Jumat, 22 Mei 2020

PATAH

Saat mendung hadir kala pelangi tengah bersenandung
Menancaplah deras hujan tanpa perduli posisi mentari
Seakan tersingsing mahkota indah dari singgasana rapuh
Mewujudkan bercak hitam di tembok ratam putih
Sampai menyendu jiwa membalut agar tetap bersinar
Berulang hingga malam

Jahatkah dunia hingga goresan kembali tertera
Melebar menguak tabir nyata yang entah apa maksudnya
Pernah lebih terluka, tapi tak pernah seberharap ini
Luapkan nada minor yang entah apa maksudnya

Patah, dan patah, lalu patah, telah patah, semua patah
Batang impian saat harapan dienyahkan
Yang terpatri mati
Tak bersisa selain luka
Karena tidak semua kutipan akan kecil dihadapan dua mata

Lorong melonglong terdengar memecah resah
Bersambut keras karang redupkan cinta
Hilang tak menentu...
Tak lagi percaya pada guna matahari
Tak fungsi apa yang diberi
Hitam telah terlahir meski putih menyenangkan
Membangkitkan ragu butakan rasa
Peluk terbaring sudah tak bertuan
Hampir saja membeku mati...
Terbunuh atas kasih yang tak dinilai

Manusia bukan hebat
Manusia lumpurnya dosa
Tapi ada hal yang luar biasa saat satu cambuk sanggup gugurkan sekian lalat hinggap
Meski telah rampung yang tak berat kalimatnya
Cukup jagalah saja bila benar cinta
Utarakan ucapan bisa, sudutkan kata sanggup
Karena ketidakjujuran akan meresap pada kain yang kering
Dan bangkai akan tercium meski tak beraroma
Maka berhati-hatilah....
Karena kata adalah tanggung jawab
Buktikanlah semua

Balikpapan, Mei 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar