Selasa, 25 Maret 2014

From JPD to JPI


Hari ini adalah hari pelaksanaan Jambore pemuda daerah atau yang biasa disingkat JPD.
Sekaligus juga sebagai tahap penyeleksian menuju Jambore Pemuda Indonesia.
Kegiatan ini memang rutin diadakan setiap tahun, bahkan sudah menjadi agenda tahunan bagi Kementerian Pemuda dan olahraga.
Kegiatan yang selama 2 tahun ini diadakan di Ibukota provinsi Kalimantan Timur yaitu Samarinda, diikuti oleh 9 kota dan kabupaten yang tersebar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Yang mana nantinya, dari sekian banyak peserta yang mengikuti seleksi hanya akan ada 15 pemuda/pemudi yang diberangkatkan untuk mengikuti Jambore Pemuda Indonesia. Dan Daerah Istimewa Yogyakarta akan bertindak selaku tuan rumah pelaksanaan JPI  tahun 2014 ini.
Serangkaian kegiatan akan dilaksanakan di JPD ini. Mulai dari pembukaan langsung dari kepala dinas Pemuda Olahraga, lalu Dephile per kontingen kabupaten/kota, pameran masing-masing kabupaten/kota, senam bersama, tahap penyeleksian, pentas seni, dan berbagai pembekalan untuk para peserta.
Pada kesempatan kali ini, aku bertindak sebagai pendamping dari kontingen Balikpapan. Dengan mengirimkan 5 perwakilan yaitu Panca, Indah, Ayu, Ketty, dan Reza, mereka diberangkatkan pada tanggal 24 pukul 13.00. Sedangkan aku harus bertahan sejenak di Balikpapan karena harus mengisi acara pada malam harinya. Dan setelah menyelesaikan tugas sebagai talent diacara operator  “Tri”, aku langsung menuju kota Samarinda tepatnya di Stadion Utama Palaran. Tibalah aku disana pukul 02.30 dini hari.
Hari pertama terlihat cukup mengasyikkan, karena pukul 05.30 pagi para peserta sudah diwajibkan untuk melaksanakan senam pagi. Senam Jepen, itulah senam yang wajib diketahui bagi para peserta JPD dan JPI nantinya. Senam yang beberapa kurun waktu ini memang menjadi senam khas Provinsi Kalimantan Timur. Senam yang di diciptakan oleh salah satu PPMI (Purna Prakarya Muda Indonesia) angkatan 2009 dari Kutai Kartanegara yaitu Evha Darmayanti ini, memiliki gerakan-gerakan khas yang memang sesuai dengan namanya “Jepen”, yang berarti  sebuah senam dengan gerakan tari bernuansa Jepen.
Setelah senam mereka akan melakukan Dephile perkontingen Kabupaten/kota. Berbagai macam baju adat dan baju batik khas daerah mereka masing-masing, terlihat begitu meriah di lapangan. Aneka warna, corak, dan motif yang begitu variatif, menandakan bahwa Kalimantan Timur ini memang banyak sekali kebudayaan-kebudayaan yang sangat menarik.
Setelah Dephile selesai, mereka diberikan waktu untuk beristirahat sejenak sebelum mengikuti serangkaian tes. Pada kegiatan tes ini aku ditugaskan sebagai coordinator untuk tes pengetahuan umum. Tes paling ribet yang pernah aku tahu, karena memakan waktu yang paling lama. Tes yang lebih condong dengan pertanyaan-pertanyaan menipu, ataupun jajak pendapat.
Tes dimulai sejak pukul 11.00 dan berakhir pukul 21.30 malam harinya. Dan benar, hanya tes pengetahuan umum yang begitu memakan waktu.
Hari ketiga dan keempat sudah tidak ada tes lagi. Lebih kepada pentas seni per-Kabupaten/kota, pembekalan diri, potensi, perkenalan dan pengenalan apa itu JPI dan BPAP (Bakti Pemuda Antar Provinsi).
Sampai malam terakhir dimana ada hiburan dari band rasis tak bermoral yang sangat tak seberapa menurutku. Band lokal asal Samarinda yang menyanyikan lagu dengan kalimat-kalimat menghujat serta kasar dan kotor. Sungguh bukan pertunjukkan hiburan yang baik menurutku.
Setelah diisi oleh band tersebut, para peserta dikumpulkan untuk membentuk lingkaran disekitar api unggun untuk renungan malam dan motivasi diri. Dan dilanjutkan dengan pengumuman siapa-siapa yang berhasil lolos untuk mengikuti JPI dan BPAP serta diakhiri dengan sesi foto bersama. Kegiatan pada malam hari itupun diakhiri sekitar pukul 01.00 dini hari.
Tapi memang selalu terjadi pada malam terakhir, dimana para peserta lebih memilih untuk berkumpul, saling bergembira, bernyanyi, berjoget, dan bercerita daripada harus tidur.
Akupun ikut bergabung bersama mereka, menyanyikan lagu-lagu daerah, pop, dangdut, sampai mancanegara demi menghibur diri. Satu persatu dari sekian banyak mulai berguguran tak kuat menahan rasa kantuk yang mulai memberatkan kelopak mata mereka. Hingga akhirnya hanya tersisa 5 orang termasuk aku. Kamipun mengakhiri obrolan kami saat matahari sudah terbit di ufuk fajar sekitar pukul 06.00 pagi. Setelahnya kami semua langsung berkemas merapikan barang-barang karena pada pagi ini juga para peserta akan pulang kedaerahnya masing-masing.
Inilah kehidupan, ada pertemuan pasti ada jua perpisahan. Para peserta terlihat semangat sekali untuk cepat-cepat pulang. Karena mungkin mereka hanya menganggap perkenalan mereka hanya sekedarnya saja. Berbeda dengan aku dan rekan-rekan JPI angkatan 2013. Dimana ada airmata dan kesedihan yang menghiasi pagi itu. Kami saling berpelukan, menangis sedih karena harus terpisah jarak lagi dan entah kapan atau masih adakah kesempatan untuk kami berkumpul lagi. Kekeluargaan pada angkatanku sangatlah erat sekali, bahkan itu diakui oleh para senior di PPMI. Kami seperti terikat dalam satu tali persaudaraan yang kuat. Itulah yang kupahami selama ini…
Terspesial untuk Zhellma, Sheila, Fitra, Safa, Ipeh, Unank, Adef, Iva, Jonny, Fendi… Terima kasih kalian telah menyempatkan waktu untuk berkumpul di  Stadion Palaran. Tak memandang jarak, kalian datang dengan sebuah rasa kebersamaan. Dan untuk semua para PPMI dari berbagai angkatan… Good job atas eventnya.
SAMPAI JUMPA DI JPI YOGYAKARTA OKTOBER NANTI….

PEMUDA…..  MAJU!!!
OLAHRAGA…..  JAYA!!!
SIAPA KITA…..  INDONESIA!!!
KITA SIAPA…..  KALIMANTAN TIMUR!!!

KALIMANTAN TIMUR…..  GASAK-SUU!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar