Aku tidak mencintainya. Namun karena ia terlalu baik dan sudah banyak
menolong aku dan keluargaku, aku mencoba membuka hati untuknya. Aku
jalani cinta ini dengan Evha walau sedikitpun aku tidak mencintainya.
Setiap hari Evha selalu memperhatikanku, namun tetap saja aku tidak
mencintainya.
Hari ini Evha datang ke rumahku menjenguk ibuku yang sedang sakit. Entah mengapa aku tidak senang dengan kehadiran Evha. Tampak aku lihat
Ibuku penuh senyum kegembiraan menyambutnya. Yaaa... Evha memang bisa
sekali mengambil hati keluargaku, karna itu aku tidak bisa menolak
keluargaku yang menginginkan perjodohan ini. Aku mengabaikan Evha, aku
acuh terhadapnya, dan akupun menduakannya dengan Lisa gadis yang
kucintai.
Pada saat itu Evha menelponku.
"Mas, aku boleh minta tolong gak?" Evha agak gugup.
"Minta tolong apa?" jawabku dengan cetus.
"Emm ini mas, motorku mogok berhubung hari sudah malam dan bengkel sudah
tutup. Mas bisa tidak jemput aku ?" lanjut Evha dengan suara sedikit canggung.
"Oh mas tidak bisa Evha, motor mas juga lagi di pinjam tetangga, kamu naik taksi saja yaa"
"Iya mas", jawab Evha dengan suara kecewa.
*****
Keesokan harinya akupun terbangun dengan mendengar suara tangisan ibuku.
"Duuhh ndo.... ndo malang sekali nasibmu nak", kata ibu dengan sedih.
Akupun
heran dan bertanya pada ibu.
"Ada apa Bu, kenapa menangis?" tanyaku.
"Evha di rampok tadi malam nak...", jawab ibu dengan terisak-isak.
"Tapi, keadaan Evha gimana bu?", aku sedikit penasaran.
"Sekarang dia di rumah sakit, cepat kamu jenguk dia".
Aku pun merasa sedikit bersalah, namun kejadian ini juga tidak
menumbuhkan cintaku pada Evha. Akupun pergi mengambil motorku, tapi
tidak untuk menjenguk Evha di rumah sakit melainkan pergi ke rumah
Lisa. Entah kenapa di jalan pikiranku begitu kosong, namun aku sangat ingin sekali mendatangi Lisa. Aku kendarai motorku dengan begitu kencang, dan tiba-tiba ada
sebuah mobil dari seberang jalan yang mendadak berbelok kearahku. Aku pun merespon dengan membanting stang motor kekanan. Akupun terjatuh dan tak sadarkan diri.
Aku terbangun, aku sudah berada di rumah sakit. Entah sudah
berapa lama aku di rumah sakit. Yang pasti di sekelilingku sudah banyak
sanak keluargaku. Mereka melihatku dengan senyum haru,
namun aku tidak melihat Lisa.
"Lisa, dimana Lisa?" bisikku dalam hati.
Setelah benar-benar sembuh akupun dibawa pulang oleh keluargaku. Beberapa hari kemudian aku menelpon Lisa namun tidak di angkat, bahkan sms ku
pun tidak dibalas. Terakhir kudengar kabarnya dari temanku dia sudah punya lelaki lain.
Aku pun menjadi sangat benci terhadap Lisa. Selama aku sakit mungkin dia tidak
pernah menjengukku sama sekali. Sia-sia aku berkorban untuk dia selama ini, fikirku dalam hati.
Tiba-tiba aku teringat dengan Evha. Akupun coba mencari tahu pada Ibu.
"Bu, gimana kabar Evha? Kok gak pernah kelihatan?"
Ibu
tidak menjawab, dia masuk kamar lalu memberikan sebuah kertas dengan
tulisan yang sulit dibaca seperti anak kecil yang baru belajar menulis. Aku pun
membaca tulisan itu dengan seksama.
" Mas Raihan... aku minta maaf kalo aku ini banyak salah sama mas, aku
belum sempurna di mata mas Raihan. Namun semua akan kulakukan agar mas Raihan bisa mencintai aku. Aku mencintai mas Raihan karna Allah, juga Karena
tidak mau mengecewakan orang tua kita yang telah menjodohkan kita. Aku selalu mendoakan mas Raihan agar lekas sembuh "
Evha
Aku pun menangis membacanya, hasrat ingin bertemu Evha pun tidak terbendung lagi.
"Ibu..... Evha sekarang dimana bu? Aku ingin sekali bertemu dia!!! Tanyaku dengan penuh gelisah.
"Evha telah meninggal nak, karena kejadian perampokan itu dia harus
dioperasi dengan resiko yang tinggi. Namun meski sudah menjalani beberapa operasi, semuanya akhirnya
gagal.
Ia menyempatkan menulis surat wasiat dan menandatangani persetujuan untuk mendonorkan jantungnya kepadamu akibat kecelakaan yang juga kamu alami. Karena Evha tahu hidupnya tidak akan lama lagi, jadi dia lakukan itu
semua untuk kamu, lelaki yang sangat dicintainya. Dan pada saat yang bersamaan, kecelakaan yang kau alami kemarin sudah merusak fungsi jantungmu dan memang harus melakukan transplatasi jantung sesegera mungkin", jawab ibu dengan lirih.
Air matakupun tidak terbendung lagi, aku menangis sejadi-jadinya. Tak
kusangka wanita yang tidak aku cintai, wanita yang sering aku lukai
hatinya, begitu rela mengorbankan semuanya demi aku dan keluargaku. Sedangkan
Lisa gadis yang kucintai tak sedikitpun memperhatikan aku apalgi
berkorban untukku . Aku sungguh sangat menyesal.
Ohhh... andai saja aku mau
menjemput dia malam itu, mungkin aku masih bisa bertemu dengan Evha.
Rasa penyesalan ini tumbuh dengan cepat dan menusuk hati terdalamku.
"Evha ijinkan aku bertemu padamu sekali lagi, aku ingin meminta maaf
dan menjalin kisah cinta yang halal bersamamu. Evha, terima kasih untuk
semua. Detak jantung ini adalah bukti cinta dari surga yang kamu
berikan."
Tidak merasa lebih baik atau benar, dan bukan mengajarkan. Tak lebih dari mengingatkan pada diri sendiri dan sekitar. Berbagi pelajaran kecil, motivasi, dan cerita yang terinspirasi dari pengalaman, kegiatan, peristiwa, ataupun kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang disekitar. Bismillah, semoga bermanfaat.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar