Pagi ini perasaanku sangat bahagia dan bersemangat, rasanya ingin tiba di
sekolah dengan segera. Bagaimana tidak, kejutan demi kejutan membuat pagiku
begitu ditemani banyak bunga-bunga, hal itu tentu membuat aku sangat berbeda,
mulai dari bertemu teman SD, satu sekolah sama pacar dan bertemu dengan teman
baru yang gokil.
Kurang lebih setengah jam kuhabiskan di depan kaca untuk berdandan secantik
mungkin sebelum bergegas ke sekolah dengan sepeda kendaraan kesayanganku,
Memang kendaraan yang satu ini tidak bisa dikendarai dengan gratis, setiap
harinya minimal aku harus mengeluarkan budget Rp 5.000 untuk membeli bensin.
Dialah Suzuki Shogun andalanku yang menjadi tungganganku selama ini.
Sepanjang perjalanan aku bernyanyi dan bersuka ria penuh semangat
membayangkan akan hal-hal menyenangkan seperti bertemu teman-teman baru dan
sang pujangga hati ku, Andi. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai
di sekolah. Jarak antara sekolah dan rumahku tidak begitu jauh jadi, hanya
butuh waktu 10 sampai 15 menit untuk sampai di sekolah.
“Sial! Lari nggak pake mata apa ya.. gue gorok masuk neraka loh.” Rutuk Lia.
Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh.
Spontan aku langsung membantu Dahlia memungut buku buku yang tergeletak di
lantai.
“Kasihan banget. Bukunya jatuh semua ya” candaku dengan senyum manisku. Sejenak
Lia berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba mencari orang yang berani
menabraknya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi, putih yang akrab disapa
Ryan. Aku tau Lia benci banget sama cowok itu, Mungkin seumur hidup Lia nggak
bakal bersikap baik sama cowok itu.
Mengingat buku ini harus diantar ke ruangan Ibu Evha, guru mata pelajaran
matematika yang cantik tapi super duper jutek, kami harus cepat-cepat merapikan
buku yang tercecer di lantai, lalu segera membawanya.
“Sudahlah Lia, sabar yah, nanti juga lama-lama kepincut sama kamu. Hehehe”.
candaku lagi sambil merangkul bahunya.
“Idiih, cuiihhh amit-amit deh, gak mungkin juga gue mau sama cowok dekil, kumal
dan jarang sikat gigi itu, ichhh.” Jawab Lia dengan ekspresi jijay nya.
“Yuuu..!!!”
Aku menoleh untuk melihat siapa yang memanggilku. Ternyata dari kejauhan Rina
temanku sejak SD sedang berlari ke arahku.
“Woyyy non, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apaan yang nggak
nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Rina dengan bibir monyong. Ciri khas cewek
kulit putih tersebut kalau lagi ngambek.
“Sorry deh na’. Gue lagi sibuk ngehibur cewek yang lagi bad mood ini”. Sambil
melirik ke arah Lia yang memasang tampang cemberut.
“Bad mood? Kenapa?” tanya Rina bengong.
Si Yellow tooth yang jelek itu lagi-lagi cari perkara sama aku.
Sejenak Rina terdiam, lalu perlahan bibirnya tersenyum tipis. “Kenapa sih
kalian berdua selalu berantem? Mungkin gak sih si Rian suka sama loe tapi dia
gengsi dan Cuma bisa mendekati kamu dengan cara menjahili kamu Lia.”
“Tau ah gelap!” ucap Lia cuek.
Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang
sedemikian panas tak menciutkan niat para siswa SMAN 6 untuk bergegas pulang ke
rumah. Anak-anak sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan aku masih berkutat
pada buku catatanku lalu sesekali menoleh ke papan tulis.
“Makanya kalau nulis jangan kayak keong donk.” Dengan gemas Rina menjitak
kepalaku.
“Duluan ya Yuu, nyokap suruh pulang cepet nih!” Aku hanya mendengus lalu
kembali sibuk dengan catatanku. Sementara Lia, Wulan, Nurul dan Nina tetap di
tempatnya dan menungguku.
Esok harinya aku berangkat lebih awal ke sekolah, karena jam pertama diisi
dengan mata pelajaran kimia yang dibawakan oleh Ibu Tini. Kabarnya guru yang
satu ini sangat kejam dan tak punya sifat tolelir. Ibu Tini adalah guru yang
sangat tegas, disiplin dan paling rajin ngasih tugas.
“Doorr” ucap ku, sambil menepuk pundak Ummy, teman baruku di kelas X5.
“Iikhh Ayu buat aku kaget saja” ucap Ummy.
“Hehehe, habis kamu melamun sih, masih pagi tau jangan melamun” canda ku.
“Hehehe, iya deh iya bawel” ucap Ummy, sambil tersenyum.
“Memangnya kamu lagi ngelamunin apa sih My?” Tanya ku.
“Aku gak ngelamunin apa-apa kok” ucap Ummy.
“Ah maca ciiihhh?” Ucap ku menggoda Ummy.
“Iya bener kok” jawab Ummy.
“Teeeeeeet… Teeeeeeet…” (tak lama bel sekolah pun berbunyi)
“Eh udah bel tuh, masuk yuk” seruku lalu menuju ke kelas dengan menggandeng
tangan Ummy.
Pemandangan kelas pagi ini nampak rapih, tak ada suara gaduh, tak ada yang
wara-wiri, semuanya duduk rapih di tempatnya masing-masing.
“Kalau bukan Ibu Tini yang masuk gak mungkin kelas setenang ini.” ucapku
sambil tersenyum geli
“Ya iyalah, secara kelas ini adalah kandang tikus, lho tau sendiri kelakuan
anak-anak X.5 gimana. Kalau gak ada si kucing yang datang gak mungkin si
tikus-tikus calm down begini, hahaha.” jawab Lia pelan sambil tertawa kecil.
Detik demi detik kami lalui dengan hati yang berdebar-debar, seperti bom
waktu yang menunggu waktu untuk meledak. Yah, aku sedang membayangkan tentang
kebiasaan ibu Tini yang selalu menyuruh murid mengerjakan soal di papan tulis
secara bergiliran.
“Semoga aja bukan gue, ya Tuhan plisss!!” ucapku dalam hati.
Satu persatu nama teman-teman ku mulai dipanggil. Beberapa temanku harus
ihklas berdiri di samping papan tulis karena tak bisa mengerjakan tugas yang
diberikan.
Belum sempat selesai berdoa, tiba-tiba saja aku mendengar sura lantang Ibu Tini
menyebut namaku.
“Ayu, naik ke atas kerjakan soal nomor 5 yah”
Dan kali ini lagi-lagi Tuhan tak mengabulkan doaku. Ibu Tini akhirnya
menyebut namaku. Aku berjalan ke depan dengan langkah kaki yang pelan, rasanya
seperti ada sebuah batu besar yang bergelantung di kakiku. Sebenarnya bukan
takut yang aku rasakan tapi lebih pada rasa malu jika harus berdiri bersama
dengan anak lainnya. Bagaimana tidak, ada puluhan murid yang bakal menontonku.
“Cepat dikerjakan Yuu” ucap ibu Tini.
“I…i…iya bu” sahutku sambil mengangguk.
“Teeettt… Teeeeettt…” Saat hendak menulis, terdengar bunyi bel pertanda jam
istirahat pertama. Aku menarik nafas panjang, aku lega sekali mendengar suara
bel itu.
“Baiklah anak-anak, minggu depan ibu sambung lagi. Sekarang buka halaman 154
dan kerjakan soalnya..” ucap Ibu Tini sembari menunjukkan soal yang akan
menjadi tugas minggu depan. Tugas adalah wajib setiap kali ada mata pelajaran
kimia, itulah ibu Tini, bidadariku yang paling baik hati.
Setelah Ibu Tini keluar dari ruangan aku pun kembali ke tempatku sambil
jingkrak-jingkrak kegirangan.
“Alhamdulillah ya… hehehe” ucap Lia sambil cengengesan. Aku hanya tersenyum
lebar mendengarnya.
*****
Setahun sudah berlalu dan sekarang aku resmi menyandang status “SENIOR”,
eitss tapi aku bukan tipikal senior yang gila hormat seperti kebanyakan murid
di sekolahku.
Setelah bel istirahat berbunyi, aku segera mengambil dompet dalam tas. Aku,
Nina, Rina, Nurul, Wulan dan Lia pergi ke kantin favorit kami yang terletak di
belakang musholla sekolah, Hendak memberi makan cacing-cacing yang mulai
berdemo ria sekaligus membicarakan soal issu yang yang baru saja membuatku
kesal gak ketulungan. Sayang sekali Nia, temanku ku dari sd gak bisa ikut
bergabung, dia ditempatkan di sekolah yang lumayan jauh dari sekolah kami,
lantaran jumlah siswa yang diterima di SMUN 6 terbatas.
Enam sekawan ini, memang hobi sekali jajan bakwan, hampir setiap hari kalau
lagi istirahat jajannya itu melulu. Enggak ada bosen-bosennya deh. bahkan
seringkali aku membawa makanan ini pulang ke rumah. Bakwan adalah menu andalan
di kantin kesayangan kami itu. Tempat yang paling asyik kalau lagi jajan bakwan
yah di kantinnya Mbak’yu, dan duduk di bangku yang dekat jendela. Hmm… sembari
mengademkan diri. Mbak’yu adalah panggilan akrab kami pada pemilik kantinnya.
“Mau pesen bakwan kan?” teriak Mbak’yu.
“Mbak’yu, paranormal ya?” tanyaku serius.
“Bukan… bukan..” jawabnya.
“Memang kenapa gitu Yuu ?” tanya Nurul kepadaku.
“Mba ini, udah tahu kalau kita mau makan bakwan” ucapku.
“Haha, dasar oon!!!, ya iya lah, kita kan sering ke kantin buat jajan bakwan”
Celoteh Rina.
“Hahaha..” terdengar tawa sahabat-sahabatku yang saling bersahut-sahutan.
“Ihh, kenapa kalian jadi ketawa sih?” gerutuku kesal.
“Abisnya kamu ituuu..” ucap Rina.
“Kamu apa?” tanyaku semakin kesal.
“Sudah… sudah, jadi nggak pesen bakwannya?” tanya Mbak’yu yang ikut kesal.
“Hehehe… jadi donk, aku pesen 5000 yah.” Seru ku.
“Yaa, tunggu sebentar..” jawab pelayan kantin sambil berlalu.
“Kok banyak amat sih, Na?, emang mau dimakan semua sekarang?” tanya Wulan.
“Iya donk” jawab ku dengan ekspresi datar.
“Glek..” Wulan hanya menelan ludah mendengar, pesananku sebanyak itu
Beberapa saat kemudian, bakwan pesanan kami pun datang. Tak perlu menunggu
lama aku segera menyantap bakwan dengan campuran sambel dan kecap yang sudah
aku racik sedemikian rupa.
“Kok kalian semua, ngeliatin aku sih? Ada yang aneh ya?” tanya ku sambil
melotot ke mereka.
“Udah berapa hari nggak makan, Yuu?” tanya Nurul dengan mata sedikit terbelalak
menyaksikan ku yang makan begitu rakusnya.
“Tadi pagi juga sarapan kok” ucap ku dengan ekspresi datarnya sambil terus
makan. Tak ada kata yang mampu diucapkan teman-temanku lagi, mereka hanya bisa
menggeleng-geleng kepala ke kiri dan ke kanan beberapa kali, dan melanjutkan
menyantap bakwan hingga tak tersisa.
“Mungkin kita harus buat program deh!” ucap Nurul.
“Program apa?” tanya Nurul.
“Program diet untuk Ayu” jawab Lia.
“Ah kamu ini, buat aku sensi aja sih” timpal Nurul yang kebetulan punya tubuh
yang agak lebih gemuk dibanding aku.
Aku yang sedang menikmati air mineral dinginku, kemudian tersedak. “Uhuk…
Uhukkk..” Wulan terlihat menepuk-nepuk pundakku.
“Wahh, iya… boleh juga tuh” timpal Wulan.
“Aku nggak setuju ah” jawabku sambil memegang lehernya.
“HA… HA… HA… maaf deh maaf, lupa” seru Lia dan dengan spontannya mencium pipi
Nurul. Sementara itu Ummy terus mencubit pahaku, membuatku teriak-teriak
kesakitan.
Kebiasaan aneh Ummy ini sudah ada sejak aku pertama kali bertemu, Ummy akan
spontan mencubit seseorang yamg ada di dekatnya jika ia merasa lucu. Semua
sahabatku sudah biasa dengan kebiasaan aneh Ummy itu.
Seketika suasana kantin jadi riuh dengan canda tawa kami. Setelah
menghabiskan makananku, aku dan yang lainnya tak lantas pergi, kami masih duduk
di tempat kami masing-masing. Mata pelajaran kedua lagi kosong karena gurunya
sedang berhalangan, jadi kami masih bisa santai di kantin.
Konfrensi meja bundar pun digelar. Kantin ini jadi saksi Rencana besar kami.
EZQUEL pun mulai menyusun rencana serangan. EZQUEL adalah nama genk yang kami
resmikan sebagai nama genk persatuan kami. Aku bersyukur dipertemukan dengan
sahabat-sahabat seperti mereka, Mereka adalah pasukan terhebat yang aku miliki.
Tidak hanya hebat dalam hal gosip-menggosip, mereka juga paling jago dalam hal
serang-menyerang. Dua orang sahabatku Nina dan Lia adalah yang paling sensitif
saat ada perkara. Nina dengan tubuhnya yang mirip bodyguard dan ucapannya yang
setajam silet bisa membuat hati seseorang terobek-robek, lalu Lia yang meskipun
tubuhnya yang kurus kayak tengkorak hidup tapi nyalinya sebesar lapangan basket
sekolah, dia paling hobby tuh adu mulut, Kalau lagi marah bisa seperti harimau
buas yang siap mencincang. Dua gadis itulah yang menjadi team pembela saat
salah seorang di antara kami terlibat masalah, tapi dibalik sikap mereka itu
ada hal lain yang paling membanggakanku yaitu kesetiakawanan mereka, Bagiku
sifat itu adalah harta mereka yang paling aku kagumi. Itulah alasan kenpa aku
tetap bertahan bersama mereka, meskipun aku selalu jadi sasaran kejahilan
mereka.
“Yuu, gimana? kita langsung labrak aja lah sekarang!” Tanya Nina dengan
tampang seperti serigala yang sedang marah. Aku saja takut melihat wajahnya
yang mulai memerah.
“Iya, tapi janji yah kamu jangan maen tangan yah, perang mulut aja lah! Bisa
buat dia takut aja udah buat aku puas banget, na.”
“Ok siiip!!”.
“Cewek itu memang gatal tau. Gaplok aja sekalian. Udah tau si Andy udah punya
pacar masih saja keganjenan, trus mau aja gitu dijadiin cadangan”. Sahut Nurul
yang paling jago dalam hal ngomporin orang.
“Iya betul. Wajib dibasmi tuh kutu ganjen”. Balas Ummy
Akhirnya setelah konfrensi kami selesai, Aku dan sahabatku kemudian janjian
ketemu dengan cewek itu di belakang kelas XI 4 yang sengaja kami pilih karena
letaknya pas di samping kelas kami. Sebut saja dia Ria.
Tak lama kemudian Ria pun datang dengan salah seorang temannya, dengan langkah
kaki yang mendayu bagaikan seorang model.
“Ria, aku mau nanya dan gak pake bohong yah?”. Tanyaku dengan nada suara
yang agak tinggi.
“Mau Tanya apa?” jawab Ria dengan santainya
“Apa benar kamu jadian sama Andy?”
“Gak kok! gak sama sekali.”
“Ngaku aja lah! Kabar yang aku peroleh gak mungkin omomg kosong!! sudah beberapa
hari ini issu itu sering aku dengar dari temen-temen. Well, kebakaran gak akan
terjadi kalau gak ada api. Kamu tau kan aku sekarang masih resmi jadi pacarnya
Andy dan hampir seisi sekolah tau itu.” Seruku sambil mendekatkan wajahku ke
wajah Ria.
“Beneran gak kok” ucap Ria ngeles.
Aku dan sahabat-sahabatku terus mendesak tapi jawabannya tetap tidak. Tak
lama kemudian, “Plakkk..!!!” sahabatku Nina ternyata tak menepati janji, Ia
mulai hilang kendali dan menerjunkan tamparan cantiknya ke muka cewek itu. Pipi
kanan Ria merah dengan bekas tangan Nina, dan wajahnya pun mulai memucat.
Sebenarnya ada sedikit rasa iba melihatnya takut. Tapi rasa itu tertutupi oleh
kekesalakanku padanya.
“Ini kekerasan.” Teriak teman Ria yang datang menemani Ria saat itu. Aku tak
bisa menangkis tangan Nina yang secepat kilat. Aku tahu perasaan Nina yang
simpatik padaku, tapi sungguh bukan tindakan seperti itu yang aku harapkan.
Nasi sudah jadi bubur, setelah peristiwa tamparan itu Ria langsung
melaporkan kejadian itu, dan akhirnya kami diseret ke ruang BP. Saat aku dan Nina
sampai di ruangan, disana sudah ada Andy, Ria, Pak Aziz dan murid-murid dari
kelas lain yang mulai berdatangan satu persatu seperti semut yang sedang
mengerumuni gula.
Saat itu aku merasa seperti berada di ruang sidang yang dihadapkan dengan
kasus pembunuhan. Ini pertama kalinya aku dipanggil ke ruangan BP dari sekian
banyak kenakalan dan kegilaan yang sudah aku lakukan bersama sahabat-sahabatku,
dan itulah konsekuensi yang harus aku pertanggung jawabkan. Hanya aku dan Ria
yang dipanggil, temanku yang lain dibebaskan karena mereka hanya ikut menonton
saja waktu itu. Masalah ini membuatku merasa seperti ada kotoran sapi yang
dilempar kemukaku, aku benar-benar malu, dan bukannya merasa takut. Rasa malu
yang hebat karena harus ditonton puluhan siswa karena kasus seperti ini. Kalau
saja kasusnya bukan karena masalah cemburu buta mungkin aku gak akan tertunduk
terus seperti ini.
“Oh my God this is very embarrassing.” Ucapku dalam hati.
Pertanyaan demi pertanyaan kini dilontarkan kepada aku dan Nina. Tapi aku
cuma bisa diam, aku gengsi untuk mengatakan bahwa aku terlampau cemburu saat
itu. Aku muak sekali melihat tampang Ria yang pura-pura polos di depan Pak Aziz.
“Andy, sekarang kamu harus memilih supaya kegaduhan dan kekerasan seperti
ini tidak terjadi lagi.” Tanya pak Aziz dengan tegas.
“Milih?” ucap Andy bingung dan tampak seperti berfikir sesuatu
“Iya milih, kamu gak mungkin lah poligami sepereti ini. parah banget kamu, Ndy.
Baru aja kelas 2 sma udah pinter poligami” kata Pak Aziz menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Masa poligami sih pak, aku kan belum nikah sama mereka”
“Ah kamu ini bisanya protes melulu, sekarang ayo katakan dengan jujur siapa
wanita yang paling kamu suka dan kamu pilih” ucap pak Aziz mengulang
pertanyaannya lagi.
Andy hanya terdiam menundukkan kepalanya. Dia tak mengucapkan sepatah
katapun. Aku mulai merasa aneh, aku melihat sosok Andy bukan seperti pacarku
yang sudah aku pacari selama 4 tahun. Aku lesu melihat sikap pengecutnya itu,
tulang-tulang ku seakan mendadak remuk.
“Andy, coba dompetnya bapak lihat dulu”
“Hah!! dompet pak. mau diapain?”
“Gak usah nanya, kasih aja dulu” kata pak Aziz sambil memaksa
“Ini pak”
“Hmmmm… Ini foto siapa? Tanya Pak Aziz menunjukkan foto yang terpajang di
dompetnya.
Aku melirik untuk mengintip foto yang diperlihatkan oleh pak Aziz yang
kebetulan duduk di sampingku. Aku betul-betul penasaran ingin melihat foto yang
terpajang di dompet Andy, sudah pasti itu adalah orang spesial buat Andy. Aku
mengangkat leherku dan sekali lagi mencoba untuk melihat foto tersebut.
“Oh my god.. thats me!”. Kataku dalam hati. Roh ku seperti melayang ke
langit ke tujuh dan kupu-kupu khayalan mulai berterbangan keluar dari dalam
hatiku.
“Ayo jawab” tanya Pak Aziz mulai membentak.
“A.a.a.a..ku milih milih Ayu Pak!” sahut Andy terbata-bata.
“Huuuuuuuu…”. Terdengar sorakan dari para murid. Sejak tadi ruangan BP sudah
dipenuhi murid-murid yang serius menyaksikan wawancara kami, Ada yang berdiri
di depan pintu, ada pula yang mengintip di balik jendela.
Sekali lagi aku katakan bahwa aku inigin sekali terbang ke langit ketujuh,
saat Andy mengatakan itu, so sweet. Hihi….
Tuduhan bahwa Andy adalah laki-laki pengecut, aku tarik kembali. Aku
akhirnya tau bahwa dia masih lelakiku. Di satu sisi aku memang bahagia karena
Andy menyimpan fotoku di dompetnya, tapi di sisi lain aku sangat malu sebab di
foto itu aku cuma pakai singlet alias baju tanpa lengan, dan karena kejadian
itu pula Pak Aziz harus melihat fotoku dengan keadaan seperti itu. Boro-boro
keren, fotogenik pun nggak.
“Nah Ayu, Nina, sekarang minta maaf pada Ria”
Aku dan Nina pun mulai bersalaman sambil mengucap maaf pada Ria, tapi rasa
kesal dan cemburu ku masih belum hilang. Entah kenapa hatiku bisa seperti batu
bara jika melihat Ria, mungkin ini yang disebut sakit hati karena cinta.
“Ria, gimana! mau kan terima maaf Nina dan Ayu” Tanya pak Aziz.
“Tidak, aku tidak terima pak, aku mau mereka dikeluarkan. Kalau mereka tidak
dikeluarkan aku akan lapor polisi karena tindak kekerasan”
Aku tersentak kaget mendengar ucapan Ria, aku menelan air liur ku dalam
dalam. Nina lalu menatapku dengan sorotan yang sangat tajam. Kubayangkan ada
tanduk merah yang keluar dari kepala Nina. Aku kemudian menggenggam tangan Nina,
mencoba meredam emosi sahabatku itu.
“Kamu dengar Ayu, Nina! karena emosi sesat kalian akhirnya kalian harus menanggung
resiko seperti ini” Pak Aziz mulai berceramah.
“Bapak tak bisa buat apa-apa, besok baru bisa diputuskan setelah Ibu Bapaknya
Ria datang menghadap. Bapak mau tahu keputusan orangtua Ria dulu ”
“Ya sudah kalian boleh ke kelas masing-masing, dan ingat Nina, Ayu, ini adalah
kejadian terakhir yang kalian lakukan, Bapak tidak mau dengar ada kekerasan
seperti ini lagi. Kalian ini sudah kayak orang kriminal aja..”
“Iya pak” sahut ku, berbarengan dengan Nina.
Aku dan Nina kemudian berdiri dan segera keluar dari ruang BP. Di belakangku
ada Andy yang terus mengikutiku dan berusaha meminta maaf karena kesalahnnya
itu, tapi aku berpura-pura tak mendengarnya dan tetap sibuk berbincang dengan
Nina sambil berjalan menuju kelas kami. Dari jauh kulihat sudah ada Lia, Nurul
dan Ummy yang menanti kami di depan kelas.
“Gimana tadi? kalian gak diskors kan?” tanya Lia dengan mata melotot.
“Lebih buruk dari itu malah!!
“Kami diancam di DO dari sekolah, tapi keputusannya masih besok” seru Nina ikut
menjelaskan.
“Gila yah tu Ria, sadis amat, seenaknya saja dia mau depak kita keluar. Emang
dia fikir dia itu siapa?” gerutu Ummy.
“Sabar yah Na, ini semua gara-gara aku. Nanti aku akan coba bicara sama pak
Aziz agar dia tidak menghukum kamu, Na. Biar aku saja yang keluar, kan masih
banyak SMA lain. Aku yang salah sudah mengikutkan kamu dalam masalahku ini.
Kalau saja aku tidak beritahu kamu pasti gak akan seperti ini kejadiannya.”
“Ya gak gitu juga Yuu, kalau kamu di DO aku juga akan keluar, aku yang salah
karena tak bisa menahan emosiku. Lagipula aku puas kok, dia pantas dapet
tamparan dariku, siapa suruh gangguin pacar sahabat ku tercinta, he he he. “We
are best friend forever Yuu, and no body can hold it.”
Nina kemudian merangkulku, disusul dengan sahabatku yang lain, dan kami pun
berpelukan layaknya teletubbies. Airmataku yang kutahan sejak tadi kini tak
terbendung lagi, perlahan-lahan memenuhi mukaku. Aku menangis terharu mendengar
ucapan Nina barusan.
Tapi pada akhirnya keadaan malah berbalik dan dewi fortuna berpihak kepada
kami. Aku dan Nina tak jadi dikeluarkan dari sekolah. Menurut kabar burung yang
aku dengar, Ria malu mendengar sindiran-sindiran halus mengenai dirinya karena
pernyataan Andy saat itu yang ditonton banyak orang, makanya dia memutuskan
untuk pindah sekolah, hingga keesokan paginya Ibu Ria pun datang untuk mengambil
surat pindah untuk Ria.
Aku turut sedih mendengar keputusan Ria tersebut, tapi ya itulah keputusan
yang sudah dipilihnya. Kenyataannya dia harus meninggalkan SMUN 6 dan pindah ke
sekolah lain. Aku berharap suatu saat jika aku kembali bertemu dengan Ria,
hatiku sudah berdamai dan dia tak menganggapku musuh lagi. Kejadian ini adalah
pelajaran berharga yang tak akan terlupakan dan akan kujadikan catatan sejarah
dalam buku hidupku.
Finally, dengan beberapa kegilaan yang kami lakukan, kami tak pernah
sekalipun menyesal akan hal itu. Kami menganggap, kami telah berhasil membuat
sisa waktu kami di bangku putih abu-abu menjadi seperti pelangi yang penuh
warna
And then “Mission completed!”
Kata orang pertemuan merupakan awal dari perpisahan, kini tiba saatnya hari
perpisahan kami. Alhamdulillah kami semua lulus.
Setelah melihat pengumumuan kelulusan yang bertempat di kantor polisi tepat
di depan rumahku, kami tak langsung pulang ke rumah. Aku dan sahabatku
berencana merayakan kelulusan kami dengan acara makan-makan di rumah Nurul.
Kami mengundang semua teman sekelas kami, Saat itu Andy juga kami undang.
Walaupun aku dan dia sudah putus, tapi aku masih menganggapnya sahabat. Aku
memutuskan mengakhiri hubunganku dengan Andy karena saat itu aku punya pria
idaman lain yang akhirnya malah membuatku menyesal meninggalkan cowok sebaik
Andy.
Acara kami berlangsung menyenangkan dengan suara riuh oleh candaan dari
teman–teman lainnya, kebersamaan kami ini membuat kami berat untuk pulang ke
rumah masing-masing. Kegembiraan yang mulanya menghias nuansa indah kebersamaan
kami, tak lama kemudian berubah menjadi suasana yang mengharukan ketika satu
persatu teman-temanku pamit untuk pulang ke rumah mereka. Kami pun larut dalam
kesedihan hari ini, tanpa sadar akhirnya aku dan sahabatku pun menangis. Tak
kusangka waktu tiga tahun selama ini, harus aku lepaskan dalam waktu sehari
saja. Kami harus angkat kaki dan rela meninggalkan sekolah, tempat kami
mengukir pengalaman indah kami. Ketika pertama kali memulai kisah SMA bersama
mereka, tak terbayang kalau saat ini aku pun harus ikhlas berpisah dari
sahabat-sahabat gokil ku itu, dan tak bisa kupungkiri betapa beratnya ku
lambaikan tangan pada mereka.
“Kita harus tetap saling komunikasi yah!! ucap Lia sambil berlinang air
mata.”
“Pasti...pasti” jawabku, lalu aku dan sahabatku yang lain pun memeluk Lia
dengan isak tangis.
Dan aku yakin, didalam hati teman-temanku itu sama dengan
isi hatiku. Bahwa kami adalah saudara, dan akan terus menjadi saudara sampai
kapanpun….