Pagi menyinari seluruh desa, di pinggiran jalan hidup seorang anak yang sudah rapi memakai sepeda kayuhnya untuk bekerja mengirimkan koran ke pinggiran kota. Dodo, begitu namanya disebut oleh teman-temannya. Keluarganya tak mampu untuk membiayainya sekolah. Untuk mencari makan tiap hari saja susah, apalagi mendaftar ke sekolah yang biasa dengan uang yang tidak sedikit. Namun, tidak sedikitpun roman mukanya sedih karena hal itu. Bersama Sumariah ibunya, dia tidak merasa sendiri karena ibunya selalu menasihati bahwa sekolah hanyalah salah satu cara untuk mendapat ilmu. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengirimkan koran pada pagi harinya dan membaca beberapa koran baru maupun bekas untuk ia pelajari sebelum ia belajar pada sekolahgratis di kampungnya pada siang hari.
Kesukaanya dalam membaca, membuat ia disegani oleh beberapa teman-temannya karena mampu menjawab berbagai pertanyaan yang ia anggap mudah. Gurunya pun begitu, senang sekali melihat kuatnya tekat darinya untuk mencari ilmu. Saat sore ia belajar mengaji kepada sesepuh desa. Meskipun ia tidak terlalu pandai dalam hal agama, akan tetapi pengetahuan dan budinyalah yang membuat gurunya senang dengan tekat si Dodo. Namun pada suatu hari ia membaca sebuah surat kabar yang berisi berbagai puisi yang mampu meluluhkan hati baik itu cinta, sayang, konflik maupun politik. Ia pun berkeinginan suatu saat nanti mampu membuat sebait puisi dan mengirimkannya pada surat kabar tersebut untuk mendapatkan honor dari menulis puisi tersebut. Setelah hal itu terjadi , apa yang diinginkannya tercapai dan ibunya semakin senang. Meskipun pada akhirnya ia ingin menabung beberapa perolehannya dari menulis puisi untuk membiayai kesehatan ibunya yang kian hari kian rapuh.
Kecintaannya pada sebuah puisi serta bertambah luasnya pengetahuan yang ia miliki dari surat kabar tersebut membuat ia semakin menambah rasa ingin menulis lagi melebihi hanya menulis puisi. Berbagai opini maupun berita hangat dengan sebuah foto – foto yang ia jepret hasil meminjam seorang paman pemiliki studio. Berbagai karya pun sempat ia keluarkan dan namanya kian tersohor. Akan tetapi, ketika namanya sudah memuncak , ibu yang disayanginya selalu sakit-sakitan. Bahkan batuk darah pun tak jarang ia alami ketika malam mulai gelap. Semua itu ia lakukan hingga beranjak remaja.
Sebagian penghasilan yang diperoleh Dodo , ia gunakan untuk membiayai penyakit parah ibunya. Selang beberapa minggu, ibunya menghembuskan nafas terakhirnya dan ia pun menjadi sedih. Setiap malam ia hanya merenung dan menuliskan beberapa kalimat puisi tanpa mengenal waktu . Sesepuh desanya pun menyarankan agar ia semakin mendekatkan diri kepada Allah. Namun, apa yang dikatakannya sekarang berbeda dengan sikap yang terdahulu. Ia menganggap puisi baginya lebih dari Tuhan. Bahkan ia menangis, tak sesekali ia meraung bahkan menjerit seolah seperti orang gila. Namun , tak berselang lamakehidupannya mulai membaik setelah sebulan kemudian. Kesedihan baginya tak terbendung oleh siapapun.
Baju yang semula berantakan menjadi rapi , dan rambutnya semakin hari kian tergerai panjangnya. Semalaman sudah ia berhenti menangis dan menjerit ia merasa jenuh dan menghabiskan waktunya dengan meminum seteguk bir di diskotik. Hingga saat ia pulang, tergeletak di tengah jalan. Ketika ia dapati ia terbangun dari tidur panjangnya semalaman, beberapa uang yang ia dari karyanya hilang seketika. Ia pun mencari-cari disekitar tempat ia tertidur , namun ia gagal menemukannya. Ia pun semakin sedih dan melontarkan puisinya di tengah kerumuman orang pasar. Karena kondisi tubuhnya kian melemah , ia kembali tak sadarkan diri ketika itu.
Setelah beberapa jam kemudian, ia siuman. Ia bangun dan melihat sekelilingnya asri dengan tanaman hijau. Dari kejauhan terlihat sesosok gadis berwajah lembut nan cantik. Ia pun mendekatinya dan menanyakannya apa yang ia lakukan di tempat itu dari semalam. Dengan senyuman manisnya, gadis itu pun membalasnya dengan jawaban kamu sangat butuh pertolongan. Semakin hari kesendiriannya diisi oleh gadis yang bernama Rina, dengan sabar ia melayani Dodo sebagai orang tersesat. Kemudian Dodo pun merasa ada yang berbeda ketika melihat pada diri Rani. Kemudian ia kembali membuat karyanya kembali dengan puisi-puisinya yang menyayat hati. Rasa cintanya kepada Rani begitu dalam, hingga apapun yang Rani minta selalu ia penuhi. Ia kemudian berhasil kembali meraih beberapa penghargaan dan memperoleh penghasilan yang sangat besar dari karyanya. Namanya pun dikenal kembali dengan sebutan “ Raja yang bangkit dari kubur”. Hingga suatu saat seseorang wanita yang berparas cantik pun mendekatinya dan memintanya tanda tangan di tas yang baru ia beli. Dodo pun berjabat tangan dengannya dan mengenalnya sebagai seorang Dewi yang lincah dan penggemar rahasia Dodo.
Akan tetapi rasa cinta Dodo terhadap Rani tidak bisa ia pendam begitu saja. Lantas, ia mencoba melamar kepada keluarganya. Akan tetapi, Rani sekarang sudah berbeda. Dulu yang seorang pekerja keras kini hanya bisa tertidur lemah di ranjang. Dokter pun sudah mewanti-wanti agar Rani tidak banyak keluar dari rumah. Rani pun tidak menggubrisnya dan segera keluar bersama Dodo. Kedua pasang sejoli ini hendak pergi keluar untuk melihat berkeliling kota. Diperjalanan mereka habiskan dengan banyak canda tawa, meskipun tak banyak waktu mereka miliki, karena kondisi dan kesehatan yang belum pasti. Seminggu kemudian Rani terlihat sehat dan siap untuk menjadi istri dari Dodo. Dodo pun segera mempersiapkan segala sesuatunya dari cincin, mahar hingga baju pengantin. Sebelum pernikahan dimulai, Nono ingin memberikan sebuah karangan bunga untuk Rani sebagai tanda semakin cinta padanya. Ketika memasuki rumahnya, seisi rumah menangis. Dodo pun kebingungan dengan apa yang terjadi kepada mereka. Bukannya dengan pernikahan mereka semua akan gembira. Ketika kamar Rani terbuka, Dodo pun hanya terkulai lemah dan mengalir deras air matanya. Rani pun meninggalkannya jua dari kehidupan fana dunia. Bunga yang semula ia berikan kini menjadi layu dan hanya akan menjadi sebuah kenangan di masa depan. Dodo pun segera pergi dari rumah Rani dan menuliskan beberapa pusinya untuk Rani sebagai tanda cinta yang mendalam untuknya. Ia pun pergi dengan mobil mewahnya dengan kecepatan penuh dan ia harap segala sesuatunya menjadi hilang. Namun apa dikata kesedihannya kian mendalam , dan tak mampu ia pendam. Kendaraan yang kencang pun menabrak pada sebuah jembatan. Ia pun berhenti serta turun dari mobil rusaknya. Ia pun menuliskan sepucuk kata selamat tinggal dunia dan bunuh diri.
Seketika itu kerumunan orang hanya bisa melihat kejadian nahas tersebut. Bahkan Dewi penggemar rahasia Dodo yang kebetulan berada di lokasi hanya bisa menggelengkan kepala. “ mungkin yang kau tahu hanyalah secarik kertas bukan kehidupan yang sebenarnya” tutur Dewi dalam hati.
Tidak merasa lebih baik atau benar, dan bukan mengajarkan. Tak lebih dari mengingatkan pada diri sendiri dan sekitar. Berbagi pelajaran kecil, motivasi, dan cerita yang terinspirasi dari pengalaman, kegiatan, peristiwa, ataupun kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang disekitar. Bismillah, semoga bermanfaat.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar