Jumat, 11 Januari 2019

Jangan Takut

Assalamualaikum reader,
Ade satu cerite..... satu problematika kehidupan yang tampak rumit.
Nampak darimane saje memanglah cukup rumit.
Cerite ni tiba dari tanah Melayu, Tapi Insya Allah kite doakan saje ia mampu mengatasi ketakutan itu ye.....
Okkkeeey pemirsa sebangsa dan setanah air Indonesiaku Jaya...... Bismillah (kita balik ke bahasa biasa aja yaa biar nggak bingung kosakatanya hehehe)
.
Rasa takutnya itu adalah "Takut Ditinggal" yang berlanjut menjadi rasa untuk tidak ingin menikah.
Weeewwwwwwwww, sampai nggak bisa berkata-kata pada saat pertama kali mendengar itu.
Karena emang bener-bener baru sekali denger ada yang beginian, Subhanallah.
Dan pada saat denger itu, nggak banyak motivasi yang bisa diberikan karena memang belum bisa berkomentar banyak akan hal itu.
Yaaa sekarang sih belum bisa ngasih motivasi yang banyak juga, nambahin sikit-sikit aje..... maklum lah yaa belum nikah juga soalnya wkwkwkwk.
Tapi siap nikahin kok, kalau emang udah nggak takut lagi Upppsss..... 😃 #ngarepdotkom
.
Ini adalah sebuah kekhawatiran yang pasti pernah dirasakan oleh semua insan termasuk Saya secara pribadi (Oke Fix, jangan ninggalin yaa apalagi nyuruh pergi #nyambicurhat hahahaha.....)
Banyaknya rekan, sanak saudara yang mengalami kegagalan, banyaknya mendengar cerita tentang pahitnya rumah tangga, sering bertengkar, kekerasan dalam rumah tangga, ataupun perselisihan yang berujung pada perpisahan. Oiyyyaaa...... Satu lagi, maraknya kasus perselingkuhan (ditinggalkan karena ada wanita lain yang hadir). Beberapa hal diatas menjadi faktor kenapa ketakutan itu menjadi muncul. Secara logika adalah hal yang wajar, tapi jangan sampai rasa takut itu mengalahkan hakekat kita sebagai manusia untuk menyempurnakan separuh Agama dengan menikah.
Kita nggak boleh kalah men......
Kalau kita tengok-tengok niii yeee, sebenarnya kenapa sih faktor-faktor itu bisa terjadi?????
Ada yang tau?????
Kalau menurut beberapa buku yang pernah dibaca, dan beberapa obrolan bersama orang yang sudah berpengalaman dalam berumah tangga (maksudnya berpengalaman yang sudah berumah tangga sekian lama ya, bukan yang sudah berumah tangga sekian banyak ya ðŸ˜ƒ). Semua itu terjadi didasarkan atas kesalahan si pasangan sendiri. Nah dari hal itu pula, bisa ditarik kesimpulan beberapa penyebab kenapa kesalahan itu bisa terjadi. Berikut diantaranya :
1. Kurangnya pengetahuan tentang berumah tangga
2. Tipisnya Iman
3. Mental yang belum matang
Yuk kita bahas satu persatu, tapi sebelumnya mau minta maaf dulu nih yaaa..... Nggak ada maksud menggurui hanya sekedar berbagi Sedikit yang diketahui aja.

Pengetahuan dalam berumah tangga itu penting men, karena memang berumah tangga itu nggak sembarangan. Memang ada ilmu dan juga tips-tipsnya. Sebelum membina rumah tangga, pastikan kita memiliki bekal ilmunya. Misalnya tips untuk disayang suami, kiat biar selalu dimanja istri, strategi biar rumah tangga langgeng sampai kakek nenek, atau metode membina rumah tangga yang harmonis, dan masih banyak lagi deh pokoknya. Kalau disuruh jelasin satu-satu bisa nggak cukup nih karakter huruf yang disediain sama blogger wkwkwwk. Nah yang pasti tips, kiat, strategi, dan metodenya itu adalah sesuatu yang nggak nyimpang dari ajaran Agama yaa.
Coba baca-baca aja cerita rumah tangga Nabi Muhammad SAW!!!!!
Manjainnya Aisyah ke Nabi gimana, setianya Khadijah ke Nabi gimana, mulianya Ummu Salamah ke Nabi gimana, dll.
Memang..... kita bukan Nabi dan bukanlah istri Nabi, tapi setidaknya kan kita bisa berusaha untuk menteladani sifat-sifat baiknya. Melihat bagaimana kisah mereka lalu mencoba juga untuk diterapkan pelan-pelan.
Cobaan di zaman dahulu itu lebih berat loh daripada cobaan zaman sekarang. Hanya saja memang mentalnya kita yang juga berbeda dengan orang-orang dizaman Nabi.
Nah kalau sampai ada kasus perselingkuhan, perlu ditinjau kembali kediri masing-masing. Kesilapan apa, kekurangan apa, atau kesalahan seperti apa yang menyebabkan itu terjadi. Pasti dasarnya dari diri kita sendiri kok. Dan yang pasti dari kita yang nggak tahan sama godaan syaitan, kalau ini hubungannya dengan keimanan ya...... (Ntar dibawah kita bahas).
Kalau udah ada bekal ilmu, Insya Allah kita setidaknya sudah tahu harus berbuat apa dan bagaimana menyikapinya dengan bijak.
Yakin yakin yakin harus yakin sama diri sendiri yaa.....

Nah selanjutnya tentang keimanan. Keimanan ini utama banget men. Nggak cuma dalam berumah tangga aja tapi juga dalam kehidupan sehari-hari pastinya. Berbekal hati, raga, batin yang berakhlak dan berserah pada Allah SWT, rumah tangga nantinya juga bisa menjadi sangat harmonis pastinya. 
Yaaaa misalnya ketika rumah tangga sedang diuji tentang permasalahan ekonomi, bagi orang yang beriman Insya Allah dia akan fine-fine aja. Karena yakin bahwa pertolongan Allah akan tiba bila mereka bertawakal. Lalu misalnya ketika rumah tangga diuji dengan perselisihan, mereka yang beriman Insya Allah akan fine-fine aja. Karena mereka pasti akan bisa bersikap lapang dada dan mengalah demi kebaikan, lalu mengikhlaskan segala sesuatunya karena Allah Ta'ala.
Apalagi buat kaum Adam, karena nanti kan bakal jadi Imam tuh. So pasti kudu punya keimanan yang baik biar bisa membimbing makmumnya. Insya Allah segala permasalahan pasti akan dimudahkan selama kita beriman dan bertaqwa. Yuk kita siapkan iman kita sebelum berumah tangga. Kalau yang kemaren-kemaren kita banyak kekhilafan ya monggo segera diperbaiki. Sesungguhnya nggak ada manusia yang sempurna, pasti ada melakukan kesalahan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan berjuang untuk memperbaikinya.
Kalau ada kasus seorang yang ahli Agama tapi melakukan kekhilafan dengan mendua atau apalah itu namanya, yaa kitapun hanya bisa memakluminya. Karena seorang ahli agama sekalipun juga tetaplah manusia yang tak luput dari dosa dan khilaf. Bisa saja sekarang ahli agama itu sedang bertaubat dan menyesali segala kekhilafannya. Dan pada akhirnya Kita bisa jadikan pelajaran dari kasus tersebut, agar kita yang masih biasa-biasa dalam keimanan ini bisa tetap aman terkendali hubungannya nanti.
Aamiin.....

Mental..... kurang lebih sama dengan keimanan. Hanya saja lebih spesifik tentang posisi kesiapannya.
Biasanya perpisahan banyak dialami pasangan muda dalam kasus kurangnya mental ini.
Baru tersandung batu kerikil sudah berpisah, baru tersandung batu sungai sudah mendua. Nah ini yang dimaksud dengan kesiapan mental. Jadi buat para pasangan muda, harus kudu mempersiapkan mental secara matang nih kalau-kalau seburuk-buruknya lagi diuji sama Allah rumah tangganya. Jangan mudah tersulut emosi, amarah dan sikap egois yang tinggi.
Yang namanya rumah tangga pasti beda dengan hubungan yang belum berumah tangga. Cobaan yang datangpun pasti jauh lebih dahsyat. Tinggal bagaimana kita menyelesaikannya saja sih.
Perlu diingat, ketika rumah tangga dijalani berdua maka hadapilah permasalahan yang ada berdua pula. Dengan komitmen sama-sama, perjuangin sama-sama, intropeksi sama-sama, selesaikan dengan kepala dingin sama-sama, saling menerima kekurangan masing-masing sama-sama, ikhlasin cobaannya sama-sama, jadi kapan kita bisa sama-sama...... ????? Uuppsss keceplosan lagi hehehehe (jangan tegang gitu dong bacanya, biar cair dikit suasana geenggg hehehe).
Kalau pasangan bisa memiliki mental yang kuat, keyakinan satu sama lain, Insya Allah masalah yang datang cuma sekedar jadi penggugur dosa aja dan nggak sampai meretakkan rumah tangga.
.
Yaaapppp kira-kira begitulah......
Semoga bisa sedikit meringankan beban khawatirnya dihati yee..... Semangat yeee!!!!!
Insya Allah yang tepat akan datang disaat yang tepat, yang baik akan bertemu dengan yang baik, dan sejatinya jodoh adalah cerminan diri, Insya Allah.
Serahkan saja semua sama Allah SWT.

Nah buat yang lain yang belum dipertemukan sama jodohnya, yuk ahhh daripada sibuk nggak sabar cari sana-sini, mending kita mantapin Iman, ilmu, dan mental kita.
Biar kalau pas sudah dipertemukan, yaa langsung disegerakan aja.....
Buat yang sudah dalam proses perjuangan menuju pacaran halal, semoga dipermudahkan niatnya, dan buat yang malah disuruh berhenti semoga makin ikhlas usaha serta perjuangannya ke Allah yaak..... ketuk terus aja pintu hatinya Allah SWT. Jadi kalau nanti Allah udah bukain pintu, kita masih tetap ada didepan pintu itu. Sabar, tawakal, Bismillah.....
.
Oiiyaa poo satu lagi, niatkan menikah itu sebagai ibadah. Bukan untuk memenuhi kebutuhan syahwat ataupun sekedar tuntutan hidup.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu berniat baik.
Sekali lagi maaf ya bila ada salah ucap dan berpendapat, memberi ilmu bukanlah berarti sudah merasa paling tahu, Naudzubillahimindzalik. Hakekatnya kita aja yang ditegakkan untuk saling mengingatkan dan mengamalkan ilmu serta menjadikan ilmu kita jadi befrmanfaat bagi orang-orang disekitar.
Kesempurnaan hanya milik Allah......

Wassalamualaikum,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar