Senin, 07 April 2014

Hidup Dalam Puisi

Pagi menyinari seluruh desa, di pinggiran jalan hidup seorang anak yang sudah rapi memakai sepeda kayuhnya untuk bekerja mengirimkan koran ke pinggiran kota. Dodo, begitu namanya disebut oleh teman-temannya. Keluarganya tak mampu untuk membiayainya sekolah. Untuk mencari makan tiap hari saja susah, apalagi mendaftar ke sekolah yang biasa dengan uang yang tidak sedikit. Namun, tidak sedikitpun roman mukanya sedih karena hal itu. Bersama Sumariah ibunya, dia tidak merasa sendiri karena ibunya selalu menasihati bahwa sekolah hanyalah salah satu cara untuk mendapat ilmu. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengirimkan koran pada pagi harinya dan membaca beberapa koran baru maupun bekas untuk ia pelajari sebelum ia belajar pada sekolahgratis di kampungnya pada siang hari.

Kesukaanya dalam membaca, membuat ia disegani oleh beberapa teman-temannya karena mampu menjawab berbagai pertanyaan yang ia anggap mudah. Gurunya pun begitu, senang sekali melihat kuatnya tekat darinya untuk mencari ilmu. Saat sore ia belajar mengaji kepada sesepuh desa. Meskipun ia tidak terlalu pandai dalam hal agama, akan tetapi pengetahuan dan budinyalah yang membuat gurunya senang dengan tekat si Dodo. Namun pada suatu hari ia membaca sebuah surat kabar yang berisi berbagai puisi yang mampu meluluhkan hati baik itu cinta, sayang, konflik maupun politik. Ia pun berkeinginan suatu saat nanti mampu membuat sebait puisi dan mengirimkannya pada surat kabar tersebut untuk mendapatkan honor dari menulis puisi tersebut. Setelah hal itu terjadi , apa yang diinginkannya tercapai dan ibunya semakin senang. Meskipun pada akhirnya ia ingin menabung beberapa perolehannya dari menulis puisi untuk membiayai kesehatan ibunya yang kian hari kian rapuh.

Kecintaannya pada sebuah puisi serta bertambah luasnya pengetahuan yang ia miliki dari surat kabar tersebut membuat ia semakin menambah rasa ingin menulis lagi melebihi hanya menulis puisi. Berbagai opini maupun berita hangat dengan sebuah foto – foto yang ia jepret hasil meminjam seorang paman pemiliki studio. Berbagai karya pun sempat ia keluarkan dan namanya kian tersohor. Akan tetapi, ketika namanya sudah memuncak , ibu yang disayanginya selalu sakit-sakitan. Bahkan batuk darah pun tak jarang ia alami ketika malam mulai gelap. Semua itu ia lakukan hingga beranjak remaja.
Sebagian penghasilan yang diperoleh Dodo , ia gunakan untuk membiayai penyakit parah ibunya. Selang beberapa minggu, ibunya menghembuskan nafas terakhirnya dan ia pun menjadi sedih. Setiap malam ia hanya merenung dan menuliskan beberapa kalimat puisi tanpa mengenal waktu . Sesepuh desanya pun menyarankan agar ia semakin mendekatkan diri kepada Allah. Namun, apa yang dikatakannya sekarang berbeda dengan sikap yang terdahulu. Ia menganggap puisi baginya lebih dari Tuhan. Bahkan ia menangis, tak sesekali ia meraung bahkan menjerit seolah seperti orang gila. Namun , tak berselang lamakehidupannya mulai membaik setelah sebulan kemudian. Kesedihan baginya tak terbendung oleh siapapun.

Baju yang semula berantakan menjadi rapi , dan rambutnya semakin hari kian tergerai panjangnya. Semalaman sudah ia berhenti menangis dan menjerit ia merasa jenuh dan menghabiskan waktunya dengan meminum seteguk bir di diskotik. Hingga saat ia pulang, tergeletak di tengah jalan. Ketika ia dapati ia terbangun dari tidur panjangnya semalaman, beberapa uang yang ia dari karyanya hilang seketika. Ia pun mencari-cari disekitar tempat ia tertidur , namun ia gagal menemukannya. Ia pun semakin sedih dan melontarkan puisinya di tengah kerumuman orang pasar. Karena kondisi tubuhnya kian melemah , ia kembali tak sadarkan diri ketika itu.
Setelah beberapa jam kemudian, ia siuman. Ia bangun dan melihat sekelilingnya asri dengan tanaman hijau. Dari kejauhan terlihat sesosok gadis berwajah lembut nan cantik. Ia pun mendekatinya dan menanyakannya apa yang ia lakukan di tempat itu dari semalam. Dengan senyuman manisnya, gadis itu pun membalasnya dengan jawaban kamu sangat butuh pertolongan. Semakin hari kesendiriannya diisi oleh gadis yang bernama Rina, dengan sabar ia melayani Dodo sebagai orang tersesat. Kemudian Dodo pun merasa ada yang berbeda ketika melihat pada diri Rani. Kemudian ia kembali membuat karyanya kembali dengan puisi-puisinya yang menyayat hati. Rasa cintanya kepada Rani begitu dalam, hingga apapun yang Rani minta selalu ia penuhi. Ia kemudian berhasil kembali meraih beberapa penghargaan dan memperoleh penghasilan yang sangat besar dari karyanya. Namanya pun dikenal kembali dengan sebutan “ Raja yang bangkit dari kubur”. Hingga suatu saat seseorang wanita yang berparas cantik pun mendekatinya dan memintanya tanda tangan di tas yang baru ia beli. Dodo pun berjabat tangan dengannya dan mengenalnya sebagai seorang Dewi yang lincah dan penggemar rahasia Dodo.
Akan tetapi rasa cinta Dodo terhadap Rani tidak bisa ia pendam begitu saja. Lantas, ia mencoba melamar kepada keluarganya. Akan tetapi, Rani sekarang sudah berbeda. Dulu yang seorang pekerja keras kini hanya bisa tertidur lemah di ranjang. Dokter pun sudah mewanti-wanti agar Rani tidak banyak keluar dari rumah. Rani pun tidak menggubrisnya dan segera keluar bersama Dodo. Kedua pasang sejoli ini hendak pergi keluar untuk melihat berkeliling kota. Diperjalanan mereka habiskan dengan banyak canda tawa, meskipun tak banyak waktu mereka miliki, karena kondisi dan kesehatan yang belum pasti. Seminggu kemudian Rani terlihat sehat dan siap untuk menjadi istri dari Dodo. Dodo pun segera mempersiapkan segala sesuatunya dari cincin, mahar hingga baju pengantin. Sebelum pernikahan dimulai, Nono ingin memberikan sebuah karangan bunga untuk Rani sebagai tanda semakin cinta padanya. Ketika memasuki rumahnya, seisi rumah menangis. Dodo pun kebingungan dengan apa yang terjadi kepada mereka. Bukannya dengan pernikahan mereka semua akan gembira. Ketika kamar Rani terbuka, Dodo pun hanya terkulai lemah dan mengalir deras air matanya. Rani pun meninggalkannya jua dari kehidupan fana dunia. Bunga yang semula ia berikan kini menjadi layu dan hanya akan menjadi sebuah kenangan di masa depan. Dodo pun segera pergi dari rumah Rani dan menuliskan beberapa pusinya untuk Rani sebagai tanda cinta yang mendalam untuknya. Ia pun pergi dengan mobil mewahnya dengan kecepatan penuh dan ia harap segala sesuatunya menjadi hilang. Namun apa dikata kesedihannya kian mendalam , dan tak mampu ia pendam. Kendaraan yang kencang pun menabrak pada sebuah jembatan. Ia pun berhenti serta turun dari mobil rusaknya. Ia pun menuliskan sepucuk kata selamat tinggal dunia dan bunuh diri.
Seketika itu kerumunan orang hanya bisa melihat kejadian nahas tersebut. Bahkan Dewi penggemar rahasia Dodo yang kebetulan berada di lokasi hanya bisa menggelengkan kepala. “ mungkin yang kau tahu hanyalah secarik kertas bukan kehidupan yang sebenarnya” tutur Dewi dalam hati.

Sabtu, 05 April 2014

KENANGAN YANG KEMBALI

Malam ini aku duduk sendiri didermaga, begitu banyak orang yang ada disekitarku. Seperti tanpa memperdulikan udara dingin yang terasa menyengat tubuh, mereka tetap asyik dengan obrolannya masing-masing.
Sedangkan aku?? Aku hanya memejamkan mata sembari menikmati udara dingin yang menyapu seluruh wajahku. Kurasakan tubuh ini mulai menyatu dengan alam. Kufokuskan fikiranku pada kenangan-kenangan terdahulu. Suara yang tadinya ramai kini terasa sangat kecil ditelingaku. Beberapa momen kuingat jelas tentang kenangan itu.  Suka, duka, kebersamaan, perjuangan dan pengorbanan yang pernah kami lakukan dulu kini seakan mencoba bangkit untuk memperbaiki itu semua. Entah ia yang datang, entah cinta yang mengembalikan, atau entah memang aku yang mencoba kembali…. Aku mencoba untuk mencari tahu tapi tetap tidak juga kudapatkan jawabannya.

Ada kenyamanan yang kurasakan saat aku berbicara dengannya, ada kedamaian saat aku melihat senyumnya, ada sesuatu yang berbeda yang belum pernah kurasakan kepadanya sebelumnya. Aku hanya terbingungkan dengan hal itu semua, sesaat aku berfikir itu terjadi hanya karena memang kami yang sudah sangat lama sekali tidak bertemu. Tapi dilain hal ada pemikiranku tentang sebuah ketentuan sang kuasa. Ketentuan yang mana memang inilah kami sekarang dipertemukan dengan momen sederhana namun menurutku begitu berkesan. Apapun itu, yang pasti selalu ada doa agar diberikan yang terbaik oleh Allah SWT.


Satu jam lebih sudah aku berada didermaga, tak berubah jua apa yang ada difikiranku. Masih tentang sebuah kenangan yang tak kulupakan. Dengan langkah yang berat kutinggalkan dermaga, karena jujur masih ingin rasanya aku berlama-lama disana. Tapi sayang mata ini mulai tak bersahabat, mulai membebani kelopak mataku untuk tertutup dan terlelap. Kusegerakan untuk pulang kerumah, tidur dan langsung beristirahat karena masih ada sinar mentari esok yang akan menemaniku untuk menantang hari. Dan sebagai akhiran sebelum menutup mata, kusematkan sebuah harapan untuk bisa memimpikannya malam ini…..

Rabu, 26 Maret 2014

Itu Bukan Aku....

Balikpapan menjadi pembuka pensi di Jambore Pemuda Daerah malam nanti, suatu kehormatan sekali rasanya. Setelah Balikpapan akan disusul dengan Kutai Barat, Kabupaten Berau, Samarinda, dan Mahulu.
Sejak sore, kami kontingen dari Balikpapan sudah melakukan persiapan. Mulai dari blocking panggung, glady, dan check sound. Setelah itu kami pun persiapan mengenakan baju dayak untuk pensi nanti. Kami akan menampilkan sebuah teatrikal puisi dalam tari yang kugarap sendiri. Dan Alhamdulillah 2 tahun berturut-turut memang akulah yang dipercaya sebagai penata gerak dan musik dari Balikpapan.
Sore itu, memang ada keanehan yang kurasakan. Seperti ada yang mengikuti bahkan mencoba mendekat dengan aku. Entah apalah itu…. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk ikut menari bersama para kontingen. Akupun heran kenapa tiba-tiba aku ingin menari, padahal sangat kurasakan kelelahan ditubuhku apalagi beberapa hari terakhir aku memang kurang istirahat dan terlalu banyak begadang.
Semakin dekat waktu untuk kami tampil, maka semakin aneh juga yang kurasakan pada saat itu. Tubuhku mendadak meriang dan berkeringatan terus menerus, padahal cuaca pada saat itu tidaklah panas. Tapi aku hanya menanggapinya secara positif saja, mungkin memang kondisi tubuhku yang mulai lemah fikirku.
Sampai tiba dimana MC membuka acara pada malam itu, lalu mengenalkan ketiga dewan juri yang berasal dari PPMI dan terakhir menyebutkan kontingan yang akan tampil mala mini.
“Jreenngg…. Reza menggenjrengkan gitarnya. Panca membuka suara dengan memberikan nada-nada mistis yang kuajarkan kepadanya. Lalu Ayu dan Ketty menyusul dengan lagu khas Kalimantan Timur “Leleng”. Puisi dibacakan, penari masuk, dan musik terus dimainkan. Sementara aku di bawah panggung bersiap untuk masuk kedalam tarian. Tiba masa aku masuk dengan pertunjukkann apiku. Kubakar dedaunan dan kertas serta kulengkapi dengan sedikit kemenyan untuk menciptakan bau-bau yang cukup menyeramkan. Kuletakkan di lantai, kukelilingi apinya, dan akhirnya kupadamkan dengan kakiku sendiri. Musikpun terus bergemuruh, tabuhan jimbe yang di mainkan oleh Reza terasa berbeda ditelingaku. Nafasku terus berderu mengikuti hentakkan musik, mataku semakin kabur namun tubuhku terasa sangat ringan. Bila kuingat-ingat sepertinya badanku bergerak sendiri. Hanya itu terakhir yang kurasakan. Saat aku membuka mata, yang ada disekelilingku adalah orang-orang yang ku kenal. Aku berada ditenda sudah tanpa perlengkapan tarianku. Aku sempat lupa apa yang sudah terjadi saat aku membuka mata, malahan aku berfikir bahwa aku belum sama sekali menari.
Akhirnya dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi, bahwa yang menari tadi bukanlah aku.
Entah siapapun itu yang menari, tapi sudah mampu membuat banyak orang ketakutan.
Aku melihat rekaman saat aku menari, betapa terkejutnya aku melihat diriku sendiri menari tanpa sadarkan diri. Mataku terlihat putih semua, teriakkanku, dan gerakannya. Bukan seperti yang biasa kulakukan.
Apapun yang terjadi pada malam itu sangatlah luar biasa menurutku, mungkin ada berbagai macam faktor mistis yang menyebabkan itu semua.
Ternyata dari berbagai daerah, berbagai macam tari pedalaman yang kupelajari, ada nilai tinggi yang bisa kupetik. Sebuah penjiwaan, perasaan, dan pendalaman suasana sudah bisa aku lakukan.
Dan menurutku itu salah satu penyebab kenapa aku bisa menari tanpa sadarkan diri.

Ini adalah ceritanya, entar di upload videonya deh….

Selasa, 25 Maret 2014

From JPD to JPI


Hari ini adalah hari pelaksanaan Jambore pemuda daerah atau yang biasa disingkat JPD.
Sekaligus juga sebagai tahap penyeleksian menuju Jambore Pemuda Indonesia.
Kegiatan ini memang rutin diadakan setiap tahun, bahkan sudah menjadi agenda tahunan bagi Kementerian Pemuda dan olahraga.
Kegiatan yang selama 2 tahun ini diadakan di Ibukota provinsi Kalimantan Timur yaitu Samarinda, diikuti oleh 9 kota dan kabupaten yang tersebar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Yang mana nantinya, dari sekian banyak peserta yang mengikuti seleksi hanya akan ada 15 pemuda/pemudi yang diberangkatkan untuk mengikuti Jambore Pemuda Indonesia. Dan Daerah Istimewa Yogyakarta akan bertindak selaku tuan rumah pelaksanaan JPI  tahun 2014 ini.
Serangkaian kegiatan akan dilaksanakan di JPD ini. Mulai dari pembukaan langsung dari kepala dinas Pemuda Olahraga, lalu Dephile per kontingen kabupaten/kota, pameran masing-masing kabupaten/kota, senam bersama, tahap penyeleksian, pentas seni, dan berbagai pembekalan untuk para peserta.
Pada kesempatan kali ini, aku bertindak sebagai pendamping dari kontingen Balikpapan. Dengan mengirimkan 5 perwakilan yaitu Panca, Indah, Ayu, Ketty, dan Reza, mereka diberangkatkan pada tanggal 24 pukul 13.00. Sedangkan aku harus bertahan sejenak di Balikpapan karena harus mengisi acara pada malam harinya. Dan setelah menyelesaikan tugas sebagai talent diacara operator  “Tri”, aku langsung menuju kota Samarinda tepatnya di Stadion Utama Palaran. Tibalah aku disana pukul 02.30 dini hari.
Hari pertama terlihat cukup mengasyikkan, karena pukul 05.30 pagi para peserta sudah diwajibkan untuk melaksanakan senam pagi. Senam Jepen, itulah senam yang wajib diketahui bagi para peserta JPD dan JPI nantinya. Senam yang beberapa kurun waktu ini memang menjadi senam khas Provinsi Kalimantan Timur. Senam yang di diciptakan oleh salah satu PPMI (Purna Prakarya Muda Indonesia) angkatan 2009 dari Kutai Kartanegara yaitu Evha Darmayanti ini, memiliki gerakan-gerakan khas yang memang sesuai dengan namanya “Jepen”, yang berarti  sebuah senam dengan gerakan tari bernuansa Jepen.
Setelah senam mereka akan melakukan Dephile perkontingen Kabupaten/kota. Berbagai macam baju adat dan baju batik khas daerah mereka masing-masing, terlihat begitu meriah di lapangan. Aneka warna, corak, dan motif yang begitu variatif, menandakan bahwa Kalimantan Timur ini memang banyak sekali kebudayaan-kebudayaan yang sangat menarik.
Setelah Dephile selesai, mereka diberikan waktu untuk beristirahat sejenak sebelum mengikuti serangkaian tes. Pada kegiatan tes ini aku ditugaskan sebagai coordinator untuk tes pengetahuan umum. Tes paling ribet yang pernah aku tahu, karena memakan waktu yang paling lama. Tes yang lebih condong dengan pertanyaan-pertanyaan menipu, ataupun jajak pendapat.
Tes dimulai sejak pukul 11.00 dan berakhir pukul 21.30 malam harinya. Dan benar, hanya tes pengetahuan umum yang begitu memakan waktu.
Hari ketiga dan keempat sudah tidak ada tes lagi. Lebih kepada pentas seni per-Kabupaten/kota, pembekalan diri, potensi, perkenalan dan pengenalan apa itu JPI dan BPAP (Bakti Pemuda Antar Provinsi).
Sampai malam terakhir dimana ada hiburan dari band rasis tak bermoral yang sangat tak seberapa menurutku. Band lokal asal Samarinda yang menyanyikan lagu dengan kalimat-kalimat menghujat serta kasar dan kotor. Sungguh bukan pertunjukkan hiburan yang baik menurutku.
Setelah diisi oleh band tersebut, para peserta dikumpulkan untuk membentuk lingkaran disekitar api unggun untuk renungan malam dan motivasi diri. Dan dilanjutkan dengan pengumuman siapa-siapa yang berhasil lolos untuk mengikuti JPI dan BPAP serta diakhiri dengan sesi foto bersama. Kegiatan pada malam hari itupun diakhiri sekitar pukul 01.00 dini hari.
Tapi memang selalu terjadi pada malam terakhir, dimana para peserta lebih memilih untuk berkumpul, saling bergembira, bernyanyi, berjoget, dan bercerita daripada harus tidur.
Akupun ikut bergabung bersama mereka, menyanyikan lagu-lagu daerah, pop, dangdut, sampai mancanegara demi menghibur diri. Satu persatu dari sekian banyak mulai berguguran tak kuat menahan rasa kantuk yang mulai memberatkan kelopak mata mereka. Hingga akhirnya hanya tersisa 5 orang termasuk aku. Kamipun mengakhiri obrolan kami saat matahari sudah terbit di ufuk fajar sekitar pukul 06.00 pagi. Setelahnya kami semua langsung berkemas merapikan barang-barang karena pada pagi ini juga para peserta akan pulang kedaerahnya masing-masing.
Inilah kehidupan, ada pertemuan pasti ada jua perpisahan. Para peserta terlihat semangat sekali untuk cepat-cepat pulang. Karena mungkin mereka hanya menganggap perkenalan mereka hanya sekedarnya saja. Berbeda dengan aku dan rekan-rekan JPI angkatan 2013. Dimana ada airmata dan kesedihan yang menghiasi pagi itu. Kami saling berpelukan, menangis sedih karena harus terpisah jarak lagi dan entah kapan atau masih adakah kesempatan untuk kami berkumpul lagi. Kekeluargaan pada angkatanku sangatlah erat sekali, bahkan itu diakui oleh para senior di PPMI. Kami seperti terikat dalam satu tali persaudaraan yang kuat. Itulah yang kupahami selama ini…
Terspesial untuk Zhellma, Sheila, Fitra, Safa, Ipeh, Unank, Adef, Iva, Jonny, Fendi… Terima kasih kalian telah menyempatkan waktu untuk berkumpul di  Stadion Palaran. Tak memandang jarak, kalian datang dengan sebuah rasa kebersamaan. Dan untuk semua para PPMI dari berbagai angkatan… Good job atas eventnya.
SAMPAI JUMPA DI JPI YOGYAKARTA OKTOBER NANTI….

PEMUDA…..  MAJU!!!
OLAHRAGA…..  JAYA!!!
SIAPA KITA…..  INDONESIA!!!
KITA SIAPA…..  KALIMANTAN TIMUR!!!

KALIMANTAN TIMUR…..  GASAK-SUU!!!

Minggu, 23 Maret 2014

Rapat Euuyyy.....

Hari ini tanggal 23 Maret 2014, bertempatkan di salah satu cafe yang tidak boleh disebutkan namanya. Hahahahaa....
Obrolan DWMB dan FDWB dilaksanakan tepat pukul 20.00 waktu Balikpapan bagian selatan.
Dengan pokok pembahasaan mengenai ajang pengenalan wisata kepada para kaula muda yang memang sudah mulai memudar di jiwa mereka dan juga menyusun pembentukan struktur kepanitiaan untuk tour salah satu sekolah menengah pertama di Balikpapan.
Obrolan ini dihadiri oleh 12 Makhluk Tuhan yang sangat luar biasa menurut saya.
Pembahasan demi pembahasan terus berlanjut, berbagai adu argumen yang memang biasa terjadi didalam suatu obrolanpun juga terjadi pada malam hari ini.
Ada beberapa point dari para DWMB yang sedikit di revisi oleh para FDWB. Hal tersebut memang ditujukan agar DWMB 2014 ini bisa menjadi semakin baik dan solid dalam bekerja sama.