Aku beranjak dari tempat tidurku kulihat jam menunjukan pukul 06.15 aku
segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Hari ini
adalah hari pertamaku masuk di sekolah baruku, aku dan keluargaku baru saja
pindah rumah karena pekerjaan ayahku yang membuat kami harus pindah, setelah
kurasa sudah rapi aku langsung keluar kamar dan menyapa kedua orangtuaku yang
tengah menungguku di meja makan. “Icha, ayo sarapan dulu” ucap ibuku yang
tengah menyiapkan roti untukku “iya bu, oh iya ayah hari ini nganterin aku ke
sekolah kan?” ucapku “iya ayah anterin,” ucap ayah sambil tersenyum padaku,
setelah selesai kami pun berangkat.
*****
“Anak-anak hari ini kalian mendapatkan teman baru, silahkan masuk Icha” ucap
seorang guru cantik mempersilahkan aku masuk ke kelas, aku pun memperkenalkan
diriku di depan semua teman-teman baruku yang belum aku kenal dan setelah itu
aku duduk di bangkuku.
Bel istirahat pun berbunyi aku keluar dari kelas dan tak sengaja aku
menabrak seorang cowok bertubuh tinggi, berkulit sawo matang, berhidung mancung
dan berambut agak keriting “maaf, maaf aku gak sengaja” aku merasa sangat
bersalah karena gara-gara aku menabraknya handphone yang dia
pegang jatuh namun dia hanya diam dan pergi
meninggalkanku “maaf banget, handphonenya nanti aku ganti deh” teriakku padanya
tapi dia terus berjalan tanpa menengok ke arahku lagi mungkin dia sangat marah
padaku, aku sangat merasa bersalah.
Karena perutku terasa lapar aku pun pergi ke kantin, setelah aku memesan
makanan aku mencari tempat duduk yang kosong, ku lihat ada bangku yang hanya
diduduki oleh seorang cowok dan ternyata cowok itu adalah cowok yang tadi tak
sengaja aku tabrak aku ragu untuk duduk di sana namun aku sudah merasa sangat
lapar jadi dengan terpaksa aku bejalan mendekatinya “boleh aku duduk disini?”
aku bertanya dengan wajah yang sedikit takut tapi seperti biasa dia hanya diam
dan tak menjawab sepatah katapun, akhirnya aku pun duduk di sebelahnya. “aku
Icha” aku mencoba memperkenalkan diriku padanya dengan mengulurkan tanganku
namun dia tetap diam, aku jadi berfikir apakan dia ini tidak bisa bicara.
Beberapa saat kemudian seorang cewek menghampiri kami berdua “kamu siapa?
Ngapain kamu duduk disini?” ucap cewek itu ketus padaku “bangku disini penuh
semua, Cuma di sini aja yang kosong jadi aku duduk disini” ucapku “alesan aja
kamu, bilang aja kamu pengen deket-deket pacar aku kan,
mendingan sekarang kamu pergi dari bangku ini” ternyata itu adalah pacar cowok
dingin ini “tapi kan ini tempat umum siapa aja boleh duduk disini, lagian aku
gak ngedeketin pacar kamu” ucapku membela diri namun dia terlihat sangat marah
dengan ucapanku lalu cewek itu mengambil jus yang
telah aku pesan dan melemparkan cairan jus itu padaku “. Elsa cukup!! kamu apa-apaan sih!!!” untuk pertama kalinya
aku mendengar cowok itu mengeluarkan suaranya “Hery kamu belain dia?” kata
cewek yang bernama Elsa itu, tanpa menjawab ucapan Elsa cowok itu langsung
menarik tangan Elsa dan membawanya pergi dari kantin.
Saat mereka telah pergi aku baru sadar kalau semua teman-teman di kantin
memperhatikan aku, karena merasa malu aku pun pergi dari kantin menuju toilet untuk membersihkan tubuhku namun tiba-tiba cowok
dingin yang ternyata bernama Hery itu menghampiriku dan memberikan sapu
tangannya padaku setelah itu dia pergi tanpa bicara apapun aku merasa sangat
heran dengan sikap Hery yang tak pernah bicara padaku.
Bel telah berbunyi lagi bertanda waktunya pulang, aku berdiri di depan
gerbang menunggu ayahku menjemput tak lama
kemudian handphone ku berbunyi dan ternyata ayah mengirim sms dan memberitahuku
bahwa dia tidak bisa menjemputku, aku pun berjalan meninggalkan gerbang sekolah
ku tiba-tiba sebuah motor berwarna merah menghampiriku “mau bareng?” kata cowok
yang ternyata adalah Hery, aku tak percaya ternyata Hery bicara padaku aku
terpaku dan menatap nya, ternyata Hery sangat tampan walaupun dia sering
bersikap dingin padaku “hei kok diem aja sih? Mau pulang bareng gak?” katanya
menyadarkan aku dari lamunanku “emm, kamu ngajakin pulang bareng? Gak salah?
tadi di sekolah kan kamu dingin banget sama aku, kok sekarang tiba-tiba ngajak
pulang bareng sih?” tanyaku heran “jangan keGRan yah aku ngajakin pulang bareng
Cuma sebagai tanda maaf aja soalnya baju kamu kotor gara-gara Elsa, jadi yah
kasian aja kalau kamu pulang sendiri dengan baju kamu yang kotor itu” ucap Hery
dengan wajah yang datar “gak usah deh aku bisa pulang sendiri kok lagian aku
udah maafin kamu sama Elsa, jadi gak usah repot-repot mau nganterin aku” ucapku
sambil berjalan meninggalkannya. Namun Hery mengikutiku “udah cepet naik”
katanya sambil menarik tanganku untuk naik ke motornya, aku merasa kesal karena
Hery memaksa ku untuk pulang bareng dengannya tapi di sisi lain ada perasaan
senang karena aku bisa pulang bareng sama Hery, semoga ini bukan perasaan suka
karena aku gak mungkin suka sama cowok yang selalu bersikap dingin padaku.
Di perjalanan aku dan Hery tidak bicara apapun kami sama-sama diam namun
tiba-tiba arman bertanya padaku “rumah kamu yang di depan itu kan?” katanya yang
membuatku heran mengapa Hery bisa tau rumahku padahal kami baru kenal “ko kamu
tau kalau yang di depan itu rumah aku?” tanyaku, namun Hery tak menjawabnya dia
hanya diam. Beberapa saat kemudian kami sampai di depan rumahku, Hery
menghentikan motornya lalu aku pun turun namun setelah itu Hery langsung melaju
pergi tanpa berkata apapun, aku merasa dia benar-benar cowok yang sangat aneh.
Aku masuk ke dalam rumah namun tak ada siapa-siap di rumah ku, ayah sedang
meeting dan ibu pasti sedang arisan sedangkan pembantuku sejak seminggu yang
lalu pulang kampung. Aku pun pergi ke kamarku dan membaringkan tubuhku di
kasur, ku tatap langit-langit kamarku entah kenapa tiba-tiba wajah Hery muncul
di depan mataku aku membayangkan lagi kejadian hari ini di sekolah, saat aku
menabrak Hery, lalu saat Hery memberikan sapu tangannya padaku aku tersadar
tentang sapu tangan yang arman berikan padaku ternyata belum aku kembalikan,
aku pun mengeluarkan sapu tangan itu dari dalam tas ku lalu aku memperhatikan
sapu tangan itu dan aku melihat ada tulisan “I.H” aku teringat sesuatu saat
melihat tulisan itu aku mencoba mengingatnya namun aku benar-benar lupa.
Suasana di kamarku pun tiba-tiba hening sampai terdengar suara handphone ku
berbunyi, aku mengambilnya ternyata ada telepon dari nomor yang tidak aku kenal
lalu aku mengangkatnya “hallo? Siapa ini?” tanyaku “kalau kamu mau tau siapa
aku, hari minggu nanti kamu harus ke bandung terus kamu datang ke sungai yang
ada di belakang taman yang dulu sering kamu datangi, dan inget kamu harus bawa
barang yang berhubungan dengan masa lalu kamu” ucap cowok misterius itu
“memangnya ini siapa? Kenapa aku aku harus datang ke bandung, hallo, hallo?”
suaranya terputus, aku merasa sangat heran sebenarnya siapa cowok yang menelpon
ku tadi dan kenapa dia menyuruhku datang ke bandung dan membawa barang-barang
masa lalu ku, apa maksud semua ini, seribu pertanyaan menghantui pikiranku.
Hari ini aku tidak melihat Hery di sekolah, aku sudah mencari Hery ke kelasnya
namun temannya bilang Hery tidak masuk sekolah padahal aku ingin mengembalikan
sapu tangan. Namun Hery malah tidak masuk sekolah dan entah kenapa muncul perasaan
sedih saat aku tidak melihat Hery hari ini, aku jadi teringat penelpon
misterius kemarin sore dan aku jadi merasa sangat penasaran sebenarnya siapa
cowok itu.
Akhirnya waktu pulang pun tiba aku senang hari ini ayah menjemputku, di
perjalanan aku bertanya pada ayah “yah besok kan hari minggu, boleh gak yah aku
besok pengen ke bandung?” “mau ngapain kamu ke bandung? kita kan udah pindah ke Jakarta,” ucap ayah
“aku kangen aja sama rumah yang di bandung yah, sekalian aku juga pengen ketemu
temen-temen aku disana, boleh kan yah?” aku berharap ayah mengijinkanku pergi
kesana “terus kamu mau ke bandung sama siapa? Ayah kan sibuk rini, ayah banyak
pekerjaan sekarang” aku sedikit kecewa dengan jawaban ayah “aku berangkat
sendiri aja yah, gak apa-apa kok lagian di bandung kan aku bisa nginep di rumah
tante Rina, gimana yah boleh gak?” aku terus memohon pada ayah agar ayah
memberikan ijin padaku “kamu berani berangkat sendiri? Ibu pasti gak kan
ngijinin kamu berangkat sendiri, udahlah Icha lain kali aja ke bandung nya” aku
diam tak menjawab perkataan ayah, aku sangat kesal karena ayah tak
mengijinkanku ke bandung “ya sudah kalau kamu benar-benar mau ke sana ayah
ijinkan tapi kamu pergi kesana sama pak Dodi yah soalnya ayah takut terjadi
apa-apa sama kamu kalau kamu pergi sendiri” aku lega mendengar keputusan ayah
perlahan aku tersenyum karena aku merasa sangat senang.
Pagi itu aku sudah bersiap-siap untuk pergi, sebelum aku pergi aku
berpamitan kepada kedua orangtuaku “hati-hati di jalan yah Icha, inget kamu di
bandung Cuma ibu kasih waktu 3 hari setelah itu kamu harus langsung pulang”
kata ibu sambil memeluk ku “iya bu Cuma 3 hari” ucapku sambil tersenyum pada
ibu dan ayah “pak jangan ngebut-ngebut yah, jagain anak saya” kata ayah ke pak
Dodi supir pribadi ayah “siap pak” jawab pak Dodi dengan sopan, setelah
mengobrol sebentar dengan orangtuaku aku pun bergegas pergi.
Beberapa jam kemudian aku telah sampai di rumah tante Rina. Tante Rina
sangat senang karena 3 hari kedepan aku akan menginap di rumahnya karena tante
Rina hanya tinggal sendiri di rumahnya jadi aku bisa menemani tante Rina untuk
3 hari kedepan.
Sore itu aku pergi ke sungai masa kecilku, sebenarnya aku berharap bisa
bertemu cowok misterius itu, namun sudah hampir 1 jam aku duduk di pinggir
sungai itu dan tak ada satu orang pun yang datang menghampiriku, aku jadi
berfikir apakah cowok misterius itu hanya mengerjaiku saja. Pada akhirnya aku
memutuskan untuk pulang ke rumah tante Rina namun tiba-tiba aku mendengar suara
musik yang berasal dari tempat yang tadi aku duduki karena penasaran aku pun
kembali ke tempat tadi dan aku melihat ada kotak musik, aku heran siapa yang
menyimpan kotak musik itu. Aku pun mengambilnya dan aku melihat ada secarik
kertas yang menempel di kotak musik itu, kubaca surat itu dan isi surat itu
menyuruhku untuk datang lagi ke sungai ini besok jam 10.00 pagi aku jadi yakin
bahwa yang mengirim surat ini adalah cowok misterius itu, aku melihat ke
sekeliling sungai itu namun aku tidak melihat siapapun hingga akhirnya aku
memutuskan untuk pulang dan datang lagi besok pagi sesuai dengan isi surat itu.
Aku berjalan menuju sungai masa kecilku, hari ini aku berharap bisa bertemu
dengan cowok misterius itu karena aku makin penasaran sebenarnya siapa cowok
yang sepertinya telah mengenalku dari dulu. Sesampainya di sungai aku duduk di
pinggir sungai itu, aku melihat sekeliling sungai itu entah kenapa sebuah
kenangan menghampiri pikiranku, kenangan masa kecilku dengan cowok yang
menyebutkan namanya adalah IH. cowok yang menurutku aneh karena namanya sangat
singkat, aku mengenalnya di sungai ini, saat itu aku masih berumur 7 tahun, aku
melihat seorang anak cowok sedang menangis di pinggir sungai aku menghampirinya
dan memberikannya permen lollipop milikku, dia pun mengambil lollipop itu dan
tersenyum padaku, dan semenjak itu aku dengan IH menjadi akrab setiap hari kami
selalu main ke sungai ini. Sampai pada suatu hari IH tidak memberiku kabar dan
tiba-tiba menghilang. Aku tidak tahu IH pergi kemana dan sampai sekarang aku
masih tidak tau kemana teman kecilku itu.
Beberapa saat kemudian aku tersadar ada seorang cowok yang duduk di
sebelahku dan aku tidak percaya cowok yang sekarang ada di sampingku adalah
arman cowok yang selalu bersikap dingin padaku “apa kabar?” katanya menyadarkan
lamunanku “Hery? Kenapa kamu ada disini? Dan sejak kapan kamu duduk disini?”
aku benar-benar tidak menyadari keberadaan Hery karena aku terlalu serius
mengingat masa kecilku, aku juga heran kenapa Hery bisa tau aku ada di sini
apakah Hery adalah cowok misterius itu? Aku benar-benar bingung dengan semua ini,
lalu dengan tiba-tiba Hery mengeluarkan sebuah permen lollipop yang sudah agak
retak “masih inget sama permen ini?” ucap Hery sambil menunjukan permen itu
padaku sesaat aku langsung ingat teman kecilku yang dulu tiba-tiba menghilang
“kamu IH? Jadi IH itu adalah kamu Her?” aku makin heran dan bingung lalu arman
menatapku “iya Icha, ini aku IH anak cowok yang dulu nangis terus kamu kasih
permen ini, aku masih nyimpen permen ini karena aku yakin aku bakalan ketemu
lagi sama kamu, Icha maaf dulu aku tiba-tiba pergi dan gak ngasih kabar sama
kamu, aku punya alasan kenapa aku kaya gitu” ucap arman sambil menggenggam
tanganku “jadi kamu IH, kenapa kamu gak bilang dari awal Hery? Kenapa kamu
malah bersikap dingin sama aku? Dan kenapa dulu kamu ninggalin aku?” ucapku
dengan sangat penasaran “waktu kamu pertama kali masuk sekolah aku masih belum
yakin kalau kamu adalah Icha temen kecil aku makannya aku bersikap dingin sama
kamu, tapi karena aku penasaran banget sama kamu, aku nyari informasi tentang
kamu dan setelah aku tau kalau kamu pindahan dari bandung aku makin penasaran
sama kamu makannya aku telepon kamu dan nyuruh kamu datang ke bandung biar aku
bisa bener-bener yakin kalau kamu Icha temen kecil aku. Dan maaf dulu aku
tiba-tiba pergi aku mendadak harus pindah ke Jakarta soalnya ayah sama ibu aku
cerai dan aku ikut ibu kejakarta, sekali lagi maaf yah.”
Aku benar-benar merasa bahwa ini semua adalah mimpi, temen kecil yang dulu
tiba-tiba pergi ninggalin aku adalah Hery, cowok misterius itu juga Hery dan
ternyata Hery memiliki orangtua yang sudah berpisah, mungkin itu yang membuat
dia menjadi cowok yang bersikap dingin sama orang lain. “jujur aku masih merasa
kalau ini adalah mimpi, aku gak nyangka ternyata kamu adalah temen kecil aku dan
kita bisa ketemu lagi setelah beberapa tahun kita gak ketemu” ucapku sambil
tersenyum padanya, aku merasa sangat senang karena aku bisa bertemu dengan IH
yang ternyata adalah Hery.
“Icha, aku mau jujur sesuatu sama kamu.” Kata Hery. “jujur apa lagi?” kataku
dan tersenyum padanya “semenjak aku kenal kamu dulu aku udah mulai suka sama
kamu, dulu waktu aku pergi aku berharap bisa ketemu kamu lagi dan mengungkapkan
perasaan aku, sekarang waktu yang tepat kamu tau perasaan aku. Kamu mau gak
jadi pacar aku?” Hery mengatakan hal yang membuat jantung aku deg-degan, apa
mungkin aku juga jatuh cinta sama Hery, aku mencoba menatap matanya “kamu
serius sama omongan kamu? Tapi bukannya kamu udah pacaran sama Elsa?” ucapku.
“aku sama Elsa nggak pacaran, dia aja yang ngaku-ngaku jadi pacar aku pdahal
nggak, aku sukanya sama kamu dari dulu, jadi apa jawaban kamu?” ucap Hery, aku
merasa aku juga sudah jatuh cinta padanya jadi tidak ada salahnya jika aku
mencoba “iya aku mau jadi pacar kamu.” Aku sudah sangat yakin dengan jawabanku,
akhirnya kenangan kecilku menjadi kisah cinta yang akan aku mulai bersama Hery,
dan aku percaya bahwa cinta bisa berawal dari apa saja bahkan bisa berawal dari
masa lalu kita sendiri.
Tidak merasa lebih baik atau benar, dan bukan mengajarkan. Tak lebih dari mengingatkan pada diri sendiri dan sekitar. Berbagi pelajaran kecil, motivasi, dan cerita yang terinspirasi dari pengalaman, kegiatan, peristiwa, ataupun kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang disekitar. Bismillah, semoga bermanfaat.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar