Hutan Lindung Sungai Wain kembali ku taklukkan. Meski tidak melewati seluruh jalur track yang tersedia, tapi ada yang berbeda kali ini dan belum pernah aku alami selama bertracking di HLSW. Dan mereka yang aku ajakpun terlihat sangat puas, senang, dan menikmati tour kali ini.
Siapa sajakah mereka??? Mari kita lihat sekilas profil
singkat mereka…. Hahahaha
Ami Irmawati
Seorang mahasiswi yang entah mengapa baru saja akan diwisuda akhir Januari 2015 ini. Mahasiswi jurusan Teknik Lingkungan di Universitas Diponegoro Semarang ini memang sangat menyukai alam, tantangan, dan sudah beberapa kali menaklukkan gunung-gunung wisata di pulau jawa. Namun untuk di Balikpapan sendiri, ini adalah pengalaman pertamanya. Wanita narsis foto ini merupakan anak sulung dari ber-4 bersaudara. Sering sekali ia mengalami jatuh bangun dalam dunia percintaannya. Dan itu membuatku berasumsi gara-gara hal tersebutlah tingkah lakunya sekarang jadi agak sedikit aneh.
Etha Nur Fitriana
Wanita berpipi besar ini merupakan karyawan disalah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan (sebut saja Trakindo). Sebujurnya Etha ini urang jawa aseli, hanya saja karena kuliahnya semalam di Banjarmasin (Universitas Lambung Mangkurat) jadi wahini logatnya agak sedikit kebanjar-banjaran nang kaya itu pang. Dan mungkin karena terlalu banyak tekinum banyu sungai, Etha yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu sangat pinter, kalo sekarang Etha lebih sering salah bbm orang.
Elyza Minelly
Hijabers mania ini agak sedikit berbeda dengan peserta wanita lainnya. Berbeda karena ia tumbuhnya keatas, beda halnya dengan Ami dan Etha yang lebih memilih untuk tumbuh kesamping dan kedepan (PERUT). Elyza adalah wanita dengan gelar dan karirnya. Ia pernah kuliah di Intersky, dan sekarang ia baru saja diwisuda sebagai salah satu mahasiswi di STIE Madani jurusan rapak-kelandasan. Dan diantara para peserta wanita yang lain, Elyza adalah orang yang paling sering muncul di recent update blackberry messenger milikku. Entah karena tidak ada kerjaan atau memang hobbinya mengganti foto atau status.
Febriono Adi
Ia adalah seorang pria. Meski dulu kami sempat meragukan kepriaannya, karena hampir tidak pernah terlihat bersama seorang wanita. Tapi 10 bulan yang lalu ia membuktikannya kepada dunia dengan menikahi seorang wanita teman sekolahnya dahulu dan kini sudah dikaruniai seorang putri. Meski demikian, terkadang aku masih suka meragukan dirinya. Apa mungkin pernikahan ini hanya kedok belaka??? Hahahaaa…. Tapi luar biasa, ia berani mengorbankan dirinya untuk pulang terlambat dan ikut bertracking di HLSW. Salut buat kami braayyy…. Chocolatos buat aku #LOH
Marjuni
Ia juga seorang pria. Namun selama bertahun-tahun kenal dengan dirinya, tidak ada satupun yang berubah dari dirinya. Tetap kurus, keriting, dan pendiam. Hanya saja tinggi badannya yang sangat meningkat, mungkin dikarenakan sering mengkonsumsi bambu pada saat bertugas di lokasi. Pria yang secara kasat mata terlihat lemah ini memiliki karir pekerjaan yang sangat baik. Sudah beberapa kali ia berpindah kerjaan dan mendapatkan gajih yang tergolong cukup besar bagi seorang bujangan. Jujur akupun sangat iri kepadanya, tapi bukan masalah pekerjaan. Handphonenya sangat bagus sekali untuk dipakai selfi, berbanding terbalik dengan handphoneku yang tidak ada kamera depannya, hahahahaa…..
Dan inilah dia peserta terakhir sekaligus menjabat sebagai Tour Leadernya….
Andin Destian
Ia adalah seorang manusia biasa dengan berjuta mimpinya. Terlahir sebagai pecinta seni budaya tradisi, dan menganggap alam sebagai seorang penyanyi dangdut Mbah Dukun. Ehhhh salah…. Maksud saya menganggap alam sebagai salah satu karunia terbesar Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan. Dan dari mimpi yang dimimpikannya, ia selalu berusaha untuk merealisasikannya.
Baiklah…. kita mulai saja ceritanya!!!
Sebelum kami bertracking di Hutan Lindung Sungai Wain, kami juga mengunjungi Mangrove Center Graha Indah. Dengan menggunakan perahu motor, kami menyusuri perairan air tawar selama kurang lebih satu jam. Mereka yang belum pernah mengunjungi tempat ini terlihat sangat senang sekali. Sangking senangnya si Ami setiap 2 menit sekali selalu mengajak untuk berfoto bersama. Sebenarnya sih nggak masalah guys… hanya saja si empunya handphone yaitu Marjuni yang agak sedikit menjadi masalahnya. Seketika handphone Marjuni sudah terpenuhkan memorinya dengan foto serta video yang sedari tadi selalu kita gunakan untuk mengabadikan momen. Tapi disitulah letak luar biasanya seorang Marjuni, ia hanya tersenyum selebar-lebarnya dan hanya mengatakan “Ahhh nggak papa”.
Padahal, sangat kulihat jelas ada yang berbeda dari sorot matanya. Dapat kutafsirkan apa yang ada difikirannya saat itu. “Ahhh nggak papa, palingan sampai dirumah langsung aku hapus foto-foto ini, hahahahahaaa (tertawa sinis dalam hati ala-ala sinetron di Indosiar)”. Becandaaa brooo…….
Sebenarnya untuk aku pribadi, Mangrove Center belumlah bisa membuatku tersenyum bahagia. Karena jujur saja aku sudah sangat tidak sabar untuk bisa segera sampai di HLSW. Naahhh setelah satu jam menyusuri jajaran mangrove yang sangat indah, setelah melihat beberapa kawanan bekantan yang bermain diatas pohon, setelah HP si Marjuni lowbatt karena kebanyakan dipakai foto oleh Ami, Etha dan Elyza, akhirnya kami sampai kembali di dermaga dan siap melanjutkan perjalanan menuju HLSW. Eeeiittsss…. ada yang menarik nih sebelum kita sampai di dermaga tadi. Bingung sih harus senang, sedih, ketawa, atau kasian. Karena semuanya bercampur aduk jadi satu men…..
Karena kelincahannya, karena keaktifannya, dan karena keautisannya salah seorang sahabat kami yaitu Ami Irmawati harus merelakan handphone sony berwarna putih yang ia miliki untuk berendam dilantai kapal entah berapa lama. Senang karena bisa bertamasya bersama para sahabat, sedih karena si Ami kena musibah, ketawa karena melihat ekspresinya yang konyol saat panik setelah sadar handphonenya menghilang, kasian karena ternyata itu masih tergolong handphone baru dan sangat ia sayangi. Bingung kan guysss??? Sama, aku juga…..
Tapi sebagai seorang wanita yang akan segera diwisuda (katanya), Ami berusaha untuk bersikap professional. Ia nampak tenang karena berfikiran dengan memendam handphonenya tadi didalam beras, maka handphone dengan sendirinya akan sembuh sehat wa’alfiat. Sungguh diluar rasional kami para teknisi handphone, hahahaaa…. Karena pada akhirnya memang benar, diservispun handphonenya masih belum bisa menyala. Apalagi hanya disimpan diberas, bisa-bisa handphonenya malah bekutuan semua.
Okeeee sekarang kita sudah tiba di HLSW, sebelumnya tadi kami menjemput salah satu rekan dari duta wisata yang juga menyukai alam. Makhluk berukuran agak bantat itu dahulu juga merupakan teman sekamar denganku saat kami masih dikarantina sebagai Duta Wisata Manuntung Balikpapan 2014.
Sekitar pukul 18.00 waktu Indonesia bagian tengah agak ketimur sedikit, kami memulai perjalanan untuk masuk kedalam hutan. Kami melewati waduk wain, menyebrang sungai wain, dan kami berjalan diatas jembatan kayu yang hampir roboh karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap kawasan ini.
Perlahan kami terus menyusuri hutan. Mencoba menikmati alam yang kini sudah cukup temaram karena tenggelamnya sang surya di ufuk barat. Hari kian gelap, tak hanya karena matahari mulai tenggelam, awan mendungpun seakan ingin mengisyaratkan kami untuk bersiaga karena ia akan segera meruntuhkan hujannya. Dan benar sekali, disaat langit sudah benar-benar gelap hujanpun seketika turun dengan derasnya. Semua bergegas untuk menyelamatkan handphone masing-masing. Dengan memasukkan handphone kedalam sebuah kantong plastik dan sesigap mungkin langsung menyimpannya didalam tas ransel.
Perjalanan kami lanjutkan, tak peduli hujan turun semakin derasnya. Canda tawa dan obrolanpun kami kurangi. Kami lebih memilih untuk membungkam dan hanya mengeluarkan sepatah dua patah kata untuk saling memperingatkan satu sama lain bila ada lubang, akar pohon atau ranting. Hanya suara gemuruh hujan dan petirlah yang menemani kita malam itu. Basah sudah pasti basah, dan benar-benar basah sampai kebagian terdalam sekalipun. Setelah kurang lebih satu jam berjalan akhirnya kami tiba di pos 1. Kami segera berteduh, melepaskan sepatu yang sudah beralih fungsi sebagai penampung air. Dan pak Agus yang memang sudah menyiapkan perbekalan lebih lengkap daripada kami segera menyalakan lampu minyak sebagai penerangan. Kalau dirasa-rasa sih suasananya agak-agak romantic (romantic epic) gitu men…. Gimana nggak romantis coba, udah hujan deras nggak karo-karoke, terus duduk dipondokan ditengah hutan dan hanya bertemankan sebuah cahaya lampu minyak yang temaram. Ini kalau di film-film Indonesia, suasana begini biasanya ada adegan mesra-mesraannya gitu. Misalnya si cewek yang kedinginan terus si cowok melukin gitu, atau enggak si cowok yang kedinginan terus penyakitnya kumat terus meninggal, hahahhaaa…. Indonesia banget yaa? Tapi so sweet sih…. Oiya atau enggak juga bisa berbelok sedikit ceritanya nih, sambil nunggu hujan reda kan nggak ada kerjaan tuh. Nah terus ala-ala main jelangkung-jelangkungan, terus setannya datang beneran, terus dihantuin, terus mati satu-satu. Waaahhhhh serem amit guys, tapi kita nggak yang kaya film-film Indonesia itu kok. Kita cuma ngobrol, bercanda, berbagi pengetahuan seputar Balikpapan, dan sharing-sharing gitu. Eiitsss kecuali Andin. Andin adalah orang yang tidak bisa berdiam diri terlalu lama apalagi dalam udara dingin seperti itu. Yaaa biasalah selayaknya seorang perokok. Pasti ada aja pantangan untuk paru-parunya. Nah jadi si makhluk tak seberapa itu terus menggerakkan tubuhnya dengan menari-nari agar tetap terus hangat dan berkeringat.
Kurang lebih satu jam para makhluk-makhluk luar biasa itu didalam pondok. Hujan sudah agak sedikit mereda, dan waktu sudah menunjukkan hampir jam 21.00 waktu Indonesia bagian tengah agak ke selatan sedikit. Karena sudah cukup malam, apalagi ada para wanita yaitu Ami, Etha, Elyza, dan Adi yang harus pulang tidak boleh terlambat sampai dirumah. Ehh maksud saya 3 wanita 1 pria… #PEACE
Kami melangkah keluar pondokan dan kembali menyusuri hujan yang sudah agak mereda. Terus berjalan…. Terus terus terus……. Dan terus terus terus terus….. terus lagi lagi dan lagi terus berjalan. Selama perjalanan kembali ada beberapa hal baru yang kami alami. Kepeleset sudah biasa, kesandung, tejerungkup, tesumbalit juga sudah biasa. Naahhh…. Hal yang baru itu adalah kami menemukan mata air didalam hutan, terus kami kebanjiran didalam hutan, dan kami bertemu burung langka yang sedang tertidur diatas ranting pohon, kalo nggak salah nama burungnya Raja udang / Cekakak. Keren bingits guys….
Hampir jam 22.00, akhirnya kami keluar dari HLSW, kami kembali harus menyusuri jembatan kayu yang hampir roboh, melewati bendungan, dan melewati pemukiman warga sebelum akhirnya kami sampai di pos penjagaan HLSW.
Sebuah pengalaman luar biasa yang nggak bakal kami lupain seumur hidup. Tertawa, terjatuh, handphone masuk air, kehujanan, kebanjiran, liat kunang-kunang, dan semua kejadian yang kami alami akan kami ceritakan kepada anak cucu kami nanti. Termasuk cerita si Adi yang harus sedikit berbohong kepada istrinya, hahahahaa……
OK guys….. sekian ceritanya!! Tunggu cerita kami di Jelajah Alam Balikpapan selanjutnya…..
GOOD NIGHT ALL.
Ami Irmawati
Seorang mahasiswi yang entah mengapa baru saja akan diwisuda akhir Januari 2015 ini. Mahasiswi jurusan Teknik Lingkungan di Universitas Diponegoro Semarang ini memang sangat menyukai alam, tantangan, dan sudah beberapa kali menaklukkan gunung-gunung wisata di pulau jawa. Namun untuk di Balikpapan sendiri, ini adalah pengalaman pertamanya. Wanita narsis foto ini merupakan anak sulung dari ber-4 bersaudara. Sering sekali ia mengalami jatuh bangun dalam dunia percintaannya. Dan itu membuatku berasumsi gara-gara hal tersebutlah tingkah lakunya sekarang jadi agak sedikit aneh.
Etha Nur Fitriana
Wanita berpipi besar ini merupakan karyawan disalah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan (sebut saja Trakindo). Sebujurnya Etha ini urang jawa aseli, hanya saja karena kuliahnya semalam di Banjarmasin (Universitas Lambung Mangkurat) jadi wahini logatnya agak sedikit kebanjar-banjaran nang kaya itu pang. Dan mungkin karena terlalu banyak tekinum banyu sungai, Etha yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu sangat pinter, kalo sekarang Etha lebih sering salah bbm orang.
Elyza Minelly
Hijabers mania ini agak sedikit berbeda dengan peserta wanita lainnya. Berbeda karena ia tumbuhnya keatas, beda halnya dengan Ami dan Etha yang lebih memilih untuk tumbuh kesamping dan kedepan (PERUT). Elyza adalah wanita dengan gelar dan karirnya. Ia pernah kuliah di Intersky, dan sekarang ia baru saja diwisuda sebagai salah satu mahasiswi di STIE Madani jurusan rapak-kelandasan. Dan diantara para peserta wanita yang lain, Elyza adalah orang yang paling sering muncul di recent update blackberry messenger milikku. Entah karena tidak ada kerjaan atau memang hobbinya mengganti foto atau status.
Febriono Adi
Ia adalah seorang pria. Meski dulu kami sempat meragukan kepriaannya, karena hampir tidak pernah terlihat bersama seorang wanita. Tapi 10 bulan yang lalu ia membuktikannya kepada dunia dengan menikahi seorang wanita teman sekolahnya dahulu dan kini sudah dikaruniai seorang putri. Meski demikian, terkadang aku masih suka meragukan dirinya. Apa mungkin pernikahan ini hanya kedok belaka??? Hahahaaa…. Tapi luar biasa, ia berani mengorbankan dirinya untuk pulang terlambat dan ikut bertracking di HLSW. Salut buat kami braayyy…. Chocolatos buat aku #LOH
Marjuni
Ia juga seorang pria. Namun selama bertahun-tahun kenal dengan dirinya, tidak ada satupun yang berubah dari dirinya. Tetap kurus, keriting, dan pendiam. Hanya saja tinggi badannya yang sangat meningkat, mungkin dikarenakan sering mengkonsumsi bambu pada saat bertugas di lokasi. Pria yang secara kasat mata terlihat lemah ini memiliki karir pekerjaan yang sangat baik. Sudah beberapa kali ia berpindah kerjaan dan mendapatkan gajih yang tergolong cukup besar bagi seorang bujangan. Jujur akupun sangat iri kepadanya, tapi bukan masalah pekerjaan. Handphonenya sangat bagus sekali untuk dipakai selfi, berbanding terbalik dengan handphoneku yang tidak ada kamera depannya, hahahahaa…..
Dan inilah dia peserta terakhir sekaligus menjabat sebagai Tour Leadernya….
Andin Destian
Ia adalah seorang manusia biasa dengan berjuta mimpinya. Terlahir sebagai pecinta seni budaya tradisi, dan menganggap alam sebagai seorang penyanyi dangdut Mbah Dukun. Ehhhh salah…. Maksud saya menganggap alam sebagai salah satu karunia terbesar Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan. Dan dari mimpi yang dimimpikannya, ia selalu berusaha untuk merealisasikannya.
Baiklah…. kita mulai saja ceritanya!!!
Sebelum kami bertracking di Hutan Lindung Sungai Wain, kami juga mengunjungi Mangrove Center Graha Indah. Dengan menggunakan perahu motor, kami menyusuri perairan air tawar selama kurang lebih satu jam. Mereka yang belum pernah mengunjungi tempat ini terlihat sangat senang sekali. Sangking senangnya si Ami setiap 2 menit sekali selalu mengajak untuk berfoto bersama. Sebenarnya sih nggak masalah guys… hanya saja si empunya handphone yaitu Marjuni yang agak sedikit menjadi masalahnya. Seketika handphone Marjuni sudah terpenuhkan memorinya dengan foto serta video yang sedari tadi selalu kita gunakan untuk mengabadikan momen. Tapi disitulah letak luar biasanya seorang Marjuni, ia hanya tersenyum selebar-lebarnya dan hanya mengatakan “Ahhh nggak papa”.
Padahal, sangat kulihat jelas ada yang berbeda dari sorot matanya. Dapat kutafsirkan apa yang ada difikirannya saat itu. “Ahhh nggak papa, palingan sampai dirumah langsung aku hapus foto-foto ini, hahahahahaaa (tertawa sinis dalam hati ala-ala sinetron di Indosiar)”. Becandaaa brooo…….
Sebenarnya untuk aku pribadi, Mangrove Center belumlah bisa membuatku tersenyum bahagia. Karena jujur saja aku sudah sangat tidak sabar untuk bisa segera sampai di HLSW. Naahhh setelah satu jam menyusuri jajaran mangrove yang sangat indah, setelah melihat beberapa kawanan bekantan yang bermain diatas pohon, setelah HP si Marjuni lowbatt karena kebanyakan dipakai foto oleh Ami, Etha dan Elyza, akhirnya kami sampai kembali di dermaga dan siap melanjutkan perjalanan menuju HLSW. Eeeiittsss…. ada yang menarik nih sebelum kita sampai di dermaga tadi. Bingung sih harus senang, sedih, ketawa, atau kasian. Karena semuanya bercampur aduk jadi satu men…..
Karena kelincahannya, karena keaktifannya, dan karena keautisannya salah seorang sahabat kami yaitu Ami Irmawati harus merelakan handphone sony berwarna putih yang ia miliki untuk berendam dilantai kapal entah berapa lama. Senang karena bisa bertamasya bersama para sahabat, sedih karena si Ami kena musibah, ketawa karena melihat ekspresinya yang konyol saat panik setelah sadar handphonenya menghilang, kasian karena ternyata itu masih tergolong handphone baru dan sangat ia sayangi. Bingung kan guysss??? Sama, aku juga…..
Tapi sebagai seorang wanita yang akan segera diwisuda (katanya), Ami berusaha untuk bersikap professional. Ia nampak tenang karena berfikiran dengan memendam handphonenya tadi didalam beras, maka handphone dengan sendirinya akan sembuh sehat wa’alfiat. Sungguh diluar rasional kami para teknisi handphone, hahahaaa…. Karena pada akhirnya memang benar, diservispun handphonenya masih belum bisa menyala. Apalagi hanya disimpan diberas, bisa-bisa handphonenya malah bekutuan semua.
Okeeee sekarang kita sudah tiba di HLSW, sebelumnya tadi kami menjemput salah satu rekan dari duta wisata yang juga menyukai alam. Makhluk berukuran agak bantat itu dahulu juga merupakan teman sekamar denganku saat kami masih dikarantina sebagai Duta Wisata Manuntung Balikpapan 2014.
Sekitar pukul 18.00 waktu Indonesia bagian tengah agak ketimur sedikit, kami memulai perjalanan untuk masuk kedalam hutan. Kami melewati waduk wain, menyebrang sungai wain, dan kami berjalan diatas jembatan kayu yang hampir roboh karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap kawasan ini.
Perlahan kami terus menyusuri hutan. Mencoba menikmati alam yang kini sudah cukup temaram karena tenggelamnya sang surya di ufuk barat. Hari kian gelap, tak hanya karena matahari mulai tenggelam, awan mendungpun seakan ingin mengisyaratkan kami untuk bersiaga karena ia akan segera meruntuhkan hujannya. Dan benar sekali, disaat langit sudah benar-benar gelap hujanpun seketika turun dengan derasnya. Semua bergegas untuk menyelamatkan handphone masing-masing. Dengan memasukkan handphone kedalam sebuah kantong plastik dan sesigap mungkin langsung menyimpannya didalam tas ransel.
Perjalanan kami lanjutkan, tak peduli hujan turun semakin derasnya. Canda tawa dan obrolanpun kami kurangi. Kami lebih memilih untuk membungkam dan hanya mengeluarkan sepatah dua patah kata untuk saling memperingatkan satu sama lain bila ada lubang, akar pohon atau ranting. Hanya suara gemuruh hujan dan petirlah yang menemani kita malam itu. Basah sudah pasti basah, dan benar-benar basah sampai kebagian terdalam sekalipun. Setelah kurang lebih satu jam berjalan akhirnya kami tiba di pos 1. Kami segera berteduh, melepaskan sepatu yang sudah beralih fungsi sebagai penampung air. Dan pak Agus yang memang sudah menyiapkan perbekalan lebih lengkap daripada kami segera menyalakan lampu minyak sebagai penerangan. Kalau dirasa-rasa sih suasananya agak-agak romantic (romantic epic) gitu men…. Gimana nggak romantis coba, udah hujan deras nggak karo-karoke, terus duduk dipondokan ditengah hutan dan hanya bertemankan sebuah cahaya lampu minyak yang temaram. Ini kalau di film-film Indonesia, suasana begini biasanya ada adegan mesra-mesraannya gitu. Misalnya si cewek yang kedinginan terus si cowok melukin gitu, atau enggak si cowok yang kedinginan terus penyakitnya kumat terus meninggal, hahahhaaa…. Indonesia banget yaa? Tapi so sweet sih…. Oiya atau enggak juga bisa berbelok sedikit ceritanya nih, sambil nunggu hujan reda kan nggak ada kerjaan tuh. Nah terus ala-ala main jelangkung-jelangkungan, terus setannya datang beneran, terus dihantuin, terus mati satu-satu. Waaahhhhh serem amit guys, tapi kita nggak yang kaya film-film Indonesia itu kok. Kita cuma ngobrol, bercanda, berbagi pengetahuan seputar Balikpapan, dan sharing-sharing gitu. Eiitsss kecuali Andin. Andin adalah orang yang tidak bisa berdiam diri terlalu lama apalagi dalam udara dingin seperti itu. Yaaa biasalah selayaknya seorang perokok. Pasti ada aja pantangan untuk paru-parunya. Nah jadi si makhluk tak seberapa itu terus menggerakkan tubuhnya dengan menari-nari agar tetap terus hangat dan berkeringat.
Kurang lebih satu jam para makhluk-makhluk luar biasa itu didalam pondok. Hujan sudah agak sedikit mereda, dan waktu sudah menunjukkan hampir jam 21.00 waktu Indonesia bagian tengah agak ke selatan sedikit. Karena sudah cukup malam, apalagi ada para wanita yaitu Ami, Etha, Elyza, dan Adi yang harus pulang tidak boleh terlambat sampai dirumah. Ehh maksud saya 3 wanita 1 pria… #PEACE
Kami melangkah keluar pondokan dan kembali menyusuri hujan yang sudah agak mereda. Terus berjalan…. Terus terus terus……. Dan terus terus terus terus….. terus lagi lagi dan lagi terus berjalan. Selama perjalanan kembali ada beberapa hal baru yang kami alami. Kepeleset sudah biasa, kesandung, tejerungkup, tesumbalit juga sudah biasa. Naahhh…. Hal yang baru itu adalah kami menemukan mata air didalam hutan, terus kami kebanjiran didalam hutan, dan kami bertemu burung langka yang sedang tertidur diatas ranting pohon, kalo nggak salah nama burungnya Raja udang / Cekakak. Keren bingits guys….
Hampir jam 22.00, akhirnya kami keluar dari HLSW, kami kembali harus menyusuri jembatan kayu yang hampir roboh, melewati bendungan, dan melewati pemukiman warga sebelum akhirnya kami sampai di pos penjagaan HLSW.
Sebuah pengalaman luar biasa yang nggak bakal kami lupain seumur hidup. Tertawa, terjatuh, handphone masuk air, kehujanan, kebanjiran, liat kunang-kunang, dan semua kejadian yang kami alami akan kami ceritakan kepada anak cucu kami nanti. Termasuk cerita si Adi yang harus sedikit berbohong kepada istrinya, hahahahaa……
OK guys….. sekian ceritanya!! Tunggu cerita kami di Jelajah Alam Balikpapan selanjutnya…..
GOOD NIGHT ALL.
Explore balikpapan lg donk :D kita bikin kenangan pengalaman bersama di setiap sudut kota .. Pelosok nya. Hargai alam. Hargai budaya nya ^^ btw.. Km gk tau kebanjiran hampir selutut bikin agak was was.. Bukan karna apa.. Karna lg halangan men . kebayang gk sih .. Tengah hutan . halangan. Kebanjiran untung gk setinggi perut..
BalasHapus-.-' luar biasaaaa... Aku pribadi ngerasain bgt beda nuansa hutan di tanah jawa dan kalimantan. Terimakasih tmn tmn.. Trimakasih andin.. Bsok lagi ya. . terimakasih ringkas biodata nya. Semoga bertemu dgn org yg suka dan cinta alam deh.
Hahaha
Btw.. Video kita mana ya :p
BalasHapusOk fix am... kita jelajahin dulu alam Balikpapan. Biar kita tau betapa luar biasanya Balikpapan. Dan kita ceritakan orang diluar sana kalo kita punya yang tidak mereka punya...
BalasHapus