merasa sangat lapar jadi dengan terpaksa aku bejalan mendekatinya “boleh aku duduk disini?” aku bertanya dengan wajah yang sedikit takut tapi seperti biasa dia hanya diam dan tak menjawab sepatah katapun, akhirnya aku pun duduk di sebelahnya. “aku Icha” aku mencoba memperkenalkan diriku padanya dengan mengulurkan tanganku namun dia tetap diam, aku jadi berfikir apakan dia ini tidak bisa bicara.
Beberapa saat kemudian seorang cewek menghampiri kami berdua “kamu siapa? Ngapain kamu duduk disini?” ucap cewek itu ketus padaku “bangku disini penuh semua, Cuma di sini aja yang kosong jadi aku duduk disini” ucapku “alesan aja kamu, bilang aja kamu pengen deket-deket pacar aku kan, mendingan sekarang kamu pergi dari bangku ini” ternyata itu adalah pacar cowok dingin ini “tapi kan ini tempat umum siapa aja boleh duduk disini, lagian aku gak ngedeketin pacar kamu” ucapku membela diri namun dia terlihat sangat marah dengan ucapanku lalu cewek itu mengambil jus yang telah aku pesan dan melemparkan cairan jus itu padaku “. Elsa cukup!!  kamu apa-apaan sih!!!” untuk pertama kalinya aku mendengar cowok itu mengeluarkan suaranya “Hery kamu belain dia?” kata cewek yang bernama Elsa itu, tanpa menjawab ucapan Elsa cowok itu langsung menarik tangan Elsa dan membawanya pergi dari kantin.
Saat mereka telah pergi aku baru sadar kalau semua teman-teman di kantin memperhatikan aku, karena merasa malu aku pun pergi dari kantin menuju toilet untuk membersihkan tubuhku namun tiba-tiba cowok dingin yang ternyata bernama Hery itu menghampiriku dan memberikan sapu tangannya padaku setelah itu dia pergi tanpa bicara apapun aku merasa sangat heran dengan sikap Hery yang tak pernah bicara padaku.

Bel telah berbunyi lagi bertanda waktunya pulang, aku berdiri di depan gerbang menunggu ayahku menjemput tak lama kemudian handphone ku berbunyi dan ternyata ayah mengirim sms dan memberitahuku bahwa dia tidak bisa menjemputku, aku pun berjalan meninggalkan gerbang sekolah ku tiba-tiba sebuah motor berwarna merah menghampiriku “mau bareng?” kata cowok yang ternyata adalah Hery, aku tak percaya ternyata Hery bicara padaku aku terpaku dan menatap nya, ternyata Hery sangat tampan walaupun dia sering bersikap dingin padaku “hei kok diem aja sih? Mau pulang bareng gak?” katanya menyadarkan aku dari lamunanku “emm, kamu ngajakin pulang bareng? Gak salah? tadi di sekolah kan kamu dingin banget sama aku, kok sekarang tiba-tiba ngajak pulang bareng sih?” tanyaku heran “jangan keGRan yah aku ngajakin pulang bareng Cuma sebagai tanda maaf aja soalnya baju kamu kotor gara-gara Elsa, jadi yah kasian aja kalau kamu pulang sendiri dengan baju kamu yang kotor itu” ucap Hery dengan wajah yang datar “gak usah deh aku bisa pulang sendiri kok lagian aku udah maafin kamu sama Elsa, jadi gak usah repot-repot mau nganterin aku” ucapku sambil berjalan meninggalkannya. Namun Hery mengikutiku “udah cepet naik” katanya sambil menarik tanganku untuk naik ke motornya, aku merasa kesal karena Hery memaksa ku untuk pulang bareng dengannya tapi di sisi lain ada perasaan senang karena aku bisa pulang bareng sama Hery, semoga ini bukan perasaan suka karena aku gak mungkin suka sama cowok yang selalu bersikap dingin padaku.

Di perjalanan aku dan Hery tidak bicara apapun kami sama-sama diam namun tiba-tiba arman bertanya padaku “rumah kamu yang di depan itu kan?” katanya yang membuatku heran mengapa Hery bisa tau rumahku padahal kami baru kenal “ko kamu tau kalau yang di depan itu rumah aku?” tanyaku, namun Hery tak menjawabnya dia hanya diam. Beberapa saat kemudian kami sampai di depan rumahku, Hery menghentikan motornya lalu aku pun turun namun setelah itu Hery langsung melaju pergi tanpa berkata apapun, aku merasa dia benar-benar cowok yang sangat aneh.
Aku masuk ke dalam rumah namun tak ada siapa-siap di rumah ku, ayah sedang meeting dan ibu pasti sedang arisan sedangkan pembantuku sejak seminggu yang lalu pulang kampung. Aku pun pergi ke kamarku dan membaringkan tubuhku di kasur, ku tatap langit-langit kamarku entah kenapa tiba-tiba wajah Hery muncul di depan mataku aku membayangkan lagi kejadian hari ini di sekolah, saat aku menabrak Hery, lalu saat Hery memberikan sapu tangannya padaku aku tersadar tentang sapu tangan yang arman berikan padaku ternyata belum aku kembalikan, aku pun mengeluarkan sapu tangan itu dari dalam tas ku lalu aku memperhatikan sapu tangan itu dan aku melihat ada tulisan “I.H” aku teringat sesuatu saat melihat tulisan itu aku mencoba mengingatnya namun aku benar-benar lupa.
Suasana di kamarku pun tiba-tiba hening sampai terdengar suara handphone ku berbunyi, aku mengambilnya ternyata ada telepon dari nomor yang tidak aku kenal lalu aku mengangkatnya “hallo? Siapa ini?” tanyaku “kalau kamu mau tau siapa aku, hari minggu nanti kamu harus ke bandung terus kamu datang ke sungai yang ada di belakang taman yang dulu sering kamu datangi, dan inget kamu harus bawa barang yang berhubungan dengan masa lalu kamu” ucap cowok misterius itu “memangnya ini siapa? Kenapa aku aku harus datang ke bandung, hallo, hallo?” suaranya terputus, aku merasa sangat heran sebenarnya siapa cowok yang menelpon ku tadi dan kenapa dia menyuruhku datang ke bandung dan membawa barang-barang masa lalu ku, apa maksud semua ini, seribu pertanyaan menghantui pikiranku.

Hari ini aku tidak melihat Hery di sekolah, aku sudah mencari Hery ke kelasnya namun temannya bilang Hery tidak masuk sekolah padahal aku ingin mengembalikan sapu tangan. Namun Hery malah tidak masuk sekolah dan entah kenapa muncul perasaan sedih saat aku tidak melihat Hery hari ini, aku jadi teringat penelpon misterius kemarin sore dan aku jadi merasa sangat penasaran sebenarnya siapa cowok itu.
Akhirnya waktu pulang pun tiba aku senang hari ini ayah menjemputku, di perjalanan aku bertanya pada ayah “yah besok kan hari minggu, boleh gak yah aku besok pengen ke bandung?” “mau ngapain kamu ke bandung?  kita kan udah pindah ke Jakarta,” ucap ayah “aku kangen aja sama rumah yang di bandung yah, sekalian aku juga pengen ketemu temen-temen aku disana, boleh kan yah?” aku berharap ayah mengijinkanku pergi kesana “terus kamu mau ke bandung sama siapa? Ayah kan sibuk rini, ayah banyak pekerjaan sekarang” aku sedikit kecewa dengan jawaban ayah “aku berangkat sendiri aja yah, gak apa-apa kok lagian di bandung kan aku bisa nginep di rumah tante Rina, gimana yah boleh gak?” aku terus memohon pada ayah agar ayah memberikan ijin padaku “kamu berani berangkat sendiri? Ibu pasti gak kan ngijinin kamu berangkat sendiri, udahlah Icha lain kali aja ke bandung nya” aku diam tak menjawab perkataan ayah, aku sangat kesal karena ayah tak mengijinkanku ke bandung “ya sudah kalau kamu benar-benar mau ke sana ayah ijinkan tapi kamu pergi kesana sama pak Dodi yah soalnya ayah takut terjadi apa-apa sama kamu kalau kamu pergi sendiri” aku lega mendengar keputusan ayah perlahan aku tersenyum karena aku merasa sangat senang.

Pagi itu aku sudah bersiap-siap untuk pergi, sebelum aku pergi aku berpamitan kepada kedua orangtuaku “hati-hati di jalan yah Icha, inget kamu di bandung Cuma ibu kasih waktu 3 hari setelah itu kamu harus langsung pulang” kata ibu sambil memeluk ku “iya bu Cuma 3 hari” ucapku sambil tersenyum pada ibu dan ayah “pak jangan ngebut-ngebut yah, jagain anak saya” kata ayah ke pak Dodi supir pribadi ayah “siap pak” jawab pak Dodi dengan sopan, setelah mengobrol sebentar dengan orangtuaku aku pun bergegas pergi.
Beberapa jam kemudian aku telah sampai di rumah tante Rina. Tante Rina sangat senang karena 3 hari kedepan aku akan menginap di rumahnya karena tante Rina hanya tinggal sendiri di rumahnya jadi aku bisa menemani tante Rina untuk 3 hari kedepan.
Sore itu aku pergi ke sungai masa kecilku, sebenarnya aku berharap bisa bertemu cowok misterius itu, namun sudah hampir 1 jam aku duduk di pinggir sungai itu dan tak ada satu orang pun yang datang menghampiriku, aku jadi berfikir apakah cowok misterius itu hanya mengerjaiku saja. Pada akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah tante Rina namun tiba-tiba aku mendengar suara musik yang berasal dari tempat yang tadi aku duduki karena penasaran aku pun kembali ke tempat tadi dan aku melihat ada kotak musik, aku heran siapa yang menyimpan kotak musik itu. Aku pun mengambilnya dan aku melihat ada secarik kertas yang menempel di kotak musik itu, kubaca surat itu dan isi surat itu menyuruhku untuk datang lagi ke sungai ini besok jam 10.00 pagi aku jadi yakin bahwa yang mengirim surat ini adalah cowok misterius itu, aku melihat ke sekeliling sungai itu namun aku tidak melihat siapapun hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan datang lagi besok pagi sesuai dengan isi surat itu.

Aku berjalan menuju sungai masa kecilku, hari ini aku berharap bisa bertemu dengan cowok misterius itu karena aku makin penasaran sebenarnya siapa cowok yang sepertinya telah mengenalku dari dulu. Sesampainya di sungai aku duduk di pinggir sungai itu, aku melihat sekeliling sungai itu entah kenapa sebuah kenangan menghampiri pikiranku, kenangan masa kecilku dengan cowok yang menyebutkan namanya adalah IH. cowok yang menurutku aneh karena namanya sangat singkat, aku mengenalnya di sungai ini, saat itu aku masih berumur 7 tahun, aku melihat seorang anak cowok sedang menangis di pinggir sungai aku menghampirinya dan memberikannya permen lollipop milikku, dia pun mengambil lollipop itu dan tersenyum padaku, dan semenjak itu aku dengan IH menjadi akrab setiap hari kami selalu main ke sungai ini. Sampai pada suatu hari IH tidak memberiku kabar dan tiba-tiba menghilang. Aku tidak tahu IH pergi kemana dan sampai sekarang aku masih tidak tau kemana teman kecilku itu.
Beberapa saat kemudian aku tersadar ada seorang cowok yang duduk di sebelahku dan aku tidak percaya cowok yang sekarang ada di sampingku adalah arman cowok yang selalu bersikap dingin padaku “apa kabar?” katanya menyadarkan lamunanku “Hery? Kenapa kamu ada disini? Dan sejak kapan kamu duduk disini?” aku benar-benar tidak menyadari keberadaan Hery karena aku terlalu serius mengingat masa kecilku, aku juga heran kenapa Hery bisa tau aku ada di sini apakah Hery adalah cowok misterius itu? Aku benar-benar bingung dengan semua ini, lalu dengan tiba-tiba Hery mengeluarkan sebuah permen lollipop yang sudah agak retak “masih inget sama permen ini?” ucap Hery sambil menunjukan permen itu padaku sesaat aku langsung ingat teman kecilku yang dulu tiba-tiba menghilang “kamu IH? Jadi IH itu adalah kamu Her?” aku makin heran dan bingung lalu arman menatapku “iya Icha, ini aku IH anak cowok yang dulu nangis terus kamu kasih permen ini, aku masih nyimpen permen ini karena aku yakin aku bakalan ketemu lagi sama kamu, Icha maaf dulu aku tiba-tiba pergi dan gak ngasih kabar sama kamu, aku punya alasan kenapa aku kaya gitu” ucap arman sambil menggenggam tanganku “jadi kamu IH, kenapa kamu gak bilang dari awal Hery? Kenapa kamu malah bersikap dingin sama aku? Dan kenapa dulu kamu ninggalin aku?” ucapku dengan sangat penasaran “waktu kamu pertama kali masuk sekolah aku masih belum yakin kalau kamu adalah Icha temen kecil aku makannya aku bersikap dingin sama kamu, tapi karena aku penasaran banget sama kamu, aku nyari informasi tentang kamu dan setelah aku tau kalau kamu pindahan dari bandung aku makin penasaran sama kamu makannya aku telepon kamu dan nyuruh kamu datang ke bandung biar aku bisa bener-bener yakin kalau kamu Icha temen kecil aku. Dan maaf dulu aku tiba-tiba pergi aku mendadak harus pindah ke Jakarta soalnya ayah sama ibu aku cerai dan aku ikut ibu kejakarta, sekali lagi maaf yah.”
Aku benar-benar merasa bahwa ini semua adalah mimpi, temen kecil yang dulu tiba-tiba pergi ninggalin aku adalah Hery, cowok misterius itu juga Hery dan ternyata Hery memiliki orangtua yang sudah berpisah, mungkin itu yang membuat dia menjadi cowok yang bersikap dingin sama orang lain. “jujur aku masih merasa kalau ini adalah mimpi, aku gak nyangka ternyata kamu adalah temen kecil aku dan kita bisa ketemu lagi setelah beberapa tahun kita gak ketemu” ucapku sambil tersenyum padanya, aku merasa sangat senang karena aku bisa bertemu dengan IH yang ternyata adalah Hery.


“Icha, aku mau jujur sesuatu sama kamu.” Kata Hery. “jujur apa lagi?” kataku dan tersenyum padanya “semenjak aku kenal kamu dulu aku udah mulai suka sama kamu, dulu waktu aku pergi aku berharap bisa ketemu kamu lagi dan mengungkapkan perasaan aku, sekarang waktu yang tepat kamu tau perasaan aku. Kamu mau gak jadi pacar aku?” Hery mengatakan hal yang membuat jantung aku deg-degan, apa mungkin aku juga jatuh cinta sama Hery, aku mencoba menatap matanya “kamu serius sama omongan kamu? Tapi bukannya kamu udah pacaran sama Elsa?” ucapku. “aku sama Elsa nggak pacaran, dia aja yang ngaku-ngaku jadi pacar aku pdahal nggak, aku sukanya sama kamu dari dulu, jadi apa jawaban kamu?” ucap Hery, aku merasa aku juga sudah jatuh cinta padanya jadi tidak ada salahnya jika aku mencoba “iya aku mau jadi pacar kamu.” Aku sudah sangat yakin dengan jawabanku, akhirnya kenangan kecilku menjadi kisah cinta yang akan aku mulai bersama Hery, dan aku percaya bahwa cinta bisa berawal dari apa saja bahkan bisa berawal dari masa lalu kita sendiri.